Ketika Tuhan Bertanya

Tuhan bertanya kepada setiap manusia

Melalui suara

yang hanya bisa didengar

dari hati nurani mereka,

Wahai manusia

Aku bertanya kepadamu

Jika mulai saat ini aku menghentikan distribusi pahala,

Apakah kamu  tetap akan  berbuat baik kepada sesama manusia?

Apakah kamu tetap tidak akan menyakiti hati alam semesta?

Apakah kamu tetap  akan beribadah kepadaKu?

Dan apakah kamu tetap akan mencintaiKu?

Benteng Pertahanan Terakhir Kebudayaan Bangsa Indonesia

Kita tak pernah menyadari bahwa desa merupakan benteng pertahanan terakhir kebudayaan bangsa Indonesia dari berbagai gempuran budaya modern yang tak kenal ampun. Selama ini kita hanya tahu bahwa desa adalah sebuah tempat bermukimnya masyarakat tradisional. Sedangkan kebudayaan modern adalah kebudayaan masa depan dan sebagai sesuatu yang wajar dan alami.

Tetapi, bukan demikian yang terjadi, memang benar desa  dihuni oleh masyarakat tradisional, tetapi di situlah sebenarnya identitas bangsa Indonesia. Tradisional dan memegang teguh ideologi yang diwariskan pendahulu. Tak terbayangkan seandainya tiba-tiba semua desa di Indonesia menjadi kota atau berubah menjadi desa tanpa kebudayaan lokal. Hilang sudah jati diri bangsa Indonesia.

Sebaliknya budaya modern yang selama ini kita anut sebenarnya tidak terjadi begitu saja, ada unsur kesengajaan agar kebudayaan modern tersebar ke seluruh penjuru dunia. Bukan hanya agama yang memiliki ustadz atau misionaris, tetapi budaya modern juga memiliki orang-orang yang bertugas menyebarkan kebudayaan modern.

Jika tujuan dari penyebaran agama adalah untuk mengajak penganutnya mendekat kepada Tuhan, kebudayaan modern justru sebaliknya. Kebudayaan modern disebarkan agar manusia semakin menjauh dari Tuhan. Bukan hanya menjauh dari Tuhan tetapi tujuan budaya modern adalah agar manusia semakin menjauh dari dirinya sendiri.

Budaya modern sebenarnya adalah penjelmaan dari globalisasi. Dan globalisasi sebenarnya adalah kapitalisme yang diperhalus. Inti dari kebudayaan modern adalah menganggap manusia sebagai konsumen.

Inilah yang saat ini sedang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia terutama di kota-kota. Kota adalah wujud nyata keberhasilan budaya modern.

Sedangkan desa, saat ini masih bergulat dengan terjangan kebudayaan modern. Desa masih memiliki filter berupa budaya lokal dan agama sehingga kebudayaan modern tak bisa masuk begitu saja.

Akan tetapi semakin derasnya serbuan budaya modern, bukan tak mungkin dalam waktu dekat kebudayaan lokal di desa akan dikalahkan oleh budaya modern. Kita akan kehilangan ciri-ciri sebagai manusia Indonesia. Masyarakat Jawa, mereka akan kehilangan jawanya, masyarakat sunda kehilangan sundanya, masyarakat Dayak kehilangan dayaknya dan seterusnya.

Korupsi Bisa Dihentikan Hanya Jika Rakyat Menghendaki

Korupsi tidak lahir begitu saja. Ada penyebab mengapa korupsi di negeri yang Berketuhanan yang Maha Esa bisa tumbuh subur hingga hari ini. Korupsi yang terjadi di berbagai instansi pemerintah atau di manapun menjadi sebuah hal yang wajar.

Ada banyak faktor mengapa seorang pejabat yang semula terlihat sangat religius tiba-tiba kehilangan sisi kemanusiannya dengan merelakan dirinya menjadi seorang koruptor.

Tetapi ada faktor yang sangat berperan dalam budaya korupsi. Yakni rakyat Indonesia. Kali ini saya ingin mencontohkan dengan tradisi suap yang dilakukan oleh calon kades.

Saya kira wajar, apabila ada seorang Kepala Desa melakukan korupsi. Mengapa wajar?

Kita harus mundur beberapa langkah, yaitu pada saat sang Kepala Desa masih berstatus sebagai calon Kepala Desa. Saat itu, sang calon melakukan berbagai cara untuk menarik simpati masyarakat agar mereka bersedia memilihnya pada saat acara pencoblosan. Cara yang paling lazim dilakukan adalah mencoba menebar kebaikan dan mengumbar janji janji perbaikan desa. Apakah hanya cukup itu? Ternyata tidak. Semua kebaikan dan janji-janji tersebut hanya dianggap angin lalu oleh rakyat.

Sang calon bukannya tidak tahu, dia sadar sepenuhnya akan hal ini. Maka dilakukanlah perbuatan yang sesungguhnya melanggar kesepakatan bersama yakni politik uang. Uanglah yang membuat rakyat masyarakat desa terpikat.

Pada saat tersebut, masyarakat telah mengeksploitasi dan “memeras” para calon. Mereka-entah sadar atau tidak telah memulai siklus korupsi yang ujung-ujungnya justru merugikan mereka sendiri sampai ke anak cucu.

Suap, sogok atau apapun namanya yang dilakukan oleh calon Kades kepada rakyat sebenarnya adalah legitimasi rakyat terhadap apapun perbuatan yang nanti akan dilakukan oleh Kades terpilih termasuk korupsi. Bukan pula semata-mata kesalahan calon kades.
Rakyat secara sukarela telah menjual suaranya dan menjual masa depan desanya dengan uang puluhan ribu rupiah. Mereka memaksa calon kades untuk mengeluarkan modal yang sangat besar. Setelah terpilih, Kades tentu saja hanya akan berfikir bagaimana caranya mengambil kembali uang yang telah dibagikan kepada rakyat.

Tidak mungkin sang kades mengambil secara langsung. Tidak mungkin mereka nithili siji mbaka siji uang yang sudah mereka bagikan. Cara yang paling mudah bagi mereka adalah mengkorupsi apa saja yang bisa dikorupsi. Mencuri apa saja yang bisa dicuri. Perilaku semacam ini bisa diperluas dalam ruang lingkup yang lebih besar.

Jika memang perilaku itu yang dikehendaki oleh rakyat. Atau rakyat merasa nyaman dengan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sarat dengan kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh para pemimpinnya, maka silahkan saja teruskan siklus suap menyuap di segala lini kehidupan.

Tetapi jika rakyat ingin memutus mata rantai korupsi, silahkan tolak dan jangan mau menyuap atau disuap.

Perlawanan Desa

desa teguh santosaApa pendapatmu tentang sebuah kawasan yang bernama desa?. Desa adalah sebuah tempat dengan pemandangan alam yang masih terjaga. Di sana terdapat sawah, ladang, hutan dan pepohonan rindang yang bertebaran di berbagai tempat. Di desa juga terdapat sungai yang mengalir di antara sawah dan ladang. Di tempat yang indah itu pula kita bisa menikmati suara burung-burung yang bercicit bebas di ranting-ranting pepohonan.

Udara yang segar tanpa polusi bisa kita hirup dengan mudah di sana.

Penduduk desa memiliki pola hidup sederhana. Bagi mereka, kehidupan adalah proses menjalani perintah Tuhan dengan sebaik-baiknya. Maka segala bentuk proses hidupnya senantiasa mempertimbangkan keberadaan Tuhan, sesama manusia dan alam semesta. Mereka tidak serta merta mengeksploitasi alam demi kepentingan manusia, tetapi ada pertimbangan moral terhadap Tuhan dan keberlangsungan hidup alam semesta itu sendiri.

Mereka memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dari hasil pertaniannya. Padi, jagung, sayuran, ikan merupakan menu yang diambil secara langsung dari tanah yang sudah mereka olah. Setelah semua kebutuhan dirasa sudah tercukupi, sisa hasil pertanian pun dijual.

Itulah sejatinya kehidupan desa. Hingga datang segala bentuk kebudayaan dari kota yang mengubah sendi sendi kehidupan di pedesaan. Kehidupan pedesaan tak lagi berisi kesederhanaan.

Kehidupan yang serba hedonis pun menghajar segala lini kehidupan termasuk di pedesaan. Di desa, budaya lokal dan agama kini bertarung melawan kapitalisme dan hedonisme.

Apakah desa akan mengalami kekalahan seperti di kota yang terlebih dahulu bertekuk lutut di kaki kapitalisme yang tak memiliki nurani?

sumber gambar : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=3333384577059&set=a.3170955636437.2120422.1341870303&type=1&permPage=1

Salam dari Desa

Kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku
Katakan padanya padi-padi telah kembang
Ani-ani seluas padang roda giling berputar-putar
Siang malam tapi bukan kami punya

Kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku
Katakan padanya tebu-tebu telah kembang
Putih-putih seluas padang
Roda lori berputar–putar siang malam
Tapi bukan kami punya

Anak-anak kini telah pandai menyanyikan gema merdeka
Nyanyi nyanyi bersama-sama di tanah-tanah gunung
Anak-anak kini telah pandai menyanyikan gema merdeka
Nyanyi nyanyi bersama-sama tapi bukan kami punya

Tanah pusaka tanah yang kaya
Tumpah darahku di sana kuberdiri
Di sana kumengabdi dan mati dalam cinta yang suci

Kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku
Katakan padanya nasi tumbuk telah masak
Kan kutunggu sepanjang hari
Kita makan bersama-sama berbincang-bincang
Di gubuk sudut dari desa

Lagu & Lirik: Leo Kristi

sumber : http://nyanyiantanahair.blogspot.com/2012/02/salam-dari-desa.html

KALAM MAIYAH – Untuk Ijazah Maiyah dan Syahadah Maiyah

KALAM  MAIYAH – Untuk Ijazah Maiyah dan Syahadah Maiyah

Oleh : Sabrang Mowo Damar Panuluh

1.
Malam ini kita menghormati dan menyampaikan penghargaan kepada 3 + 9 orang di antara sekian orang yang pekerjaan sehari-harinya insyaallah disenangi oleh Tuhan, di tengah gegap-gempita peradaban modern yang profesi utamanya adalah menyakiti hati Tuhan.

Malam ini kita bukan sedang memberikan penghargaan kepada orang yang prestasinya hebat, yang punya kekuatan dahsyat, yang punya kreativitas mumpuni, yang punya kepandaian intelektual, atau yang punya ketinggian spiritual.

Ijazah Maiyah dan Syahadah Maiyah juga tidak diperuntukkan bagi orang dengan keunggulan professional, bahkan tidak juga untuk keunggulan itu sendiri. Maiyah berpendapat manusia tidak perlu mengungguli sesama manusia.

Wilayah nilai yang mengumpulkan kita di sini bukan hal-hal besar atau yang dianggap besar oleh Peradaban Materi yang sedang berlangsung sekarang ini, melainkan hal-hal yang kecil, sederhana, dasar dan inti pada kehidupan manusia.

Yakni benarnya seseorang memilih nilai dalam hidupnya. Otentisitas pilihan itu sehingga membuatnya punya karakter untuk menjadi orang yang bukan dirinya. Kesungguhan di dalam menjalankan nilai pilihannya itu. Kesetiaan di dalam memperjuangkannya dalam rentang waktu yang lama dan teruji. Serta keikhlasan untuk menanggung segala akibat, resiko atau bahkan kesengsaraan karena pilihannya.

2.
Nilai-nilai yang diambil, dipercaya dan diterapkan selama dua abad terakhir oleh ummat manusia sedunia, tidak lama lagi akan mengalami kehancuran yang sungguh-sungguh.

Manusia, kelompok-kelompok, institusi-institusi dan satu-satuan dalam peradaban yang kini berlangsung, sudah mencapai puncak kebusukan dan kebobrokannya. Mereka terperdaya oleh pilihan nilainya sendiri. Mereka tertipu oleh kebanggaannya sendiri. Mereka terbentur dan terjerembab oleh andalan-andalan dan unggulan-unggulannya sendiri. Maiyah menyaksikan ummat manusia sedang menyelenggarakan upacara bunuh diri kemanusiaan secara massal dan global.

Proses bunuh diri global atau dialektika penghancuran yang dilakukan oleh ummat manusia atas dirinya sendiri itu segera akan muncul di altar sejarah berupa kehancuran ekonomi di wilayah-wilayah permukaan bumi yang selama ini dipercaya sebagai tonggak-tonggak kekuatan ekonomi.

Hal itu akan memacu meningkatnya secara radikal potensi konflik, penyerbuan militer, peluncuran nuklir, adegan-adegan bunuh diri dalam arti yang wadag dan nyata, mengubah alam pikiran dan psikologi ummat manusia ke arah chaos kejiwaan dan kebingungan intelektual yang tidak bisa dihindarkan lagi.

Gedung-gedung tinggi yang angkuh kepada Tuhan akan ambruk. Panggung-panggung dengan aktor-aktor sejarah yang arrogan akan berpatahan tiang-tiang penyangganya. Lampu-lampu gemerlap yang memancarkan kesombongan akan meredup atau padam sama sekali. ‘Atheisme’ peradaban abad-21 akan sampai di ujungnya.

Malam ini Jamaah Maiyah Nusantara menyampaikan cinta dan junjungan kepada 3 + 9 orang di antara sekian orang, yang tidak ikut menghancurkan kehidupan dan tidak turut merusak dunia.

3.
Maiyah tidak punya derajat, fasilitas dan dana, untuk memberi penghargaan kepada siapapun. Sehingga Maiyah juga tidak mencari-cari orang, tokoh atau siapapun, dari berbagai bidang atau profesi, untuk diberi penghargaan.

Maiyah hanya melakukan tugas perjalanan sejarahnya – yakni memperluas wilayah di mana manusia diajak bersama-sama membangun perilaku yang tidak dibenci oleh Allah — kemudian menjumpai 3 + 9 orang, kali ini, yang bukan hanya layak atau patut dihormati, tapi bahkan wajib dijunjung tinggi, dengan takdzim penghargaan, sejauh yang Maiyah mampu lakukan.

Tentu saja Maiyah optimis ada ribuan orang yang memiliki kepatutan semacam itu, tetapi Maiyah malam hari ini hanya sanggup menjunjungkan cinta kepada 3 + 9 orang suri tauladan.

Di tengah kehidupan yang sedang berjalan santai menuju kehancuran demi kehancuran, yang berlangsung sangat lamban secara materiil, namun berlangsung sangat cepat dan radikal secara ruhaniyah — Maiyah memberikan penghargaan kepada ‘3 + 9 titik cahaya’, di antara ratusan titik cahaya lainnya, di tengah ribuan titik-titik cahaya yang lebih luas namun samar-samar.

3 + 9titik cahaya itu menjalani kehidupan yang bertentangan dan berarus balik dari arus raksasa penghancuran dan kehancuran nasional global yang sedang berlangsung.

4.
Maiyah menemukan bahwa salah satu jenis kehancuran mendasar yang sedang kita alami secara nasional dan sebentar lagi tiba di puncaknya, adalah – bahwa — di manapun manusia berada, sebagai apapun ia, perilakunya semakin berkecenderungan untuk tidak memaksudkan setiap kosakata sebagaimana makna dari kosakata itu.

Setiap kata, idiom, istilah, dimaksudkan oleh manusia di Negeri ini tidak sebagaimana kandungan arti yg diwakili oleh kata-kata itu. Kata ‘manusia’, ‘masyarakat’, ‘Negara’, ‘demokrasi’, ‘Agama’, ‘pembangunan’, ‘kemajuan’, ‘kesejahteraan’, ‘keadilan’, ‘Pemerintah’, ‘politik’, dan hampir kata apapun saja termasuk ‘Nabi’, ‘Malaikat’ dan ‘Tuhan’.

Kalau disebut ‘manusia’, ternyata bisa berarti ‘hewan’, ‘setan’ atau ‘benda’.
Kalau diucapkan ‘masyarakat’, yang dimaksud bias ‘penduduk’, ‘gerombolan’, juga tidak diurus perbedaannya dengan ‘ummat’, ‘kaum’, ‘bangsa’ atau ‘suku’.
Dikatakan ‘Negara’, padahal kenyataannya ‘Perusahaan’.
Dibilang ‘Demokrasi’ faktanya ‘Jebakan’.
Disebut ‘Agama’, maksud tersembunyinya adalah ‘Komoditas’.
Diumumkan kata ‘Umroh’, maksud aslinya adalah ‘Money Laundring’.
Dipidatokan ‘Pembangunan’, kandungannya adalah ‘Pegadaian’.
Diorasikan ‘Kemajuan’, prakteknya adalah ‘Kemacetan’.
Membangga-banggakan ‘Kesejahteraan’ tanpa menyebutkan bahwa itu tidak dimaksudkan untuk rakyat.
Menuturkan ‘Keadilan’, tidak ada ilmunya, sehingga tak ada pula kenyataannya.
Kita pikir ‘Pemerintah’, ternyata Buruh yang berlaku Juragan.
Ngomongnya politik, ternyata yang dimaksud adalah Penipuan.
Yang dimaksud ‘Nabi’ adalah Dukun
Yang dimaksud ‘Malaikat’ adalah adalah Peri
Yang dimaksud ‘Tuhan’ adalah Artis.

Jamaah Maiyah Nusantara melihat, menyaksikan, menemukan dan membuktikan dalam jangka waktu puluhan tahun

Bahwa Bunda Cammana benar-benar Bunda Cammana
Bahwa Kartolo sungguh-sungguh Kartolo
Bahwa Joko Teman asli Joko Temon
Bahwa Pakde Nuri sejatinya memang Pakde Nuri
Bahwa Bang Alisyahbana adalah pohon yang meskipun hidup di tanah yang hampir tak memungkinnya tumbuh, ia tetap subur rindang sebagai Bang Alisyahbana
Bahwa Pakde Heru Yuwono tak ada lain kecuali Heru Yuwono
Bahwa Harwanto Dahlan dari lahir hingga wafat adalah Harwanto Dahlan
Bahwa Lik Rahmat Mulyono tidak pernah sedetikpun menjadi bukan Lik Rahmat Mulyono
Bahwa Cak Sumitro Sumajah penuh penderitaan untuk bertahan menjadi Sumitro Sumajah
Bahwa Mas Uki Bayu Sejati tidak pernah masuk angin sehingga mengubahnya menjadi bukan Mas Uki Bayu Sejati
Bahwa Joko Kamto jiwa hidupnya bertapa sehingga gegap gempita dunia tak sanggup menggesernya dari kepribadian Joko Kamto
Bahwa Nevi Budianto tidak terpengaruh oleh nikmatnya sorga untuk terus berdiri tegak sebagai Novi Budianto

Wassalam
Surabaya 14 November 2011
Sabrang Mowo Damar Panuluh

*) dibacakan pada saat acara IJAZAH MAIYAH 14 November 2011, di Gedung Cak Durasim, Surabaya.

sumber : http://www.facebook.com/notes/komunitas-kenduri-cinta/kalam-maiyah-untuk-ijazah-maiyah-dan-syahadah-maiyah/10150372920913458

Pendukung

Nama Kecamatan Godong Kabupaten Grobogan mendadak muncul di media massa. Bukan karena warga Kecamatan Godong mengekspor padi ke Amerika atau mengirim hasil bumi ke Eropa. Akan tetapi kemunculannya di media massa merupakan efek adanya kerusuhan yang melibatkan sebagaian warga Godong dan pendukung sebuah klub sepakbola yang pernah mengibarkan nama Ribut Waidi yaitu Persatuan Sepakbola Indonesia Semarang (PSIS).

Pada saat kejadian sempat beredar berbagai kabar burung yang ternyata kabar tersebut tidak sepenuhnya benar. Tetapi pada intinya kejadian tersebut melibatkan pendukung PSIS.

Pada waktu yang tak terlalu berbeda di tempat lain, tersiar kabar dirusaknya rumah warga masyarakat Ahmadiyah oleh orang-orang tak dikenal.  Pendukung kelompok apakah penyerangnya?  belum diketahui.

Sebelumnya, belum hilang dari benak masyarakat peristiwa Lapas Cebongan. Empat orang tahanan Polda DIY harus pergi untuk selama-lamanya setelah tubuhnya dihujani peluru yang berlarian dari senapan AK 47. Konon peristiwa tersebut dilandasi jiwa korsa dan semacam dukungan atas berpulangnya rekan para penembak. Selama beberapa hari masih belum diketahui siapa sebenarnya pelaku penembakan. Selang beberapa hari, pihak penembak mengakui perbuatannya. Mereka adalah putra putra bangsa yang kita mengenalnya sebagai pendukung terdepan Republik Indonesia.

Beberapa kejadian di atas sebenarnya bisa ditarik persamaan. Peristiwa- peristiwa di atas selalu melibatkan pendukung. Dalam bahasa sepakbola disebut suporter. Suporter PSIS, pendukung ideologi atau bahkan pendukung NKRI. Para pendukung itu sebenarnya bukan unsur utama. Ada hal lebih penting dibanding pendukung. Yaitu apa yang didukung.

Sepakbola lebih penting daripada suporter sepakbola, ideologi lebih penting daripada pendukung. Bahkan NKRI lebih penting dibanding pendukung NKRI.

Maka akan lebih bijak apabila para pendukung lebih mengutamakan apa yang didukungnya daripada menyuarakan kepentingannya atau berusaha menunjukkan keberadaannya melalui cara-cara yang kurang etis.

Hidup Seputarku

Di tasik kearifan
Perlahan ku selam makna
Hidup seputarku
Tertegun menangkap fakta
Manusia kian beranjak
Dari hakekatnya

Kasih t’lah memudar, sekejap
Sana sini seteru
Norma yang merapuh
Karena angkara

Insan saling berlomba
Memperebutkan kuasa
Pribadi semata
Tak beda dengan fauna
Buas merampas sesama
Si lemah terhempas

Di mana harapan berada
Selaksa tangan meminta
Langitku merindu damai

Berhentilah, dan berkaca
Begitu banyak noda nista
Yang telah tertumpah
Bawa jiwa bersih, berpeka nurani
‘pabila itu kau perbuat
Dunia kita bersuka… (sewajarnya)

sumber : http://www.elyrics.net 

Album Ungu Kla Project 1994

Bumi Tanpa Atmosfer

Ada perbedaan yang sangat mencolok antara isi siaran televisi zaman dulu dan zaman sekarang. Yang saya maksud zaman dulu adalah siaran televisi pada era 90-an. Suatu zaman di mana kita merasa bahagia destroy_tvmelihat senyum manis Pak Harto melalui satu satunya stasiun televisi di Indonesia, yakni Televisi Republik Indonesia (TVRI).

Selain TVRI, berangsur-angsur lahir stasiun televisi baru : RCTI, SCTV dan TPI. Pak Harto melalui Menteri Penerangan senantiasa mengatur secara penuh jenis-jenis acara yang boleh disiarkan di televisi. Segala bentuk acara televisi harus selaras dengan kepentingan Pemerintah Republik Indonesia. Tak akan pernah ada acara televisi yang bertentangan dengan kepentingan Pemerintah. Jika terpaksa ada, maka acara tersebut akan diakhiri. Suka atau tidak suka.

Seiring bergulirnya roda waktu, ada perubahan dalam isi siaran televisi. Semenjak Pak Harto turun pada peristiwa reformasi 1998, bertambahlah stasiun televisi baru di Indonesia.

Turunnya Pak Harto dan pertambahan stasiun televisi di Indonesia membawa perubahan radikal dalam sejarah pertelevisian di Indonesia. Jika semula acara televisi dikontrol secara ketat oleh Menteri Penerangan, sejak turunnya Pak Harto turun hal tersebut tidak berlaku lagi. Isi siaran televisi tidak ada lagi yang mengontrol. Bebas sebebas-bebasnya.

Pemilik stasiun televisi menganggap penonton adalah sumber penghasilan mereka. Mereka tak peduli apakah acara-acaranya layak ditonton oleh penonton anak-anak atau tidak. Bagi mereka, tidak ada pertimbangan baik dan buruk, tidak ada pertimbangan moral pada setiap tayangan televisi.

Jika pemerintah berani-berani mengatur isi siaran televisi di Indonesia maka pemerintah akan berhadapan dengan demokrasi. Pemerintah akan berhadapan dengan bebebasan pers, kebebasan perpendapat dan segala macam tetek bengek lainnya.  Akhirnya, pemerintah tak berdaya mengatur isi siaran televisi. Jikapun ada lembaga semacam Lembaga Sensor Film atau Komisi Penyiaran itu hanya semacam syarat, seolah olah lembaga tersebut mengontrol isi siaran televisi. Padahal sejatinya mereka tak memiliki keberanian untuk menyensor film ataupun acara-acara di televisi.

Yang terjadi kemudian, tidak ada lagi kontrol terhadap berbagai siaran televisi. Sinetron, acara musik, film, infotainment, debat dan lain-lain berlangsung bebas sebebas bebasnya.

Keberadaan siaran televisi tanpa kontrol ibarat bumi tanpa atmosfer.  Semua sinar ultraviolet, benda-benda langit jatuh ke bumi tanpa ampun. Membombardir segala yang ada di bumi.

Bukan hanya siaran televisi, tetapi segala informasi yang berasal dari semua media : koran, majalah, tabloid, radio dan yang paling radikal adalah informasi dari internet yang masuk tanpa kontrol.

Ironisnya, ketika pemerintah secara tegas bermaksud mengatur dan memblokir konten konten yang merugikan rakyat (meskipun tidak disadari oleh rakyat sendiri), pemerintah justru dihujat. Lagi-lagi disebut melanggar demokrasi, melanggar kebebasan dan lain-lain.

Maka ketika pemerintah sudah tidak mampu menjadi atmosfer bagi rakyat Indonesia, tak ada pilihan lain selain membangun atmosfer bagi diri sendiri. Membangun atmosfer dengan bahan kebudayaan dan kearifan lokal, agama dan kepercayaan. Atau apa saja yang bisa mendekatkan manusia dengan dirinya sendiri.

Akhir Sebuah Kerinduan

Kamu dan aku ditakdirkan hidup di dunia hanyalah untuk memendam rindu. Aku Engkau biarkan menangis karena rindu. Tersedu-sedu setiap kali kutangkap isyaratMu.

Di langit yang berwarna biru aku lihat Engkau menatapku

Pada angin yang bertiup aku dengar panggilanMu

Di embun yang menempel di dedaunan pada pagi hari aku rasakan kehadiranMu

Di mataku

Di telingaku

Di hidungku

di jantungku

di hatiku

dan

di diriku

Tapi semua hanya bayangMu.

Bukan diriMu

Tetap saja kamu dan aku memendam rindu, tak berdaya dihijab fatamorgana.

Sebuah fatamorgana yang menjelma menjadi apa saja.

Menjadi aku

menjadi kamu

menjadi dia

menjadi kita

menjadi mereka

menjadi dunia

Hingga tiba waktunya semua itu musnah.

Semua kerinduan tertumpah sudah.

Hanya ada Engkau dan aku

Hanya ada Dia dan kamu

arif.rahmawan located at 511/67 Huynh Van Banh , Ho Chi Minh, VN . Reviewed by 34 customers rated: 4 / 5

Switch to our mobile site