Negara Perampok !

Dia dikenal dengan nama Johny Indo. Seorang pria indo yang bapaknya adalah seorang anggota Koninklijk Leger (KL), tentara reguler Belanda yang dikirim ke Indonesia. Pada masanya, dia dikenal sebagai perampok toko emas di Jakarta yang merampok pada siang hari.

Selain Johny Indo, pada masa itu ada juga nama-nama seperti Slamet Gundul dan Kusni Kasdut.

Mereka adalah perampok legendaris yang kerap kali baku hantam dan baku tembak melawan aparat. Tak jarang, di kedua belah pihak ada yang terbunuh, tertembus peluru.

Lalu apa dasarnya ketiga orang itu merampok. Dari ketiga orang tersebut mereka memiliki latar belakang yang sama, yakni kemiskinan dan kelaparan.

Merampok dan menjadi musuh negara bukanlah cita-cita mereka.

Kusni kasdut bahkan adalah seorang mantan pejuang yang gigih pada era revolusi. Hanya karena tidak memiliki ijazah yang layak, ia tidak didaftar oleh A.H. Nasution sebagai TKR. Maka, ketika perut lapar, kebutuhan tak tercukupi, terpaksalah menjadi perampok yang kejam.

Tapi sekejam-kejam dan sejahat-jahatnya mereka, masih kalah dengan perampok-perampok raksasa yang anggota komplotannya mencapai ribuan (bandingkan dengan komplotan Johny Indo yang mungkin hanya puluhan orang).

Johny Indo dkk hanya merampok barang-barang di Indonesia. Tapi perampok raksasa itu bukan hanya merampok barang tapi juga merampok wilayah.

Perampok tersebut berasal dari benua Eropa, bernama Portugis (Portugal), Spanyol, Inggris, Belanda dan satu lagi dari Asia yakni Jepang. Nama lengkap untuk perampok-perampok itu sebenarnya adalah Komplotan Portugis, Komplotan Spanyol, Komplotan Inggris, Komplotan Belanda dan Komplotan Jepang.

Apa yang mendasari negara perampok itu merampok. Tidak lain dan tidak bukan karena perut lapar dan untuk mencukupi kebutuhan dan keinginan mereka. Artinya mereka sebenarnya hidup dalam kemiskinan dan butuh perbaikan taraf ekonomi . Dan satu-satunya jalan bagi mereka untuk membebaskan diri dari belenggu kemiskinan dan kelaparan adalah dengan merampok wilayah yang lebih kaya. Sama dengan Johny Indo, Slamet Gundul dan Kusni Kasdut, merampok orang kaya.

Wilayah itu salah satunya bernama Nusantara, yang saat ini kita kenal dengan nama Indonesia.

Maka, dimulailah perjuangan melepaskan diri dari belenggu kemiskinan. Kapal berlayar, biduk terkembang, mengarungi samudera luas nan tak bertepi dan tak berujung.

Kata Stamford Raffles dalam buku History Of Java, Perampok yang bernama Komplotan Portugis akhirnya tiba lebih dulu di nusantara pada tahun 1510. Setelah itu disusul perampok-perampok yang lain, yaitu Komplotan Spanyol, kemudian Komplotan Belanda, komplotan Inggris dan komplotan Jepang.

Di antara negara perampok tersebut yang paling lama merampok adalah Komplotan Belanda. Belanda merampok selama 350 tahun. Sementara komplotan Jepang selama 3,5 tahun. Sementara, kelompok lain hanya beberapa tahun saja.

Mengapa Belanda berhasil merampok selama itu?

Itu sebenarnya bukanlah keberhasilan, tapi kebodohan dan keserakahan Belanda sendiri. Inggris, Portugis dan Spanyol tak butuh berlama-lama di nusantara, mereka merampok secukupnya. Setelah cukup mereka pun pergi ke negara asalnya.

Tapi beda dengan Belanda. Mereka sangat serakah. Dan juga selama proses perampokan di nusantara terjadi berbagai hal yang tidak diduga. Anggota komplotan Belanda banyak yang saling menipu dan melakukan korupsi yang akhirnya merugikan Kerajaan Belanda sendiri selama bertahun-tahun. Butuh ratusan tahun untuk mengembalikan kerugian itu. Ditambah dengan sifat serakah mereka. Itulah makanya Belanda bercokol sangat lama di nusantara.

Tapi itu sudah berlalu, lupakanlah masa lalu, jadikan pelajaran semata. Ambil hikmah, ambil indahnya, kata Bang Iwan Fals.

Sebagaimana Johny Indo yang akhirnya bertaubat dan mendakwahkan Islam atau Kusni Kasdut yang sebelum mati menjadi pemeluk Katolik yang taat, Komplotan-komplotan perampok dari Eropa dan satu dari Asia itu, kini sudah bertaubat juga. Mereka sudah berhenti merampok dan sekarang menjadi sahabat karib bangsa Indonesia.

Kita sebagai bangsa Indonesia, seharusnya juga maklum ketika negara-negara miskin itu merampok negara kaya seperti Indonesia. Karena tanah yang subur ini adalah titipan Tuhan yang mungkin harus kita distribusikan kepada negara-negara miskin seperti Jepang, Belanda, Inggris, Spanyol, Portugal. Dan kini tak terhitung lagi negara-negara yang hidupnya sangat bergantung dengan Bumi nusantara dan rakyat Indonesia.

Ing Kene, Ngene, Saiki Aku Gelem

 “Piye leIsih penak zamanku to”, begitulah bunyi monumen penyesalan yang ditulis oleh para sopir truk. Tertulis dan terlukis di bak belakang truk-truk mereka. Mereka membayangkan bisa mengulang masa lalu bersama Pak Harto yang sudah meninggal dunia.

Segala sesuatu menjadi sangat berharga ketika sudah berlalu dan sudah tidak ada di samping kita. Melahirkan sesal yang tak terkendali.

Ing Kene, Ngene, Saiki, Aku Gelem”, kata Ki Ageng Suryomentaram. Melalui pergulatan kehidupan yang panjang dan dengan kalimat yang sangat sederhana beliau menjawab segala kegelisahan jiwa umat manusia. Beliau menunjukkan pada kita bahwa sesal tak berguna. Bahwa kehidupan adalah Ing Kene, Ngene, Saiki, Aku Gelem.

Ing kene (di sini), menunjukkan tempat. Di manapun berada kita harus gelem. Di tengah hutan atau di tengah kota dengan segala gemerlapnya. Di dalam gubuk bambu reot yang yang sangat sederhana atau di rumah mewah berhalaman satu hektar. Kita ikhlas dan rela berada di berbagai tempat.

Ngene. Ini menggambarkan keadaan atau kondisi. Kita ikhlas saat sakit. Ikhlas saat sehat. Kita ikhlas dianugerahi kulit berwarna cokelat, kulit berwarna hitam atau kulit berwarna putih. Kita juga ikhlas dianugerahi hidung pesek atau hidung mancung. Kita ikhlas dengan rambut kita yang berwarna hitam, merah, rambut keriting atau rambut lurus. Kita ikhlas menjalani kemiskinan atau menjalani kekayaan. Kita ikhlas menjalani takdir menjadi Presiden atau pesinden. Menjadi aparat atau  rakyat. Kita ikhlas saat bekerja keras. Bahkan ikhlas saat  tidak berprofesi apapun.

Saiki.(sekarang). Ini menggambarkan waktu. Kita harus ikhlas dan rela berada pada saat ini. Bukan kemarin dan bukan yang akan datang. Dengan ikhlas berada pada waktu sekarang, kita tak akan dibayang-bayangi masa lalu dan tidak merasa dikejar kejar oleh masa depan.

Aku Gelem. Aku bersedia, aku mau. Ya, Aku ikhlas, rela, lila, rila legawa menjalani semua itu tanpa sedikitpun ada penyesalan, tanpa sedikitpun ada kebimbangan dan keraguan. Karena semua itu adalah yang terbaik.

Membebaskan diri dari Egoisme

Coba bayangkan/ suatu saat nanti/ tak ada lagi orang jadi mangsa kekuasaan/ pada saat itu semua penderitaan/ terasa ringan dijinjing dan diusung bersama/penerus kita kan merasa indahnya gemah ripah loh jinawi/ semua makhluk hidup menjaga melindungi dan saling mengasihi.

Lagu tersebut berjudul bebaskan. Sebuah impian dan harapan yang diteriakkan dengan lantang oleh Marjinal, salah satu grup punk di tanah air ini. Mereka gelisah dengan segala bentuk konflik yang terjadi di antara sesama manusia. Konflik antar manusia dan konflik antar kelompok terus saja terjadi di lingkungan sekitar kita.

Tak peduli apapun jenis pertentangannya, semua itu terjadi karena egoisme yang semakin menguat. Seolah-olah manusia bisa hidup sendiri tanpa manusia lain, tanpa tumbuhan, tanpa hewan dan tanpa makhluk lain.

Pertentangan antar individu, suku, agama, ras, pendukung olahraga, pendukung capres, pendukung parpol dan lain-lain semua bermuara pada egoisme. Bahkan egoisme juga yang menyebabkan berbagai tindak kriminal terus menjadi headline di media massa.

Egoisme hampir sama dengan teori antroposentris yang mengatakan bahwa manusia adalah subjek utama alam semesta ini, mereka berhak bertindak apapun terhadap makhluk lain seperti pepohonan, hewan bahkan makhluk astral.

Terhadap pepohonan, apabila dianggap mengganggu kepentingannya, manusia berhak mencerabut, menebang dan memusnahkannya dari muka bumi. Terhadap hewan juga demikian, manusia tak segan mengurung seekor burung kenari dalam sangkar bambu, hanya demi kepuasan telinganya.

Begitu juga dengan makhluk astral, manusia tak segan memperalat tuyul demi kekayaan pribadi, keluarga dan kelompoknya.

Sebagai anak kemarin sore yang konon baru ada di bumi ini 50.000 tahun yang lalu, manusia jelas durhaka terhadap ibu bumi dan kurang ajar terhadap kakak-kakaknya yang terlebih dulu ada.

Tapi Inilah yang sekarang terjadi. Kebudayaan modern lahir dengan memanfaatkan egoisme manusia. Egoisme juga merupakan anak cucu atau keturunan dari teori antroposentrisme. Kebudayaan modern terwujud karena propaganda egoisme yang tiap hari dijejalkan oleh tetangga, orang tua, lingkungan, negara dan secara masif dikabarkan melalui media massa.

Membebaskan diri dari egoisme, mungkin itulah yang diinginkan oleh Marjinal. Hidup bersama secara damai dengan makhluk lain, merawat bersama-sama bumi titipan Tuhan tanpa harus saling mengalahkan.

Maka ketika egoisme merusak kemanusiaan, membunuh harkat martabat manusia dan merusak lingkungan, tak ada pilihan lain bagi manusia kecuali memeluk erat  hati nuraninya, atau berteduh di bawah payung agama. Karena sesungguhnya egoisme adalah musuh semua, agama tak peduli apapun agamanya : Islam, Hindu, Buddha, Konghucu, Tao, Kristen, Katolik, Kejawen, Sunda Wiwitan dan ratusan agama lain yang tersebar di seluruh Indonesia.

Langit dan Kata

Di langit kutitipkan resahku ini

di kata kuberharap mampu menghalau sgala gundah di hatiku

(Isi hati, Hengky Supit)

Mengapa langit, mengapa kata?. Bagi saya, langit merupakan lambang dimensi tertinggi dan kata merupakan kendaraan untuk mencapai dimensi tersebut. Singkatnya,  langit dan kata merupakan simbol dari doa manusia pada Penguasa Semesta.

Saat makhluk yang tinggal dalam satu dimensi sudah tidak  mampu lagi menangkap kegelisahan hati, maka hanya pada Pemilik Kehidupan ini segala resah dan segala gundah tertumpah.

Begitu banyak kepalsuan membedaki wajah peradaban ini.

Lihatlah seekor anjing berusaha memalsukan jati dirinya, lalu dia mengenakan pakaian musang. Juga bagaimana sebatang pohon jambu berusaha memalsukan dirinya, hingga yang tampak adalah pohon kelapa. Sudah demikian canggihnya alat-alat pemalsu kehidupan. Sehingga segala bentuk kepalsuan tersebut sangat mirip kesejatian.

Padahal hidup ini akan lebih indah ketika seekor anjing mengaku anjing, sebatang pohon jambu mengaku pohon jambu.

Maka hanya langit dan kata menjadi tumpuan akhir penguak kepalsuan agar hanya kesejatian yang tersisa.

Mengenang Blogging

Blogwalking, saling berkomentar dan saling bertukar link. Anda, yang mengenal internet karena facebook, tak mungkin tahu kosakata semacam itu.

Tapi lima tahun yang lalu, kegiatan tersebut pernah dilakukan para blogger. Mereka begitu bersemangat membuat blog kemudian mengisinya dengan tulisan-tulisan yang  menurut mereka bagus-entah menurut orang lain. Mereka ngeblog demi menambah pundi-pundi uang di rekening mereka.

Gegap gempita blogging bahkan menyeret Menkominfo saat itu untuk membuat Hari Blogger Nasional. Tanggalnya berapa, saya sudah lupa.

Itu, lima tahun yang lalu.

Dunia internet begitu cepat berubah. Hari ini kegiatan tersebut tinggal sejarah. Hari ini pula, situs-situs yang pernah mewarnai dunia maya tumbang. Misalnya : Multiply.com, dagdigdug.com, friendster.com dan ribuan blog milik para blogger Indonesia.

Dulu pula, begitu mudahnya para blogger menikmati dollar dari Google Adsense. Bertebaranlah gambar yang memuat uang ratusan dollar yang sudah berhasil diraih para blogger. Sekarang, entah.

Dunia internet begitu cepat berubah.

Dulu para pebisnis, para pakar internet meramalkan bahwa toko online akan merajai dunia bisnis di Indonesia. Toko konvensional akan tutup. Orang-orang lebih menyukai berbelanja online. Benarkah?

Tidak benar. Ramalan itu meleset.

Hari ini blogging dan segala tetek bengek tentangnya tinggal kenangan bagi sebagian orang.

Pengamen Pantura Subang

Ketika masih berstatus sebagai perantau, pulang kampung merupakan ritual wajib yang mesti saya lakukan. Moda transportasi yang sering saya pilih adalah bus umum. Mengapa bus, selain lebih murah dibanding pesawat, hanya bus saja yang bisa menjangkau kota saya.

Ada cerita yang cukup menarik selama naik bus dari Jakarta ke Purwodadi. Yaitu ketika saya tiba di wilayah Kabupaten Subang. Ada apa dengan Subang?. Di Subang, Bus berhenti untuk memberi kesempatan makan siang bagi para penumpang. Apakah cuma itu?. Tidak, itu baru permulaan. Ada cerita lain, selepas roda-roda bus berputar meninggalkan rumah makan di Subang.

Saat itulah, seorang pria berusia kira-kira empat puluh tahun menenteng sebuah kotak hitam berbentuk persegi masuk ke dalam bus. Kotak tersebut adalah seperangkat tape, lengkap dengan speaker dan mic. Seorang pengamen rupanya dia. Pengamen Karaoke.

Pria itu kemudian melangkah menuju ke bagian tengah bus. Sambil meletakkan kotak hitamnya, dia mengucapkan salam kepada sopir, kernet dan para penumpang. Sesaat kemudian terdengarlah alunan musik dangdut lama. Berturut-turut dia tembangkan lagu-lagu Leo Waldy yang berjudul Pasrah, kemudian lagu Imam S. Arifin berjudul Menari di Atas Luka dan beberapa lagu lainnya, tak kurang pria itu menyanyikan lima buah lagu dangdut lama. Bagi penggemar musik dangdut lama, keberadaan pria itu cukup menghibur.

Tiga puluh menit berlalu, lagu pun usai. Pria itu mengucapkan terima kasih dan juga mendoakan keselamatan seisi bus. Setelah itu dia segera berkeliling , untuk meminta upah atas jerih payahnya bernyanyi. Dan banyak penumpang yang menaruh simpati terhadapnya, terbukti dengan banyaknya uang ribuan yang dia terima.

Di sebuah tempat, pria pengamen itu pun turun. Dan saya beserta seluruh penumpang bus melanjutkan perjalanan kembali.

Reportase Suluk Maleman 18 Oktober 2013

Ada suasana berbeda di pelataran rumah Adab Indonesia Mulia Pati. Pada Jumat malam 18 Oktober 2013 lalu, rumah menghadap ke utara yang terletak Jalan Diponegoro Pati 94  tersebut tampak penuh dengan orang. Mereka berkumpul, duduk bersila di bawah tenda yang didirikan di pelataran seluas dua kali lapangan bulu tangkis.

Pandangan mereka tertuju ke arah panggung di depan mereka yang saat itu sedang menampilkan Orkes Puisi Sampak Gusuran pimpinan Habib Anis Sholeh Baasyin sekaligus pemilik rumah Adab tersebut. Sebuah kelompok musik yang terdiri dari para anak muda kreatif yang menggabungkan unsur Jawa dan modern. Sangat menarik.

Bukan hanya itu yang menarik, panggung tersebut bukan panggung biasa, panggung tersebut di bagi menjadi dua sisi , sisi sebelah kanan, tepat di belakang anak-anak muda yang sedang bermusik tersebut di background berwarna hitam tertulis Ngaji NgAllah, Suluk Maleman, Mencerahkan pikir Menjernihkan Hati.

Sementara di sisi lain terpasang  Kelir, tempat dalang mementaskan wayang. Di depannya seperangkat gamelan menunggu untuk dibelai para waranggana. Berarti akan ada pementasan wayang.

Saat alunan lagu usai, jamaah suluk maleman tersebut tetap antusias, pada pancaran wajah-wajah mereka, sepertinya ada yang sedang ditunggu. Ya ternyata mereka sedang menunggu bintang tamu yang akan hadir malam hari itu. Malam itu, direncanakan hadir tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang. Ki Sujiwo Tejo yang kerap disebut Presiden Jancukers, Ganjar Pranowo sang Gubernur Jawa Tengah, Agus Sunyoto tokoh sejarah dan  Amir Mahmud NS dari Suara Merdeka.

Tema yang akan dibahas malam ini adalah Ruwat Ruwet Indonesia. Meruwat ruwetnya Indonesia.

Setelah dua lagu mengalun : Mari Pulang ke Ladang dan Suluk Keselamatan, Habib Anis sebagai pemililik acara tampil ke atas panggung. Dengan sangat bersemangat, beliau mengundang para pembicara. Berturut-turut naik ke atas panggung, Ibu Lily Wahid, Pak Ganjar Pranowo, Ki Sujiwo Tejo, Pak Agus Sunyoto, Pak Imam Suroso dan beberapa tamu yang lain.

Ketika Habib Anis secara sangat interaktif menawarkan kepada para hadirin perihal bagaimana baiknya acara ini diawali. Beberapa hadirin menjawab agar semua orang yang hadir malam itu seperti biasa menyanyikan lagu Indonesia Raya. Habib Anis setuju. Hadirin meminta agar nyanyian Indonesia Raya dipimpin oleh Pak Ganjar.

ganjar1

Pak Ganjar dengan sangat bersemangat menyambut permintaan hadirin. Indonesia Raya pun mengalun. Di bawah pimpinan Gubernur Jawa Tengah, jamaah suluk maleman begitu menjiwai setiap kata dari lagu Indonesia Raya.

Saat Indonesia Raya usai, Habib Anis bertanya dengan lantang, apakah selama ini pernah menyanyikan Indonesia Raya sesemangat malam ini. Sebagian besar jamaah menjawab belum.

Menuju sesi berikutnya. Dialog pun segera dimulai. Ibu Lily Wahid mendapat giliran pertama untuk memaparkan pandangannya tentang keadaan bangsa Indonesia.

Beliau bercerita bahwa kondisi bangsa Indonesia secara umum sangat memprihatinkan. Beliau sangat heran dengan kondisi kemiskinan yang semakin lama semakin meningkat. Hutang Pemerintah RI saat ini menurut beliau sudah mencapai 2000 Trilyun. Sementara pada masa Pak harto, utang RI “hanya” 900 Trilyun. Beliau menyebut Rezim saat ini adalah rezim yang tidak bisa bekerja.

Untuk membantu mengatasi ruwetnya masalah bangsa Indoensia, beliau meminta pada para jamaah yang beragama apapun agar sebelum tidur ikut mendoakan bangsa Indonesia.

Sesi berikutnya, Habib Anis memberikan kesempatan kepada Pak Ganjar untuk mulai berbicara. Di luar dugaan, ternyata Pak Ganjar sangat cair ketika berbicara dengan para jamaah. Dengan bahasa yang jauh dari formal, beliau berusaha untuk tidak mengambil jarak dengan jamaah. Berkali-kali jamaah tertawa ketika beliau melontarkan humor.

Beliau meminta dukungan, bantuan dan kerjasama demi terwujudnya Jawa Tengah yang lebih baik. Tujuan beliau adalah mewujudkan daulat pangan.

Dalam bidang pertanian, Pak Ganjar menyinggung masalah kedelai. Agar tidak ada impor lagi, saat ini Indonesia membutuhkan 20.000 hektar lahan kedelai. Sementara saat ini baru tercapai 8000 hektar. Harapan beliau, Jawa Tengah bisa terlibat aktif dalam hal ini. Mengingat salah satu kedelai terbaik dihasilkan oleh Kabupaten Grobogan.

Lanjutnya, untuk mewujudkan daulat pangan, mau tidak mau harus melibatkan semua komponen masyarakat terutama pemuda. Maka beliau mengajak para pemuda untuk bertani dan juga beternak. Ketika beliau melemparkan humor “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan aku bentuk boyband”. Jamaah tergelak mendengar kalimat ini.

Dalam bidang peternakan, beliau mencontohkan tentang peternakan di Salatiga. Lalu tentang begitu bersemangatnya para pemuda di tempat tersebut dalam beternak.

Acara lebih menarik ketika dibuka sesi tanya jawab. Jamaah tampak sangat antusias dengan paparan pak Ganjar tentang pertanian. Seorang Bapak memberikan masukan dan harapan agar pak Ganjar tetap jujur, jangan ada dusta di antara kita. Lalu seorang pemuda dari Jepara memberikan masukan agar di setiap kecamatan di jawa tengah didirikan waduk.

Setiap pertanyaan tersebut mendapat respon yang cukup baik dari Pak Ganjar. Sayang sekali, Pak Ganjar tidak bisa mengikuti acara hingga selesai.

Di sesi selanjutnya, tokoh yang juga sangat ditunggu penampilannya, yakni Mbah Sujiwo Tejo. Maka mulailah Sang Presiden Jancukers menggelar wayang. Suasana magis memenuhi rumah habib Anis manakala bunyi gamelan dan suara sinden membahana. Begitu merdu dan damai di jiwa.

sujiwotejo

Wayang dimulai dengan tampilnya dua sosok wayang. Di sisi kiri tokoh buto, di sisi kanan sosok ksatria. Buto. Bagi yang tidak mengenal tokoh wayang tentu tak mengerti sama sekali sosok tokoh yang ditampilkan Mbah Tejo.

Petuah kehidupan yang berselang-seling dengan humor disampaikan oleh Mbah Tejo melalui wayangnya. Beliau juga meluruskan salah kaprah tentang kata panakawan. Selama ini ada yang menulis punakawan. Yang benar adalah panakawan.

Lalu, dengan diiringi beberapa tembang anak-anak jawa, Mbah Tejo memaparkan tentang hakikat hidup ini, tidak ada satupun hal yang Allah tak terlibat di dalamnya. Tapi dalam hidup ini masukkanlah panakawan dalam jiwamu dalam hatimu. Gareng, tokoh yang selalu ingin tahu. Bagong, yang nggobloki, Petruk Kantong Bolong, yang menyandarkan segala hal kepada Tuhan. Dan Semar yang merangkum semua itu.

Kurang dari satu jam, pagelaran wayang pun usai.

Giliran Pak Agus Suyitno memaparkan pandangannya tentang Indonesia. Garis besarnya beliau mengajak jamaah untuk menolak tunduk pada nekolim.

Kemudian, perjalanan diskusi semakin berjalan dari lahir ke batin dengan hadirnya Kiai Budi. Beliau menafsirkan makna lagu caping Gunung dalam perspektif cinta. Sangat indah.

Saben bengi nyawang konang

Yen memajang mung karo janur kuning

Kembang wae weton nggunung

Pacitan sarwi jenang

Panas udan aling-aling caping nggunung

Nadyan wadon sarta lanang

Inumane banyu bening

Tiba-tiba Mbah Tejo bangkit dan kemudian mendendangkan Kidung Kekasih. Menambah sejuk batin.

suram suram kekasihku
senja buram tenggelam
tersaling senyap dan hujan sunyi kesedihan
kasihku negeriku
terbenam kehampaan
suka duka kata kata
tak terperi yang tak terkatakan
jauh tersembunyi di reruntuhan
sepercik sepercak mata hati

kunang kunang jiwa yang menghilang
oleh terang akan tercerlangkan
angan angan yang terbentang
teranglah terang nan terang
kau yang lelah kau yang kalah
senyumlah..senyum kehidupan..
senyumlah kehidupan..

Akhirnya acara ditutup dengan Asyroqol, dipimpin oleh Kiai Budi di antara deras airmata yang tak henti-henti mengalir dari kedua sudut mata beliau.

Leo Kristi

Tahun 2013, Di sebuah forum diskusi bulanan bernama Mocopat Syafaat yang saya tonton melalui youtube, Kiai Kanjeng membawakan sebuah lagu yang liriknya begitu indah.

……

Kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku
Katakan padanya pdi padi telah kembang
Ani ani seluas padang roda gilang berputar putar
Siang malam tapi bukan kami punya

……

Tanah pusaka tanah yang kaya
Tumpah darahku disana kuberdiri
Di sana kumengabdi dan mati dalam cinta yang suci

……..

Setelah lagu usai, Cak Nun sang pengasuh diskusi, mengatakan bahwa lagu tersebut milik Leo Kristi berjudul Salam Dari Desa.

Siapa pula Leo Kristi itu? Selama sekitar tiga Dasawarsa kehidupan saya, baru saat itu saya mendengar nama tersebut.

Ternyata nama tersebut memang tak begitu cemerlang di industri musik Indonesia. Belakangan saya tahu bahwa beliau adalah seorang Trobodaur (musisi jalan-jalan). Beliau mengibarkan bendera sendiri di luar industri musik. Mencipta lagu dan memainkan musik sekehendak hatinya.

Meskipun demikian, sungguh saya baru menemukan lirik-lirik lagu yang benar-benar elok. Seelok butir-butir padi yang menguning menunggu dipanen para petani.

Minna Minkum Nusantara

Tersenyum dan menangis, tersenyum dan menangis, dengar suara
bapak pemimpin kerja keras bagi sejahteranya negara
salam persahabatan seratus lima puluh juta pada dunia
tabuhlah-tabuh di segenap penjuru gong2 rakyat gong2 persada

{Minna-minkum Nusantara senyum tangis di hatiku} 2x
Minna-minkum Nusantara berpisah langkah, hati selalu satu di sini

Kudengar isak-tangis pengantin putri, yang pertama
ketika merpati-putih terbang tinggi dan takkan kembali lagi, tak kembali
awan putih bergulung-gulung di nadiku, ke darahmu, ke pusarnya
jabang bayi

Simpan sirih `tu baik-baik, dua-lembar, satu-lipatan
relung hati paling dalam, berjalanlah, rasa bebas
tanah basah hujan pertama kususuri bedug subuh jalan setapak
jadikan persemaian keadilan
{kuncup-kuncup putra bangsa besar}3x

Tersenyum dan menangis, tersenyum dan menangis, dengar suara
bapak pemimpin kerja keras bagi sejahteranya negara
Salam persahabatan seratus lima puluh juta pada dunia
Tabuhlah-tabuh di segenap penjuru Gong2 rakyat gong2 persada

{Minna-minkum Nusantara senyum tangis di hatiku} 2x
Minna-minkum Nusantara berpisah langkah, hati selalu satu di sini
{Hmmm hmmmm hmmmm hmmmm hmmmm} 2x
{Gugurabu-bunyi} 4x
Hmmm hmmmm hmmmm hmmmm hmmmm

 

Download Chord Lagu Minna Minkum Nusantara Pdf

Antri

Pada suatu malam, aku pergi berbelanja kertas hvs dan beberapa buku di sebuah toko buku di Purwodadi. Toko buku tersebut terletak di dalam pusat perbelanjaan terbesar di kota kecil yang merupakan bekas rawa. Singkat cerita, dalam waktu yang tidak terlalu lama aku berhasil menemukan benda yang aku cari. Akupun segera melangkah menuju tempat pembayaran.

Di depan tempat pembayaran sudah berbanjar pembeli lain yang juga bermaksud untuk membayar barang belanjaan mereka. Tetapi, tiba-tiba tanpa diduga-duga di tengah-tengah barisan pengantri, hadirlah  di depanku seorang ibu-ibu dengan percaya diri ikut mengantri.

Aku hanya terdiam, karena memang antrian tidak terlalu panjang.

Akhirnya tiba juga giliranku membayar. Setelah membayar, aku mencoba mengamati barisan pengantri. Ternyata ada juga beberapa orang yang dengan percaya diri, ikut berdiri di depan seseorang yang sedang mengantri.

Akupun pulang, kesimpulanku saat itu. Mungkin saja orang-orang yang menyerobot antrian  sejak lahir hingga hari itu memang tak pernah mengenal kata antri. Atau mungkin kebudayaan yang berlaku baginya memang seperti itu.

Di lain kesempatan, ketika aku antri di sebuah instansi pendidikan untuk mengumpulkan berkas. Terjadi hal yang kurang lebih sama. Ada orang-orang yang tiba-tiba berdiri di depan pengantri lain.

Antri mengantri akan semakin tidak teratur di berbagai tempat di negeri ini jika tidak ada sistem atau orang yang secara tegas mengaturnya. Hal ini diperparah dengan ungkapan “menunggu adalah pekerjaan yang membosankan”. Ini menjadi pembenar bagi orang-orang yang tiba-tiba berdiri di depan pengantri lain.

Ini adalah masalah budaya. Ketika budaya ngalah tak lagi dipelihara, maka yang terjadi adalah saling mendahului, saling menyerobot dalam antrian. Antrian apa saja. Antri mendapat pekerjaan,  antrian untuk menjadi pemimpin-pemimpin di negeri ini. Bahkan penyerobotan antrian terjadi dengan metode yang lebih canggih.

Pada antrian di kasir, anda masih bisa melihat orang yang menyerobot hak anda. Tapi penyerobotan yang canggih tidak memungkinkan anda melihat siapa yang menyerobot hak anda.

arif.rahmawan located at 511/67 Huynh Van Banh , Ho Chi Minh, VN . Reviewed by 34 customers rated: 4 / 5