Showing posts with label Bung Karno. Show all posts
Showing posts with label Bung Karno. Show all posts

Thursday, November 9, 2017

Jawab Saya Pada Saudara Muhammad Hatta



Hari Lebaran adalah hari perdamaian. Memang jikalau saya di sini memberi jawab atas kritiknya saudara Hatta yang tempohari disiarkannya di dalam pers tentang soal non-koperasi, maka itu bukanlah sekali-kali karena saya mau “berdebat-debatan”, bukanlah buat “bertengkaran”, bukanpun karena saya gemar akan “pertengkaran” itu.

Saya adalah orang yang terkenal senang akan perdamaian dengan sesama bangsa. Saya ada­lah malahan sering-sering mendapat praedicaat “mabok akan persatuan”, “mabok akan perdamaian”. Saya cinta sekali akan perdamaian nasional, dan selamanya akan membela pada perdamaian nasional itu. Tetapi saya pandang soal non-cooperation itu kini belum selesai difikirkan dan diper­timbangkan, belum selesai dianalisir dan dibestudir, belum selesai dibicarakan secara onpersoonlijk dan zakelijk. Saya minta publik me­mandang tulisan saya ini sebagai pembicaraan sesuatu soal yang maha penting secara onpersoonlijk dan zakelijk, dan tidak sebagai “serangan” atau “pertengkaran”, – walaupun orang lain tak bisa membicarakan se­suatu hal zonder menyerang dan bertengkar.

Saya memandang perlu sekali pembicaraan soal non-kooperasi itu saya teruskan, karena pembi­caraan itu adalah berguna dan berfaedah bagi pergerakan Rakyat Indo­nesia seumumnya. Sebagaimana mitsalnya dulu pertukaran-fikiran antara Kautsky dan Bernstein tentang soal benar-tidaknya Marxisme dikoreksi ada sangat berfaedah bagi ilmu Marxisme sendiri, sebagaimana pula pertukaran-fikiran antara Kautsky dan Van Kol c.s. tentang sosialisme dan koloniaal-politiek ada sangat berharga bagi pengetahuan tentang seluk-beluknya imperialisme, sebagaimana mitsalnya lagi pertukaran­fikiran antara H. A. Salim dan saya tentang baik-jeleknya nasionalisme ada sangat meninggikan penghargaan pada nasionalisme kinipun saya pandang pertukaran-fikiran tentang soal “non-cooperation dan Tweede Kamer” secara onpersoonlijk dan zakelijk ada berguna dan berfaedah bagi perjoangan kita mengejar Indonesia-Merdeka!



Saya mulai jawab saya ini dengan lebih dulu mengoreksi. Mengoreksi “salah-wisselnya” sdr. Hatta, di mana sdr. Hatta itu menulis, bahwa saya menyebutkan kepadanya seorang cooperator, yakni bahwa “menurut faham Ir. Sukarno, seseorang yang mau duduk dalam Tweede Kamer, sekalipun ia membanting tenaga sehaibat-haibatnya, berjoang di sana dengan mati­matian menentang imperialisme Belanda, orang itu adalah seorang cooperator”. Kapankah saya pernah berkata atau men-suggereer, bahwa sdr. Hatta, dengan sukanya duduk dalam Tweede Kamer itu, menjadi seorang cooperator? Saya tidak pernah berkata atau men­suggereer yang demikian itu. Saya tidak pernah menuduh, bahwa sdr. Hatta sudah jungkir-balik atau bersalto-mortaal menjadi orang coope­rator.

Saya hanyalah tempohari menulis, bahwa: “pada saat yang seorang nasionalis-non-cooperator masuk ke dalam sesuatu dewan kaum pertuanan, ya, pada saat yang ia di dalam azasnya suka masuk dalam sesuatu dewan kaum pertuanan itu, sekalipun dewan itu bernama Tweede Kamer atau Volkenbond, pada saat itu ia melanggar azasnya yang disendikan pada keyakinan atas adanya pertentangan-kebutuhan antara kaum pertuanan dan kaumnya sendiri. Pada saat itu, ia menjalankan politik yang tidak principieel lagi, menjalankan politik yang di dalam hakekatnya melanggar azas non-koperasi!”

Memang di dalam “Fikiran Rakyat” nomor 29, – di dalam “Primbon Politik” atas pertanyaan seorang pembaca dari Jakarta -, saya dengan lebih terang lagi menulis bahwa sdr. Hatta kini belum menjadi seorang cooperator, tetapi hanyalah berobah menjadi seorang non-coope­rator yang non-koperasinya tidak prinsipiil lagi. Memang terhadap pada sdr. Mohammad Hatta, yang dulu selamanya saya kenal sebagai orang non-cooperator yang 100%, saya tak mau dengan gampang-gampang saha­ja berkata bahwa non-koperasi sudah dibuang samasekali!



Sayapun tidak pernah ada ingatan, bahwa: “Bukan sikap dan cara berjoang lagi yang menjadi ukuran orang radikal atau tidak, melainkan memboikot atau duduk di dalam parlemen”. Saya tidak per­nah men-suggereer, bahwa semua orang yang duduk di dalam dewan ada orang yang tidak-radikal, yakni bahwa semua orang yang duduk di dalam dewan adalah orang yang “lunak”. Amboi, saya tokh mitsalnya menge­tahui, bahwa kaum C.R. Das c.s. bahwa kaum O.S.P., bahwa kaum komunis sama berjoang dalam dewan atau parlemen. Saya tokh menge­tahui, sebagaimana juga tiap-tiap orang mengetahui, bahwa kaum C.R. Das c.s. adalah kaum yang radikal, bahwa kaum O.S.P. adalah kaum yang radikal, bahwa kaum komunis adalah kaum yang radikal, ya, radikal­-mbahnya-radikal. Saya tokh dengan terang sekali di dalam keterangan saya tentang non-kooperasi itu menulis, bahwa:

 “Ada orang yang menganjurkan duduk di Tweede Kamer buat menjalankan politik-opposisi dan politik-obstruksi, dan memperusahakan Tweede Kamer itu menjadi mimbar prodeo bagi perjoangan. Politik yang demikian itu boleh dijalankan, dan memang sering dijalankan. Tetapi politik yang demikian itu tidak cocok dengan azas nationalist-non-­cooperator. Kaum komunis atau kaum O.S.P. atau kaum C.R. Das c.s. yang berpolitik demikian, memang bukan kaum nationalist-non-cooperator, – walaupun mereka tentu sahaja radikal dan menurut prinsipnya.”

 Perhatikanlah kalimat yang akhir ini. Perhatikanlah bagaimana saya tak lupa menyebut kaum C.R. Das c.s., dan kaum komunis, yang suka duduk dalam dewan atau parlemen itu, kaum yang radikal dan yang menurut prinsipnya sendiri-sendiri. Tetapi perhatikanlah pula bagaimana saya berkata, bahwa mereka memang bukan kaum nationalist-non-coopera­tor. Mereka memang tak pernah menyebutkan diri nationalist-non­-cooperator. Mereka memang tidak berhaluan non-koperasi. Ya, mereka memang anti azas-perjoangan non-koperasi! …


Sekarang saya mau menyelidiki,  apakah benar “keris Ierlandia” yang saya pakai untuk bertahan, kemudian menikam diri saya sendiri? Pem­baca masih ingat: “keris Ierlandia” itu saya pakai, untuk menjadi contoh dari luar-negeri, bahwa kaum nationalist-non-cooperator Ierlandia juga memboikot Westminster, walaupun Westminster ada suatu parlemen yang 100%. “Keris Ierlandia” itu saya pakai untuk membuktikan, bahwa, di mana kaum nationalist-non-cooperator Ierlandia bersemboyan “jangan­lah pergi ke Westminster, tinggalkanlah Westminster itu, dirikanlah Westminster sendiri!” – maka kita, kaum nationalist-non-cooperator Indonesia harus pula menolak duduk di dalam parlemen di kota Den Haag. “Keris Ierlandia” itu telah ditangkis oleh sdr. Mohammad Hatta, dan katanya dibalikkan menjadi menikam diri saya sendiri, karena … Westminster adalah Westminster, dan Den Haag adalah Den Haag. Dengan benar sekali sdr. Mohammad Hatta menulis:

 “Dahulu Inggeris dan Ierlandia dipandang sebagai satu negeri, seperti Nederland dan Belgia sebelum tahun 1830. Jadinya Ierlandia tidak dipandang sebagai jajahan Inggeris, seperti Indonesia jajahan Belanda, melainkan dipandang sebagai satu bagian daripada kerajaan Inggeris. Sebab itu namanya Great Britain and Ireland, – Britania Besar dan Ierlandia. Sebab kedua-duanya tergabung jadi satu negeri, maka kedua-duanyapun mempunyai satu parlemen bersama. Wakil-wakil Ierlandia di dalam Parlemen di Westminster tidak dipilih oleh Rakyat Inggeris, melainkan diutus oleh Rakyat Ierlandia sendiri … Sebab Ierlan­dia sebagian yang terkecil daripada kerajaan Britania Besar dan Ierlandia, jumlah wakil-wakil yang diutusnyapun jauh lebih kecil daripada wakil-wakil Inggeris. Mereka senantiasa kalah suara. Dan oleh karena itu kaum kapitalis Inggeris senantiasa dapat menindas dan memperkosa Rakyat Ierlandia. Jadinya, kalau Ierlandia mau merdeka, mau terlepas daripada kungkungan Inggeris, haruslah ia melepaskan diri dari parlemen bersama, memecah persatuan Britania dan Ierlandia, kembali kepada diri sendiri dan mendirikan “Kita sendiri” …

 Juist, saudara Mohammad Hatta! Mereka, Rakyat Ierlandia, senantiasa kalah suara. Mereka senantiasa kalah stem. Mereka senantiasa dapat ditindas dan diperkosa oleh kaum kapitalis Inggeris. Tetapi bukan karena itu sahaja mereka mendirikan “Sinn Fein”, bukan karena itu sahaja mereka mendirikan “Kita sendiri”! Mereka mendirikan “kita sendiri” dan menjalankan politik “kita sendiri” ialah pertama sekali dan terutama sekali untuk mendidik Rokh Kemerdekaan Ierlandia. Mereka mendirikan “kita sendiri” dan menjalankan politik “kita sendiri” ialah untuk me­nyukupi syarat-syarat jasmani dan rokhani bagi sesuatu kehidupan yang merdeka. Mereka mendirikan “kita sendiri” dan menjalankan politik “kita sendiri” ialah tidak sahaja karena nafsu negatif meninggalkan dewan di mana mereka senantiasa kalah stem, tetapi ialah terutama juga karena kehendak yang positief mau mendidik jasmani dan rokhani Rakyat.



Mereka menjalankan apa yang oleh Arthur Griffith, bapaknya politik “Sinn Fein”, diajarkan: “Lupakanlah bangsa Inggeris, bekerjalah seakan-akan tidak ada bangsa Inggeris di dunia. Janganlah hidup di dalam harapan akan kebaikan Britania, yang memang tak pernah ada, dan mem­bikin kamu menjual kamu-punya nyawa. Percayalah pada diri sendiri. Negerimu adalah lebih berharga daripada negeri Inggeris, kebun-perta­mananmu adalah yang paling indah. Peliharakanlah kebun-pertamanan­mu itu!” “Kamu harus meninggalkan Westminster, bukan sahaja karena di Westminster itu rantai-rantai-perbudakan kita digemblengnya, – kamu harus meninggalkan Westminster ialah terutama untuk menggembleng sendiri kamu-punya senjata-Rokh, satu-satunya senjata yang bisa meng­hancurkan rantai-rantai-perhambaan kita!”



Begitulah Arthur Griffith berkata. Begitulah pula bathinnya ajaran Thomas Davis dari Ierlandia-tua, atau bathinnya ajaran Franz Deak dari Hongaria-sediakala: didikan psychologis, didikan bathin, didikan Rokh yang tidak karena “kalah suara” atau “kalah stem” di dalam parlemen sahaja. Saudara Mohammad Hatta mengetahui hal ini. Saudara Moham­mad Hatta, oleh karenanya, sangat mengharamkan sekali, kalau saudara itu memandang politik “Sinn Fein” hanya sebagai “real-politiek” belaka.



Tetapi memang saudara Hatta di dalam tempo yang akhir-akhir ini senang sekali pada “real-politiek”. Memang saudara Hatta itu menuduh kita “beralasan sentimen, perasaan sahaja, dan tidak berdasar kepada real-politiek”. Memang stand-punt saudara Hatta itu mendapat pembelaan keras di dalam “Utusan Indonesia” dari seorang saudara (Sjahrir?) yang menyebutkan diri “real-politieker”.



Tetapi karena real-politiek adalah real-politiek, maka saya bertanya pada saudara Hatta: kalau Ierlandia di dalam parlemen Westminster sela­manya kalah stem, kalau Ierlandia di dalam parlemen Westminster ditelan samasekali oleh Inggeris, tidakkah Indonesia di dalam parlemen Den Haag lebih-lebih-lagi ditelan sama-sekali oleh negeri Belanda? Kalau bangsa Ierlandia itu memboikot Westminster, di mana mereka mempunyai kursi­-kursi pilihan sendiri, di mana mereka ada hak dipilih dan memilih, di mana mereka dus ada hak passief kiesrecht dan actief kiesrecht, – tidakkah kita bangsa Indonesia harus lebih-lebih-lagi memboikot parlemen di Den Haag, di mana kita hanya bisa dipilih sahaja dan tak berhak ikut memilih, yakni di mana kita hanya mempunyai passief kiesrecht sahaja? Kalau bangsa Ierlandia sudah tidak sudi duduk di Westminster di mana mereka mempunyai lebih dari seratus kursi, tidakkah saudara Hatta harus juga memboikot parlemen di Den Haag di mana saudara Hatta itu, – real-politiek adalah real-politiek! – , dengan kaum radikal yang lain-lain hanya bisa mendapat beberapa kursi sahaja?



0, memang, benar perkataan sdr. Hatta: di dalam parlemen orang dengan kaum opposisi yang lain-lain bisa “menjatuhkan pemerintah”, di dalam parlemen orang bisa menggugurkan minister-minister dari kursi­-kursinya. Di dalam parlemen orang bisa membikin kabinet-kabinet “menggigit debu”. Tetapi, kalau ini dibikin alasan orang harus suka masuk parlemen, maka dengan redeneering saudara Hatta itu, bangsa Ierlandia-pun di dalam parlemen Westminster bersama-sama kaum oppo­sisi yang lain-lain bisa “menjatuhkan pemerintah”, menggugurkan minister-minister dari kursinya, membikin kabinet-kabinet “menggigit debu”. Dengan redeneering

sdr. Hatta itu, maka “Sinn Fein”-pun tidak boleh lagi “menyinnfeini” parlemen Westminster itu!



Lagi pula: jatuhnya pemerintah di dalam parlemen Den Haag, gugur­nya minister-minister dari kursinya, menggigitnya debu kabinet-kabinet Belanda, – itu samasekali belum berarti Indonesia menjadi merdeka! Jatuhnya pemerintah di dalam parlemen Den Haag hanyalah berarti jatuhnya systeem-pemerintahan yang ada.

Selama Indonesia masih menjadi “bakul nasinya” negeri Belanda, selama Indonesia masih men­jadi “gabus di atas mana negeri Belanda terapung-apung”, selama masih ada perkataan “Indie verloren rampspoed geboren, Indonesia-Merdeka, Nederland bangkrut”, selama keadaan masih begitu, maka kemerdekaan Indonesia tidaklah tergantung pada berdiri atau jatuhnya sesuatu pemerintah di negeri Belanda, atau pada teguh atau gugurnya ministerie-­ministerie di parlemen Den Haag. Selama keadaan masih begitu, maka menurut “real-politiek” bagi kita bangsa Indonesia kursi di dalam Tweede Kamer hanyalah berarti … kursi di dalam Tweede Kamer belaka!



Tidak! Kemerdekaan sesuatu negeri, kemerdekaan negeri mana saha­ja, kemerdekaan bangsa mana sahadja, – dus bukan sahaja bagi Ierlan­dia -, adalah tergantung daripada tinggi-rendahnya “ke-Sinn-Fein-an” daripada negeri itu atau bangsa itu! Sebagaimana Ierlandia mengerti, bahwa ia punya politik “Sinn Fein” adalah perlu, bukan sahaja karena di Westminster “kalah stem”, tetapi ialah terutama untuk bekerja positif menyusun Gedong-Kemerdekaannya sepanjang jasmani dan rokhani; sebagaimana “Sinn Fein” Ierlandia adalah terutama sekali suatu

self-reliance yakni pendidikan diri sendiri; sebagaimana “Sinn Fein” Ierlandia itu adalah terutama sekali untuk membesarkan “revolutionaire lading” yang ada di dalam udara Ierlandia, – maka kitapun harus menjalankan non-koperasi itu terutama sekali untuk menyusun rokhaninya Gedong­ Kemerdekaan kita, untuk self-reliance kita, untuk “revolutionaire lading” daripada masyarakat kita.



Saya mengetahui, bahwa di dalam politik adalah taktik dan adalah azas. Saya mengetahui, bahwa tidak selamanya taktik itu bisa sesuai dengan azas. Sayapun mengetahui, bahwa taktik itu kadang-kadang terpaksa bertentangan dengan azas. Saudara Mohammad Hatta sendiri mencatat, bahwa saya di dalam “Fikiran Rakyat” pernah menulis, “bahwa prinsip tidak selalu bisa dijalankan dengan taktik”. Tetapi saudara Mohammad Hatta lupa, bahwa taktik itu hanyalah boleh menyimpang dari azas jikalau terpaksa menyimpang dari azas, jikalau ada keadaan yang “terpepet”, jikalau ada force-majeure, dan jikalau tidak bersifat “pengkhianatan” daripada azas samasekali. Mitsalnya taktiknya Lenin yang bernama N.E.P., taktik yang bertentangan dengan azas communisme karena mengasih jalan pada particulier-kapitalisme, taktik itu adalah ia jalankan karena bahaya kelaparan ada memaksa kepadanya mengadakan N.E.P. Te.tapi saudara Hatta sudah suka duduk di dalam Tweede Kamer zonder ada sesuatu hal yang memaksa kepadanya buat bersikap yang demikian itu, zonder ada sesuatu hal yang “memepetkan” kepadanya ber­buat yang demikian itu, zonder ada force-majeure yang tak mengizinkan bersikap lain yang demikian itu. Saudara Hatta malahan ketidak­-keberatannya menerima candidatuur Tweede Kamer itu ialah ketidak­keberatan “in principe”, yakni ketidak-keberatan sepanjang azas, – ketidak-keberatan dus, yang tidak lagi sebagai taktik, tidak lagi sebagai “muslihat”, tetapi ketidak-keberatan sepanjang bathin-bathinnya perkara dan dasar-dasarnya perkara. Memang inilah yang membikin kita menyebut­kan non-koperasinya saudara Hatta itu suatu non-koperasi yang tidak principiil lagi, suatu non-koperasi yang tidak 100% lagi menghormati azas-azasnya nationalist-non-cooperator. Memang inilah yang membikin kita berkata, bahwa saudara Hatta itu telah “menjalankan politik yang di dalam hakekatnya melanggar azas non-koperasi”. Memang hanya inilah juga yang membikin kita mitsalnya berani berkata bahwa kita meng­hendaki non-koperasi yang principiil, walaupun di antara kawan-sefaham kita mitsalnya ada orang-orang yang bekerja advocaat dan “bersumpah” setia kepada G.G. atau Koningin, – “bersumpah” setia kepada G.G. atau Koningin yang terpaksa diyjalankan oleh tiap-tiap.orang advocaat sebagai formaliteit, sebagaimana sdr. Hatta juga, nanti kalau terpilih menjadi anggauta Tweede Kamer dan masuk dalam Tweede Kamer, sebagai for­maliteit akan terpaksa “bersumpah” setia kepada Grondwet Belanda, – Grondwet Belanda yang menetapkan Indonesia sebagai milik negeri Belanda. Atau tidak benarkah bahwa tiap-tiap anggauta Tweede Kamer harus bersumpah setia pada Grondwet itu?

Perkara non-koperasi bukanlah perkara perjoangan sahaja, perkara non-koperasi adalah juga perkara azas-perjoangan. Azas-perjoangan inilah yang harus kita pegang teguh sebisa-bisanya. Azas-perjoangan inilah yang tidak mengizinkan seorang nationalist-non-cooperator pergi ke Den Haag.



Sudah barang tentu, saudara Hatta di Den Haag tidak akan foya-foya sahaja. Saudara Hatta di Den Haag akan berjoang, akan membanting tulang, akan mengeluarkan tenaga, akan memandi keringat beranggar dengan kaum imperialis dan kapitalis. Saudara Hatta di Den Haag akan berkelahi mati-matian dengan musuh kita yang angkara-murka. Saudara Hatta, dengan sukanya pergi ke Den Haag itu, tidak berbalik menjadi lunak, tidak berbalik menjadi orang “apem”, tidakpun berbalik men­jadi orang yang tidak radikal.

Kita mengetahui ini semuanya. Kita, sebagai tahadi kita kemukakan, juga mengetahui bahwa mitsalnya kaum C.R. Das, kaum O.S.P., kaum komunis, yang duduk di dewan atau di par­lemen itu, bukan duduk di situ buat foya-foya, bukan duduk di situ buat menjadi lunak, bukan duduk di situ menjadi kaum “apem”, tetapi adalah di situ berjoang dan tetap bersikap radikal.



Tetapi sekali lagi saya ingatkan: mereka memang bukan kaum nationalist-non-cooperator, mereka memang tak pernah menamakan diri nationalist-non-cooperator, mereka memang tidak berazas-azasnya natio­nalist-non-cooperator, – mereka malahan memang anti azas nationalist­non-cooperator! Lagi pula: kalau hanya buat berjoang sahaja, di Volksraad-pun orang bisa berjoang!



Nationalist-non-cooperator harus tetap memandang parlemen Belanda sebagai parlemen kaum sana. Nationalist-non-cooperator harus menge­tahui bahwa parlemen Den Haag itu adalah penjelmaannya, symbool-nya, belichaming-nya, koloniseerend Holland yang mengereh dan menjajah kita. Nationalist-non-cooperator harus mengetahui bahwa parlemen Den Haag itu adalah justru salah satu alat-kekuasaannya koloniseerend Holland, salah satu machts-apparaatnya koloniseerend Holland, yang ia dus, sebagai nationalist-non-cooperator harus ingkari, harus “Sinn-Feini” secara principiil. Ierlandia, Ierlandia sepuluh-limabelas tahun yang lalu, adalah mengasih contoh:

Jikalau Ierlandia dengan aktif dan passif kiesrecht-nya di Westminster tokh sudah “menyinnfeini” Westminster itu, apalagi kita yang hanya mempunyai passif kiesrecht sahaja di parlemen Den Haag. Jikalau Ierlandia dengan lebih dari seratus kursinya di Westminster sudah “menyinnfeini” Westminster itu, apalagi kita yang dengan kaum radikal lain kini hanya bisa mengumpulkan beberapa kursi sahaja! Memang kita harus mengerti, – sebagai Ierlandia mengerti bahwa non-cooperation tidaklah tergantung daripada “kalah stem” atau “menang stem”, tetapi ialah suatu azas-perjoangan positif yang terutama sekali mendidik diri sendiri dan menyusun kekuatan diri sendiri.

 Kekuatan sendiri ini harus kita susun. Kekuatan sendiri ini, tenaga sendiri ini, machtsvorming sendiri ini harus kita utamakan sebab hanya dengan machtsvorming di Indonesia yang teguh dan sentausa, hanya dengan machtsvorming di Indonesia yang berupa machtsvorming-bathin dan machtsvorming-lahir, hanya dengan machtsvorming di antara Rakyat Indonesia sendiri kita bisa mendengung-mendengungkan suara kita men­jadi suaranya guntur, menghaibatkan tenaga kita menjadi tenaganya gempa, untuk menggugurkan segala kapitalisme dan imperialisme. Karena itu sekali lagi: seterusnya tolaklah kursi di Den Haag, dan buat ini hari terimalah saya punya silaturakhmi!


“Fikiran Rakyat”, 1933

Tuesday, November 7, 2017

Boleh Ber-wanhoopstheorie atau Tidak Boleh Ber-wanhoopstheorie ?



Salah seorang pembaca F.R. adalah meminta keterangan lebih jelas tentang soal yang saya stempel dengan nama “wanhoopstheorie”. Di bawah inilah bunyi suratnya:

Redactie FIKIRAN RAKYAT

Yang terhormat..

Dulu sudah diterangkan apa artinya wanhoopstheorie, dan oleh Redaksi, sudah dapat ketentuan, bahwa theorie tersebut sungguh jelek karena tidak “berkemanusiaan”.

Akan tetapi saudara, apakah tidak betul bahwa adanya pergerakan swadesi, adanya bango-bango kooperasi, adanya werkloozen-commitee yang berarti juga masuk kolom “berkemanusiaan” itu tidak boleh dikata menutup luka, dan tidak bikin hilangnya penyakit yang senyatanya? Ba­nyaknya kesengsaraan yang diderita oleh rakyat itu,- oleh karena rakyat itu MANUSIA, dus bukan barang – apakah tidak bisa meng-electriseer tubuhnya rakyat sendiri? Saya yakin, bahwa pertolongan-pertolongan kepada rakyat yang masuk kolom “berkemanusiaan” itu tidak akan menda­tangkan buah yang BESAR. Jika luka-lukanya rakyat itu di-onderhoud, apakah tidak bisa melupakan penjakit yang ADA dalam tubuhnya?

Kemudian saya mengharap jawaban Redaksi yang akan memuaskan.

Wassalam, S. D.

Karena soal ini tak cukup saya jawab dengan sepatah-dua-patah ­kata dalam “Primbon Politik”, maka saya mau membicarakannya di sini dengan sedikit lebar.

Apakah yang tempohari saya stempel nama dengan wanhoops-theorie itu? Di dalam F.R. nomor percontohan adalah antara lain-lain tertulis sebagai berikut:

“Bukan wanhoops-theorie yang hanya bersandar kepada perasaan saha­ja, dus subyektif sahaja, dapat menyelamatkan pergaulan-hidup. Apakah kata kaum wanhoops-theorie itu? Mereka berkata: Rakyat kurang, keras bergeraknya. Moga-moga belasting dinaikkan. Moga-moga gaji-upahnya diturunkan. Moga-moga segala hal menjadi mahal, biar rakyat menjadi makin sengsara. Kalau sudah sengsara sekali, rakyat tentu mau bergerak lebih haibat!”

Wanhoops-theorie itu ada teorinya orang yang putus-asa, dan juga kejam, oleh karena tidak punya kasihan pada rakyat. Orang yang demi­kian itu bergerak untuk bergerak, dan tidak untuk meringankan nasibnya rakyat. Dan juga teorinya yang mengajarkan, bahwa rakyat itu dengan begitu sahaja akan sedar jika kemelaratan itu lebih haibat daripada se­karang, ternyatalah tidak betul. Oleh karena jika teori itu betul, tentulah rakyat Indonesia sekarang sudah sedar. Rakyat hanyalah akan sedar tentang nasibnya bukan sahaja oleh karena kemelaratan, tetapi juga oleh karena didikan. Malahan banyak rakyat yang terlalu sekali sehari-hari menderita kesengsaraan, lantas seperti tidak mempunyai cita-cita, yakni lantas menjadi apathis. Rakyat yang apathis itu tidak bisa begitu-sahaja dapat dipakai di dalam perjoangan menuntut perbaikan nasibnya. Maka dari itu justa dan durhakalah mereka yang mengadjurkan teori, bahwa ketidak-sedarannya rakyat Indonesia itu ialah karena tindasan di sini kurang haibat. Kepada “warhoofden” dan “politiek idioten” ini kami bertanya apakah kesengsaraan yang beratus-ratus tahun diderita oleh kita itu, tidak cukup untuk menyedarkan rakyat? Harus bagaimanakah haibatnya kemelaratan itu untuk menyedarkan rakyat? … Sebagai kaum yang ernstig, kita harus menentang wanhoops-theorie itu. Pemimpin yang berwanhoops-theorie adalah pemimpin yang menunjukkan tidak bisanya menggerakkan rakyat. Ia ada pemimpin yang putus-asa.

Ia membuk­tikan, bahwa ia sendiri lemah bathinnya. Ia mau mengobati orang sakit, tetapi mengharap supaya si orang sakit itu harus lebih dulu menjadi lebih sakit! Ia sebenarnya adalah kejam, tiada kasihan pada rakyat …

Begitulah sebagian daripada tulisan dalam F.R. tempohari.

Pembaca yang ingin baca lagi artikel “wanhoopstheorie” itu dengan saksama, bisa mendapatkan artikel itu dalam F.R. nomor percontohan kaca 12-14.



Wanhoops-theorie memang masih ada sahadja yang menjalankan. Wanhoops-theorie itu sering kita dapatkan dalam kalangan kaum pemim­pin-muda yang menyebutkan dirinya ultra-ultra-ultra-radicaal, yakni yang menyebutkan dirinya merah-mbahnya-merah. Wanhoops-theorie itu boleh­lah misalnya saya sesuaikan dengan apa yang dulu oleh Lenin disebutkan “Kinderkrankheit des Radikalismus”, – yakni “penyakit anak-anak dari­pada radicalisme”.



Wanhoops-theorie memang masih haruslah kita tentang, oleh karena dalam hakekatnya, ia adalah teori kejam, teori yang tidak “berkemanusiaan”. Sebab tidakkah kita kejam, kalau kita mengharap dan mendoakan rakyat lebih-lebih lagi menjadi sengsara dan tertindas, katanya supaya rakyat lantas suka bergerak?

Tidakkah kita dalam hakekatnya tak ber­kemanusiaan, ya, anti kemanusiaan, kalau kita mengharap supaya belasting ditambah lagi, hak-hak dipersempitkan lagi, penghasilan dikurangi lagi, malaise lebih mengamuk lagi, hantu maut lebih mendekati lagi,– katanya supaya rakyat lantas sedar dan suka berjoang? Tidakkah kita dus:

b e r dosa, kalau kita menjalankan wanhoop-stheorie itu?



Kita tidak boleh ber-wanhoops-theorie. Kita harus memandang kesengsaraan rakyat sekarang ini sudah di atas puncaknya, sudah cukup lebih dari cukup buat membikin rakyat menjadi sedar dan bergerak, asal saha­ja kita bisa mendidik rakyat kepada kesedaran itu. Kita tidak boleh lupa, bahwa kita bergerak itu tidak buat hanya bergerak sahaja, – de beweging niet om de beweging tetapi bahwa kita bergerak ialah untuk meri­ngankan beban-beban rakyat dan mengenakkan peri-kehidupan rakyat. Kita, oleh karenanya, tidak boleh mengharap supaya rakyat menjadi makin cilaka, walaupun, katanya, “tambahnya kecilakaan itu ialah supaya rakyat suka bergerak mendatangkan Indonesia-Merdeka”.



Sebab sebagai di dalam F.R. nomor percontohan itu juga sudah saya terangkan: asal sahaja kita tahu cara-caranya bekerja sebagai pemimpin, maka, tidak boleh tidak, Tentu rakyat sudah bisa disedarkan dengan kesengsaraan sekarang ini. Dan jikalau kaum wanhoops-theorie mem­bantah bahwa “wanhoops-theorienya” itu ialah karena takut bahwa rakyat menjadi mengantuk kalau nasibnya diperbaiki sehingga lupa atau men­jauhkan datangnya Indonesia-Merdeka, maka saya menjawab: Inipun menunjukkan kaum wanhoops-theorie kurang cakap menjadi pemim­pin! Di dalam F.R. nomor percontohan itu saya menulis, bahwa pemimpin yang pandai adalah “menggerakkan rakyat, sehingga belasting turun, misal­nya dari f 20,- jadi f 15,-.

Ia kasih keinsyafan pada rakyat, bahwa turunnya belasting itu ialah karena tenaga rakyat sendiri. Ia lantas ajak rakyat bergerak terus, menuntut supaya belasting turun lagi, dan kalau terjadi turun lagi, maka ia kasih lagi keinsyafan pada rakyat bahwa ini ialah hasil tenaga rakyat sendiri, – sambil selamanya mengasih keyakinan, bahwa nasib rakyat barulah bisa 100% sempurna kalau Indonesia sudah merdeka, dan oleh karenanya: bahwa rakyat haruslah selamanya memusatkan perdjoangannya kepada usaha mendatangkan Indonesia Merdeka itu! Ia dus bukan pemimpin yang putus-asa, tetapi “pemimpin yang mengolah, pemimpin yang mendidik, pemimpin yang mendadar, pemimpin yang memimpin “. Ia mengerti “bahwa tenaga rakyat barulah menjadi tenaga, kalau saban hari diolah”, di-train sebagai dalam sport.

Ia mengerti, bahwa rakyat juga harus di-train, – “di-train semangatnya, di-train fikirannya, di-train teorinya, di-train keberaniannya, di-train tenaganya, di-train segala­-galanya” !



Sekali lagi, kita harus menolak dan menjauhi semua wanhoops­theorie. Rakyat sudah sengsara. Rakyat sudah cilaka. Rakyat hampir tak kuat memikul bebannya lagi. Kita kaum pemimpin harus ingat akan hal ini.



Saya tidak pernah menyangkal, bahwa kesengsaraan yang ngeri mengelektrisir sekujur badannya rakyat. Saya hanyalah menyangkal dan menolak bahwa kesengsaraan itu harus kita harapkan, dan bahwa kesengsaraan itu harus kita doakan bertambah–nya. Sebab dengan keseng­saraan yang sekarang ada, sudah cukuplah syarat untuk bergerak, asal sahaja kita kaum pemimpin cakap mendidik.



Sayapun tidak pernah berkata, bahwa kita harus “warung-warungan”, “comitee-comiteean”, “swadesi-swadesian”, sahaja. Siapa yang memperhatikan saya punya jawab-jawab dalam “Primbon Politik”, akan mengetahuilah bahwa saya adalah musuh politik “warung-warungan” dan “comitee-comiteean” itu, oleh karena politik yang demikian itu memang “tidak bikin hilangnya penyakit yang senyatanya”. Dan siapa memper­hatikan uraian saya panjang-lebar dalam “Suluh Indonesia Muda”, niscaya mengetahuilah bahwa saya punya keyakinan ialah bahwa swadesi tidak bisa mendatangkan Indonesia-Merdeka, walaupun swadesi itu me­nambah creatief vermogen kita, en dus berfaedah pula.



Kemerdekaan Indonesia dan lenyapnya imperialisme-kapitalisme hanyalah bisa tercapai dengan massa-aksi Marhaen yang bewust, prinsipiil, radikal dan tak pernah kenal akan damai, dengan tenaga Marhaen yang maha-kuasa. Indonesia-Merdeka tak dapat dicapai dengan “warung­warungan” atau “comitee-comiteean”. Indonesia-Merdeka dan perbaikan masyarakat Indonesia hanyalah bisa tercapai kalau kita membongkar penyakit Indonesia itu dalam akar-akarnya dan dalam pokok-pokoknya. Oleh karena itu, maka kalau saya mempropagandakan politik yang “ber­kemanusiaan”, maka itu tidaklah berarti bahwa kita harus “warung­-warungan” atau “comitee-comiteean” sahaja.

Tetapi kita harus menyedarkan dan menyusun kekuatan radikal daripada rakyat, dengan cakap dan pandai. Dan kaum wanhoops-theorie itu ternyatalah tidak bisa menyedarkan dan menyusun kekuatan rakyat! Sebab mereka masih mengharap tambahnya kesengsaraan. Sebab mereka masih mengharap rakyat menjadi lebih cilaka. Sebab mereka masih meng­harap rakyat lebih mendekati lagi bahaya maut. Wanhoopstheorie adalah memang teorinya “pemimpin” yang putus-asa!!



“Fikiran Rakyat”, 1933

Saturday, October 21, 2017

Maklumat dari Bung Karno Kepada Kaum Marhaen Indonesia



Tatkala saya baru keluar dari penjara Sukamiskin, maka saya menyanggupi kepada kaum Marhaen Indonesia akan berusaha sekuat­kuatnya untuk mendatangkan persatuan antara Partai Indonesia dan Pendidikan Nasional Indonesia. Saya mempunyai cita-cita yang demikian itu karena keyakinan, bahwa di dalam zaman sekarang ini, di mana malaise makin haibat, di mana kesengsaraan Marhaen makin meluas dan mendalam, di mana musuh makin mengamuk elan merajalela, di mana udara makin penuh dengan getarannya kejadian-kejadian yang telah datang dan yang akan datang, yang paling perlu untuk keselamatan Marhaen ialah per­satuannya barisan Marhaen, agar supaya tidak hancur tergilas oleh roda zaman yang baginya pada waktu ini ada begitu kejam, – lebih kejam lagi daripada yang sudah-sudah. Dan sayapun mempunyai cita-cita yang demildan itu karena saya yakin, bahwa di dalam hakekatnya P.I. dan P.N.I. adalah mempunyai satu belangen-basis dan tiada perbedaan azas yang dalam. Saya tidak mungkin mempunyai cita-tcita yang demikian itu, kalau saya melihat, bahwa P.I. dan P.N.I. mempunyai perbedaan-belangen-­basis dan perbedaan-azas yang besar. Juga sampai pada saat saya menulis maklumat ini, saya tetap mempunyai keyakinan itu.

 Pendapat setengah orang, bahwa perselisihan antara P.I. dan P.N.I. boleh dibandingkan dengan pertengkaran antara kaum sosial-demokrat dan komunis, bahwa dus P.I. dan P.N.I. harus selamanya menjadi seteru bebuyutan satu sama lain -, pendapat yang demikian itu tak dapat saya sebutkan benar. Saya sendiri seorang nasionalis yang terlalu me­makan garam Marxisme untuk tidak mengetahui perbedaan antara sosial­-demokrasi dan komunisme, dan untuk tidak mengetahui bahwa perbedaan antara sosial-demokrasi dan komunisme itu tidak sesuai dengan “per­bedaan” antara Partai Indonesia dengan Pendidikan Nasional Indonesia. Saya yang enam bulan lamanya dengan secara netral bisa mengawaskan perselisihan ini dengan tenang, saya tetap berkeyakinan, bahwa terutama sekali salah-faham dan salah-penghargaan-persoonlah yang menjadi pokok sebabnya kepanasan hati antara beberapa anggauta dari kedua fihak. Saya tak menyangkal, bahwa ada perbedaan-perbedaan yang kecil tentang azas dan taktik, tetapi perbedaan-perbedaan itu tidaklah begitu besar atau fundamentil untuk menjadi sebab berpisahan satu sama lain.

Saya ma­lahan berkata, bahwa di dalam tiap-tiap partai adalah perbedaan-perbedaan yang kecil itu antara golongan-golongan di dalam partai itu, – bahwa di­ dalam tiap-tiap partai satu fihak adalah sedikit lebih “sengit” dan satu fihak sedikit lebih “tenang”.

 Saya, oleh karena hal-hal itu semua, tak jemu-jemu menganjur­kan persatuan, tak jemu-jemu mendinginkan segala rasa kepanasan hati, tak jemu-jemu mencoba menghilangkan segala kesalahan faham.

Saya sebagai salah satu pemimpin kaum Marhaen merasa wajib mengikhtiarkan persatuan itu, wajib berusaha memulihkan lagi organisasi kaum Marhaen itu, wajib mencoba apa yang boleh dicoba, – dengan menyerahkan hatsil atau tidaknya ke dalam tangan Allah. Saya sering melihat orang bersenyum sambil berkata, bahwa semua orang tentu senang akan “persatuan”, tetapi saya tanya: Siapakah dari orang-orang itu yang mengikhtiarkan persatuan itu?

Saya tidak mau seperti banyak orang hanya memuji persatuan sahaja, – saya mengikhtiarkan persatuan itu. Sejarah nasional nanti tak dapat mempersalahkan saya, bahwa saya tidak menjalankan saya punya kewajiban.

Enam bulan lebih saya bekerja buat persatuan itu. Enam bulan lebih saya sengaja tak duduk dalam salah satu partai, tak lain tak bukan hanya supaya usaha-persatuan lebih gampang bisa berhatsil. Enam bulan lebih saya tak ikut memegang commando perjoangan Marhaen. Enam bulan lebih saya kadang-kadang mendapat sindir-sindiran dari orang-­orang yang tak mempunyai verantwoordelijkheids-gevoel, yang mengeluar­kan suara hanya untuk mengeluarkan suara. Enam bulan lebih saya mengejar saya punya cita-cita. Cita-cita saya itu, yakni satu barisan Marhaen yang radikal dan Marhaenistis, kini belum laksana, tetapi kepa­nasan hati antara sebagian persoon dengan persoon sudah banyak menjadi lenyap, kesalahan faham yang kadang-kadang mengenai barang yang tidak-tidak banyak menjadi kurang, kecurigaan antara beberapa ang­gauta kedua fihak yang kadang-kadang seolah-olah penyakit, banyak menjadi padam. Di Bandung mitsalnya, P.I. dan P.N.I. duduk di dalam satu clubhuis; buat hatsil ini sahaja saya sudah mengucap syukur!

 Kini sudah temponya saya kembali ikut memegang commando perjoangan Marhaen. Kini sudah temponya saya kembali ikut menyusun kekuasaan Marhaen, machtsvorming Marhaen. Politik buat saya bukanlah pertama-tama menciptakan suatu idee, – politik buat saya ialah menyusun suatu kekuasaan yang terpikul oleh idee. Hanya machtsvorming yang terpikul oleh idee itulah yang bisa mengalahkan segala musuh kaum Marhaen. Jawaharlal Nehru, itu pemimpin rakyat India, pernah berkata:

“Dan jikalau kita bergerak, maka haruslah kita selamanya ingat, bahwa cita-cita kita tak dapat terkabul, selama kita belum mempunyai kekuasaan yang perlu untuk mendesakkan terkabulnya cita-cita itu. Sebab kita berhadap-hadapan dengan musuh, yang tak sudi menuruti tuntutan­-tuntutan kita, walaupun yang sekecil-kecilnya. Tiap-tiap kemenangan kita, dari yang besar-besar sampai yang kecil-kecil, adalah hatsilnya desakan dengan kita punya tenaga. Oleh karena itu, “teori” dan “prinsip” sahaja buat saya belum cukup. Tiap-tiap orang bisa menutup dirinya di dalam kamar, dan menggerutu “ini tidak menurut teori”, “itu tidak menurut prinsip”. Saya tidak banyak menghargakan orang yang demikian itu. Tetapi yang paling sukar ialah, di muka musuh yang kuat dan membuta-tuli ini, menyusun suatu macht yang terpikul oleh suatu prinsip. Keprinsipiilan dan keradikalan zonder machtsvorming yang bisa menun­dukkan musuh di dalam perjoangan yang haibat, bolehlah kita buang ke dalam sungai Gangga. Keprinsipiilan dan keradikalan yang menjel­makan kekuasaan, itulah kemauan Ibu!”

Perkataan Jawaharlal Nehru ini saya ambil sebagai perkataan saya sendiri. Juga kita kaum Marhaen Indonesia tak cukup dengan menggerutu sahaja. Juga kita harus menjelmakan azas atau prinsip kita ke dalam suatu machtsvorming yang maha-kuasa. Juga kita haruslah insyaf seinsyaf-insyafnya, bahwa imperialisme tak dapat dialahkan dengan azas atau prinsip sahaja, melainkan dengan machtsvorming yang ter­pikul oleh azas atau prinsip atau idee itu!

 Kini orang banyak yang memanggil saya kembali ke “practische politiek”. Juga zonder panggilan itu saya niscaya kembali kepractische politiek, karena memang kewajibanku ikut berjoang di atas practische politiek. Ya, sebenarnya hari keluar saya dari penjara Sukamiskin saya sudah kembali kepractische politiek, yakni mulai mengusahakan persatuan Marhaen.

 Tetapi lebih tegas lagi: kini saya masuk salah suatu partai. Kini saya masuk Partai Indonesia. Kini orang “bisa melihat, di mana Bung Karno duduk”. Di dalam kongres Pendidikan Nasional Indonesia yang baru lalu saya bersumpah, bahwa saya selamanya akan mengabdi kepada Marhaen. Baik di dalam Partai Indonesia maupun Pendidikan Nasional Indonesia saya bisa mengabdi kepada Marhaen itu.

Memang P.I. dan P.N.I. adalah dua-duanya organisasi Marhaen. Memang P.I. dan P.N.I. adalah dua­-duanya membela kepentingan Marhaen. Memang juga bukan tanda penyangkalan kemarhaenan P.N.I. kalau saya masuk Partai Indonesia. Saya masuk Partai Indonesia oleh karena Hak saya sendiri, menentukan sendiri bagaimana seyogianya saya memenuhi sumpah saya tahadi itu!

Kaum Marhaen Indonesia, masih tetap keinginan saya melihat satu barisan Marhaen yang radikal dan Marhaenistis, – satu barisan yang niscaya membesarkan kita punya Kekuasaan. Marilah kita senantiasa membesar besarkan machtsvorming kita itu. Marilah kita berjoang dengan berdiri tegak serapat-rapatnya, rapat di dalam perjoangan biasa, lebih rapat di dalam masa musuh mengamuk dan merajalela. Marilah kita memeras tenaga menjalankan suruhan riwayat, – suruhan riwayat yang hanya kaum Marhaen sendiri bisa melaksanakannya, yakni mendatangkan suatu masyarakat yang adil dan sempurna!

 Adil dan sempurna buat negeri Indonesia!

Adil dan sempurna buat bangsa Indonesia!

Adil dan sempurna buat Marhaen Indonesia!

Wednesday, October 18, 2017

Ke Arah Persatuan



MENYAMBUT TULISAN H. A. SALIM

Kaum pergerakan di Indonesia adalah berbesar hati, bahwa semangat persatuan Indonesia sudah masuk ke mana-mana.

 Semangat itu sudah melengket di atas bibir tiap-tiap orang

pergerakan Indonesia, mendalam ke hati tiap-tiap orang Indonesia yang berjoang membela keselamatan tanah-air dan bangsa. Ia mewahyui berdirinya Studie Club di Surabaya dan di Bandung. Ia menjadi kekuatan-penghidup yang menyerapi badan-persaudaraan pandu Indonesia, yakni P.A.P.I. Ia menjadi alas dan sendi yang teguh bagi gerak dan terjangnya P.N.I. Ia menjadi rokh dan penuntun bagi berdirinya dan geraknya P.P.P.K.I  Ia, Semangat Persatuan Indonesia, ialah yang menyebabkan kini tiada lagi perselisihan antara fihak kanan dan fihak kiri, tiada lagi pertengkaran antara kaum “sabar” dan kaum “keras”, tiada lagi percerai-beraian antara kita dengan

kita … Dan di dalam Kerja-Persatuan ini, yang memang tiap-tiap putera Indonesia dan tiap-tiap partai Indonesia telah kerjakan

dengan sepenuh-penuh keyakinannya dan sepenuh-penuh kekuatannya, maka P.N.I. sangatlah bersuka-syukur serta mengucap Alhamdulillah, bahwa P.N.I. ada kekuatan ikut urun tenaga dan ikut urun usaha, ikut berdiri di dalam bagian barisan yang terkemuka. P.N.I. di dalam umurnya yang baru setahun itu adalah mempunyai hak untuk berbesar hati, bahwa tiadalah sedikit bagian yang ia ambilnya dalam pengabdian menjadi hamba dari pada Semangat-Persatuan dan Kerja-Persatuan itu. P.N.I., Alham­dulillah, dalam Kerja-Persatuan itu, tidaklah ketinggalan …

Di dalam tiap-tiap rapat, di dalam tiap-tiap pertemuan, di dalam tiap­-tiap tulisan, maka voorzitter H.B.P.N.I. (Pengurus Besar P.N.I.) tiada puas-puasnya mengajak dan menggerak-gerakkan kemauan kepada Persatuan Indonesia itu, tiada puas-puasnya membangun-bangunkan keinsyafan akan benarnya pepatah “rukun membikin sentausa”, – tiada puas-puasnya membangkit-bangkitkan bangsa Indonesia masuk ke dalam kalangan pergerakan, tidak sahaja dalam kalangan P.N.I., tetapi juga­lah hendaknya masuk ke dalam kalangan Budi Utomo, masuk ke dalam kalangan Pasundan, masuk ke dalam kalangan Partai Sarekat Islam, dan masuk ke dalam kalangan partai-partai Indonesia yang lain, … yakni sebagai suatu bukti, bahwa P.N.I. tidak sekali-kali meninggi-ninggikan diri di atas partai-partai yang lain itu, tidak sekali-kali menyombongkan din sebagai partai yang terbaik satu-satunya. Tiada puas-puasnya voorzitter (Ketua) H.B.P.N.I. membangun-bangunkan dalam hati-sanubari sesama bangsa Indonesia perasaan cinta pada tanah-air, membangun­bangunkan rasa ridla-hati menghamba dan mengabdi pada Ibu-Indonesia, agar supaya dengan kekuatan perasaan cinta tanah-air dan dengan wahyunya keridlaan hati menghamba pada Sang Ibu itu, dengan gampang diperkuat lagi perasaan cinta-rukun satu sama lain, dan dengan gampang diperkuat lagi keridlaan hati membelakangi kepentingan-kepentingan partai yang sempit, guna mengemukakan kepentingan yang lebih besar dan lebih tinggi, yakni kepentingan Persatuan itu adanya.

 Dan kita yakin, bahwa memang t i a d a partai Indonesia yang kini tidak insyaf akan gunanya Persatuan itu, t i a d a partai Indonesia yang kini sengaja mencari-percerai-beraian, t i a d a partai Indonesia yang kini tidak bekerja dan berusaha memperkokoh dan memperteguh Persa­tuan itu. Kita yakin, bahwa Rokh-Persatuan inilah juga yang hidup dalam kalbu saudara Haji Agus Salim, tatkala beliau menulis karangan dalam “Fajar Asia” no. 170  yang akan kita bicarakan di bawah ini. Kita yakin, bahwa tidak sekali-kali saudara Salim itu bermaksud persaingan dan per­ceraian, tatkala saudara itu, dalam pemandangannya atas pidato voorzitter H.B.P.N.I. tentang faham cinta tanah-air dan faham menghamba pada tanah-air, menulis kalimat-kalimat yang kita kutip di bawah ini:

 “Atas nama “tanah-air”, yang oleh beberapa bangsa disifatkan  “Dewi” atau “Ibu”, bangsa Perancis dengan gembira menurunkan Lodewijk XIV, penganiaya dan pengisap darah rakyat itu, menyerang, merusak, membinasakan negeri orang dan rakyat bangsa orang, sesamanya manusia.

Atas nama “tanah-air” kerajaan Pruisen merubuhkan Oostenrijk daripada derajat kemuliaannya itu.

 Atas nama “tanah-air”, balatentara Perancis menurut tuntutan Napoleon menakluk-menundukkan segala negeri dan bangsa yang berdekatan dengan dia, menghinakan raja-raja orang dan menindas rakyat bangsa lain.

Atas nama “tanah-air” pemerintah Jerman pada sebelum perang besar dan dalam masa perang itu, menarik segala anak laki-laki yang sehat dan kuat dari pada ibu-bapaknya, dari pada kampung dan halamannya, bagi menguatkan balatentara untuk mengalahkan, menaklukkan dunia.

Atas nama “tanah-air” Italia sekarang ini memberi senjata, sampai kepada anak-anak, laki-laki dan perempuan, supaya kuat negerinya merendahkan derajat orang di negeri orang, merampas hak orang atas tanah-air orang itu, memperhambakan kepada bangsanya juga.

Bahkan, atas nama “tanah-air” masing-masing, kita lihat bangsa-­bangsa Eropah merendahkan derajat segala bangsa luar Eropah, bagi meninggikan derajat bangsa Eropah atas segala bangsa luar Eropah.

Demikianlah kita lihat, betapa “agama”, yang menghambakan manusia kepada berhala “tanah-air” itu mendekatkan kepada persaingan berebut-rebut kekayaan, kemegahan dan kebesaran; kepada membusukkan, memperhinakan dan merusakkan tanah-air orang lain, dengan tidak mengingati hak dan keadilan. Inilah bahaya, apabila kita “menghamba” dan “membudak” kepada “Ibu Dewi” yang men­jadi tanah-air kita itu karenanya sendiri sahaja; karena eloknya dan cantiknya; karena kayanya dan baiknya; karena “airnya yang kita minum”, dan “nasinya yang kita makan”.

Atas dasar perhubungan yang karena benda dunia dan r u p a dunia belaka tidaklah akan dapat ditumbuhkan sifat-sifat keutamaan yang perlu untuk mencapai kesempurnaan.”

Begitulah tulisan Haji Agus Salim. Begitulah tulisan, yang walau­pun kita sesalkan kurang jelasnya, sekali-kali tidak menimbulkan pada kita dugaan akan persaingan dan perceraian, dan memang tidak bermak­sud persaingan dan perceraian itu. Bukankah begitu, saudara Haji Agus Salim?

Dan begitu juga kitapun, – kita, yang memang menulis anasir Persatuan Indonesia di atas panji dan di atas bendera kita kitapun tidak sekali-kali bermaksud persaingan, tidak sekali-kali bermaksud perceraian serambutpun dengan tulisan ini, bahkan mendoa-doa, moga-moga oleh tulisan ini Persatuan antara kita dengan kita dapat menjadi lebih kokoh dan lebih sentausa karenanya. Kitapun masih menetapi akan pepatah: “di dalam persatuan kita berdiri, di dalam perceraian kita jatuh, – united we stand, divided we fall” … Tulisan ini hanyalah tulisan penambah. Ia hanyalah bermaksud mengemukakan apa-apa yang H. Salim lupa menge­mukakan. Ia hanyalah bermaksud mengenyahkan salah-faham yang bisa juga timbul dari pads tulisan    H. Salim itu. Ia tidak membantah, ia tidak menyerang.

Ia menambah belaka …

 Sebab Haji Agus Salim lupa mengatakan, bahwa rasa-kebangsaan yang beliau gambarkan dengan kalimat-kalimat yang kita kutipkan tahadi, ialah rasa-kebangsaan yang b e r l a i n a n dengan rasa-kebangsaan yang kini berapi-api di dalam hati-sanubari kita, kaum Nasional Indonesia.

Haji Agus Salim lupa mengatakan, bahwa rasa cinta pada tanah-air yang menggelapkan matanya pengikut-pengikut Lodewijk XIV, pengikut­-pengikut Napoleon, pengikut-pengikut Bismarck, pengikut-pengikut Mussolini, pengikut-pengikut “raja-riwayat” yang lain-lainnya, – bahwa rasa cinta pada tanah-air yang menjadi sebabnya tabiat angkara-murka di Eropah itu ialah rasa-kebangsaan yang agressif, rasa-kebangsaan yang menyerang-nyerang.

Haji Agus Salim lupa mengatakan, bahwa beliau tabu, bahwa rasa­-kebangsaan yang dimaksudkan oleh Ir. Sukarno ialah rasa-kebangsaan yang tidak agressif, tidak menyerang-nyerang, tidak timbul daripada keinginan akan merajalela di atas dunia, tidak diarahkan keluar, tetapi ialah diarahkan ke dalam.

Haji Agus Salim lupa mengatakan, bahwa nasionalisme ke-Timur-an yang mitsalnya mewahyui juga Mahatma Gandhi, atau C. R. Das, atau Arabindo Ghose, atau Mustafa Kamil, atau Dr. Sun Yat Sen dan juga mewahyui kita, kaum nasional Indonesia, – bahwa nasionalisme ke-Timur­an ini adalah sangat berlainan dan menolak pada nasionalisme ke-Barat-an, yang menurut Bipin Chandra Pal ialah nasionalisme yang “duniawi”, nasionalisme yang “kerah (Jv) satu sama lain”.

Bahwa sesungguhnya… Sebagai yang sering-sering kali sudah

kita terangkan di mana-mana, sebagai yang kebetulan juga pernah kita tuliskan, maka nasionalisme kita, kaum nasional Indonesia, bukanlah nasionalisme yang demikian itu. “Ia bukanlah nasionalisme yang timbul dari kesombongan bangsa belaka; ia adalah nasionalisme yang lebar, – nasionalisme yang timbul daripada pengetahuan atas susunan dunia dan riwayat; ia bukanlah “jingo-nationalism” atau chauvinisme, dan bukanlah suatu copie atau tiruan daripada nasionalisme Barat. Nasionalisme kita ialah suatu nasionalisme, yang menerima rasa-hidupnya sebagai suatu wahyu, dan menjalankan rasa-hidupnya itu sebagai suatu bakti. Nasional­isme kita adalah nasionalisme, yang di dalam kelebaran dan keluasannya memberi tempat cinta pada lain-lain bangsa, sebagai lebar dan luasnya udara, yang memberi tempat pada segenap sesuatu yang perlu untuk hidupnya segala hal yang hidup. Nasionalisme kita ialah nasionalisme ke-Timur-an, dan sekali-kali bukanlah nasionalisme ke-Barat-an, yang menurut perkataannya C. R. Das adalah “suatu nasionalisme yang menyerang-nyerang, suatu nasionalisme yang mengejar keperluannya sendiri, suatu nasionalisme perdagangan yang untung atau rugi” … Nasionalisme kita adalah nasionalisme yang membuat kita menjadi “perkakasnya Tuhan”, dan membuat kita menjadi “hidup dalam Rokh” sebagai yang saban-saban dikhotbahkan oleh Bipin Chandra Pal, pemimpin India yang besar itu. Dengan nasionalisme yang demikian ini maka kita insyaf dengan seinsyaf-insyafnya, bahwa negeri kita dan rakyat kita adalah seba­gian daripada negeri Asia dan rakyat Asia, dan adalah sebagian daripada dunia dan penduduk dunia adanya … Kita, kaum pergerakan nasional Indonesia, kita bukannya sahaja merasa menjadi abdi atau hamba daripada tanah tumpah darah kita, akan tetapi kita juga merasa menjadi abdi dan hamba Asia, abdi dan hamba s e m u a kaum yang sengsara, abdi dan hamba dunia” …

Sekali lagi: nasionalisme kita, kaum nasional Indonesia, tidaklah berlainan daripada nasionalisme pendekar Islam Mustafa Kamil,yang mengatakan bahwa “cinta pada tanah-air adalah perasaan yang terindah yang bisa memuliakan nyawa”, – ia tidaklah berlainan daripada nasional­ismenya Amanullah Khan, pendekar Islam dan raja di Afghanistan, yang menyebutkan dirinya “hamba daripada tanah-airnya”; – ia tidaklah berlainan dengan nasionalismenya pendekar Islam Arabi Pasha yang bersumpah “dengan Mesir ke sorga, dengan Mesir ke neraka”; – ia tidaklah berlainan dengan nasionalismenya Mahatma Gandhi, yang mengajarkan bahwa nasionalismenya ialah sama dengan “rasa-kemanusiaan”, sama dengan “menselijkheid” … Ia, nasionalisme kita, yang oleh biru­-birunya gunung, oleh indah-indahnya sungai, oleh molek-moleknya ladang, oleh segarnya air yang sehari-hari kita minum, oleh nyamannya nasi yang sehari-hari kita makan, menjunjung, menjunjung tanah-air Indonesia di mana kita lahir dan di mana kita akan mati itu menjadi I b u kita yang harus kita abdii dan harus kita hambai, – nasionalisme kita itu tidaklah berlainan dengan nasionalisme yang berseri-seri di dalam semangatnya lagu nyanyian Bande Mataram yang menggetarkan udara pergerakan nasional India, yakni nyanyian yang juga memuji-muji negeri India oleh karena “sungai-sungainya yang berkilau-kilauan”, juga menjatuhkan air mata patriot India oleh pujiannya atas segarnya

“angin yang meniup dari puncaknya bukit-bukit Vindhya”, juga menguatkan bakti kepada tanah-air itu menjadi bakti kepada Janani Janmabhumi, yakni bakti kepada Ibu dan Ibu Tanah-Air adanya.

 Atau haruslah nasionalismenya Mustafa Kamil, nasionalismenya Amanullah Khan, nasionalismenya Arabi Pasha, nasionalismenya Mahatma Gandhi, nasionalismenya Dr. Sun Yat Sen, nasionalismenya Aurobindo Ghose, – haruskah nasionalismenya pendekar-pendekar yang di dalam pe­mandangan kita ada maha-besar dan maha-luhur itu, kita sebutkan agama yang menghambakan manusia kepada berhala “tanah-air” itu? Harus­kah nasionalisme yang berseri-serian di dalam kalbu pahlawan-pahlawan dan panglima-panglima kemanusiaan itu kita sebutkan pembudakan kepada “benda”? Haruskah nasionalisme ke-Timur-an dari pada pendekar­-pendekar ini, yang berganda-ganda kali lebih tingginya daripada imperia­listisch nationalisme ke-Barat-an yang “berkerah” satu sama lain, – haruskah nasionalisme yang demikian itu kita sebutkan berdasar “kedu­niaan” belaka?   Amboi, jikalau memang harus disebutkan begitu, – jikalau i t u yang disebutkan menyembah berhala, jikalau i t u yang disebutkan membudak kepada benda, jikalau i t u yang disebutkan mendasarkan diri atas keduniaan, – maka kita, kaum nasional Indonesia, dengan segala kesenangan hati bernama penyembah berhala, dengan segala kesenangan hati bernama pembudak benda, dengan segala kesenangan hati bernama mendasarkan diri atas keduniaan itu!

Sebab kita yakin, bahwa nasionalisme pendekar-pendekar itu, yang pada hakekatnya tidak beda asal dan tidak beda sifat dengan nasionalisme kita, adalah nasionalisme yang 1 u h u r ! .

Begitulah tambahan kita atas tulisannya Haji Agus Salim.

 Tambahan ini, sekali lagi kita katakan, tidaklah bermaksud persaingan, tidaklah bermaksud perpecahan. Jauh sekali kita daripada persaingan; jauh sekali kita dari pada perpecahan. Akan tetapi dekat sekali, sampai melengket di atas bibir kita, bersulur-akar dalam hati kita, terfiilkan dalam perbuatan-perbuatan kita, – dekat sekali kita daripada mencari peker­jaan-bersama dan Persatuan. Sebab di dalam pepatah “dalam persatuan kita berdiri, dalam perpecahan kita jatuh”, – di dalam pepatah inilah letaknya rahasia rakyat-rakyat menjadi besar, di dalam pepatah inilah juga letaknya rahasia rakyat-rakyat menjadi tersapu dari muka bumi. Di dalam pepatah inilah letaknya rahasia, yang P.N.I. dalam pekerjaan-bersama dengan Partai Sarikat Islam, ada cukup kekuatan untuk mendirikan P.P.P.K.I. Di dalam pepatah inilah letaknya jawab atas pertanyaan kita akan menang atau kita akan kalah, – jawab atas pertanyaan Indonesia-Sentausa atau Indonesia-Binasa, Indonesia-Luhur atau Indonesia-Hancur.


Oleh karena itu: tiada perceraian, tetapi maju, ke arah persatuan!

 SUKARNO


Dari fihak Nasional Indonesia.

 Bandung, 12 Agustus 1928.

 “Suluh Indonesia Muda”, 1928