Ziarah ke makam Joko Tarub (Leluhur Dinasti Mataram)

Malam itu saya berziarah ke makam Joko Tarub. Seorang tokoh yang terkenal dengan cerita tentang selendang dan para bidadari. Makam tersebut terletak di desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan. Kira-kira 15 km dari kota Purwodadi arah ke timur, searah dengan kota Blora.

Kompleks makam Joko Tarub tampak asri dan terawat. Semuanya terlihat seperti bangunan baru. Menurut juru kunci, kompleks makam Joko Tarub memang dikelola dengan baik oleh Kasunanan Surakarta. Untuk masuk ke kompleks kita harus melewati pintu gerbang . Selain itu ada lima bangunan di dalam kompleks makam Joko Tarub. Yang pertama, sebuah bangunan semacam gardu informasi. Yang kedua sebuah bangunan yang bertuliskan makam Kidang Telangkas. Yang ketiga pendopo. Yang keempat juga pendopo dan yang kelima makam Joko Tarub.

Saya segera berziarah ke sebuah bangunan yang di dalamnya ada makam Joko Tarub. Setelah bebarapa saat saya keluar dari bangunan tersebut menuju ke pendopo yang terletak tepat di depan bangunan tersebut.

Di pendopo tersebut, anda akan melihat silsilah Joko Tarub yang layak anda baca. Silsilah yang dibuat oleh Kasunanan Surakarta. Dalam silsilah tersebut tertulis bahwa Joko Tarub merupakan keponakan Sunan Kalijaga. Kemudian Joko Tarub menikah dengan Dewi Nawangwulan, seorang bidadari kemudian melahirkan Dewi Nawangsih. Dewi Nawangsih menikah dengan Bondan Kejawan melahirkan beberapa anak salah satunya Ki Ageng Getas Pendowo. Dari Ki Ageng Getas Pendowo lahirlah Ki Ageng Selo. Dari istri Ki Ageng Selo lahirlah Ki Ageng Ngenis (makamnya di Surakarta). Ki Ageng Ngenis menurunkan Ki Ageng Pemanahan. Lalu Ki Ageng Pemanahan menurunkan Danang Sutawijaya alias Panembahan Senopati.

Berdasarkan silsiah tersebut saya mengambil kesimpulan bahwa leluhur raja-raja mataram ternyata berada di Purwodadi. hmmm..

Setelah bebarapa lama berada di tempat tersebut akhirnya saya pun pulang ke rumah.

Pengalaman Ujian SIM C di Polres Grobogan

29 November 2014

Sabtu pagi pukul 08.00 saya tiba di Polres Grobogan. Tepatnya di bagian pelayanan Surat Izin Mengemudi (SIM) yang terletak di bagian belakang kantor Polres Grobogan.

Saya langsung menuju ke pintu masuk yang dijaga oleh dua orang Polisi. Saya bilang pada Pak Polisi tersebut bahwa saya akan membuat SIM C baru. Salah seorang Polisi itu  meminta saya menunjukkan fotokopi KTP. Sayapun menunjukkan fotokopi KTP yang sudah saya persiapkan.

Lalu saya dianjurkan untuk menyerahkan fotokopi KTP saya di loket pendaftaran yang terletak di bagian dalam kantor pelayanan SIM. Setelah menyerahkan fotokopi KTP, saya duduk di bangku antrian yang sudah disediakan.

Ujian Teori SIM C

Kira-kira pukul 09.00, nama saya dipanggil untuk mengikuti ujian teori SIM C di ruang audio visual. Saya masuk ke sebuah ruangan. Ada sekitar 10 orang yang ikut ujian teori SIM C di ruangan tersebut. Semua peserta itu kemudian duduk di kursi yang sudah disediakan. Kemudian, Pak Polisi memberi pengarahan tentang teknis pelaksanaan ujian teori SIM C.

Dalam ujian teori menggunakan sistem Audio Visual System (AVS) ada 30 soal yang harus dikerjakan. Soal tersebut ditampilkan dalam layar monitor besar di depan peserta ujian. Soal berupa gambar atau gambar bergerak yang disertai pernyataan. Peserta diminta untuk memilih apakah gambar yang ditampilkan benar/ salah. Cara memilih yaitu dengan menekan salah satu tombol yang sudah disediakan di bangku masing-masing. Tiap soal diberi waktu 15 detik untuk menjawab. Jika dalam waktu 15 detik tidak menjawab, maka soal dianggap tidak dijawab.

Nah, untuk lulus ujian teori SIM C minimal harus menjawab 22 soal dengan benar atau 73 persen . Jika kurang dari itu, harus mengulang lagi paling cepat 14 hari.

Saya berhasil menjawab 22 soal dengan benar dan berhak mengikuti ujian Praktik.

Ujian Praktik SIM C

Ujian Praktik dilaksanakan di luar ruangan. Saya dan beberapa peserta ujian praktik SIM C segera melangkah keluar menuju ke lokasi ujian SIM C. Di lokasi tersebut sudah dipersiapkan patok-patok dan garis yang akan digunakan untuk ujian praktik.

Bagi saya, ini merupakan saat yang cukup mendebarkan mengingat belum ada persiapan khusus untuk mengikuti ujian Praktik SIM C ini.

Semua peserta ujian Praktik SIM C kemudian berkumpul, petugas memberikan pengarahan seputar teknis pelaksanaan ujian Praktik SIM C. Ujiannya meliputi : berkendara zigzag, angka delapan, berbalik arah dll. Pada saat berkendara, tidak boleh menyenggol patok dan kaki tidak boleh turun ke tanah. Jika salah satu atau kedua hal tersebut dilakukan maka peserta dinyatakan gagal dan harus mengulang lagi paling cepat 14 hari.

Seorang petugas dari Kepolisian memeragakan cara ujian Praktik dengan benar. Setelah itu, satu persatu peserta mulai melakukan ujian praktik. Peserta pertama gagal, peserta kedua juga gagal. Lalu tibalah giliran saya dan ….gagal juga. Saya tidak mampu menjaga keseimbangan, sehingga kaki akhirnya menyentuh tanah. Dan saya harus kembali lagi paling cepat 14 hari setelah itu.

13 Desember 2014

Kira-kira pukul 08.00, lagi-lagi saya sudah tiba di bagian pelayanan SIM Polres Grobogan. Saya bilang pada petugas di loket pendaftaran, bahwa 14 hari yang lalu saya sudah lulus ujian teori ujian SIM C tapi gagal pada saat ujian praktik. Petugas tersebut menyarankan saya untuk menemui petugas bagian ujian teori SIM C.

Lalu, saya bertanya pada petugas bagian ujian teori SIM C, apa saya bisa langsung ikut ujian praktik atau harus mengikut ujian teori. Oleh petugas tersebut saya diharuskan mengikuti ujian teori lagi. Alasannya, ujian teori dan praktik merupakan satu rangkaian.

Ok, akhirnya saya mengikuti prosedur yang ditetapkan petugas tersebut yaitu mengikuti ujian teori SIM C lagi. Dan hasilnya saya tidak lulus. Saya berhasil menjawab hanya 21 soal dengan benar alias hanya 70 persen benar. Ini berarti saya harus mengulang paling cepat 14 hari lagi.

….Bersambung.

—————————————————————————————

Catatan :
Dasar hukum penerbitan SIM C :

1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia Pasal 14 ayat (1) huruf b dan Pasal 15 ayat (2) huruf c.
2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Pasal 77 perihal persyaratan pengemudi)
3) Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 Pasal 211 s/d 244 tentang Surat Izin Mengemudi.
4) Peraturan Kapolri Nomor 09 tahun 2012 tentang Surat Izin Mengemudi

5) PP No 50 tahun 2010 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (termasuk biaya penerbitan SIM).

Prioritas Kendaraan di Bundaran Getasrejo

lalu lintas di bundaran

Bundaran Getasrejo merupakan bundaran tempat bertemunya tiga jalur yaitu, dari arah timur yaitu kota Blora, dari arah utara kota Pati/ Kudus dan dari arah selatan, kota Purwodadi.

Gambar rambu-rambu yang berbentuk bulat, berlatar belakang warna biru di atas jika diperjelas, kira-kira seperti ini.

 

rambu_wajib_ikuti_arah_bundaranJika melihat rambu-rambu yang ada di atas , sepertinya anda hanya tinggal mengikuti arah bundaran tersebut. Tapi apakah rambu-rambu tersebut hanya bermakna seperti itu?. Ternyata tidak hanya itu. Rambu tersebut juga mengandung aturan perihal kendaraan yang harus didahulukan.

UK_Roundabout_8_Cars

 Prinsip operasi bundaran lalu lintas yaitu Lalu lintas yang didahulukan adalah lalu lintas yang sudah berada dibundaran. 

Sehingga kendaraan yang akan masuk ke bundaran harus memberikan kesempatan terlebih dahulu kepada lalu lintas yang sudah berada dibundaran

Rambu –rambu tersebut mengharuskan setiap kendaraan harus mendahulukan kendaraan yang sudah terlebih dahulu melewati lingkaran. Lebih jelasnya ditegaskan dalam pasal  113 ayat 2 UU no 22 tahun 2009 yang berbunyi :

(2) Jika persimpangan dilengkapi dengan alat pengendali Lalu Lintas yang berbentuk bundaran, Pengemudi harus memberikan hak utama kepada Kendaraan lain yang datang dari arah kanan.

 

NB : Materi ini biasanya keluar pada saat ujian SIM C di Polres Grobogan.

Prioritas Kendaraan di Persimpangan Tiga Ketapang Grobogan

Persimpangan ialah dimana dua jalan atau lebih bertemu . Pertigaan ketapang merupakan persimpangan tiga berbentuk T  yang berada di wilayah Kecamatan Grobogan, Kabupaten Grobogan. Terletak tepat di sebelah selatan SMA Negeri 1 Grobogan dan Kantor Kecamatan Grobogan.

Pertigaan ini mempertemukan tiga jalur yang tiap-tiap jalur menuju ke kota Purwodadi, Pati dan Kudus.  Jalan Utama dari selatan ke utara merupakan Jalan Pati-Purwodadi, sedangkan persimpangan arah ke barat akan membawa anda sampai di Kota Kudus.

Arus lalu lintas di pertigaan ketapang cukup ramai. Kendaraan dari berbagai jenis, mulai dari kendaraan roda dua sampai truk tronton bersliweran setiap hari. Puncak kepadatan tiap harinya terjadi pada pagi hari pukul 06:30 sampai pukul 08.00. Sedangkan pada siang hari pada pukul 12:00 sampai 14:00.

Lalu, di antara ketiga jalur lalu lintas tersebut, kendaraan dari arah manakah yang harus didahulukan ketika tiba di pertigaan Ketapang?

Pertigaan Ketapang merupakan pertigaan tanpa APILL atau bahasa purwodadinya lampu Bangjo. Sekarang kita cek satu persatu tiap jalur yang ada.
Yang pertama adalah jalur dari arah Pati.

Arah Pati ke Purwodadi

Perhatikan, pada jalur ini hanya terdapat rambu-rambu berupa lampu kelap kelip.

Lalu, yang kedua jalur dari Purwodadi ke Pati
Jalur Purwodadi Pati Ketapang

Sama dengan jalur di atas, dari arah Pati Ke Purwodadi hanya ada lampu kelap-kelip.

Yang ketiga dari arah Kudus???????????????????????????????

 

Di jalur dari arah barat/ Kota Kudus juga tidak ada rambu-rambu jalan misalnya STOP ataupun PRIORITAS/ BERI JALAN. Berbeda dengan dua gambar di atas, di jalur ini tidak terdapat lampu kelap-kelip.

Jika demikian situasi dan kondisi di Persimpangan Tiga Ketapang, maka pertanyaan akan bisa dijawab, kita akan  menggunakan acuan Pasal 113 Ayat 1 butir e UU RI NO 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang berbunyi :

Pasal 113 ayat 1 butir e UU RI no 22 tahun 2009

Pada persimpangan sebidang yang tidak dikendalikan dengan Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas,
Pengemudi wajib memberikan hak utama kepada:
a. Kendaraan yang datang dari arah depan dan/atau dari arah cabang persimpangan yang lain jika hal
itu dinyatakan dengan Rambu Lalu Lintas atau Marka Jalan;
b. Kendaraan dari Jalan utama jika Pengemudi tersebut datang dari cabang persimpangan yang lebih
kecil atau dari pekarangan yang berbatasan dengan Jalan;
c. Kendaraan yang datang dari arah cabang persimpangan sebelah kiri jika cabang persimpangan 4
(empat) atau lebih dan sama besar;
d. Kendaraan yang datang dari arah cabang sebelah kiri di persimpangan 3 (tiga) yang tidak tegak
lurus; atau
e. Kendaraan yang datang dari arah cabang persimpangan yang lurus pada persimpangan 3 (tiga) tegak lurus.

[collapse]

Ilustrasinya :

lalu lintas pertigaan

Berarti, kendaraan yang harus didahulukan ketika berpapasan adalah kendaraan dari arah Kota Kudus. karena kendaraan tersebut adalah kendaraan yang datang dari arah cabang persimpangan yang lurus pada persimpangan tiga.

sumber gambar : Kaskus

Pengalaman ditolak Mendaftar BPJS di Grobogan

Ada bagian yang lupa saya ceritakan pada saat menukar e-id BPJS dengan kartu BPJS. Bagian itu adalah ketika saya ditolak mendaftar BPJS untuk istri saya. Memang benar saya telah berhasil menukar e-id BPJS dengan kartu BPJS. Akan tetapi saya gagal mendaftarkan BPJS untuk istri saya.

Ceritanya begini, malam hari sebelum datang ke kantor BPJS Purwodadi, saya sudah mendaftar BPJS secara online untuk saya dan istri saya. Proses pendaftaran saya berhasil.  Tetapi, tidak demikian dengan istri saya.Proses pendaftaran online gagal. Kegagalan ditandai dengan tidak munculnya nomor Virtual Account pada formulir pendaftaran. Biasanya nomor virtual account akan muncul bila proses pendaftaran online berhasil.

Karena gagal, saya mencoba mendaftar ulang dengan memasukkan NIK istri saya lagi. Akan tetapi proses ini gagal juga. Lalu muncul notifikasi berupa himbauan agar  segera datang ke kantor BPJS terdekat.

Esoknya, saya benar-benar datang ke kantor BPJS dengan membawa formulir pendaftaran yang sudah terisi otomatis. DI situ sudah tertera nomor registrasi dan nama istri saya dan data-data lain. Hanya nomor virtual account yang tidak tercantum di lembar tersebut.

Singkat cerita, saya menyerahkan formulir istri saya disertai KK dan KTP istri saya. Jawabannya sungguh mengejutkan. Saya ditolak dengan dua alasan.Yang pertama, harus istri saya sendiri yang datang. Kedua, seluruh anggota keluarga yang tertulis di KK harus didaftarkan. Memang benar, Kartu Keluarga yang saya bawa bukan KK kami berdua, karena saat itu Kami belum membuat KK baru. KK yang saya bawa adalah KK keluarga istri saya.

Ini penolakan yang aneh. Bukankah saya sudah berhasil mendaftarkan BPJS istri saya secara online. Permasalahan timbul ketika nomor virtual accounttidak muncul . Seharusnya, petugas tinggal melakukan pengecekan berdasar NIK yang sudah saya daftarkan secara online. Tetapi yang dilakukan petugas adalah menolak.