Showing posts with label Kumpulan Puisi Pendek. Show all posts
Showing posts with label Kumpulan Puisi Pendek. Show all posts

Sunday, April 16, 2017

Kumpulan Puisi Anak (Puisi Pendek)

Anak merupakan aset bangsa yang harus dirawat dan dididik dengan benar, agar kelak bisa menjadi generasi penerus yang memiliki rasa kemanusiaan terhadap sesama. Salah satu cara untuk itu adalah dengan mengajarkan mereka puisi. Di bawah ini merupakan kumpulan puisi anak




Aku Cinta Ayah Ibuku

Ayahku seorang petani
Ibuku juga petani

Setiap hari
mereka berdua
pergi ke sawah

Aku juga sering diajak
ke sawah

Ayah biasanya menyuruhku
dan kakakku

beristirahat di dalam dangau
yang dibuat ayah

Aku senang bisa ikut
pergi ke sawah dengan ayah ibuku


Masakan Ibuku Enak Sekali

Ibuku seorang ibu
yang sederhana

namun dia sangat mencintai
anak-anaknya

setiap hari dia selalu menyiapkan
makan
untukku dan kakak-kakakku

biasanya ibu menggoreng
tempe
bakwan
dan sesekali
menggoreng ikan

Masakan ibu sangat enak
membuat makanku sangat lahap


Besok pagi aku Mulai bersekolah

Mulai besok pagi
aku mulai bersekolah
di SD di dekat rumah kakek

Aku masuk di kelas 1

Ibu sudah membelikanku
baju seragam
warna merah putih
Ibu juga membelikanku
Topi
Sepatu baru
dasi
ikat pinggang

dan sebuah tas bergambar
Mobil merah

Aku senang sekali
tak sabar untuk segera bersekolah


Sepedaku Baru

AKu bersorak
gembira

ketika ayah pulang
dengan membawa sepeda kecil
berwarna pink

Rodanya dua
ada bel sepeda
yang jika ditekan
berbunyi

ting..ting..ting...

Terima kasih ayah


Ibuku Seorang perawat

Ibuku seorang perawat
dia bekerja di rumah sakit

tiap pagi ia berangkat
ke rumah sakit

merawat orang yang sedang sakit
di rumah sakit

Sepulang dari rumah sakit
Aku menyambutnya
di depan pintu

Ibu langsung menggendongku
menciumku
dan memelukku

Aku cinta Ibuku


Kumpulan Puisi Pendek tentang Pendidikan

Bagaimanapun, pendidikan memegang peranan penting dalam proses kemajuan sebuah bangsa. Apabila pendidikan sebuah bangsa baik, hampir bisa dipastikan negara akan mengalami kemajuan pesat. Tidak heran pada zaman penjajahan Belanda dahulu, tokoh-tokoh sekelas Ki Hajar Dewantara bersusah payah mendirikan Taman Siswa. Ada lagi tokoh bernama Tan Malaka yang mati-matian mendidik para buruh untuk bisa mengenyam pendidikan meskipun hanya sekadar baca tulis.

Apalagi pada zaman sekarang, pendidikan tetap merupakan hal terpenting yang harus dipenuhi oleh manusia Indonesia. Dengan pendidikan, baik pendidikan karakter maupun pendidikan yang bersifat mendidik akal pikiran, diharapkan akan lahir generasi baru bangsa Indonesia yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan tidak semena-mena terhadap sesama manusia. Pun, pada saat yang sama, mereka juga menguasai kecerdasan IQ, EQ maupun SQ.

Untuk mencerdaskan akal, orang perlu belajar Matematika atau IPA, sementara untuk mencerdaskan jiwa atau hati kita perlu belajar agama atau sastra. Kali ini, akan saya bagikan puisi pendek tentang pendidikan hasil karya saya, Arif Rahmawan.




Tentang Bangku Sekolah

Potongan-potongan kayu jati
ditata sedemikian rupa
sehingga menjadi barang baru
bernama bangku sekolah

Itulah benda 
yang selalu menemaniku
selama menempuh pendidikan
di Sekolah Dasar ini

Di bangku itu
aku duduk
menyimak pelajaran dari para Guru
gelisah saat menanti istirahat
cemas ketika mendadak kebelet pipis
dan 
bersorak gembira saat bel pulang berbunyi


Papan Tulis di ruang Kelas

Papan tulis kayu itu
jadi saksi
ketika aku
terpaku di depan kelas

Saat Ibu Guru
menyuruhku menyanyi

keringat dingin
membasahi seluruh tubuh
kala aku lihat wajah-wajah
temanku
yang duduk hening di depanku

mereka seperti sedang menungguku
menangis
karena ketakutan
di depan kelas 

Papan Tulis jadi saksi

Belajar Itu Mudah

Belajar itu mudah
yang susah adalah kemauan
untuk belajar

Belajar hanyalah
mendengarkan bu Guru
bercerita
lalu 
membaca buku
menghafal
memahami
lalu
bisa menjelaskan
kembali isi buku
yang dipelajari
Itulah yang harus diulang-ulang
selama berhari-hari
bertahun-tahun

Apanya yang susah?
yang susah adalah kemauan

Sekolah (Seharusnya) Gratis

Gratis itu artinya
tidak mengeluarkan uang sepeserpun

Kalau pemerintah sudah menetapkan
sekolah itu gratis
berarti rakyat tidak perlu membayar
sepeserpun

Untuk membangun gedung
untuk membangun ini
itu dan ini itu

Kalau pemerintah sudah 
menggratiskan sekolah
namun masih saja ada sekolah
yang memalak muridnya

berarti Sekolah itu tidak gratis

Jangan bawa-bawa alasan
ini itu untuk menghalalkan 
pemalakan terhadap siswa

Jangan gunakan tipu muslihat
untuk memalak wali murid

Kalau sekolah sudah gratis
rakyat bisa menggunakan
uangnya untuk kebutuhan lain

Untuk makan
untuk tamasya
untuk berbahagia 

Tapi, pemerintah mana
yang mengatakan sekolah itu gratis ?

Salam Hormat untuk Guruku

Guruku
aku tak peduli
berapa umurmu
berapa gajimu

atau
apa agamamu

yang jelas
engkau telah bersedia
bekerja secara profesional
untuk mendidikku
melatihku
dan mengajariku

Engkau
sudah ditakdirkan Tuhan
untuk menjadi penuntun jalanku

Engkau sudah ditakdirkan Tuhan
untuk berperan dalam sejarah kehidupanku

Salam Hormatku Guruku

Friday, April 14, 2017

Kumpulan Puisi Pendek Tentang RA Kartini, Terbaru 2018

Telah terpatri Namamu

Telah terpatri
Namamu
Sebagai perempuan pemberani
Dengan cita-cita mulia

Telah terpatri
Namamu dalam lubuk jiwa
Para perempuan Indonesia

Telah terpatri
Namamu
Sebagai pahlawan Emansipasi wanita

Ruang Pingit yang Pengap

Ragamu pernah
Dikurung dalam ruangan kecil
Yang bernama ruang pingit
yang pengap
dan dingin

Namun jiwamu
Berontak
“Tak boleh ada
Yang mengekang
Cita-citaku !



Kalianlah penerus cita-citaku

Bagiku
Perempuan harus mandiri
dan bebas bercita-cita

Tak boleh ada yang
Merintangi jalannya

Kami  berhak
Menentukan nasib
Sendiri

Kalianlah
Penerus cita-citaku


Kartini baru akan terus lahir

Jiwaku pemberani
Aku tak kenal menyerah
Meski
Aral merintang

Aku akan terus melangkah
Menghapus diskriminasi
Terhadap kaumku

Aku menitis
Dalam setiap kaum perempuan
Yang berani berkarya
Berkreasi
Dan bercita-cita tinggi
Bagi bangsa Indonesia

Kartini baru akan terus lahir


Kutulis Surat kepadamu

Kutulis surat kepadamu
Karena aku galau

Kutulis surat kepadamu
Karena aku resah

Kutulis surat kepadamu
Karena aku tersiksa

Kutulis surat kepadamu
Karena aku risau

Aku galau
Aku resah
Aku risau
Aku tersiksa

Karena mereka terus saja mengurungku
Dalam 
ruang pingit