Rabu, 23 November 2016

Ini Alasan Sebenarnya Pemerintah Tidak Segera Mengangkat Guru Honorer Menjadi PNS (Guru Honorer Wajib Baca)

Meskipun sama-sama menerima uang dari Negara, ada perbedaan istilah di antara Guru PNS dan guru honorer. Jika Guru PNS menerima gaji, guru honorer hanya menerima honor. Honor bukan istilah baku, kata baku untuk honor yang benar adalah honorarium yang berarti upah sebagai imbalan jasa (yang diberikan kepada pengarang, penerjemah, dokter, pengacara, konsultan, tenaga honorer); upah di luar gaji. Sedangkan gaji berarti  upah kerja yang dibayar dalam waktu yang tetap.

Dipandang dari jenis upah yang diterima, tentu Bapak Ibu cukup maklum dengan jurang menganga di antara Guru PNS dan guru honorer. Tidak perlu diceritakan betapa mungilnya honor yang diterima guru honorer di Indonesia. Memangnya ada guru honorer di luar negeri ?

baca juga :

Kabar Gembira, Balik Nama Gratis 2016
Lowongan Indonesia Mengajar 2016

Sekarang yang menjadi pertanyaan, apa alasan Pemerintah Republik Indonesia wabil khusus Kemenpan tidak segera mengangkat guru honorer menjadi PNS. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, saya menemukan beberapa sebab mengapa pemerintah tetap membiarkan para guru honorer seperti terkatung-katung nasibnya.

Silakan simak alasan pemerintah di bawah bawah ini.

http://html.batampos.co.id/read/2016/02/23/35883/Diverifikasi-Honorer-Pemko-Batam-Malah-Bengkak-3000



Pemerintah Sedang Mempraktikkan Prinsip Ekonomi



Ada sebuah prinsip ekonomi yang meyatakan bahwa modal sekecil-kecilnya, hasil sebesar-besarnya. Tahukah Bapak Ibuk, bahwa  pemerintah sedang menerapkan prinsip tersebut. Ini mirip dengan yang dilakukan perusahaan-perusahaan. Mereka mengupah dengan upah rendan, tetapi menyuruh karyawannya bekerja keras.

Hampir mirip dengan perusahaan swasta, Pemerintah Republik Indonesia daripada mengangkat guru PNS baru, tentu lebih efektif dan efisien bagi Pemerintah untuk tetap menerima tenaga wiyata bakti alias guru honorer kemudian menyuruh mereka bekerja mengajar seperti guru PNS yang bergaji jauh lebih tinggi lalu mengupah mereka dengan biaya yang sangat rendah. Bahkan upah untuk tenaga honorer ini diambilkan dari dana BOS.

Mantap sekali prinsip ekonomi. Sangat Ekonomis.


Pemerintah Sedang menanamkan jiwa Entrepreuneur pada Para Guru Honorer

Entrepreuneur atau wirausaha menurut Sandiaga Uno adalah sebuah pola pikir yang terus menghasilkan kreativitas dan inovasi. Dengan demikian memiliki sikap entrepreuneur berarti bersikap mental untuk selalu kreatif menyelesaikan masalah, tahan banting,  visioner dan pantang menyerah dalam menghadapi berbagai permasalahan kehidupan.

Akan tetapi menurut saya, entrepreuneur tidak selalu harus bekerja sebagai seorang pengusaha atau wiraswasta. Menjadi karyawan, menjadi ibu rumah tangga juga bisa disebut entrepreuneur selama menerapkan prinsip-prinsip entrepreneur.

Jiwa Entrepreunership itulah yang saat ini sedang ditanamkan oleh Pemerintah kepada Guru Honorer. Dengan honor yang rendah, pasti guru honorer pusing tujuh keliling untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, jadinya mau tidak mau para guru honorer harus berjuang keras mencari tambahan penghasilan misalnya menjadi petani, peternak, pedagang dan lain-lain.

Pemerintah Sedang Melaksanakan Tes Kesabaran bagi Para Guru Honorer

Bagi Bapak Ibu yang pernah mengikuti ujian seleksi penerimaan Pegawai Negeri Sipil maupun penerimaan karyawan swasta, tentu tahu bahwa untuk seleksi PNS, pelamar harus mengikuti Tes. Biasanya tes tertulis yang diikuti meliputi Tes Kemampuan Diri, Tes Penalaran Akademik, Psikotest dan lain-lain. Nah, tahukah Bapak Ibu, tanpa diketahui oleh kita semua, ada satu lagi tes yang diujikan kepada para guru honorer yang bernama Tes Kesabaran atau Test Of Patience (TOP). Jika tes tertulis bisa diketahui secara langsung, lha bagaimana cara mengetahui lulus tidaknya para guru honorer saat mengikuti Tes Kesabaran. Namanya saja tes kesabaran, hasilnya pun jangka panjang, ada yang 5 tahun dinyatakan lulus, ada yang 10 tahun, ada yang 20 tahun, ada yang......ah sudahlah. 
Jadi, sabar yaaa..


Itulah mungkin tiga alasan sebenarnya mengapa pemerintah tidak segera mengangkat guru PNS. Jadi Bapak Ibuk harap maklum ya.



EmoticonEmoticon