Rabu, 31 Mei 2017

Pidato Heroik Bung Karno - Apa Sebab Revolusi Kita Berdasar Pancasila

Apa Sebab Revolusi Kita Berdasar Pancasila 

(Amanat Presiden Sukarno pada 24 September 1955 di Surabaya)

Saudara-­saudaraku sekalian,
Saya adalah orang Islam, dan saya adalah keluarga Negara Republik Indonesia.
Sebagai orang Islam saya menyampaikan salam Islam kepada saudara­-saudara sekalian
“assalamu’alaikum wr. wb!”

Sebagai warga negara Republik Indonesia saya menyampaikan kepada saudara­saudara sekalian, baik yang beragama Islam, baik yang beragama Hindu – Bali, baik yang beragama lain, kepada saudara­saudara sekalian saya menyampaikan salam nasional “merdeka!”

Tahukah saudara­saudara arti perkataan “salam” sebagai bagian daripada perkataan assalamu’alaikum wr. wb? Salam arti­nya damai, sejahtera. Jikalau kita menyebutkan assalamu” alaikum wr. wb, berarti damai dan sejahteralah sampai kepadamu. Dan moga­ moga rakhmat dan berkat Allah jatuh kepadamu. Salam berarti damai, sejahtera. Maka oleh karena itu saya minta kepada kita sekalian untuk merenungkan benar­benar akan arti perkataan “assalamu’ alaikum”.

Salam – damai – sejahtera! Marilah kita bangsa Indonesia terutama sekalian yang ber­agama Islam hidup damai dan sejahtera satu sama lain. Jangan kita bertengkar terlalu­ lalu sampai membahayakan persatuan bangsa. Bahkan jangan kita sebagai gerombolan­ gerombolan yang menyebutkan assalamu’­alaikum, akan tetapi membakar rumah­ rumah rakyat.

Salam – damai! Damai – sejahtera! Rukun – bersatu! Terutama sekali di dalam revolusi nasional kita yang belum selesai ini.

Dan sebagai warga negara merdeka saya tadi memekikkan pekik “merdeka” bersama­ sama dengan kamu. Kamu yang beragama Islam, kamu yang beragama Kristen, – kamu yang beragama Syiwa Budha, Hindu – Bali atau agama lain. Pekik merdeka adalah pekik yang membuat rakyat Indonesia itu, walaupun jumlahnya 80 juta, menjadi bersatu tekad, memenuhi sumpahnya “Sekali merdeka, tetap merdeka!”

Pekik merdeka, saudara­saudara adalah “pekik pengikat”. Dan bukan saja pekik pengikat, melainkan adalah cetusan daripada bangsa yang berkuasa sendiri, dengan tiada ikatan imperialisme, – dengan tiada ikatan penjajahan sedikitpun. Maka oleh karena itu saudara­saudara, terutama sekali fase revolusi nasional kita sekarang ini, fase revolusi nasional yang belum selesai, jangan 1 upa kepada pekik merdeka! Tiap­tiap kali kita berj umpa satu sama lain, pekikkanlah pekik “merdeka!”

Tatkala aku mengadakan perjalanan ke Tanah Suci beberapa pekan yang lalu, aku telah diminta oleh khalayak Indonesia di kota Singapura untuk mengadakan amanat terhadap kepada mereka. Ketahuilah, bahwa di Singapura itu berpuluh­puluh ribu orang Indonesia berdiam. Mereka bergembira, bahwa Presiden Republik­nya lewat di Singapura. Mereka mcnyambut kedatangan Presiden Republik Indonesia itu dengan gegap­gernpita, dan minta kepada Presiden Republik Indonesia Umtuk memberikan amanat kepadanya. Di dalam amanat itu beberapa kali dipekikkan pekik kepadamu salam “assalamu’alaikum!” Sebagai warga negara Republik Indonesia aku menyampaikan kepadamu “merdeka!”

Saudara­saudara aku pulang dari Bali, – beristirahat beberapa hari di sana. Diminta oleh Kongres Rakyat Jawa Timur untuk pada ini malam memberikan sedikit ceramah, wejangan, amanat, terutama sekali yang mengenai hal “apa sebab Negara Republik Indonesia berdasarkan kepada Pancasila?” Dan memberikan penerangan tentang hal Panca Dharma.

Tadi, tatkala aku baru masuk gedung Gubernuran ini, hati kurang puas? Apa sebab? Terlalu jauh jarak rakyat dengan Bung Karno. Maka oleh karena itulah saudara­ saudaraku dan anakanakku sekalian, maka Bapak minta kepada pimpinan agar supaya saudara­saudara diberi izin lebih dekat. Sebab saudara­saudara tahu isi hati Bapak ini, isi hati Presiden, isi hati Bung Karno, – kalau jauh daripada rakyat rasanya seperti siksaan. Tetapi kalau dekat dengan rakyat, rasanya laksana Kokrosono turun dari pertapaannya.

Permintaan Kongres Rakyat untuk memberikan amanat kepada saudara­saudara, Insya Allah saya kabulkan. Dan dengarkan benar, aku berpidato di sini bukan sekadar sebagai Soekarno. Bukan sekadar sebagai Bung Karno. Bukan sekadar sebagai Pak Karno. – Aku berpidato di sini sebagai Presiden Republik Indonesia! Sebagai Presiden Republik Indonesia aku diminta untuk memberi penjelasan tentang Pancasila. Apa sebabnya negara Republik Indonesia didasarkan atas Pancasila?

Dan diminta memberi penjelasan akan Panca Dharma, sebagai yang telah kuanjurkan dengan resmi pula di dalam pidato Presiden Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus yang lalu. Dan pcrmintaan itu, Insya Allah kukabulkan pula sebagai Presiden Republik lndonesiau justru oleh karena pada saat sekarang ini saya sebagai Presiden Republik Indonesia, maka dengan gembira dan senang hati saya memenuhi permintaan wltuk memberi penjelasan “merdeka”.

Apa lacur? Sesudah Bapak meneruskan perjalanan ke Bangkok, ke Rangoon, ke New Delhi, Karachi, ke Bagdad, ke Mesir, ke Negara Saudi Arabia. – sesudah Bapak meninggalkan kota Singapura, geger pers imperialisme Singapura, saudarasaudara. Mereka berkata: “Presiden Sukarno kurang ajar”. Presiden Sukarno menjalankan ill­ behaviour katanya. I11­behaviour itu artinya tidak tahu kesopanan. Apa sebab pers imperialisme mengatakan Bapak menjalankan ill­behaviour, kurang ajar? Kata mereka, toh tahu Singapura ini bukan negeri merdeka? Toh tahu, bahwa di sini masih di dalam kekuasaan asing, kok memekikkan pekik “merdeka”?

Tatkala Bapak kembali dari Tanah Suci, singgah lagi di Singapura, – Bapak dikeroyok oleh korenponden­koresponden dan wartawan­wartawan. Mereka menanyakan kepada Bapak: “Tahukah Presiden, bahwa tatkala Presiden meninggalkan kota Singapura di dalam perjalanan ke Mesir dan Tanah Suci, Presiden dituduh “kurang ajar, kurang sopan, ill­behaviour, oleh karena Presiden memekikkan pekik merdeka dan mengajarkan kepada bangsa Indonesia di sini memekikkan pekik merdeka? “Apa jawab Paduka Yang Mulia atas tuduhan itu?”



Bapak menjawab: “Jikalau orang Indonesia berjumpa dengan orang Indonesia, warga negara Republik Indonesia, berjumpa dengan warga negara Republik Indonesia, – pendek kata jikalau orang Indonesia bertemu dengan orang Indonesia, selalu me­ mekikkan pekik “merdeka”! Jangankan di sorga, di dalarn nerakapun!”

Nah saudara­saudara dan anak­anakku sekalian. jangan lupa akan pekik merdeka itu. Gcgap­gempitakan tiap­tiap kali pekik merdeka itu. Apalagi sebagai Bapak katakan tadi dalam fase revolusi nasional kita yang belum selesai. Dus kuulangi lagi, sebagai manusia yang beragama Islam aku menyampaikan kepadamu salam “assalamu’alaikum!” Sebagai warga negara Republik Indonesia aku menyampaikan kepadamu “merdeka!”

Saudara­saudara aku pulang dari Bali, – beristirahat beberapa hari di sana. Diminta oleh Kongres Rakyat Jawa Timur untuk pada ini malam memberikan sedikit ceramah, wejangan, amanat, terutama sekali yang mengenai hal “apa sebab Negara Republik Indonesia berdasarkan kepada Pancasila?” Dan memberikan penerangan tentang hal Panca Dharma.

Tadi, tatkala aku baru masuk gedung Gubernuran ini, hati kurang puas? Apa sebab? Terlalu jauh jarak rakyat dengan Bung Karno. Maka oleh karena itulah saudara­ saudaraku dan anakanakku sekalian, maka Bapak minta kepada pimpinan agar supaya saudara­saudara diberi izin lebih dekat. Sebab saudara­saudara tahu isi hati Bapak ini, isi hati Presiden, isi hati Bung Karno, – kalau jauh daripada rakyat rasanya seperti siksaan. Tetapi kalau dekat dengan rakyat, rasanya laksana Kokrosono turun dari pertapaannya.

Permintaan Kongres Rakyat untuk memberikan amanat kepada saudara­saudara, Insya Allah saya kabulkan. Dan dengarkan benar, aku berpidato di sini bukan sekadar sebagai Soekarno. Bukan sekadar sebagai Bung Karno. Bukan sekadar sebagai Pak Karno. – Aku berpidato di sini sebagai Presiden Republik Indonesia! Sebagai Presiden Republik Indonesia aku diminta untuk memberi penjelasan tentang Pancasila. Apa sebabnya negara Republik Indonesia didasarkan atas Pancasila?

Dan diminta memberi penjelasan akan Panca Dharma, sebagai yang telah kuanjurkan dengan resmi pula di dalam pidato Presiden Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus vang lalu. Dan permintaan itu. Insya Allah kukabulkan pula sebagai Presiden Republik Indonesia, justru oleh karena pada saat sekarang ini saya sebagai Presiden Republik Indonesia, maka dengan gembira dan senang hati saya memenuhi permintaan untuk memberi penjelasan tentang Pancasila.

Apa sebab? Tak lain dan tak bukan ialah oleh karena aku ini Presiden Republik Indonesia disumpah atas Undang­Undang Dasar kita. Saya tadi berkata, bahwa saya memenuhi perminta­an Kongres Rakyat Jawa Timur dengan penuh kesenangan hati, ialah oleh karena saya ini sebagai Presiden Republik disumpah atas dasar Undang­Undang Dasar kita. Disumpah harus setia kepada Undang­Undang Dasar kita. Di dalam Undang­Undang Dasar kita, dicantumkan satu Mukaddimah, kata pendahuluan. Dan di dalam kata pendahuluan itu dengan tegas disebutkan Pancasila. “Ketuhanan Yang Maha Esa, Kebangsaan Indonesia yang bulat, Perikemanusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial”. Malahan bukan satu kali ini Pancasila itu disebutkan di dalam Undang­Undang Dasar kita. Sejak kita di dalam tahun 1945 telah berkemas­kemas untuk menjadi satu bangsa yang merdeka, sejak itu kita telah mengalami empat kali naskah.

Sebelum mengadakan Proklamasi 17 Agustus, sudah ada satu naskah. Kemudian pada 17
Agustus satu naskah lagi. Kemudian tatkala RIS dibentuk satu naskah lagi. Kemudian sesudah itu tatkala kita kembali kepada zaman Republik Indonesia Kesatuan satu naskah lagi. Empat kali naskah saudara­saudara. Dan di dalam keempat naskah itu dengan tegas disebutkan Pancasila.

Pertama tatkala kita di dalam zaman Jepang, kita telah berkemas­kemas di dalam tahun 1945 itu untuk menjadi bangsa yang merdeka. Pada waktu itu telah disusunlah satu naskah yang dinarnakan “Charter Jakarta”. Di dalam Jakarta Charter itu telah disebutkan dengan tegas lima azas yang hendak kita pakai sebagai pegangan untuk negara vang akan datang. “Ketuhanan Yang Maha Esa, Kebangsaan, Perikemanusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial”.
Demikian pula tatkala kita telah memproklamirkan kemerdekaan kita pada 17 Agustus 1945, dengan tegas pula keesokan harinya saudara­saudara kukatakan Undang­Undang Dasar yang kita pakai ini, yaitu Undang­Undang Dasar yang kita rencanakan pada waktu caman.lepang di bawah ancaman bayonet Jepang, kita rencanakan satu Undang­Undang Dasar daripada Negara Republik Indonesia yang kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Dan di dalam Undang­Undang Dasar itu dengan tegas dikatakan Pancasila: “Ketuhanan Yang Maha Esa, Kebangsaan, Perikemanusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial”.

Tatkala berhubung dengan jalannya politik, Negara republik Indonesia Serikat dibentuk (RIS), pada waktu itu dibuatlah Undang­Undang Dasar RIS. Dan di dalam Mukaddimah Undang­Undang Dasar RIS ini disebutkan lagi dengan tegas Pancasila.

Kita tidak senang akan federal­federalan. Segenap rakyat memprotes akan adanya susunan federal ini. Delapan bulan susunan federal ini. Delapan bulan susunan RIS berdiri – hancur lebur RIS, berdirilah Negara Republik Indonesia Indonesia Kesatuan. Dan Undang­tlndang Dasar yang dipakai RIS ini diubah lagi menjadi Undang­Undang Dasar Sementara daripada Negara Republik Indonesia Kesatuan. Tetapi tidak diubah isi Mukaddimah yang mengandung Pancasila.

Jadi dengan tegas saudara­saudara, – jelas! Empat kali di dalam sepuluh tahun ini kita melewati empat naskah. Tiap­tiap naskah menyebutkan Pancasila. Dan tatkala aku dengan karunia Allah s.w.t. dinobatkan menjadi Presiden, aku disumpah. Dan isi sumpah itu antara lain ialah setia kepada Undang­Undang Dasar. Maka oleh karena itulah saudara­saudara, rasa sebagai kewajiban jikalau diminta oleh sesuatu grolongan akan keterangan tentang Pancasila. – mcmcnuhi pcrmintaan itu. Dan pada ini malam dengan mengucap suka­syukur ke hadirat Allah s.w.t. aku berdiri di hadapan saudara­saudara. Berhadap­hadapan muka dengan kaurn buruh, dengan pegawai. rakyat jelata, dengan pihak Angkatan Laut Republik Indonesia dan pihak Tentara, dengan pihak Mobrig, pihak Polisi, Pihak Perintis, dengan Pemuda, dengan Pemudi, – berdiri di hadapan saudara­ saudara dan anakanak sekalian, yang telah datang membanjiri lapangan yang besar ini Iaksana air hujan, – aku mengucap banyak terima kasih kepadamu. Dan Insya Allah saudara­saudara aku akan terangkan kepadamu tentang apa sebab Negara Republik didasarkan atas dasar Pancasila.

Saudara­saudara,

Ada yang berkata Pancasila ini hanya sementara!
Yah jikalau diambil di dalam arti itu, memang Pancasila adalah sementara. Tetapi bukan saja Pancasila adalah sementara, bahkan misalnya ketentuan di dalam Undang­Undang Dasar kita, bahwa Sang Merah Putih, bendera kita, – itupun sementara! Segala Undang­ Undang Dasar kita sekarang ini adalah sementara.

Tidakkah tadi telah kukatakan, bahwa Undang­Undang Dasar yang kita pakai sekarang ini, malahan disebutkan Undang­Undang Dasar Sementara daripada Negara Republik Indonesia? Apa sebab sementara? Yah oleh karena akhirnya nanti yang akan menentukan segala sesuatu ialah konstituante. Maka itu Saudarasaudara kita akan mengadakan pernilihan umurn 2 kali. Pertama pada tanggal 29 September nanti, Insya Allah s.w.t. untuk memilih DPR.

Kemudian pada tanggal 15 Desember untuk memilih Konstituantcadalah Badan Pembentuk Undang­Undang Dasar. t JndanuUndang Dasar yang tetap. Konstituante adalah pembentuk konstitusi. Konstitusi berarti Undang­Undang Dasar. Undang­Undang Dasar tetap bagi Negara Republik Indonesia, vang sampai sekarang ini segala­galanya masih sementara. Tetapi saudara­saudara, jikalau ditanya kepadaku “apa yang berisi kalbu Bapak ini akan permohonan kepada Allah s.w.t.?”

Terus terang aku berkata, jikalau saudara­saudara membelah dada Bung Karno ini, permohonanku kepada Allah s.w.t. ialah saudara­saudara bisa membaca di dalam dada Bung Karno memohon kepada Allah s.w.t. supaya Negara Republik Indonesia tetap berdasarkan Pancasila.

Yah benar, bahwa segala sesuatunya adalah sementara. Tetapi aku berkata, bahwa Sang Merah Putih adalah sementara, adalah bendera Republik Indonesia­pun sementara. Dan jikalau nanti konstituante bersidang, Insya Allah s.w.t. saudara­saudaraku, siang dan malam Bapak akan memohon kepada Allah s.w.t. agar supaya konstituante tetap menetapkan Bendera Sang Merah Putih sebagai bendera Negara republik Indonesia.
Aku minta kepadamu sekalian, janganlah memperdebatkan Sang Merah Putih ini. Jangan ada satu pihak yang mengusulkan warna lain sebagai bendera Republik Indonesia.

Tahukah saudara­saudara, bahwa warna Merah Putih ini bukan buatan Republik Indonesia? Bukan buatan kita dari zaman pergerakan nasional. Apa lagi bukan buatan Bung Karno, bukan buatan Bung Hatta! Enam ribu tahun sudah kita mengenal akan warna Merah Putih ini. Bukan seribu tahun. bukan dua ribu tahun. bukaii tiga ribu tahun, bukan empat ribu tahun, bukan lima ribu tahun! – Enam ribu tahun kita telah mengenal warna Merah Putih!

Tatkala di sini belum ada agama Kristen, belum ada agama Islanl, belum ada agama Hindu, bangsa Indonesia telah mengagungkan warna Merah Putih. Pada waktu itu kita belum mengenai Tuhan dalam cara mcngcnal sebagai sckarang ini. Pada waktu itu vang kita sembah adalah Matahari dan Bulan. Pada waktu itu kita hanya mengira, bahwa yang memberi hidup itu Matahari.

Siang Matahari – malam Bulan. Matahari merah – Bulan putih. Pada waktu itu kita telah mengagungkan warna Merah Putih. Kemudian bertambah kecerdasan kita. Kita lebih dalam menyelami akan hidup di dalam alam ini.

Kita memperhatikan segala sesuatu di dalam alam ini dan kita melihat – O, alam ini ada yang hidup bergerak, ada yang tidak bergerak. Ada manusia dan binatang, makhluk­ makhluk yang bergerak. Ada tumbuh­tumbuhan yang tidak bisa bergerak. “Manusia dan binatang itu darahnya merah. Tumbuh­tumbuhan darahnya putih”. Getih – Getah.

Coba dengarkan hampir sama dua perkataan ini: Getih – Getah.
Cuma i diganti dengan a Dulu kita mengagungkan Matahari dan Bulan yang di dalarn alam Hindu dinamakan Surya Candra. Kemudian kita mengagungkan Getih­Getah. Merah­Putih. Saudara­saudara, itu adalah fase kedua.

Fase ketiga, manusia mengerti akan kejadian manusia.

Mengerti, bahwa kejadian manusia ini adalah daripada perhubungan laki dan perempuan, perempuan dan laki. Orang mengerti perempuan adalah merah, laki adalah putih.

Dan itulah sebabnya maka kita turun­temurun mengagung­kan Merah Putih. Apa yang dinamakan “gula­kelapa”, meng­agungkan bubur bang putih. Itulah sebabnya maka kita kemudian tatkala kita, mempunyai Negara­Negara setelah mempunyai kerajaan­kera­ jaan, memakai warna Merah Putih itu sebagai bendera Negara. Tatkala kita mempunyai kerajaan Singosari, Merah Putih telah berkibar terus dirampas oleh imperialisme asing. Tetapi di dalam dada kita tetap hidup kecintaan kepada Merah Putih.

Dan tatkala kita mengadakan pergerakan nasional sejak tahun 1908, dengan lahirnya Budi Utomo dan diikuti oleh Serikat Islam, oleh NIP (National lndische Party), oleh ISDP, oleh PKI. oleh Sarikat Rakyat, oleh PPPK, oleh PBI, oleh Parindra, dan lain­lain, maka rakyat Indonesia tetap mencintai Merah Putih sebagai warna benderanya.

Dan tatkala kita pada tanggal 17 Agustus 1945 memproklamirkan kemerdekaan itu dengan resmi kita menyatakan Sang Merah Putih adalah bendera kemerdekaan kita.

Itu semua jika dikatakan sementara, yaaah sementara! Sebab konstituante belum bersidang. Konstituante mau merubah warna ini??? Lho, kalau menurut haknya, boleh saja. Sebab konstituante itu adalah kekuasaan kita yang tertinggi. Penyusun, pembentuk Konstitusi. Jadi kalau konstituante misalnya hendak menentukan warna Bendera Republik Indonesia bukan Merah – Putih – yaah mau dikatakan apa?

Tetapi Bapak berkata, Bapak memohon kepada Allah s.w.t. agar supaya warna merah­putih tetap menjadi warna Bendera Negara Republik Indonesia.

Kembali kepada Pancasila. Jika dikatakan sementara, yaaaaaa sementara!

Lagi­lagi Bapak ini berkata Allah s.w.t., Allah s.w.t. – Dan Bapakpun bersyukur ke hadirat Allah s.w.t., bahwa cita­cita Bapak yang sudah bertahun­tahun untuk naik Haji dikabulkan oleh Allah s.w.t. Lagi­lagi Allah s.w.t.

Saudara­saudara, jikalau aku meninggal dunia nanti – ini hanya Tuhan yang mengetahui, dan tidak bisa dielakkan semua orang – jikalau ditanya oleh Malaikat: “Hai Soekarno, tatkala engkau hidup di dunia, engkau telah mengerjakan beberapa pekerjaan. Pekerjaan apa yang paling engkau cintai? Pekerjaan apa yang paling engkau kagumi? Pekerjaan apa yang engkau paling ucapkan syukur kepada Allah s.w.t.?”

Moga­moga saudara­saudara aku bisa menjawab. ­ya bisa menjawab demikian atau tidaknya itupun tergantung dari pada Allah s.w.t.: “Tatkala aku hidup di dunia ini, aku telah ikut membentuk Negara republik Indonesia. Aku telah ikut membentuk satu wadah bagi masyarakat Indonesia”.

Sebagai sering kukatakan saudara­saudara, negara adalah wadah. Jikalau diberi karunia oleh Allah s.w.t. mengerjakan pekerjaan satu ini saja, Allahu’akbar – aku akan berterima kasih setinggi langit. Yaitu untuk pekerjaan ini saja, ikut membentuk wadah. Wadahnya, wadahnya saja yang bernama Negara ini. Di dalam wadah ini adalah masyarakat. Wadah yang dinamakan negara ini adalah wadah untuk masyarakat.

Membentuk wadah adalah lebih mudah daripada mem­bentuk masyarakat.
Membentuk wadah adalah bisa dijalankan di dalam satu hari sebenarnya, – wadah yang bernama Negara itu.

Tidakkah saudara­saudara dari sejarah dunia kadang­kadang mendengar, bahwa oleh suatu konferensi kecil sekonyong­konyong diputuskan dibentuk Negara ini, dibentuk Negara itu. Misalnya dahulu sesudah peperangan dunia yang pertama, tidakkah Negara Cekoslovakia sekadar dengan coretan pena dari suatu konferensi kecil. Membentuk negara gampang! Dulu di sini juga pernah dibentuk Negara Indonesia Timur, Negara Pasundan, hanya dengan decreet Van Mook saudara­saudara! Tetapi coba membentuk masyarakat, susah!

Membentuk masyarakat, kita harus bekerja siang dan malam, bertahun­tahun, berpuluh­puluh tahun, kadang­kadang berwinduwindu, berabad­abad. Masyarakat apapun tidak gampang dibentuknya. Itu meminta pekerjaan kita terus­menerus. Baik masyarakat Islam, maupun masyarakat Kristen, maupun masyarakat Sosialis. Bukan bisa dibentuk dengan satu dekret saudara­saudara, dengan satu tulisan. dengan satu unjau napas manusia. Memhentuk masyarakat makan waktu! Yah aku bermohon kepada Tuhan, dibolehkanlah hendaknya ikut membentuk masyarakat pula.

Masyarakat di dalam wadah itu. Tetapi aku telah syukur seribu syukur kepada Tuhan, jikalau aku nanti bisa menjawab kepada Malaikat itu, bahwa hidupku di dunia ini ialah antara lain­lain telah ikut membentuk wadah ini saja. Membentuk wadah yang bernama Negara dan wadah ini buat satu masyarakat yang besar. Walaupun rapat ini lebih daripada satu juta manusia saudara­saudara, wadah itu bukan kok cuma buat satu juta manusia ini saja. Tidak! Wadah yang bernama Negara, Negara yang bernama Republik Indonesia itu adalah wadah untuk masyarakat Indonesia yang 80 juta, dari Sabang sampai ke Merauke! Dan masyarakat Indonesia ini adalah beraneka agama, beraneka adat­istiadat, beraneka suku. Bertahun tahun aku ikut memikirkan ini. Nanti jikalau Allah s.w.t. memberikan kemerdekaan kepada kita, – dulu berpikiran yang demikianlah Bapak, ­jikalau Negara Republik Indonesia telah bisa berdiri, negara ini agar supaya selamat, agar bisa menjadi wadah bagi segenap rakyat Indonesia yang 80 juta, Negara harus didasarkan apa?

Tatkala aku masih berumur 25 tahun, aku telah memikirkan hal ini. Tatkala aku aktif di dalam pergerakan, aku lebih­lebih lagi memikirkan hal ini. Tatkala di dalam zaman Jepang, tetapi oleh karena tekad kita sendiri, usaha kita sendiri, pembantingan tulang sendiri, korbanan kita sendiri, – tatkala fajar telah menyingsing, lebih­lebih lagi kupikirkan hal ini. Wadah ini hendaknya jangan retak. Wadah ini hendaknya utuh sekuat­kuatnya. Wadah untuk segenap rakyat Indonesia, dari Sabang sampai ke Merauke yang beraneka agama, beraneka suku beraneka adat­istiadat.

Sekarang aku menjadi Presiden Republik Indonesia adalah karunia Tuhan. Aku tidak menyesal, bahwa aku dulu bertahun­tahun memikirkan hal ini. Dan aku tidak menyesal. bahwa aku telah memformulir Pancasila. Apa sebab? Barangkali lebih daripada siapapun di Indonesia ini, aku mengetahui akan keanekaaan bangsa Indonesia ini. Sebagai Presiden Republik Indonesia aku berkesempatan sering­sering untuk melawat ke daerah­daerah. Sering­sering aku naik kapal udara. Malahan jikalau di dalam kapal udara aku sering­sering, katakanlah main gila dengan pilot. Pilot terbang tinggi, aku tanya kepadanya:
“Saudara pilot, berapa tinggi?” “12.000 kaki Paduka Yang Mulia”. “Kurang tinggi, naikkan lagi”.
” 13.000 kaki”.
“Hahaa kurang tinggi Bung!”. “14.000 kaki”. “Kurang tinggi!”.
” 15.000 kaki”. “Kurang tinggi!”. “16.000 kaki!”. “Kurang tinggi!”. “17.000 kaki!” “Kurang tinggi!”.
“Sudah tidak bisa lagi. Paduka Yang Mulia. Kapal udara kita sudah mencapai plafon”.
Plafon itu ialah tempat yang setinggi­tingginya bagi kapal udara itu. Aku terbang dari Barat ke Timur, dari Timur ke Barat. Dari Utara ke Selatan, dari Selatan ke Utara. Aku melihat tanah air kita. Allahu’akbar, cantiknya bukan main! Dan bukan saja cantik, sehingga benarlah apa yang diucapkan oleh Multatuli di dalam kitab “Max Havelaar”, bahwa Indonesia ini adalah demikian cantiknya, sehingga ia sebutkan “Insulinde de zich daar slingert om den evenaar als een gordel van smaragd”. Indonesia yang laksana ikat pinggang terbuat daripada zamrud berlilit­lilit sekeliling khatulistiwa! Indahnva demikian. Ya memang saudara­saudara. jikalau engkau terbang 17.000 kaki di angkasa dan melihat ke bawah. kelihatan betul­betul Indonesia ini adalah sebagai ikat pinggang yang terbuat daripada zamrud, melilit mengelilingi khatulistiwa. Berpuluh­puluh, beratus­ratus, beribu ribu pulau saudara melihat. Dan tiap­tiap pulau itu berwarnawarna.

Ada yang hijau kehijauan, ada yang kuning kekuningan. Indah permai tanah air kita ini saudara­saudara. Lebih daripada 3000 pulau. Bahkan kalau dihitung dengan yang kecil­ kecil, – 10.000 pulau­pulau.

Terbanglah kapal udaraku datang di daerah Aceh. Rakyat Aceh menyambut kedatangan Presiden, rakyat beragama Islam. Terbang lagi kapal udaraku, turun di Siborong­borong daerah Batak. Rakyat Batak menyambut dengan gegap­gempita kedatangan Presiden Republik Indonesia, – agamanya Kristen.

Terbang lagi saudara­saudara dekat Sibolga, – agama Kristen. Terbang lagi ke Selatan ke Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan, – agama Islam. Demikianlah pula di Jawa. Kebanyakan beragama Islam, di sana Kristen, sini Kristen. Terbang lagi kapal udaraku ke Banjarmasin, – kebanyakan Islam. Tetapi di Banjarmasin itu aku berjumpa utusan­utusan dari suku Dayak saudara saudara. Malahan di Samarinda aku berjumpa dengan utusan utusan, bahkan rakyat Dayak yang 9 hari 9 malam turun dari gunung­gunung untuk menjumpai Presiden Republik Indonesia. Mereka tidak beragama Islam, tetapi beragama agamanya sendiri.

Aku ber­ibu orang Bali. Ida Ayu Nyoman Rai nama Ibuku. Malahaii aku jikalau beristirahat di Tampaksiring, desa kecil di Bali, rakyat Bali menyebutkan aku, kecuali Bung Karno, Pak Karno – menyebutkan Ida Bagus Made Karno. Aku melihat masyarakat Bali yang dua juta manusia itu beragama Hindu – Bali. Di Singaraja ada masyarakat Islam sedikit. Di Denpasar ada masyarakat Islam sedikit. Terbang lagi kapal udaraku ke Sumbawa – Islam. Terbang kapal udaraku ke Sumbawa – Kristen Protcstan. Tcrhang kapal udaraku ke Florcs ­pulau di mana aku dulu diinternir. – rakyat Flores kenal akaii Bung Karno, Bung Karno kenal akaii rakyat Flores – sebagian besar rakyat Flores itu beragama Rooms Katholik (Kristen). Terbang lagi kapal udaraku ke Timor – sebagian besar rakyatnya Protestan Kristen. Terbang lagi kapal udaraku ke Ambon – Kristen.

Sekitar Ambon itu adalah masyarakat kristen. Terbang lagi ke Utara ke Ternate – Islam di Ternate. Dari Ternate trbang ke Manado, Minahasa sekelingnya, – Kristen, ke Selatan Makasar – Islam. Di Tengah Sulawesi, Toraja – sebagian besar Kristen, sebagian belum beragama.

Benar apa tidak perkataanku, saudara­saudara, bahwa bangsa Indonesia adalah beraneka agama? Demikian pula aku berkata, bahwa bangsa Indonesia ini beraneka adat­istiadat, beraneka suku pula. Beraneka suku, beraneka agarna, beraneka adat­istiadat. Ini yang menjadi pikiran Bapak berpuluh­puluh tahun.

Sebelum kita memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, aku ingin bernama­sama dengan pejuang­pejuang lain membentuk satu wadah. Wadah yang bernama Negara. Wadah untuk masyarakat, bagi masyarakat yang beraneka agama, beraneka suku, beraneka adat­istiadat!

Aku ingin membentuk satu wadah yang tidak retak, yang utuh, yang mau menerima semua masyarakat Indonesia yang beraneka­aneka itu dan yang masyarakat Indonesia mau duduk pula di dalamnya, yang diterima oleh saudara­saudara yang beragama Islam, yang beragama Kristen Katolik, yang beragama Kristen Protestan, yang beragama Hindu­Bali, dan oleh saudarasaudara yang beragama lain, – yang bisa diterima oleh saudarasaudara yang adat­istiadatnya begitu, dan yang bisa diterima sekalian saudara.

Aku tidak mencipta Pancasila saudara­saudara. Sebab sesuatu dasar negara ciptaan tidak akan tahan lama. Ini adalah satu ajaran yang dari mula­nulanya kupegang teguh. Jikalau engkau hendak mengadakan dasar untuk sesuatu negara, dasar untuk sesuatu wadah – jangan bikin sendiri, jangan anggit sendiri, jangan karang sendiri. Selamilah sedalam­ dalamnya lautan daripada sejarah! Gali sedalam­dalamnya bumi daripada sejarah!

Aku melihat masyarakat Indonesia, sejarah rakyat Indonesia. Dan aku menggali lima mutiara yang terbenam di dalamnya, yang tadinya lima mutiara itu cernerlang tetapi oleh karena penjajahan asing yang 350 tahun lamanya, terbenam kembali di dalam bumi bangsa Indonesia ini.
Aku oleh sekolah Tinggi Universitas Gajah Mada di­anugerahi titel Doktor Honoris (titel Doktor kehormatan) dalam ilmu ketatanegaraan. Tatkala promotor Prof. Mr. Notonegoro mengucapkan pidatonya pada upacara pemberian titel Doktor Honoris Causa, pada waktu itu beliau berkata: “Saudara Soekarno, kami menghadiahkan kepada saudara titel kehormatan Doktor Honoris Causa dalam ilmu ketatanegaraan, oleh karena saudara pencipta Pancasila”.

Di dalam jawaban itu aku berkata: “Dengan terharu aku menerima titel Doktor Honoris Causa yang dihadiahkan kepadaku oleh Universitas Gajah Mada, tetapi aku tolak dengan tegas ucapan Profesor Notonegoro, bahwa aku adalah pencipta Pancasila”.

Aku bukan pencipta Pancasila. Pancasila diciptakan oleh bangsa Indonesia sendiri. Aku hanya menggali Pancasila daripada burninya bangsa Indonesia. Pancasila terbenam di dalarn bumi bangsa Indonesia 350 tahun lamanya, ­aku gali kembali dan aku sembahkan Pancasila ini di atas persada bangsa Indonesia kembali.

Tidak benar saudara­saudara, bahwa kita sebelum ada Bung Karno, sebelum ada Republik Indonesia – sebenarnya telah mengenal akan – Pancasila? Tidakkah benar kita dari dahulu mula, telah mengenal Tuhan. – hidup di dalam alarn Ketuhanan Yang Maha Esa? Kita dahulu pernah mengUu­aikan hal ini panjang lebar. Bukan anggitan baru. bukan ­karangan baru. Tetapi sudah sejak dari dahulu mula bangsa Indonesia adalah satu bangsa yang cinta kepada Ketuhanan. Yah kemudian Ketuhanannya itu disempurnakan oleh agarna­agarna. Disempurnakan oleh Agama Islam, – disempurnakan oleh agama Kristen. Tetapi dari dahulu mula kita memang adalah satu bangsa yang berketuhanan. Demikian pula, tidakkah benar bahwa kita ini dari dahulu mula telah cinta kepada Tanah Air dan Bangsa? IJidup di dalam alam kebangsaan? Dan bukan saja kebangsaan kecil, tetapi kebangsaan Indonesia. Hai engkau pemuda­pemuda, pernah engkau mendengar nama kerajaan Mataram? Kerajaan Mataram yang membuat candi­candi Prambanan, candi Borobudur? Kerajaan Mataram ke­2 di waktu itu di bawah pimpinan Sultan Agung Hanjokrokusurno? Tahukah saudara­saudara akan arti perkataan Mataram? Jikalau tidak tahu, maka aku akan berkata kepadamu “Mataram berarti Ibu”. Masih ada perkmaan perkataan Mataram itu misalnya perkataan Mutter di dalam bahasa Jerman – Ibu. Mother dalam bahasa Inggeris – Ibu. Moeder dalam bahasa Belanda – Ibu. Mater dalam bahasa Latin – Ibu. Mataram berarti Ibu.

Demikian kita cinta kepada Bangsa dan Tanah air dari zaman dulu mula, sehingga negeri kita, negara kita, kita putuskan Mataram.

Rasa kebangsaan, bukan rasa baru bagi kita. Mungkinkah kita mempunyai kerajaan seperti kerajaan Majapahit dan Sriwijaya dahulu, jikalau kita tidak mempunyai rasa kebangsa­an yang berkobar­kobar di dalam dada kita?
Yaah kata pemimpin besar yang bernama Gajah Mada, Sang Maha Patih Ihino Gajah Mada. Benar kita mempunyai pemimpin besar itu. Benar pemimpin besar itu telah bersumpah satu kali “tidak akan makan kclapa. jikalau bclum segenap kepulauan Indonesia tergabung di dalam satu negara yang besar”. Benar kita mempunyai pemimpin yang besar itu. Tetapi apakah pemimpin inikah yang sebenarnya pencipta daripada kesatuan kerajaan Majapahit? Tidak!

Pernimpin besar sekadar adalah sambungan lidah daripada rasanya rakyat jelata. Tidak ada satu orang pemimpin besar, walaupun besarnya bagaimanapun juga, – bisa lnembentuk satu negara yang sebesar Majapahit ialah satu negara yang besar, yang wilayahnya dari Sabang sampai ke Merauke, – Bahkan sampai ke daerah Philipina sekarang.

Katakanlah Bung Karno pemimpin besar atau pemimpin kecil – pernimpin gurem atau pemimpin yang bagaimanapun, – Tetapi jikalau ada orang yang berkata: “Bung Karno yang mengadakan negara Republik Indonesia”. Tidak benar! ! ! Janganpun satu Soekarno sepuluh Soekarno, seratus Soekarno, seribu Soekarno – tidak akan bisa membentuk negara Republik Indonesia, jikalau segenap rakyat jelata Republik Indonesia tidak ber­ juang mati­matian!”

Kemerdekaan adalah hasil daripada perjuangan segenap rakyat. Maka itu pula menjadi pikiran Bapak, Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat­istiadat, – tetapi milik kita semua dari Sabang sampai ke Merauke! Perjuangan untuk merebut kemerdekaan ini dijalan­kan oleh semua bangsa Indonesia.

Aku melihat di dalam daerah­daerah yang kukunjungi, di manapwn aku datang, aku melihat Taman­taman Pahlawan. Bukan saja di bagian­bagian yang beragama Islam, tetapi juga di bagianbagian yang beragama Kristen. Aku melihat Taman­taman Pahlawan di mana­mana. Di sini di Surabaya, pada tanggal 10 November tahun 1945 ­siapa yang berjuang di sini?
Scgcnap pcmuda­pcmudi. kiai. kawli buruh. kaum tani, segenap rakyat Surabaya berjuang dengan tiada perbedaan agama, adat­istiadat. oulongan atau suku.

Rasa kebangsaan kita sudah dari sejak zaman dahulu.. demikian pula rasa perikemanusiaan. Kita bangsa Indonesia adalah satu­satunya bangsa di dalam sejarah dunia ini satu­satunya bangsa yang tidak pernah menjajah bangsa lain adalah bangsa Indonesia. Aku tentang orang­orang ahli sejarah yang bisa membuktikan bahwa bangsa Indonesia pernah menjajah kepada bangsa lain.

Apa sebab? Oleh karena bangsa Indonesia berdiri di atas dasar perikemanusiaan sejak dari zaman dahulu. Dari zaman Hindu, kita sudah mengenal perikemanusiaan. Disempurnakan lagi rasa perikemanusiaan itu dengan agama­agama yang kemudian.
Di dalam zaman Hindu kita telah mengenal ucapan: “Tattvamasi”. Apa artinya Tattvamasi? Tat tvam asi berarti “Aku adalah dia, dia adalah aku”. Dia pakai, aku ikut pakai. Dia senang, aku ikut senang. Aku senang, dia ikut senang. Aku sakit, dia ikut sakit. Tattvamasi – perikemanusiaan.

Kemudian datanglah di sini agama Islam, mengajarkan kepada perikemanusiaan pula. Malah lebih sempurna. Diajarkan kepada kita akan ajaran­ajaran fardhu kifayah, kewajiban­kewajiban yang dipikulkan kepada seluruh masyarakat. Misalnya jikalau ada orang mati di kampungmu, dan kalau orang mati itu tidak terkubur, – siapa yang dianggap berdosa, siapa yang dikatakan berdosa, siapa yang akan mendapat siksaan daripada dosa itu? Bukan sekadar kerabat famili daripada sang mati itu. Tidak! Segenap masyarakat di situ ikut tanggung jawab.

Demikian pula bagi agama Kristen. Tidakkah di dalam agama Kristen itu kita diajarkan cinta kepada Tuhan, lebih daripada segala sesuatu dan cinta kepada sesama manusia, sama dengan cinta kepada diri kita sendiri? “Hebs U naasten lief gelijk U zelve. God boven alles”. Jadi rasa kemanusiaan, bukan barang baru bagi kita.

Demikianlah pula rasa kedaulatan rakyat. Apa sebab pergerakan Nasional Indonesia laksana api mencetus dan meledak­kan segenap rasa kebangsaan Indonesia? Oleh karena pergerak­an nasional Indonesia itu berdiri di atas dasar kedaulatan rakyat. Engkau ikut berjuang! Dari dahulu mula kita gandrung kepada kedaulatan rakyat. Apa sebab engkau ikut berjuang? Oleh karena engkau merasa memperjuangkan dasar kedaulatan rakyat.

Bangsa Indonesia dari dahulu mula telah mengenal kedaulatan rakyat, hidup di dalam alam kedaulatan rakyat. Demokrasi bukan barang baru bagi kita. Demikian pula cita­cita keadilan sosial. – bukan cita­cita baru bagi kita. Jangan kira, bahwa cita­cita keadilan sosial itu buatan Bung Karno, Bung Hatta, atau komunis, atau kaum serikat rakyat, kaum sosialis. Tidak!

Dari dahulu mula bangsa Indonesia ini cinta kepada keadilan sosial. Kalau zaman dahulu, kalau ada pemberontakan, – saudara­saudara berhadapan dengan pemerintah Belanda, – semboyannya selalu “Ratu Adil” Ratu adil para marta. Sama rata, sama rasa. Adil, adil, itulah yang menjadi gandrungnya jiwa bangsa Indonesia. Bukan saja di dalam alam pergerakan sekarang atau di dalam pergerakan alam nasional tetapi dari dulu mula. Maka oleh karena itulah aku berkata, baik Ketuhanan Yang Maha Esa maupun Kebangsaan, maupun Perikemanusia­an, maupun Kedaulatan Rakyat, maupun Keadilan Sosial, bukan aku yang menciptakan. Aku sekadar menggali sila­sila itu. Dan sila­sila ini aku persembahkan kembali kepada bangsa Indonesia untuk dipakai sebagai dasar daripada wadah yang berisi masyarakat yang beraneka agama, beraneka suku, beraneka adat­istiadat. Inilah saudarasaudara, maka di dalam sidang Dokuritu Zyunbi Tyousakai di dalarn zaman Jepang, pertengah­an tahun 1945 telah diadakan satu sidang daripada pemimpin­pemimpin Indonesia, dan di dalam sidang Dokuritu Zyunbi Tyoosakai itu dibicarakan hal­hal ini.

Pertama apakah negara yang akan datang itu harus berdasar satu falsafah ataukah tidak? Semua berkata “harus berdasarkan satu falsafah”. Harus memakai dasar. Sebab kita melihat di dalam sejarah Dunia ini banyak sekali negara­negara yang tidak berdasar,lantas berbuat jahat, oleh karena tidak mempunyai ancer­ancer hidup bagi rakyatnya.

Kita melihat negara­negara yang besar. Tetapi oleh karena tidak mempunyai ancer­ ancer hidup, tidak mempunyai dasar hidup dengan sedih kita melihat bahwa negara­ negara itu berbuat sesuatu yang sebenarnya melanggar kepada kedaulatan dan perikemanusiaan.

Di dalam sidang Dokuritzu Zunbi Tyousakai itu memutus­kan akan memberi dasar kepada negara. Akhirnya saya mem­persembahkan Pancasila. Dan syukur Alhamdulillah sidang menerimanya. Dan tatkala kita memproklamirkan kemerdekaankemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, dasar ini yang dipakai. Dan aku berkata oleh karena dasar ini – segenap rakyat Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke menyambut­nya proklamasi itu dengan gegap­gempita. Disambut oleh kaum alim ulama, disambut oleh kaum buruh, disambut oleh kaum tani, disambut oleh saudara­saudara yang berdiam di Aceh, disambut oleh saudara­saudara yang berdiam di Minangkabau, disambut oleh saudara­saudara yang berdiam di Flores, disambut oleh saudara­saudara yang berdiam di Kalimantan, disambut oleh saudara­saudara yang berdiam di Bali, disambut oleh segenap rakyat Indonesia.

Aku baru pulang dari Bali – tahukah penyambutan rakyat Bali yang beragama Hindu Bali itu terhadap kepada proklamasi kemerdekaan Indonesia? Rakyat Bali, hidup di dalam alam perjuangan yang hebat. Ada satu tempat kecil di Bali, misalnya namanva Tabanan. Yah kalau dibandingkan dengan di sini

Tabanan itu barangkali hanya sebesar Waru, atau sebesar Tulangan, sebesar Prambon. Di Tabanan itu saja di dalam tahun 1951 diresmikan satu Taman Pahlawan, vang di dalam Taman Pahlawan itu 680 jenazah.

Demikian pula di ternpat yang lain­lain. Memang rakyat Bali menyambut proklamasi ini dengan gegap­gempita. Agamanya adalah Hindu – Bali. Tetapi mereka menyambut proklamasi ini ialah oleh karena proklamasi ini didasarkan kepada Pancasila. Pendek kata tatkala usul saya kepada Dokuritzu Zunbi Tyousakai itu diterima oleh sidang dan kemudian dipakai sebagai dasar negara Republik Indonesia, tak putus­putus aku mengucapkan syukur kepada Tuhan. Inilah dasar yang menjamin keutuhan bangsa kita yang beraneka agama, yang beraneka adat­istiadat, yang beraneka suku.

Maka oleh karena itu, jikalau dikatakan Pancasila adalah sementara? Ya Konstituante nanti yang akan menentukan. Tetapi aku memohon kepada Tuhan agar supaya Negara Republik Indonesia tetap berdasarkan Pancasila!

Aku hidup gandrung dalam suasana persatuan. Aku masuk di dalam gelanggang perjuangan, tatkala aku berumur 18 tahun. Dulu sebelum 18 tahun tidak boleh masuk partai politik. Umur 18 tahun aku kintil (ikut) Rama Tjokroaminoto. Ikut berjuang. Sejak daripada itu tetap aku gandrung kepada persatuan, sekali lagi persatuan. Perkataan gandrung ini keluar dari mulutku dari tahun 1918 sampai sekarang. 37 tahun lamanya aku gandrung persatuan. Memang aku gandrung persatuan. Oleh karena aku mengetahui, bahwa hanya persatuanlah bisa mencapai kemerdekaan. Hanya persatuan bisa menetapkan kemerdekaan. Hanya persatuan inilah yang bisa membawa kita kepada cita­cita kita sekalian!

Di dalam kongres Rakyat Indonesia kuanjurkan persatuan ini. Di dalam Kongres Partai Nasional Indonesia di Randwlg, 10 bulan yang lalu – kuanjurkan pcrsatuan ini. Oleh karcna aku mclihat gejala­gejala perpecahan makin lama makin meningkat, makin lama makin menampak. Bersatulah kembali saudara­saudara, bersatulah rakyat Indonesia – bersatu kembali di dalam persatuan nasional revolusioner yang sebulat­bulatnya. Sebab kita duduk di dalam alam revolusi nasional. Kalau kita mengadakan persatuan yang bukan persatuan nasional revolusioner tidak bisa kita menyelesaikan revolusi nasional kita itu. Aku hidup di dalam alam persatuan ini, aku gandrung kepada persatuan ini, – maka oleh karena itulah, jikalau aku sekarang sebagai Presiden Republik Indonesia berbicara di hadapan saudara­saudara, resmi sebagai Presiden Republik Indonesia yang membentangkan kepada saudara­saudara dasar negara, yang akan sumpah di atasnya sebagai Presiden.

Di samping itu aku bergembira hati diberi kesempatan oleh Allah s.w.t. sebagai warga negara biasa membicarakan hal dasardasar negara ini.

Di dalam pidato 17 Agustus 1955 aku menganjurkan pula Panca Dharma. Apa inti dari Panca Dharma? Tak lain dan tak bukan ialah inti itu keluar daripada j iwa Pancasila. Tidakkah Panca Dharma lima? Pertama – persatuan. Kedua – yang merusak persatuan yaitu yang mengacau­ngacau keamanan ini harus kita lenyapkan. Nomor tiga – pembangunan, pembangun­an, pembangunan! Keempat – Irian Barat. Kelima – pemilihan umum. Pernilihan umum pada intinya ialah persatuan. Segenap bangsa Indonesia yang 80 juta ini, yang sudah dewasa 43 juta, ­diminta mengeluarkan suaranya dengan cara bebas ­dalam alam suasana persaudaraan. Mari kita sekarang dengan tenang dalam suasana persaudaraan bangsa mengemukakan suara kita. Jiwa daripada pemilihan umum adalah persatuan!

Pembangunan juga tidak bisa selesai zonder persatuan. Dapatkah engkau membangun ekonomi Indonesia dengan tidak pcrsatuan? Tahukah engkau bahwa Indonesia ini ekonomi yang sebenarnya satu Unit. satu kesatuan yang besar. – yang jikalau satu daerah dikeluarkan – kocar­kacir ekonomi kita itu. Dan kita menyusun satu ekonomi yang bukan ekonorni kolonial, ekonomi imperialis? Tidak! Di dalam Undang­Undang Dasar kita sebutkan dengan tegas bukan ekonomi untuk membikin gendutnya perutnya satu dua orang. Tetapi ekonomi yang membikin sejahteranya segenap rakyat. Inilah dasar, inti jiwa daripada Undang­Undang Dasar kita, meskipun Undang­Undang Dasar yang dinamakan sementara.

Satu ekonomi nasional yang menjamin semua bangsa Indonesia, hidup sejahtera, layak, makmur. Bukan ekonomi yang membikin gendut orang satu tetapi ekonomi sama rata sama rasa.

Satu ekonomi yang mengandung jaminan kehidupan yang baik buat semua, di dalam suasana kesatuan dan persatuan.

Pengacau keamanan bahwa itu memecah kepada persatuan merugikan kepada rakyat –perlukan masih kuuraikan? Tidak!

Irian Barat. Sebab apa saudara­saudara menuntut Irian Barat? Mungkin saudara beragama Islam? Di sana rakyatnya bukan Islam lho! Kenapa saudara menuntut Irian Barat supaya masuk di dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia? Saudara beragama Islam mereka tidak beragama Islam! Saudara akan menjawab: “Aku menuntut Irian Barat kembali ke dalam wilayah Republik Indonesia oleh karena Irian Barat adalah sebagian daripada tanah air Indonesia, oleh karena suku Irian Barat adalah sebagian daripada bangsa Indonesia seluruhnya.

Lho kenapa saudara menuntut Irian Barat kembali kepada kekuasaan Republik?

Saudara akan menjawab: “Aku menuntut Irian Barat kembali ke dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia oleh karena bangsa kita adalah satu dari Sabang sampai ke Merauke”.

Jadi dasarnva ialah persatuan bangsa. Maka oleh karena itu. ­aku sckali lagi mcnganjurkan kcpada segenap rakyat Indonesia, terutama sekali di hadapan pemilihan umum ini. – ingat kepada persatuan. Ingat kepada persatuan! Bangsa Indonesia adalah selalu kukatakan bukan bangsa yang kecil jumlahnya 80 juta. Lebih besar daripada bangsa yang lain­lainnya.
Aku telah, alhamdulillah, melawat ke Mesir, ke Arabia, ke India, ke Karachi, ke Pakistan, ke Sailan, ke Rangoon dan sebagainya, kecual1 ke Eropa dan Amerika, – aku melihat bangsa kita potensinya hebat­hebat. Tidak ada satu tanah air daripada sesuatu bangsa yang lebih hebat daripada tanah air Indonesia.

Tidak ada satu bangsa yang lebih – seragam, sebenarnya jikalau mau, – daripada bangsa Indonesia. Tidak ada satu tanah air yang lebih indah daripada bangsa Indonesia. Jumlahnyapun tidak sedikit 80 juta. Lebih daripada bangsa yang lain!

Yaah kita kalah dengan Amerika Serikat jumlah bangsa kita ini. Kalah dengan USSR (Sovyet Unie) jumlahnya bangsa kita ini. Kalah dengan Tiongkok jumlah bangsa kita. Kalah dengan India jumlah bangsa kita. Tetapi di samping yang empat ini saudara­ saudara, tidak ada lagi yang mengalahkan kita. Ada yang memadai kita jumlah rakyatnya yaitu Jepang tetapi yang lain­lain, sernuanya kurang daripada kita.

Mesir yang Bapak tempo hari kunjungi dan yang Bapak melihat semangatnya meluap­ luap, berapa jumlah mereka? Mereka yang Bapak melihat mereka membangun. Membuat damdam yang besar, membuat jalan­jalan yang besar. – Jumlah mereka berapa? Yang mereka membangun pula Tentara, Tentara yang hebat. Yang mereka membangun angkatan Udara yang aku melihat pesawat­pesawat udara yang terbang di angkasa saudarasaudara, – berapa jumlah rakyat Saudi Arabia? 6 juta – kita 80 juta!

Aku datang di Bangkok, disambut oleh P.M.  Phibul Songoram. Tahukah engkau rakyat Thailand jumlahnya? 20 juta. kita – 80 juta. Kita bangsa yang 80 juta bukan bangsa yang kecil. kalau kita bersatu kataku berkali­kali, – jikalau kita 80 juta bersatu padu di dalam kesatuan nasional revolusioner. tidak ada satu cita­cita yang tidak terlaksana oleh kita.

Sekian sajalah, amanat Bapak.

⏩Download Pidato Bung Karno - Apa Sebab Revolusi Kita Berdasar Pancasila Versi PDF ⏪
(Google Drive)


Pesan Sponsor