Rabu, 23 November 2016

Sri Bintang Pamungkas Dipolisikan Karena Diduga Makar ?

Tags

Aktivis yang pernah menjadi musuh orde baru, Sri Bintang Pamungkas, nampaknya sudah ditakdirkan untuk terus menerus menjadi kritikus paling keras penguasa. Sejak zaman Suharto, beliau terus berurusan dengan Polisi, karena urusan makar. Sekarangpun pada zaman Jokowi, Sri Bintang dipolisikan oleh relawan Joko Widodo. Sri Bintang dipolisikan gara-gara beliau diduga merencanakan aksi makar untuk menjatuhkan Presiden Joko Widodo, bukan menjatuhkan dari tempat duduknya, tapi menjatuhkan Presiden agar Presiden Joko Widodo menjadi rakyat biasa. Iya menjadi rakyat biasa seperti SBY.

baca juga :
Ini Ini Alasan Sebenarnya Pemerintah Tidak Segera Mengangkat Guru Honorer Menjadi PNS (Guru Honorer Wajib Baca)
Jadwal Lengkap Siaran Langsung Piala AFF 2016 RCTI dan Inews TV

Dugaan tersebut sepertinya mengada-ada, namun berdasarkan informasi dari Nusantaranews.co, secara mengejutkan aktivis berusia 71 tahun tersebut mengatakan, “Apakah Ahok tersangka atau tidak, Jokowi harus jatuh. Diadili atau tidak, pokoknya Jokowi harus jatuh. Jadi kalau tanggal 25 (November) kita mulai Sidang Istimewa atau DPR sementara (DPRS) atau MPR sementara (MPRS), maka Jokowi jatuh,” ujar Sri Bintang saat diskusi “Kasus Ahok, Sasar Jokowi?” Di Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (17/11/2016).
Sri Bintang Pamungkas Makar
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150521182109-20-54867/semangat-sri-bintang-pamungkas-menantang-soeharto/

Sri Bintang Pamungkas pada Masa Orde Baru


Pada era Suharto, Sri Bintang merupakan aktivis yang paling keras menentang pemerintahan Suharto. Sikap kritis Sri Bintang bukan tanpa alasan, aktivis yang pernah menempuh pendidikan di luar negeri tersebut menilai Pemerintahan Suharto tidak sesuai dengan keinginannya. Keinginan Sri Bintang Pamungkas adalah menjadi Presiden. Pada tahun 1996, ia bahkan mendeklarasikan diri sebagai calon presiden bersama Julius Usman sebagai calon wakil presiden. Akan tetapi pemilihan umun yang diinginkannya adalah pemilu langsung, tanpa partai. Bahkan ia juga ingin mengubah Undang-undang Dasar 1945.

"Pertama, kami menolak Pemilu tahun 1997. Kedua, kami menolak Soeharto jadi presiden kembali. Ketiga, kami akan membuat tatanan baru. Tatanan itu, mengubah Undang-Undang Dasar 1945," ujarnya lugas.

Sri Bintang Pamungkas ingin Makar ?

Bapak Ibuk, barangkali akan sedikit kepincut dengan kritisnya Sri Bintang Pamungkas dan menganggap bahwa dia benar. Dan menduga bahwa dia selalu melakukan hal yang benar. Hal tersebut tidak bisa disalahkan, mengingat pada masa Suharto, Sri Bintang dengan heroiknya bersama-sama dengan aktivis lain bersuara keras untuk menumbangkan Suharto. Saat itu Sri Bintang berada di pihak yang benar, Suharto salah. Lalu apakah sekarang juga berlaku demikian ?

Belum tentu juga, pada  masa lalu, tumbangnya Suharto bukan semata-mata karena Sri Bintang Pamungkas, ada aktivis lain seperti Budiman Sudjatmiko, Dita Indah Sari, Pius Lustrilanang dan elemen bangsa yang lain. Apakah para aktivis tersebut juga memiliki ide yang sama dengan Sri Bintang ?, tidak. Mereka memilih cara yang logis, berpolitik, memasuki parlemen untuk mengubah tatanan bangsa menjadi lebih baik, bukan dengan main kudeta-kudetaan, atau merencanakan upaya makar.

Akan tetapi sebenarnya, masyarakat tidak perlu heran dengan apa yang dilakukan oleh Sri Bintang Pamungkas. Urusan kudeta mengkudeta sudah dilakukan oleh Sri Bintang sejak zaman Suharto, walaupun visi dan misi kudeta itu sendiri tidak jelas. Sri Bintang, meskipun pada masa Suharto dia merupakan aktivis yang bersuara paling keras. Namun tujuan akhir dari perlawanan Sri Bintang Pamungkas terhadap presiden kala itu adalah ternyata ia sendiri memiliki hasrat untuk menjadi penguasa yang dipilih secara langsung oleh rakyat tanpa melalui partai. Sebuah gagasan yang sangat tidak rasional dan dengan mudah dipatahkan oleh Suharto.

Lalu, sekarang ketika rezim berganti, tiba-tiba dia bersuara sangat keras terhadap pemerintahan Joko Widodo, entah karena dasar apa tiba-tiba bermaksud menggulingkan Pemerintahan Jokowi.

“Karena sistem kepartaian, sistem UU-nya, sistem pemilunya menghasilkan pemimpin gombal. Jokowi ini akumulasi dari rezim kegombalan. Kalo begitu kita tak bisa mengharapkan pada akhir pemilihan. Kita nggak bisa berharap pada pergantian presiden selanjutnya. Mereka berpikir, kita akan dihadapkan pada pemimpin gombal-gombal juga. Harus dihentikan ditengah jalan,” paparnya. 

Rupanya keinginan untuk menjadi presiden dan keinginan untuk mengubah sistem yang sudah ada di Indonesia masih tersimpan di dalam dada beliau. Keinginan untuk menyelenggarakan pemilu langsung tanpa partai masih bercokol di dalam dada. Dan mungkin keinginan untuk menjadi presiden pun masih terselip. Ya, gak papalah namanya juga manusia. Selamat berjuang Pak !



EmoticonEmoticon