Negara Perampok !

Dia dikenal dengan nama Johny Indo. Seorang pria indo yang bapaknya adalah seorang anggota Koninklijk Leger (KL), tentara reguler Belanda yang dikirim ke Indonesia. Pada masanya, dia dikenal sebagai perampok toko emas di Jakarta yang merampok pada siang hari.

Selain Johny Indo, pada masa itu ada juga nama-nama seperti Slamet Gundul dan Kusni Kasdut.

Mereka adalah perampok legendaris yang kerap kali baku hantam dan baku tembak melawan aparat. Tak jarang, di kedua belah pihak ada yang terbunuh, tertembus peluru.

Lalu apa dasarnya ketiga orang itu merampok. Dari ketiga orang tersebut mereka memiliki latar belakang yang sama, yakni kemiskinan dan kelaparan.

Merampok dan menjadi musuh negara bukanlah cita-cita mereka.

Kusni kasdut bahkan adalah seorang mantan pejuang yang gigih pada era revolusi. Hanya karena tidak memiliki ijazah yang layak, ia tidak didaftar oleh A.H. Nasution sebagai TKR. Maka, ketika perut lapar, kebutuhan tak tercukupi, terpaksalah menjadi perampok yang kejam.

Tapi sekejam-kejam dan sejahat-jahatnya mereka, masih kalah dengan perampok-perampok raksasa yang anggota komplotannya mencapai ribuan (bandingkan dengan komplotan Johny Indo yang mungkin hanya puluhan orang).

Johny Indo dkk hanya merampok barang-barang di Indonesia. Tapi perampok raksasa itu bukan hanya merampok barang tapi juga merampok wilayah.

Perampok tersebut berasal dari benua Eropa, bernama Portugis (Portugal), Spanyol, Inggris, Belanda dan satu lagi dari Asia yakni Jepang. Nama lengkap untuk perampok-perampok itu sebenarnya adalah Komplotan Portugis, Komplotan Spanyol, Komplotan Inggris, Komplotan Belanda dan Komplotan Jepang.

Apa yang mendasari negara perampok itu merampok. Tidak lain dan tidak bukan karena perut lapar dan untuk mencukupi kebutuhan dan keinginan mereka. Artinya mereka sebenarnya hidup dalam kemiskinan dan butuh perbaikan taraf ekonomi . Dan satu-satunya jalan bagi mereka untuk membebaskan diri dari belenggu kemiskinan dan kelaparan adalah dengan merampok wilayah yang lebih kaya. Sama dengan Johny Indo, Slamet Gundul dan Kusni Kasdut, merampok orang kaya.

Wilayah itu salah satunya bernama Nusantara, yang saat ini kita kenal dengan nama Indonesia.

Maka, dimulailah perjuangan melepaskan diri dari belenggu kemiskinan. Kapal berlayar, biduk terkembang, mengarungi samudera luas nan tak bertepi dan tak berujung.

Kata Stamford Raffles dalam buku History Of Java, Perampok yang bernama Komplotan Portugis akhirnya tiba lebih dulu di nusantara pada tahun 1510. Setelah itu disusul perampok-perampok yang lain, yaitu Komplotan Spanyol, kemudian Komplotan Belanda, komplotan Inggris dan komplotan Jepang.

Di antara negara perampok tersebut yang paling lama merampok adalah Komplotan Belanda. Belanda merampok selama 350 tahun. Sementara komplotan Jepang selama 3,5 tahun. Sementara, kelompok lain hanya beberapa tahun saja.

Mengapa Belanda berhasil merampok selama itu?

Itu sebenarnya bukanlah keberhasilan, tapi kebodohan dan keserakahan Belanda sendiri. Inggris, Portugis dan Spanyol tak butuh berlama-lama di nusantara, mereka merampok secukupnya. Setelah cukup mereka pun pergi ke negara asalnya.

Tapi beda dengan Belanda. Mereka sangat serakah. Dan juga selama proses perampokan di nusantara terjadi berbagai hal yang tidak diduga. Anggota komplotan Belanda banyak yang saling menipu dan melakukan korupsi yang akhirnya merugikan Kerajaan Belanda sendiri selama bertahun-tahun. Butuh ratusan tahun untuk mengembalikan kerugian itu. Ditambah dengan sifat serakah mereka. Itulah makanya Belanda bercokol sangat lama di nusantara.

Tapi itu sudah berlalu, lupakanlah masa lalu, jadikan pelajaran semata. Ambil hikmah, ambil indahnya, kata Bang Iwan Fals.

Sebagaimana Johny Indo yang akhirnya bertaubat dan mendakwahkan Islam atau Kusni Kasdut yang sebelum mati menjadi pemeluk Katolik yang taat, Komplotan-komplotan perampok dari Eropa dan satu dari Asia itu, kini sudah bertaubat juga. Mereka sudah berhenti merampok dan sekarang menjadi sahabat karib bangsa Indonesia.

Kita sebagai bangsa Indonesia, seharusnya juga maklum ketika negara-negara miskin itu merampok negara kaya seperti Indonesia. Karena tanah yang subur ini adalah titipan Tuhan yang mungkin harus kita distribusikan kepada negara-negara miskin seperti Jepang, Belanda, Inggris, Spanyol, Portugal. Dan kini tak terhitung lagi negara-negara yang hidupnya sangat bergantung dengan Bumi nusantara dan rakyat Indonesia.

Ing Kene, Ngene, Saiki Aku Gelem

 “Piye leIsih penak zamanku to”, begitulah bunyi monumen penyesalan yang ditulis oleh para sopir truk. Tertulis dan terlukis di bak belakang truk-truk mereka. Mereka membayangkan bisa mengulang masa lalu bersama Pak Harto yang sudah meninggal dunia.

Segala sesuatu menjadi sangat berharga ketika sudah berlalu dan sudah tidak ada di samping kita. Melahirkan sesal yang tak terkendali.

Ing Kene, Ngene, Saiki, Aku Gelem”, kata Ki Ageng Suryomentaram. Melalui pergulatan kehidupan yang panjang dan dengan kalimat yang sangat sederhana beliau menjawab segala kegelisahan jiwa umat manusia. Beliau menunjukkan pada kita bahwa sesal tak berguna. Bahwa kehidupan adalah Ing Kene, Ngene, Saiki, Aku Gelem.

Ing kene (di sini), menunjukkan tempat. Di manapun berada kita harus gelem. Di tengah hutan atau di tengah kota dengan segala gemerlapnya. Di dalam gubuk bambu reot yang yang sangat sederhana atau di rumah mewah berhalaman satu hektar. Kita ikhlas dan rela berada di berbagai tempat.

Ngene. Ini menggambarkan keadaan atau kondisi. Kita ikhlas saat sakit. Ikhlas saat sehat. Kita ikhlas dianugerahi kulit berwarna cokelat, kulit berwarna hitam atau kulit berwarna putih. Kita juga ikhlas dianugerahi hidung pesek atau hidung mancung. Kita ikhlas dengan rambut kita yang berwarna hitam, merah, rambut keriting atau rambut lurus. Kita ikhlas menjalani kemiskinan atau menjalani kekayaan. Kita ikhlas menjalani takdir menjadi Presiden atau pesinden. Menjadi aparat atau  rakyat. Kita ikhlas saat bekerja keras. Bahkan ikhlas saat  tidak berprofesi apapun.

Saiki.(sekarang). Ini menggambarkan waktu. Kita harus ikhlas dan rela berada pada saat ini. Bukan kemarin dan bukan yang akan datang. Dengan ikhlas berada pada waktu sekarang, kita tak akan dibayang-bayangi masa lalu dan tidak merasa dikejar kejar oleh masa depan.

Aku Gelem. Aku bersedia, aku mau. Ya, Aku ikhlas, rela, lila, rila legawa menjalani semua itu tanpa sedikitpun ada penyesalan, tanpa sedikitpun ada kebimbangan dan keraguan. Karena semua itu adalah yang terbaik.

Membebaskan diri dari Egoisme

Coba bayangkan/ suatu saat nanti/ tak ada lagi orang jadi mangsa kekuasaan/ pada saat itu semua penderitaan/ terasa ringan dijinjing dan diusung bersama/penerus kita kan merasa indahnya gemah ripah loh jinawi/ semua makhluk hidup menjaga melindungi dan saling mengasihi.

Lagu tersebut berjudul bebaskan. Sebuah impian dan harapan yang diteriakkan dengan lantang oleh Marjinal, salah satu grup punk di tanah air ini. Mereka gelisah dengan segala bentuk konflik yang terjadi di antara sesama manusia. Konflik antar manusia dan konflik antar kelompok terus saja terjadi di lingkungan sekitar kita.

Tak peduli apapun jenis pertentangannya, semua itu terjadi karena egoisme yang semakin menguat. Seolah-olah manusia bisa hidup sendiri tanpa manusia lain, tanpa tumbuhan, tanpa hewan dan tanpa makhluk lain.

Pertentangan antar individu, suku, agama, ras, pendukung olahraga, pendukung capres, pendukung parpol dan lain-lain semua bermuara pada egoisme. Bahkan egoisme juga yang menyebabkan berbagai tindak kriminal terus menjadi headline di media massa.

Egoisme hampir sama dengan teori antroposentris yang mengatakan bahwa manusia adalah subjek utama alam semesta ini, mereka berhak bertindak apapun terhadap makhluk lain seperti pepohonan, hewan bahkan makhluk astral.

Terhadap pepohonan, apabila dianggap mengganggu kepentingannya, manusia berhak mencerabut, menebang dan memusnahkannya dari muka bumi. Terhadap hewan juga demikian, manusia tak segan mengurung seekor burung kenari dalam sangkar bambu, hanya demi kepuasan telinganya.

Begitu juga dengan makhluk astral, manusia tak segan memperalat tuyul demi kekayaan pribadi, keluarga dan kelompoknya.

Sebagai anak kemarin sore yang konon baru ada di bumi ini 50.000 tahun yang lalu, manusia jelas durhaka terhadap ibu bumi dan kurang ajar terhadap kakak-kakaknya yang terlebih dulu ada.

Tapi Inilah yang sekarang terjadi. Kebudayaan modern lahir dengan memanfaatkan egoisme manusia. Egoisme juga merupakan anak cucu atau keturunan dari teori antroposentrisme. Kebudayaan modern terwujud karena propaganda egoisme yang tiap hari dijejalkan oleh tetangga, orang tua, lingkungan, negara dan secara masif dikabarkan melalui media massa.

Membebaskan diri dari egoisme, mungkin itulah yang diinginkan oleh Marjinal. Hidup bersama secara damai dengan makhluk lain, merawat bersama-sama bumi titipan Tuhan tanpa harus saling mengalahkan.

Maka ketika egoisme merusak kemanusiaan, membunuh harkat martabat manusia dan merusak lingkungan, tak ada pilihan lain bagi manusia kecuali memeluk erat  hati nuraninya, atau berteduh di bawah payung agama. Karena sesungguhnya egoisme adalah musuh semua, agama tak peduli apapun agamanya : Islam, Hindu, Buddha, Konghucu, Tao, Kristen, Katolik, Kejawen, Sunda Wiwitan dan ratusan agama lain yang tersebar di seluruh Indonesia.

Langit dan Kata

Di langit kutitipkan resahku ini

di kata kuberharap mampu menghalau sgala gundah di hatiku

(Isi hati, Hengky Supit)

Mengapa langit, mengapa kata?. Bagi saya, langit merupakan lambang dimensi tertinggi dan kata merupakan kendaraan untuk mencapai dimensi tersebut. Singkatnya,  langit dan kata merupakan simbol dari doa manusia pada Penguasa Semesta.

Saat makhluk yang tinggal dalam satu dimensi sudah tidak  mampu lagi menangkap kegelisahan hati, maka hanya pada Pemilik Kehidupan ini segala resah dan segala gundah tertumpah.

Begitu banyak kepalsuan membedaki wajah peradaban ini.

Lihatlah seekor anjing berusaha memalsukan jati dirinya, lalu dia mengenakan pakaian musang. Juga bagaimana sebatang pohon jambu berusaha memalsukan dirinya, hingga yang tampak adalah pohon kelapa. Sudah demikian canggihnya alat-alat pemalsu kehidupan. Sehingga segala bentuk kepalsuan tersebut sangat mirip kesejatian.

Padahal hidup ini akan lebih indah ketika seekor anjing mengaku anjing, sebatang pohon jambu mengaku pohon jambu.

Maka hanya langit dan kata menjadi tumpuan akhir penguak kepalsuan agar hanya kesejatian yang tersisa.

Mengenang Blogging

Blogwalking, saling berkomentar dan saling bertukar link. Anda, yang mengenal internet karena facebook, tak mungkin tahu kosakata semacam itu.

Tapi lima tahun yang lalu, kegiatan tersebut pernah dilakukan para blogger. Mereka begitu bersemangat membuat blog kemudian mengisinya dengan tulisan-tulisan yang  menurut mereka bagus-entah menurut orang lain. Mereka ngeblog demi menambah pundi-pundi uang di rekening mereka.

Gegap gempita blogging bahkan menyeret Menkominfo saat itu untuk membuat Hari Blogger Nasional. Tanggalnya berapa, saya sudah lupa.

Itu, lima tahun yang lalu.

Dunia internet begitu cepat berubah. Hari ini kegiatan tersebut tinggal sejarah. Hari ini pula, situs-situs yang pernah mewarnai dunia maya tumbang. Misalnya : Multiply.com, dagdigdug.com, friendster.com dan ribuan blog milik para blogger Indonesia.

Dulu pula, begitu mudahnya para blogger menikmati dollar dari Google Adsense. Bertebaranlah gambar yang memuat uang ratusan dollar yang sudah berhasil diraih para blogger. Sekarang, entah.

Dunia internet begitu cepat berubah.

Dulu para pebisnis, para pakar internet meramalkan bahwa toko online akan merajai dunia bisnis di Indonesia. Toko konvensional akan tutup. Orang-orang lebih menyukai berbelanja online. Benarkah?

Tidak benar. Ramalan itu meleset.

Hari ini blogging dan segala tetek bengek tentangnya tinggal kenangan bagi sebagian orang.