Showing posts with label Kumpulan Pidato. Show all posts
Showing posts with label Kumpulan Pidato. Show all posts

Wednesday, May 31, 2017

Pidato Bung Karno - Pancasila Membuktikan Dapat Mempersatukan Bangsa Indonesia

Pancasila Membuktikan Dapat Mempersatukan Bangsa Indonesia 

(Pidato Presiden Sukarno pada Peringatan Lahirnya Pancasila di Istana Negara, 5 Juni 1958)

Saudara-­saudara sekalian,
Barangkali dalam kalangan kita sekarang ini, tidak ada seseorang yang lebih terharu hatinya daripada saya. Terharu karena ingat kepada perjuangan dan penderitaan rakyat berpuluh-­puluh tahun, yang akhirnya melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, berdasarkan Pancasila. Terharu oleh karena pada ini malam di Istana Negara berkumpul beribu­ribu saudara­saudara, handai taulan untuk memperingati lahirnya Pancasila, sedang di halaman di muka Istana negara, berkumpul berpuluh­puluh ribu rakyat yang mendengarkan pidato­pidato dari sini, sedangkan pula seluruh rakyat Indonesia yang memiliki radio atau berdiri di muka radio umum men­dengarkan pidato­pidato itu pula.

Terharu oleh karena pada ini malam dengan tidak terduga-­duga dan tersangka-sangka, diucap­kan oleh pembicara-­pembicara, perkataan-perkataan pujian terhadap kepada diri saya, yang atas perkataanperkataan, pujian itu saya mengucap banyak­banyak terima kasih, sambil meng­ulangi ucapan saya di Yogyakarta tatkala saya mendapat gelar doctor honoris causa di Universitas Gajahmada, sebagai tadi disitir oleh saudara Prof. Mr. H. Muh. Yamin, bahwa saya bukan pembentuk atau pencipta Pancasila, melainkan sekadar salah seorang penggali daripada Pancasila itu.

Terharu pula, oleh karena pada ini malam, dengan tidak terduga­duga dan tersangka­ sangka dibacakan pernyataan oleh pemuda­pemuda dari barisan Baladika Wirapati, Bala Andika Wirapati. Malahan dibacakan pernyataan setia kepada Pancasila itu, sebagai tanda mata kepada saya, oleh karena besok Insya Allah swt., saya akan merayakan, atau memperingati hari ulang tahun saya. Demikian pula barisan penyanyi­-penyanyi dari Liga Pancasila membawa-­bawa perkataan, bahwa nyanyian itu dinyanyikan sebagai tanda hadiah kepada saya yang Insya Allah besok pagi akan memperingati hari ulang tahun saya. Tidakkah pada tempatnya saya terharu dan merasa amat berterima kasih?

Pada permulaan kata saya berkata: terharunya hati saya itu, terutama sekali ialah oleh karena saya ingat kepada perjuangan rakyat Indonesia yang telah berpuluh­puluh tahun, tetapi yang akhirnya dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai yang kita miliki sekarang ini. Yah, perjuangan dan penderitaan bangsa Indonsia yang berpuluh­-puluh tahun, dianugerahi oleh Allah swt. dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

Benar sekali dikatakan oleh saudara Menteri Penerangan Sudibyo bahwa Pancasila tak dapat dipisahkan daripada Proklamasi dan daripada negara Republik Indonesia. Tetapi jikalau saya ingat kepada perjuangan dan penderitaan rakyat Indonesia yang berpuluh­ puluh tahun itu, saya ingin menambah pula perkataan saudara Sudibyo, bahwa Pancasila bukan saja tidak dapat dipisahkan daripada proklamasi dan tidak bisa dipisahkan daripada negara, tetapi juga tidak bisa dipisah­kan dari perjuangan rakyat Indonesia yang telah berpuluh-­puluh tahun. Keterangannya bagaimana, saudarasaudara? Rakyat Indonesia berjuang dengan melalui beberapa pengalaman dan pengajaran­pengajaran. Banyak perjuang­an bangsa Indonesia yang gagal. Tetapi akhirnya perjuangan bangsa Indonesia itu berhasil.

Apa sebab gagal? Apa sebab berhasil? Marilah kita tinjau hal itu sejenak waktu. Gagal oleh karena tak mampu mempersatukan rakyat Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke. Berhasil tatkala mampu mempersatukan rakyat dari Sabang sampai ke Merauke. Ingat perjuangan Diponegoro, betapa hebatnya, betapa penuhnya dengan heroisme dan kepahlawanan. Toh tak dapat mencapai apa yang hendak dicapainya, yaitu Negara Merdeka. Ingat perjuangan Sultan Agung Hanyakrakusuma dari Negara Mataram yang kedua. Tak kurang heroisme, tak kurang kepahlawanan, tetapi toh gagal oleh karena perjuangan itu hanya dijalankan oleh sebagian daripada rakyat Indonesia, sebagaimana perjuangan Diponegoro pun hanya dijalankan oleh sebagian rakyat Indonesia. Ingatlah kepada perjuangan Sultan Hassanudin. Kata Speelman: de jonge haan, ayam yang muda, gagal oleh karena perjuangan Sultan Hassanudin hanya dijalankan oleh sebagian daripada rakyat Indonesia.

Ingat kepada perjuangan Teuku Umar, atau Cikdi Tiro di Aceh; gagal, oleh karena hanya dijalankan oleh sebagian daripada rakyat Indonesia. Ingat pada perjuangan Surapati, gagal oleh karena perjuangan Surapati itu hanya dijalankan oleh sebagian daripada rakyat Indonesia. Tetapi tatkala bangsa Indonesia dapat mempersatukan segenap rakyat Indonesia dari Sabang smpai ke Merauke, gugurlah imperialisme dan berkibar­lah Sang Merah Putih di angkasa dengan cara yang amat megah.

Memang, saudara­saudara, perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan, untuk menggugurkan imperialisme harus didasarkan atas persatuan. Berbeda dengan perjuangan bangsa lain. Beberapa pekan yang lalu di Istana Negara ini, saya memberi kursus kepada pemuda­pemuda Liga Pancasila dan di dalam kursus yang pertama itu, saya uraikan salah satu perbeda­an antara rakyat Indonesia dan misalnya perjuangan rakyat India. Rakyat India dapat mengalahkan imperialisme Inggeris, yang pada hakekatnya satu imperialisme dagang, satu handels imperialisme, dengan memobilisir kekuatan daripada satu natonale bourgeoisie yang sedang timbul.

Nationale bourgeoisie India ini, saudara-saudara, merekalah yang pada hakekatnya menggerakkan gerakan swadesi. memboikot barang-­barang bikinan Inggeris. membuat barang­-barang bikinan India sendiri, sehingga imperialisme Inggeris yang membawa barang dagang­an Inggeris ke India itu, akhirnya tidak mendapat pasaran di India. Oleh karena menderita saingan yang hebat daripada rakyat India sendiri yang dengan gerakan swadesi dapat me­menuhi kebutuhan­kebutuhannya akan barang­barang pakaian dan komsumsi. Dus, India mempergunakan antara lain saudara­saudara, tenaga daripada satu nationale bougeoisie yang sedang timbul.



Kita, saudara-­saudara, tidak mempunyai nationale bougeoisie, apalagi tidak mempunyai nationale bougeoisie revolusioner. Borjuasi nasional yang progressif, oleh karena memang tidak ada borjuasi nasional ini dalam arti yang besar. Kita mempunyai restan daripada borjuasi nasional. Maka oleh karena itulah perjuangan bangsa Indonesia, mau tidak mau, harus mempergunakan tenaga daripada rakyat j elata. Rakyat j elata bukan saja dari tanah Jawa, bukan saja dari Sumatera, bukan saja dari Sulawesi, bukan saja dari Kalimantan, bukan saja dari Nusa Tenggara, bukan saja dari Maluku, tetapi rakyat jelata dari Sabang sampai ke Merauke, bersatu padu, dan akhirnya gugurlah imperialisme.

Persatuan inilah, saudara-­saudara, kita punya senjata. Persatuan ini akhirnya sebagai tadi saya katakan, oleh karena perjuangan persatuan ini adalah perjuangan yang gigih, akhirnya dikaruniai oleh Allah swt. dengan Negara Proklamasi.

Saudara­-saudara, dus, manakala perjuangan kita harus tidak boleh tidak, harus didasarkan kepada persatuan bangsa, maka demikian pula Negara kita, saudara­-saudara, hanyalah bisa berdiri tegak, Insya Allah kekal dan abadi, bilamana berdasar­kan atas dukungan daripada seluruh rakyat dari Sabang sampai ke Merauke. Sebagai tadi diterangkan oleh saudara Sarjana Agung Mahaputera Profesor Mr. H. Muh Yamin, saudara-­saudara sekalian, sehingga opgave kita sekarang ini saudara­saudara, memben­ tuk atau mengekalkan persatuan itu agar supaya persatuan ini dapat dij adikan sebagai dasar pondamen yang kuat kekal dan abadi daripada negara.

Pondamen yang kuat dan kekal dan abadi, sebab hanya atas pondamen ini Negara bisa kekal dan abadi. Sulit sekali saudara saudara, pemersatuan rakyat Indonesia itu jikalau tidak didasarkan atas Pancasila. Tadi telah dikatakan oleh saudara Muh. Yamin, alangkah banyak macam agama di sini, alangkah banyak aliran pikiran di sini, alangkah banyak macam golongan di sini, alngkah banyak macam suku di sini, bagaimana mempersatukan aliran, suku­suku, agama­agama dan lain­lain sebagainya itu, jikalau tidak diberikan satu dasar yang mereka bersama­sama bisa berpijak di atasnya. Dan itulah saudara­saudara. Pancasila.

Ada satu ucapan dari seorang pemimpin besar asing, dia berkata: national unity can only be preserved upon a basic which is larger than the nation itself. Persatuan nasional hanya dapat dipelihara kekal dan abadi jikalau persatuan nasional itu didasarkan di atas satu dasar yang lebih luas daripada bangsa. Lebih luas daripada apa yang dinamakan Indonesia, dus, national unity itu, saudara-­saudara, menurut anggapan kita hanya bisa dikekalabadikan di atas satu dasar, yang menurut saudara Prof. Muh. Yamin, satu dasar falsafah Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa, Perikemanusiaan, Kebangsaan Indonesia yang bulat, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial, sebagai satu geloof, sebagai satu arah pikiran, sebagai satu arah kepercayaan, bukan kepercayaan agama, tetapi satu arah kepercayaan daripada satu bangsa.

Saya melihat saudara Siauw Giok Tjhan di sana. Barangkali saudara Siauw Giok Tjhan bisa membenarkan Saya jikalau saya mensitir Kon Fu Tsu. Pada satu hari datanglah seorang kepada Kon Fu Tsu: Ya, guru besar, apa­kah syarat­syarat agar sesuatu bangsa bisa menjadi kuat? Jawab Kon Fu Tsu: Syaratnya ialah tiga. Satu, tentara yang kuat. Dua, makanan dan pakaian rakyat yang cukup. Tiga, kepercayaan di dalam kalbunva rakyat itu. Tiga ini disebutkan oleh Kon Fu Tsu sebagai syarat mutlak untuk menjadikan bangsa menjadi kuat: tentara yang kuat, makanan dan pakaian rakyat yang cukup. kepercayaan, geloof. Sang siswa menanya kepada guru besar Kon Fu Tsu: Jikalau daripada tiga syarat ini satu harus dibuang, harus tuanku tanggalkan, mana yang harus tuanku tanggalkan lebih dulu? Jawab Kon Fu Tsu: Yang boleh ditanggalkan lebih dahulu ialah tentara yang kuat. Tinggal makanan dan pakaian rakyat yang cukup, dan kepercayaan.

Sang siswa tanya lagi: Ya, tuanku, jikalau daripada dua syarat ini satu harus tuanku tanggalkan, mana yang tuanku akan tanggalkan? Jawab Kon Fu Tsu: makanan dan pakaian rakyat bisa ditanggalkan, artinya makanan san pakaian rakyat yang cukup bisa ditanggalkan. Makanan kurang sedikit, pakaian kurang sedikit, tidak jadi apa. Tetapi syarat yang ketiga, geloof, kepercayaan, belief tidak dapat ditanggalkan. A nation without faith can not stand. Bangsa yang tidak mempunyai geloof, bangsa yang tidak mempunyai kepercayaan, tidak mempunyai belief, bangsa itu tidak bisa berdiri.

Maka bangsa Indonesiapun harus mempunyai belief, mempunyai geloof, mempunyai kepercayaan. Dan geloof bangsa Indonesia harus larger than the nation itself, lebih luas daripada bangsa Indonesia sendiri, berupa Pancasila, saudara­saudara. Pancasila pengutamaan daripada rasa kebangsaan, keinginan daripada bangsa Indonesia untuk menjadi Negara yang kuat, bangsa yang kuat, mengadakan satu masyarakat yang adil dan makmur.

Saya membenarkan perkataan saudara Kiai Haji Masykur, kawan saya yang tercinta, bahwa kita mengharap kepada Konstituante lekas dapat menentukan Undang Undang Dasar yang tetap bagi Negara Republik Indonesia dan memang di dalam pidato pembukaan daripada Konstituante, saya minta kepada Konstituante agar supaya lekaslah selesai dengan pekerjaannya. Tetapi sava persoonlijk ada mempunvai do’a kepada Allah swt., mogamoga Konstituante menerima pula Pancasila sebagai dasar kekal dan abadi daripada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebab saudara­saudara, sebagai tadi saya katakan, saya tidak melihat jalan yang lain untuk mempersatukan bangsa Indonesia ini di atas dasar lain daripada dasar Pancasila.

Ya, saudara­-saudara, kita adalah satu bangsa yang menghadapi beberapa challenge sebagai yang sering saya katakan kepada mahasiswa­mahasiswa, tetapi dalam pada menghadapi beberapa challenge itu tadi, tantangan­tantangan, baik tantangan internasional maupun tantangan nasional, maupun tantangan pribadi; internasional kataku ialah: internasional cooperation atau total destruction, global social justice atau exploition de 1’homme par 1’homme; nasional, tetap setia kepada proklamasi Negara Kesatuan Indonesia 17 Agustus 1945, atau tidak, dan diselenggarakan di tanah air kita satu masyarakat adil dan makmur, atau tidak. Challenge pribadi, kepada pemuda dan pemudi, hendak menjadi pemuda dan pemudi yang bergunakah bagi diri sendiri, bagi masyarakat dan bagi Negara Republik Indonesia, atau hendak menjadi crossboy atau crossgirl?

Kita bangsa Indonesia seluruhnya dalam menghadapi tantangan yang dahsyat ini, keinginan saya, saudara­saudara, supaya dalam beberapa hal jangan kita pertikaikan lagi. Antara lain janganlah dipertaikaikan lagi warna bendera kita, merah­putih, yang megah. Jangan dipertikaikan lagi, jangan di­perdebatkan lagi, jangan pula diperdebatkan di Konstituante, sebab sebagai dikatakan oleh Prof. Mr. Muh. Yamin, ini adalah warisan daripada orangorang karuhun, leluhur kita sejak beribu­ribu tahun. Jangan diper­ debatkan lagi. Jangan ada golongan yang ingin mengganti merah putih dengan merah!

Tetapi jangan ada pula golongan yang ingin merobah merah putih menjadi hijau! Tetap merah putih! Marilah kita terima hal itu semuanya, sonder pertikaian ­pertikaian lagi. Demikian pula misalnva. saya minta. jangan dipertikaian lagi. hal lagu Indonesia Raya.

Sudah­lah, marilah kita terima lagu Indonesia Raya itu sebagai cetusan daripada jiwa kita yang cinta kepada tanah air dan bangsa. Jangan dipertikaikan, demikianlah kata saya kepada dewan Nasional tadi pagi, hal cita­cita kita mengenai masyarakat adil dan makmur. Sebab masyarakat adil dan makmur ini adalah cita­cita bangsa Indonesia sejak berpuluh­puluh tahun, bahkan dibeli oleh bangsa Indonesia cita­cita ini dengan penderi­ taan yang berpuluh­puluh tahun pula. Jangan ada orang Indonesia seorangpun yang menghendaki masyarakat yang tidak adil dan tidak makmur. Jangan ada seorang Indonesia pula, satupun jangan, yang menghendaki satu masyarakat yang berdasarkan atas sistem penindasan, penghisapan, exploitation de 1’homme par 1’homme. Jangan kita perdebatkan hal itu lagi.

Demikian pula doaku kepada Allah swt. sebenarnya, saudara-saudara, janganlah Pancasila ini diperdebatkan lagi. Sebab Pancasila ini telah memberi bukti kepada kita, dapat mempersatukan bangsa Indonesia sehingga bangsa Indonesia ini bisa merebut kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Bahkan sebagai sering saya katakan, justeru oleh karena sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai mengemukakan Pancasila. Justeru oleh karena Pancasila ini masuk di dalam Jakarta Charter, justeru oleh karena Pancasila ini menghidupi segenap Proklamasi 17 Agustus 1945. Justeru oleh karena Pancasila ini satu dua hari sesudah Proklamasi, dimasukkan di dalam Undang Undang Dasar Sementara daripada Republik Indonesia. Justeru oleh karena itulah maka Proklamasi ini disambut oleh segenap rakyat Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke. Jikalau tidak berdasarkan atas Pancasila, Proklamasi kita itu, atau tidak berjiwakan Pancasila, saya kira sambutan yang dahsyat daripada segenap golongan lapisan yang kita alami pada tahun ’46, ’47, ’48,’49, tidak akan terjadi.

Oleh karena itu, saudara-­saudara, ini permintaan persoonlijk batin saya. permohonan persoonlijk batin sava. sebenarnya Pancasila ini sudahlah, jangan diperdebatkan lagi. Het heeft zijn nut bewezcn, telah terbuktilah guna tepatnya Pancasila!

Bung Yamin mengemukakan beberapa bantahan. Sayapun ingin mengemukakan beberapa bantahan, antara lain bantahan: Pancasila adalah satu agama, katanya, agama baru. Bukan! Bukan! Pancasila bukan agama baru! Pancasila adalah Weltan­schauung, falsafah Negara Republik Indonesia, bukan satu agama baru. Bukan! Ada yang berkata: Pancasila itu sebetulnya adalah perasan daripada agama Budhisme. Bagaimana bisa mengatakan bahwa Pancasila itu adalah perasaan daripada agama Budhisme? Orang yang berkata begitu sebetulnya tidak tahu apa yang dinamakan Budhisme itu. Misalnya saja, saudara­saudara, Ketuhanan Yang Maha esa; Budhisme tidak kenal Ketuhanan.

Coba tanya kepada prof. Muh. Yamin, tanya kepada prof. Hazairin; tanya kepada sarjana­ sarjana yang duduk di sini. Budhisme tidak mengenal apa yang dinamakan Tuhan. Budhisme adalah satu levens beschouwing, satu pandangan hidup, cara hidup agar supaya nanti bisa mencapai kesempurna­an nirwana. Budhisme tidak mengenal Allah. Budhisme tidak mengenal God, Budhisme tidak mengenal Jehovah. Budhisme tidak mengenal apa yang seperti kita artikan sebagai Tuhan. Jikalau engkau ingin hidup dikemudian hari, sempurna, j ikalau engkau ingin masuk nirwana, lakukanlah ini, lakukanlah ini. Delapan marga daripada Budha, jalan delapan macam, saudara­saudara. Jadi Budhisme adalah satu pandangan hidup, satu cara hidup, satu levensbeschouwing, bukan sebenarnya satu godsdienst.

Kok lantas ada orang berkata: Pancasila yang dengan tegas mengatakanpada sila yang pertama Ketuhanan Yang Maha esa, bahwa Pancasila itu adalah perasaan daripada Budhisme. Tidak kena ini, saudara­saudara. Sama sekali tidak! Saya minta janganlah menaruhkan Pancasila ini secara antagonistis terhadap kepada misalnya agama Islam. dan janganlah pula meletakkan Pancasila ini secara congruentie yang sama dengan misalnya Agama Budha, janganlah ditaruhkan secara antagonistis kepada Agama Islam. jangan ditaruh secara congruent terhadap kepada Agama Budha. Jangan! Sebab Pancasila adalah falsafah bagi Negara Republik Indonesia, sebab Pancasila adalah satu dasar daripada Negara Republik Indonesia ini. Kita ingin kekal dan abadikan dan sebagai tadi sudah saya katakan, syarat mutlak bagi mengkekalabadikan Negara republik Indonesia, adalah persatuan daripada bangsa Indonesia.

Saudara-­saudara, sekarang telah jam sepuluh lebih seperempat. Sebenarnya telah melewati waktu siaran radio. Maka oleh karena itu marilah saya singkatkan pidato saya ini. Kita saudarasaudara, benar­benar sekarang ini mengalami saat­-saat yang genting. Saat yang crucial. Pada saat­-saat yang demikian itu, baiklah bangsa Indonesia ini merenungkan sejenak bagaimana dulu memperjuangkan kemerdekaan, bagaimana dulu memper­tahankan kemerdekaan.

Dulu kita memperjuangkan kemerdeka­an dengan penggabungan daripada tenaga rakyat jelata dari Sabang sampai ke Merauke. Tidak oleh satu kekuatan saja, tetapi kita gabungkan seluruh kekuatan kita, baik kaum buruh maupun kaum tani, maupun nelayan, maupun kaum pegawai, maupun kaum pemuda, maupun kaum pemudi, maupun alim ulama, maupun segala golongan­golongan yang ada di Indonesia ini, kita gabungkan di dalam satu barisan yang mahasakti berdasarkan atas Pancasila itu dan kita pertahankan Negara Proklamasi yang digempur kembali atau hendak digempur kembali oleh imperialisme dengan sukses, dengan Pancasila pula. Dengan gabungan mutlak daripada segenap tenaga revolusioner, marilah kita renungkan hal itu, saudara­saudara. Mempertahankan dengan persatuan, memperjuangkan dengan persatuan, mempertahankan dengan Pancasila, memperjuang­kan dengan Pancasila.

Marilah. saudara-­saudara. sebagai diharapkan oleh saudara Mr. Muh. Yamin, drie maal is scheeps­recht. Tiga kali kita mempunyai Negara Kesatuan meliputi seluruh nusantara Indonesia, Sriwijaya, Majapahit, sekarang Republik Indonesia. Didoakan oleh saudara Mr. Muh. Yamin agar supaya, ya, dulu boleh Sriwijaya tenggelam, ya, dulu Majapahit boleh tenggelam, tetapi hendaklah Republik Indonesia tetap kekal dan abadi menurut keyakinan saya di atas yang kita kenal semuanya dan kita cintai, Pancasila.

Terima kasih.

⏩Download Pidato Bung Karno - Pancasila Membuktikan Dapat Mempersatukan Bangsa Indonesia ⏪

Pidato Tegas Bung Karno - Tidak Ada Kontra Revolusi Bisa Bertahan !

Tidak Ada Kontra Revolusi Bisa Bertahan

(Amanat Presiden Sukarno pada Rapat Pancasila 
di Bandung, 16 Maret 1958)

 Saudara­-saudara

Baru sekarang sesudah saya datang kembali dari luar negeri, saya berjumpa lagi dengan saudara­saudara Rakyat Bandung dan sekitarnya. Saya mengucap terima kasih kepada saudara­saudara sekalian bahwa saudara­saudara telah datang di sini berbondong­ bondong dengan jumlah lebih dari 1 juta manusia untuk bersamasama menyatakan isi hati saudara­saudara. Isi hati bersatu padu sebagai satu Bangsa yang cinta pada kemerdekaan. Isi hati bersatu padu setia kepada Proklamasi 17 Agustus 1945. Dan saya amat bergembira pula pada ini hari, datang di Bandung bersama­sama dengan Ibu Rasuna Said yang oleh pemimpin rapat dengan tepat telah dikatakan Srikandi Indonesia.

Saudara­saudara, tahukah engkau sekalian bahwa Ibu Rasuna Said telah berpuluh­puluh tahun lamanya berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, berjuang untuk utuhnya negara, yang kita proklamirkan 17 Agustus 1945. Bahkan waktu beliau masih muda, beliau telah berjuang sekuatkuat tenaga untuk mernerdekakan tanah air kita. Beliau adalah pernimpin wanita Indonesia yang pertama yang dijebloskan oleh imperialis asing ke dalam penjara. Saya bergembira ini hari datang di Bandung bersama­sama dengan beliau. Bergembira oleh karena dengan adanya beliau di Bandung ini, ternyata sebagai tadi dinyatakan oleh beliau bahwa apa yang telah diperbuat oleh Achmad IIusein c.s., oleh Sjafruddin Prawiranegara c.s. sama sekali pada hakekatnya bukan kehendak daripada rakyat Minangkabau, tetapi hanyalah perbuatan petualang­petualang belaka.

Saudara­saudara, Ibu Rasuna Said tadi berkata bahwa beliau tiap­tiap kali beliau meninggalkan Tanjung Priuk untuk pergi ke luar negeri, beliau adalah dipandang oleh orang sebagai orang Indonesia. Benar ucapan Ibu Rasuna Said itu. Demikian pula saya, saudara­saudara, yang berulang­ulang pula meninggalkan tanah air “menjajah desa hamilang kori”, datang ke mana­mana, tiap­tiap kali saya di luar negeri, bukan saja orang luar negeri memandang kepada saya sebagai orang Indonesia, tetapi justru di luar negeriitulah saudara­saudara, saya merasa diri saya orang Indonesia yang benar­benar cinta kepada Indonesia, dan malahan saya bisa berkata kepada saudara­saudara, tiap­tiap kali saya melihat bendera Sang Merah Putih berkibar, bukan saja di Washington, tetapi juga di Moskow, di London, di Paris, di Cairo, di New Delhi, di Peking dan tempat­tempat yang lain­lain, hati saya lebih besar daripada gunung Malabar yang ada di Selatan kita ini, saudara-saudara.

Saya sudah melihat tiga­per­empat daripada dunia. Melihat Amerika Serikat, melihat Kanada, melihat Switserland, melihat Jermania, melihat Italia, melihat Austria, melihat Sovyet Unie, melihat Mongolia, melihat RRC., melihat Jepang, melihat Vietnam, melihat Philipina, melihat Thailand, melihat Burma, melihat India, melihat Selandia, melihat Pakistan, melihat Mesir, melihat Libanon, melihat Siria, melihat negara­negara lain, negeri­negeri lain, dan tanah air orang lain. Tetapi dengan bangga dan tegas saya bisa berkata: tidak ada satu negeri di dunia ini yang secantik, semolek, sekaya Indonesia. Oleh karena itu, maka tiap­tiap kali saya di luar negeri, makin cintalah saya kepada Indonesia. Apalagi jikalau saya duduk di kapal terbang, terbang di angkasa, menengok ke bawah, misalnya di daerah­daerah padang pasir, baik daripada Sentral Asia maupun di tempat yang lain­lain, rindu pada tanah air, melihat negeri orang lain: pasir, batu, pasir, batu, pasir, batu.
Ingatlah saya kepada tanah air saya. Hijau, molek, cantik, kata orang Jawa: ijo royo­royo kadia penganten anyar. Cinta kepada tanah air. Maka oleh karena itu. Saya yang juga sebagai Saudara Rasuna Said tadi katakan. juga orang Islam, sayapun merasa nasional di dalam arti saya sehebat­hebatnya.

Tentang perjalanan ke tanah­tanah orang lain. belakangan ini saya mengadakan perjalanan ke negeri Asia dan Afrika. Dulu saya mengadakan perjalanan ke Amerika, dan dunia yang dinamakan dunia barat. Saya hendak ceritera kepada saudara­saudara, bahwa pada satu hari saya diminta untuk memberi jawaban atas beberapa pertanyaan yang diajukan kepada saya oleh pemuda­pemuda dan pemudi­pemudi Amerika.

Diadakan satu rapat kecil, wakil­wakil pemuda dan wakil­wakil pemudi berkumpul di situ. Saya diun­ dang di dalam rapat itu dan mereka mengajukan pertanyaan­pertanyaan dan pertanyaan­pertanyaan itu harus saya jawab di dalam rapat yang saya hadiri. Dipotret, difilm, disiarkan dengan radio dan diadakan televisi pula. Rapat yang demikian ini, tanya jawab dengan pemuda dan pemudi adalah satu bagian daripada siaran televisi yang bernama “Youth want to know” – pemuda dan pemudi ingin tahu. Saya diundang untuk hadir di dalam rapat “Youth want to know” itu, dan saya datang.

Salah satu pertanyaan yang diajukan kepada saya adalah sebagai berikut: ­baik sekali saudara­saudara ketahui ­ditanyakan kepada saya: “Presiden Soekarno, kenapa Presiden Soekarno mengadakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945?” Sekali lagi: “Kenapa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia itu Excellentie adakan pada tanggal 17 Agustus 1945?” Yaitu beberapa hari sesudah Jepang menekuk lutut di dalam peperangan dunia yang kedua. Artinya pertanyaan ini, saudarasaudara, ialah apa sebab Proklamasi Kemerdekaan itu tidak diucapkan oleh Bung Karno, Bung Hatta, pada tahun 1940, atau tahun 19′ )0 atau tahun 1929, kenapa 17 Agustus 1945. Saya merasa, ini adalah satu pertanyaan untuk memancing satu pengakuan. Sebab katanya,

Kemerdekaan Indonesia ini pemberian dari Jepang. Bahwa tatkala Jepang telah menekuk lutut, kemerdekaan ini diberikan kepada bangsa Indonesia.

Saya kira inilah maksud daripada pertanyaan itu. Dan saya beri pcnjelasan yang tegas: kami, kataku, mengadakan Proklamasi Kernerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus1945, oleh karena pada waktu itu imperialisme sedang lemah. retak, hancur lebur. Inilah sebabnya kami mengadakan Proklamasi itu tidak pada tahun 1940, pada waktu imperialisme sedang kuat sentosa, pun tidak pada tahun 1930 pada waktu imperialisme sedang kuat. Maka itu kita mengadakan proklamasi pada saat imperialisme lemah, pada saat imperial­isme tiada bertenaga. Nah, sesudah peperangan dunia yang kedua Belanda berantakan, imperialisme Belanda hancur lebur, Jepang lemah pula, oleh karena telah mendapat pukulan. Saat itulah saat yang terbaik untuk mengadakan proklamasi.


Ini adalah siasat politik yang hebat sekali, saudara-­saudara, dan memang kita bicarakan terlebih dahulu dengan pemimpin-pemimpin, bahkan di dalam tahun 1929 telah saya katakan, tahun 1929 tatkala saya masih menjadi penduduk Bandung, pada waktu itu, di dalam tahun 1929 saya berkata: Awas, imperialisme! Awas, jikalau nanti pecah perang pasifik, jikalau nanti pecah perang dunia yang kedua, jikalau nanti Lautan Teduh merah dengan darah manusia, jikalau nanti tanah­tanah di sekeliling Lautan Teduh menyala­ nyala dengan api peperangan, pada saat itulah Indonesia menjadi merdeka. Ini saya ucapkan dalam tahun 1929. Dan kawankawan saya dari Bandung mengetahui bahwa justru karena ucapan inilah, saya ditangkap, dimasukkan ke dalam kandang.

Saudara­saudara, memang siasat politik harus demikian. Jikalau hendak mengadakan proklamasi kemerdekaan, carilah saat yang imperialisme itu lemah berantakan. Ini terjadi dalam tahun 1945. Tegasnya, bulan Agustus 1945. Tetapi kecuali daripada itu, saudara­saudara, lama sebelum itu telah menjadi pemikiran kami, pemimpin­pemimpin. bahwa jikalau kami hendak memproklamirkan satu negara merdeka, lebih dahulu harus dipcnuhi beberapa syarat wntuk negara. 1’idak bisa, kita mengadakan proklamasi itu meskipun imperialisme berantakan. Tidak bisa kita mengadakan satu negara jika tidak sudah dipenuhi syarat­syarat untuk negara. Apa syarat untuk negara, saudara­saudara?

Syaratnya adalah tiga. Negara, pertama syaratnya ialah harus mempunyai wilayah. Wilayah yang tegas dapat ditaruh di atas kaart. Bisa dipetakan. Wilayah yang di dalam bahasa asing dinamakan territoor. Dan cita­cita kami, sebagai bangsa Indonesia, cita­cita kita, juga bukan suatu negara sembarangan, saudara­saudara, tetapi suatu negara yang besar, yang kuat, sentosa, modern, up to date, dan satu negara yang bisa mendatangkan kebahagiaan kepada rakyat. Satu negara yang bisa di dalamnya diisikan satu masyarakat yang adil dan makmur. Bukan satu negara kapitalis. Bukan satu negara kemiskinan. Bukan satu negara yang rakyatnya tidak bisa makan dengan cukup. Bukan satu negara yang rakyatnya tidak hidup dengan bahagia. Tetapi satu negara besar dan masyarakat adil dan makmur di dalamnya.

Ini kami pikirkan mengenai wilayah itu tadi. Dan kami, pemimpin­pemimpin, sampai kepada satu kesimpulan, bahwa jikalau kita ingin mempunyai satu negara yang di dalamnya satu masyarakat yang adil dan makmur, haruslah negara itu berwilayah seluruh Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke. Apa artinya saudara­saudara? Tidak bisa kita mengadakan satu negara yang bisa memberi masyarakat adil dan makmur jikalau wilayahnya tidak dari Sabang sampai ke Merauke. Artinya, misalnya negara Jawa sendiri, umpamanya, tidak bisa menyelenggarakan satu masyarakat yang adil dan makmur.

Demikian pula Sumatera umpamanya berdiri sendiri sebagai negara, tidak bisa menyelenggarakan satu masyarakat yang adil dan makmur. Kalimantan tidak bisa menjadi satu negara yang adil dan makmur masyarakatnya. Sulawesi tidak bisa menjadi satu negara yang adil dan makmur masyarakatnya. Bali tidak bisa menjadi satu negara yang adil dan makmur masyarakatnya. Sumbawa tidak bisa menjadi satu negara yang adil dan makmur masyarakatnya. Priangan tidak bisa menjadi satu negara yang adil dan makmur masyarakatnya. Madura tidak bisa menjadi satu negara yang adil dan makmur masyarakatnya.

Hanya negara yang berwilayah dari Sabang sampai ke Meraukelah bisa menyelenggarakan masyarakat yang adil dan makmur, oleh karena daerah­daerah ini daerah Jawa, daerah Sumatera, daerah Kalimantan, daerah Sulawesi, daerah Bali, Lom­ bok, Sumbawa, Flores, Sumba, Timor, yaitu kepulauan Sunda Kecil yang dulu dinamakan demikian, sekarang dinamakan Nusa Tenggara, daerah Halmahera, daerah Maluku Tengah, Ambon, Saparua, Nusa Laut, daerah Irian Barat dan lain­lain sebagainya harus isi­mengisi satu sarna lain. Jikalau sesuatu daerah berdiri sendiri, saudara­saudara, tak mungkin menyelenggara­kan masyarakat yang adil dan makmur itu.

Nah, jadi ditinjau oleh pemimpin­pemimpin kita: bisakah kita nanti mengadakan satu negara besar, modern, up to date, yang wilayahnya dari Sabang sampai ke Merauke? Kami pikir, kami tinjau, dan jawab kami: Ya! Kami dapat, kita dapat mengadakan negara yang demikian itu, berwilayah dari Sabang sampai ke Merauke. Ialah oleh karena di dalam sejarah Indonesia, dahulu kitapun pernah mempunyai negara yang demikian itu, malahan wilayahnya lebih besar daripada apa yang dinamakan Hindia Belanda. Pernah pula mempunyai negara lain, yaitu Sriwijaya, yang wi layahnya hampir sama dengan apa yang dinamakan Hindia Belanda. Jadi menurut sejarah, negara yang berwilayah dari Sabang sampai ke Merauke, bisa diadakan. Demikian pula, saudara­saudara, sejarah pergerakan Indonesia menunjukkan bahwa daerah­daerah ini memang makin lama makin kembali ke dalam rasa persatuan Indonesia. Jadi tentang hal persoalan yang pertama, vaitu apakah bisa diadakan satu wilayah. satu territoor bagi negara, jawahnya ialah tegas: ya, kita bisa mengadakan wilavah atau territoor itu.

Syarat yang kedua daripada sesuatu negara, saudara­saudara, ialah bahwa di atas territoor itu harus ada rakyatnya. Kalau tidak ada rakyatnya tidak bisa menjadi negara. Coba umpamanya saudara mengadakan satu proklamasi di padang pasir, hendak mengadakan negara di padang pasir, walaupun wilayahnya ada, yaitu padang pasir, tetapi tidak ada rakyat di atasnya, saudarasaudara, tidak mungkin menjadi satu negara. Dan bukan rakyat sembarang rakyat, tetapi rakyat yang merasa dirinya bersatu padu, rakyat yang merasa dirinya telah menjadi satu bangsa, bukan dua, bukan tiga, bukan empat,satu bangsa.

Inipun diselidiki oleh kami, pemimpin­pemimpin, dipikir, di­tinjau, bahkan di dalam tahun 1945, saudara­saudara, dikumpul­kan pemimpin­pemimpin, bersama meninjau soal ini dan ternyata: rakyat Indonesia yang terserak di pulau­pulau Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke, yang berdiam di atas 3.000 pulau, – jumlah pulau di Indonesia lebih dari 10.000, saudara­saudara, – tetapi rakyat yang berdiam di atas 3.000 pulau, rakyat Indonesia yang berpuluh­puluh juta ini, walaupun diam terserak­serak atas 3.000 pulau, sehingga sebagai tempo hari saya katakan, pernah seorang wartawan berkata bahwa Indonesia adalah the most broken up nation in the world, satu negeri, satu bangsa yang paling terserak­serak rakyatnya saudara-saudara.

Meskipun rakyat Indonesia berdiam di atas 3.000 pulau, ternyatalah bahwa Indonesia telah mempunyai rasa satu bangsa. Bahkan pada tanggal 28 Oktober 1928 oleh pemuda­ pemudi kita diikrarkan rasa ini, sebagai ikrar pemuda yang termasyhur: satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa. Dengan keyakinan inilah saudara­saudara, maka pertanyaan yang kedua dijawab oleh kami: Ya! kami telah menjadi satu bangsa.

Syarat ketiga bagi negara ialah apakah bisa diadakan Pemerintah Pusat apa tidak? Pernerintah Pusat vang satu. Bukan dua. bukan tiga. bukan empat. Jawab kamipun: bisa diadakan Pemerintah Pusat yang satu. ‘I’atkala kami berkumpul, pemimpinpemimpin dari seluruh Indonesia, di dalam bulan Agustus saudarasaudara. sebelum mengadakan proklamasi, spesial soal ini ditinjau antara kita dengan kita. Dapatkah kita memenuhi syarat ketiga daripada sesuatu negara? Yaitu adanya satu Peinerintah Pusat. Dan jawab daripada sidang itu ialah: dapat Indonesia mengadakan satu Pemerintah Pusat. Sehingga pada tanggal 17 Agustus 1945 itu, saudara­saudara, atau lebih tegas, pada tanggal 16 Agustus, pemimpin­pemimpin yang berkumpul di Jakarta itu, semuanya berkeyakinan, tiga syarat daripada negara bisa dipenuhi, territoor ya, bangsa ya, Pemerintah Pusat ya.
Maka pada malam 16 malam 17 ditandatanganilah Proklamasi kemerdekaan Indonesia, dan pada tanggal 17 Agustus 1945 dibacakan di muka umum: ­Kami Bangsa Indonesia sejak saat sekarang ini merdeka, mendirikan satu negara, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Nah, saudara­saudara, tiga syarat ini berjalan, territoor, wilayah Republik Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke. Hanya sebagian daripada territoor ini, saudara­saudara, sekarang diduduki oleh Belanda. Belum dikembalikan oleh Belanda kepada kita. Maka oleh karena itu saya selalu berkata kepada rakyat Indonesia, janganlah berkata, mengembalikan Irian Barat ke dalam wilayah Republik, tetapi katakanlah mengembalikan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik, sebab Irian Barat sudah masuk di dalam wilayah Republik. Irian Barat sudah masuk di dalam territoor Republik.

Sudah saya terangkan kepadamu sekalian di dalam rapat raksasa yang lalu, saudara­ saudara, bahwa di dalam Undang­Undang Dasar kita ditulis dengan tegas, bahwa wilayah Republik Indonesia ialah: Indonesia. Dan apa yang dinamakan Indonesia? Yang dinamakan Indonesia ialah Tanah Air Indonesia yang terserak kepulauannya dari Sabang sampai ke Merauke. Dus Irian Barat masuk di dalam wilayah Republik. Yang bclum ialah kekuasaan Republik dikembalikan oleh Bclanda kepada kita. Uan saya tahu tekad saudara­saudara, taliu tekad pemuda dan pemudi, tahu tekad prajurit­prajurit, tahu tekad bintara­bintara, tahu tekad perwira­perwira, tahu tekadmu hai rakyat jelata, tahu tekadnya bapak Marhaen, tahu tekadnya bapak Madroi, tahu tekadnya seluruh rakyat Indonesia, ialah: berjuang terus agar supaya Irian Barat masuk ke dalam wilayah kekuasaan Republik.

Saudara­saudara, territoor sudah ada. Bangsa sudah ada. Pemerintah Pusat sudah berfungsi, saudara­saudara, sejak 17 Agustus 1945 hingga kini. Tetapi apa yang terjadi, apa yang terjadi? Achmad Husein c.s., Sjafruddin Prawiranegara c.s., justru melanggar semuanya ini, saudara­saudara. Mereka mengadakan Pemerintah lain, melanggar syarat yang nomor tiga ini tadi, ialah bahwa Republik Indonesia berwujud satu negara. Saudara­ saudara hanya mengenal satu Pemerintah Pusat.

Dus, jikalau mereka mengadakan satu pemerintah pusat lain, sebenarnya mereka itu mengkhianati Proklamasi 17 Agustus 1945. Dan bukan saja mengkhianati Proklamasi 17 Agustus 1945, saudara­saudara, mengkhianati kepadamu, hai Marhaen, mengkhianati kepadamu hai pemuda dan pemudi, mengkhianati kepada pahlawanpahlawan kita yang telah gugur, mengkhianati kepada perjuangan rakyat Indonesia yang sudah berpuluh­ puluh tahun. Mengkhianati kepada jiwa Indonesia sendiri. Khianat perbuatan ini, saudarasaudara. Maka oleh karena itu segenap rakyat Indonesia, – saya yakin, ­ semuanya akan menghukum perbuatan Achmad Husein dan Sjafruddin Prawiranegara c.s. itu.
Tetapi, sebagai dikatakan oleh ibu Rasuna Said tadi, kami, kita penuh dengan kepercayaan, penuh, asal rakyat jelata, sekali lagi saya ulangi, asal rakyat jelata setia kepada Proklamasi 17 Agustus 1945. Meskipun ada petualang­petualang, seratus, seribu, sepuluh ribu saudara­saudara. mereka akan lenvap dari rnuka bumi ini olch tcnaga daripada rakyat jelata itu. Rakyat jelata kckuatan Republik. rakyat jelata kekuatan negara. rakyat jelata sandaran daripada cita­cita. Saudara­saudara, rakyat inilah modal kita. Rak­ yat jelata yang ingin bebas merdeka. Rakyat jelata yang dengan tenaganya kita rnengadakan proklamasi dan mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945 itu. Apa, saudara­saudara, sebenarnya yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945? Kataku di tempat lain. Pada tanggal 17 Agustus 1945, kita tidak hanya memproklamirkan Negara, tidak, bukan hanya memproklamirkan negara, kataku. Pada tanggal 17 Agustus 1945 itu kita juga memproklamirkan kepribadian kita. Kepribadian Indonesia.

Apa kepribadian Indonesia, kataku, di lain tempat. Dan jawabku ialah: pertama, cinta merdeka. Cinta merdeka, tidak mau dijadikan budak orang lain. Tetapi juga menghormati kemerdekaan orang lain. Cinta kepada kemerdekaan, tetapi juga menghormati kemerdekaan orang lain. Ingin bersahabat dengan semua manusia di dunia ini, ingin bersahabat dengan semua bangsa di dunia ini. Ingin bersahabat dengan semua negara di dunia ini. Saya berkata di lain tempat, saudara­saudara, bahwa kepribadian bangsa Indonesia terjelma di dalam dasar Pancasila.

Tadi diuraikan oleh Ibu Rasuna Said, memang Pancasila ini adalah pengutaraan daripada jiwa Indonesia. Aku ini, saudara-saudara, pernah diberi titel doktor, oleh karena katanya, aku ini adalah pembuat Pancasila. Aku menjawab, aku bukan pembuat Pancasila.

Pancasila terbenam di dalam jiwanya Bangsa Indonesia. Apa yang kuperbuat hanyalah menggali lagi mutiara lima dari bumi Indonesia itu, dan mutiara lima ini aku persembahkan kepada bangsa Indonesia yang berupa lima dasar daripada Pancasila.

Aku diberi titel doktor mau aku terima, tetapi janganlah berkata bahwa aku ini adalah pembuat daripada Pancasila. Aku menggali kembali lima kebenaran daripada bangsa Indonesia itu, satu: Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagai tadi telah diuraikan panjang lebar oleh Ibu Rasuna said. Dua: Kebangsaan Indonesia yang bulat, yang kita ini bukan orang Cigereleng, bangsa Cigereleng, bangsa Sukajati, bangsa Bandung, bangsa Periyangan, bangsa Jawa. Tidak! Kita ini adalah Bangsa Indonesia seluruhnya, satu Bangsa sebagai diucapkan oleh pemuda­pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Ketiga, dasar Pancasila: Perikemanusiaan. Menjehnanya di dalam politik sekarang ini, sebagai satu politik behas dan aktif, satu politik ingin bersahabat dengan semua bangsa, balikan aktif berikhtiar agar semnua bangsa di dunia ini bersatu, jangan menjadi dua blok sebagai yang sekarang, ancam-mengancam satu sama lain, laksana dua raksasa yang telah mengintai di cakrawala, yang nanti pada satu hari akan menerkam satu sama lain, membakar seluruh manusia di dunia ini menjadi hangus.
Yah, saudara­saudara, bangsa Indonesia tidak mau ikut salah satu blok. Tidak mau ikut blok itu, tidak mau ikut blok ini. Bangsa Indonesia ingin menjadi sahabat dari sernua manusia. Dan bangsa Indonesia berikhtiar agar supaya semua manusia di dunia ini, 2.600 juta manusia di dunia ini, bersatu padu di dalam satu rasa perikemanusiaan. Dasar dari Pancasila yang ketiga: kita menjalankan politik bebas. Di luar negeri ada yang mengatakan ini politik netral, katanya. Saya tolak perkataan netral. Kita bangsa

Indonesia tidak netral. Kita menjalankan politik bebas.

Gamal Nasser dari Mesir berkata: Bung Karno menyebutkan politiknya politik bebas. Kami dari Mesir menyebutkan politik kami ini politik of non­alignment. Artinya politik tidak mau mengikatkan diri ke dalam salah satu blok. Pada hakekatnya sama. Cara Mesir mengatakan ialah non alignment policy, cara Indonesia menyebutnya ialah politik bebas. Tetapi aktif, aktif berikhtiar agar semua nianusia dipersahabatkan satu sama lain. Kami menolak perkataan netral. Kami tidak netral. Apa arti netral? Netral itu artinya: diam. Iiii politik iietral. Kita tidak netral. Kita aktif. Apalagi terhadap kcpada kolonialisme, kita tidak mau netral. Yah, kita mcnganjurkan supaya antara dua blok ini adalah hidup berdamping­dampingan satu sama lain. Yah sudahlah. kalau sudah terlanjur menjadi blok­blokan, sini satu blok, situ satu blok. Tapi dua blok ini bisa hidup berdamping­ dampingan satu sama lain.

Dalam bahasa Inggerisnya: co­existence, malahan dikatakan peaceful co­existence. Hidup berdamping­dampingan satu sama lain dalam suasana perdamaian. Peaceful co­ existence. Dan ini ternyata bisa, mungkin, bukan saja mungkin, bisa. Yaitu kalau sudah terlanjur blok­blokan, ya sudahlah, satu blok sini, satu blok situ, tapi dalam suasana perdamaian, tidak cakar­cakaran satu sama lain, tidak bertempur satu sama lain. Ini ternyata bisa. Sudah berpuluh­puluh tahun, sejak pecahnya perang dunia kedua, dua blok ini, saudara­saudara, ada dan bisa hidup berdamping­dampingan satu sama lain.

Tetapi di antara kolonialisme dan bangsa bangsa yang dikolonisir, antara penjajah­ penjajah dan rakyatrakyat yang terjajah tidak bisa hidup berdamping­dampingan satu sama lain. Antara kolonial­isme dan rakyat­rakyat yang dikolonisir tidak bisa ada co­ existence. Tidak! Apa sebabnya? Saya terangkan di lain tempat, oleh karena yang menjajah yaitu si kolonialis, tangannya masuk kantongnya rakyat yang dikolonisir. Kalau blok dengan blok tidak, saudara­saudara. Seperti di antara dua blok itu ada gang. Tetapi di antara kolonialis dan rakyat yang dikolonisir tidak ada gang itu, saudara­saudara. Ialah oleh karena tangannya si kolonialis masuk di dalam kantongnya rakyat yang dikolonisir. Maka oleh karena itu Bangsa Indonesiaberkata: Tidak! Kami tidak netral. Terutama sekali terhadap kepada kolonialisme.
Kami tidak netral. Tidak! Kami berjuang terus, melawan kolonialisme. Kami berjuang terus melawan penjajahan. Bukan saja penjajahan di dalam negeri, tetapi penjajahan di luar negeripun kami berjuang kepadanya. Malahan kami tempo hari memanggil 29 negaranegara dan Bangsa­Bangsa Asia Afi­ika. berkumpul di kota molek Bandung ini. mengadakan konferensi Asia Afrika. Dan konferensi Asia Afrika itu telah menghukum kolonialisme dan segala bentuk dan tindakannya. hlilah tekad Bangsa Indonesia. saudara­saudara. Sebagai hasil daripada dasar ketiga daripada pancasila: Perikema­ nusiaan.

Dasar kita keempat: Kedaulatan Rakyat. Ya memang kita ini, saudara­saudara, ingin menjalankan demokrasi, dan memang dasar kita ini ialah demokrasi. Sebagai dikatakan oleh Ibu Rasuna Said tadi, kita ini bangsa menjalankan demokrasi. Sudah mempunyai DPR hasil pemilihan umum, sudah mempunyai Konstituante dengan pemilihan umum. Kalau sesuatu golongan daripada bangsa Indonesia, tegasnya kalau Sjafruddin tidak senang dengan Pemerintah sekarang ini, kalau Achmad Husein tidak senang dengan Pemerintah sekarang ini, kalau Simbolon tidak senang dengan Pemerintah sekarang ini, kalau Sumitro tidak senang dengan Pemerintah sekarang ini, kalau Dahlan Dj ambek tidak senang dengan Pemerintah sekarang ini, gerakkanlah DPR, Parlemen itu, supaya mengadakan mosi tidak percaya kepada Pemerintah sekarang ini, supaya menjatuhkan Pemerintah sekarang ini.

Ini jalan yang demokratis, saudara­saudara, melalui Parlemen. Tetapi mereka tidak melalui Parlemen. Mereka mengadakan ultimatum, mereka mengadakan proklamasi PRRI. Ini adalah peng­khianatan! Pengkhianatan daripada Proklamasi! Bahkan aku berkata, pengkhianatan kepada jiwa Indonesia yang demokratis! Pengkhianatan kepada Marhaen, kepada rakyat jelata, kepada pemuda yang telah bertempur mati­matian unluk mengadakan negara demokratis ini, saudara­saudara. Ibu Rasuna Said berkata: PRRI  bukan pemerintah revolusioner Republik Indonesia, tetapi pemerintah reaksioner Republik Indonesia. Sebenarnya lebih daripada reaksioner. Ini bukan reaksioner saja, ini adalah kontra­revolusioner!

Yah, di dalam tiap­tiap revolusi ada kontra­revolusi. Kita mengalami kontra­revolusi beberapa kali. revolusi Sovyet mengalami kontra­revolusi beberapa kali. revolusi RRC meng­alami kontra­revolusi. revolusi Perancis mengalami kontra­revolusi. Revolusi Mesir mengalami kontra­revolusi, saudara­saudara. Tiap­tiap revolusi mengalami kontra­revolusi. Tetapi jikalau rcvolusi itu benar­benar revolusi, artinya benar­benar tindakan daripada rakyat jelata yang ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu, jutaan­jutaan. Jikalau revolusi itu benar­benar massal, saudarasaudara. Tidak ada satu kontra­revolusi bisa bertahan. Tidak ada. Maka oleh karena itu saya berkata, jikalau rakyat Indonesia ini seluruhnya, rakyat jelata setia kepada Proklamasi 17 Agustus 1945, kontra­revolusi akan lenyap dari muka bumi ini. Dan kita akan menghadapi zaman yang gilang­gemilang. Kita, saudarasaudara, bangsa di dalam revolusi yang berjalan terus, yang sebagai kukatakan, for a fighting nation there is no journey’s end, buat bangsa yang berjuang tidak ada yang dinamakan berhenti. Tidak! Kita berjalan terus.

Yah, kita sekarang mengalami kontra­revolusi. Kita berjalan terus. Dan Insya’allah s.w.t., dengan semangat rakyat jelata sebagai yang saya lihat di Bandung sekarang ini, Insya’allah kita akan mencapai apa yang hendak kita capai. Kita hendak capai satu Negara Republik Indonesia dengan di dalamnya satu masyarakat yang adil dan makmur yang memberi kebahagiaan kepada seluruh rakyat Indonesia yang 82.000.000 ini. Kita menjalankan politik bebas.

Aku di luar negeri, 40 hari lamanya, melihat dengan mata kepala sendiri, saudara­ saudara, Sumual c.s. itu sakunya penuh dengan uang. Nah inilah katanya barter, barter katanya. Dijual kopra dari Minahasa itu untuk rakyat Minahasa. Omong kosong! Uang dari hasil penjualan kopra ini masuk dalam kantongnya petualang­petualang itu, saudara­saudara. Dan saya membaca sendiri di dalam surat kabar, petualang­petualang itu tiap­tiap sore pergi. per`gi ke tempat­tempat kesenangan, nightclubs, traktir mereka, bclikan mobil mereka. Kantong mereka penuh dengan uang saudara­saudara.

Dan aku melihat sendiri, saudara­saudara. bahwa ada petualang­petualang asing menunggangi mereka itu. Malah ketika aku menjalankan perjalanan ke India, ke Mesir, ke Yugoslavia, ke Ceylon, ke Pakistan, ke Burma, ke tempat­tempat lain, aku mendapat pengertian, diberi mengerti oleh beberapa kawan­kawan, bahwa ada petualang­ petualang asing yang sudah tidak senang lagi dengan apa yang dinamakan oleh mereka netralisme kita, ­saya tadi berkata, politik kita dinamakan politik netral – kita ini dikatakan menjalankan politik netralisme, policy of neutralism – dikatakan oleh mereka itu, saudara­saudara, yaitu kawan­kawan kita itu, sekarang ini sudah ada golongan petualangpetualang asing yang tidak senang lagi dengan politik netral kita.

Dulu mereka itu senang, cukup senang, kalau Indonesia netral. Cukup senang kalau India netral. Cukup senang kalau Burma netral. Cukup senang kalau Mesir netral. Cukup senang kalau Siria netral. Cukup senang kalau Langka netral. Asal tidak ikut blok itu. tetapi sekarang timbul petualang­petualang yang sudah tidak senang lagi kepada netralisme kita. Mereka hendak menyeret kita, memasukkan kita, atau sebagian daripada kita ke dalam salah satu blok.

Oleh karena itu, di dalam amanat saya pada tanggal 21 Februari, tatkala saya menerima kembali jabatan Presiden dari tangannya Bapak Sartono, saya berkata: perbuatan Akhrnad Husein c.s. ini, adalah satu penyelewengan daripada Proklamasi dan bukan saja itu, tetapi adalah anasir­anasir asing, usaha­usaha asing mau memasukkan Indonesia atau sebagian daripada Indonesia itu ke dalarn salah satu blok. Dan ini aku lihat dengan mata kepala sendiri, saudara­saudara, tatkala aku di luar negeri, bagaimana Surnual, bagaimana Pantouw, bagaimana Walandouw dan konco­konconya itu ditunggangi sama sekali oleh petualang­petualang ini. Dibesar­besarkan hatinva. dihasut­hasut. bahkan diberi apa­apa, saudara­saudara. Tentang hal Sumual.

Ketika aku di Tokio, dia sudah ada di Tokio. Aku lihat dengan jelas dengan bukti, dia di Tokio itu bukan sekadar untuk mengadakan kampanye hasutan terhadap Republik, hasutan terhadap Pernerintah Pusat di Jakarta, hasutan terhadap Presiden Sukarno. Bukan saja itu, di Tokio ia mengadakan kontak dengan seorang petualang Jepang – jangan salah mengerti – petualang Jepang, – pada umumnya rakyat Jepang, saudara­ saudara, ramah­tamah, cinta kepada Republik Indonesia, – tetapi di dalam tiap­tiap bangsa ada petualng­petualangnya, tiap­tiap bangsa. Lha ini petualang Jepang kontak de­ ngan Sumual. Sumual dengan petualang Jepang ini mengadakan pembicaraan, perundingan. Sumual hendak membeli senjata, dibayarnya dengan kopra barter. Senjata ini untuk apa? Untuk menggempur Republik, saudara­saudara!

Apa terjadi? Bicara sudah matang, di dalam bahasa asing tempo hari saya katakan, pembicaraan ini sudah in kannen en kruiken. Tinggal lagi ditandatangani kontraknya ini, sekian ribu senjata, saya bayar dengan sekian ribu karung kopra. Sudah hampir ditandatangani, ada petualang dari bangsa lain berkata kepada Sumual “buat apa beli senjata dari Jepang, Jepang itu jauh dari Indonesia. Kamu bisa dapat senjata dari satu tempat yang lebih dekat dari Indonesia. Batalkan engkau punya perjanjian dengan

.lepang ini. Ambillah senjata yang dari kami, dekat dari Indonesia”.
Sumual, saudara­saudara, lantas batalkan perundingannya dengan pihak petualang Jepang ini. Apa terjadi? Petualang Jepang ini menjadi marah, surat­suratnya diberikan kepada orang Jepang lain, dengan permintaan supaya diteruskan kepada Presiden Soekarno. Nah, kawan Jepang ini memberikan sernua surat Sumual itu kepada Presiden Soekarno, sehingga terbukti hitam di atas putih, saudara­saudara. Bukan saja satu surat, beberapa surat dengan fotokopi­fotokopinya sama sekali, bahwa Sumual di Tokio hendak membel i senjata untuk menggempur Republik. tetapi ganti dengan usaha mcndapat senjata dari tempat yang lebih dckat daripada Indonesia untuk menggempur Republik.

Coba, pengkhianatan atau tidak ini, saudara­saudara. Maka oleh karena itu saya tadi berkata: kita berjalan terus, berjalan terus. Asal rakyat Indonesia bersatu padu, asal rakyat jelata Indonesia bersatu padu, biar mereka mengadakan usaha yang demikian itu, saudara­saudara, akhirnya toh Insya’allah s.w.t. digiling mereka itu oleh rakyat jelata, oleh karena memang rakyat jelatalah tenaga daripada revolusi.

Kita ini, saudara­saudara, di dalam cobaan. Tetapi sebagai berulang­ulang saya katakan, yang sudah diulangi oleh Ibu Rasuna Said tadi, kalau kita, saudara­saudara, tetap kompak, tetap bersatu padu, kita Insya’allah kuat menghadapi segala cobaan. Dan me­ mang cita­cita kita, saudara­saudara, belum tercapai. Bukan saja memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik, tetapi juga mengadakan pembangunan demikian rupa, sehingga terselenggaralah satu masyarakat yang adil dan makmur sebagai yang dicita­citakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Yah, kita mengetahui, kami daripada pihak Pemerintah mengetahui bahwa cita­cita sosial kita, masyarakat adil dan makmur itu belum tercapai. Tetapi janganlah kita lupa saudarasaudara, bahwa masyarakat adil dan makmur hanyalah bisa diselenggarakan oleh satu bangsa yang kompak dengan satu Pemerintah Pusat yang kuat. Jangan kira, saudara­saudara, bahwa masyarakat adil dan makmur itu bisa diselenggarakan, kalau kita selalu terpecah belah, kalau kita antara partai dengan partai selalu bertempur, jikalau kita di dalam masa merdeka yang 12 tahun ini, melalui 17 kali Kabinet, tiap kali ganti kabinet.

Tak mungkin masyarakat adil dan makmur bisa diselenggarakan dengan keadaan yang demikian itu. Maka oleh karena itu saya, saudarasaudara, minta kepada semua partai­ partai untuk bersatu padu. Kita menghadapi zaman yang sulit dan zaman vang sulit ini hanya bisa kita atasi kalau kita bcrsatu padu. kalau kita berdiri bulat di helakang Pemerintah yang sekarang ini. Kalau nanti, saudarasaudara, kita sudah mengatasi kesulitan­kesulitan ini, pembangunan bisa betjalan dengan sehebat­hebatnya, agar supaya cita­cita sosial kita tercapai, agar supaya engkau bisa hidup dalam suasana yang engkau cita­citakan: perumahan layak, makan cukup, sandang cukup, anak­anak bersekolah, pendek rakyat Indonesia, saudara­saudara, menjadi satu rakyat yang benar hidup di dalam kesejahteraan dan kemakmuran.

Janganlah sampai kita mengalami sebagai yang sekarang ini, sebagai dikatakan oleh Ibu Rasunah Said. Malu kita, saudara­saudara, kalau di luar negeri digambarkan Indonesia terpecah­belah, Indonesia lemah, Indonesia cakarcakaran satu sama lain, bahkan di kalangan bangsa Indonesia ada pengkhianat­pengkhianat, petualang­petualang. Aku di luar negeri, saudara­saudara, merasa terharu benar­benar, dan sebagai kukatakan di dalam pidato 16 Februari yang lalu, tatkala aku baru turun dari kapal udara, aku telah berkata: Semua bangsa yang kukunjungi ikut­ikut mendoa agar supaya Indonesia lekas kuat, lekas kompak, lekas bersatu padu, lekas mempunyai Pemerintah Pusat yang tenaganya bisa menyeleng­garakan rakyat bekerja keras untuk mencapai masyarakat adil dan makmur.

Tetapi tidak cukup dengan doanya kawan­kawan. Tidak cukup dengan doanya Nehru, tidak cukup dengan doanya Gamal Nasser. Tidak cukup dengan doanya Tito, dengan doanya Kuatly, dengan doanya Bandaranaike, dengan doanya U Nu, dengan doanya pemimpin­pemimpin di luar negeri. Tidak cukup! Kita sendiri, saudara­saudara, harus menyingsingkan lengan baju kita.
Di sini saya selalu mensitir firman Allah s.w.t.: Tuhan Allah tidak merubah nasib sesuatu bangsa, kalau bangsa itu sendiri tidak merubah nasibnya. Seperti didoakan oleh Nehru seribu kali satu hari, seperti didoakan oleh Gamal Nasser seribu kali satu hari, meskipun didoakan oleh Soukrv el Kuatly dari Siria seribu kali satu hari, nieskipun didoakan oleh Marsekal Tito seribu kali sehari, meskipun didoakan olell Bandaranaike dari Kolombo seribu kali satu hari, meskipun didoakan oleh U Nu dari Rangoon seribu kali satu hari, meskipun didoakan oleh Presiden Eisenhower seribu kali satu hari, meskipun didoakan oleh Worosilov seribu kali satu hari, saudara-­saudara, agar supaya bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kuat, kalau bangsa Indonesia sendiri tidak menyelenggarakan, berikhtiar, mernbanting tulang, mengulurkan tenaganya, memeras keringatnya, agar menjadi bangsa yang kuat, bangsa Indonsia tidak bisa menjadi bangsa yang kuat.
Inilah amanat saya kepada saudara­saudara.

Mari, hai, rakyat Indonesia, mari hai rakyat Bandung, kita bekerja terus, berjalan terus, dengan dasar Proklamasi 17 Agustus 1945, Proklamasi keramat dan kita tidak mengakui proklamasi lain daripada proklamasi yang satu ini, Proklamasi 17 Agustus 1945.

Sekian.

Pidato Heroik Bung Karno - Apa Sebab Revolusi Kita Berdasar Pancasila

Apa Sebab Revolusi Kita Berdasar Pancasila 

(Amanat Presiden Sukarno pada 24 September 1955 di Surabaya)

Saudara-­saudaraku sekalian,
Saya adalah orang Islam, dan saya adalah keluarga Negara Republik Indonesia.
Sebagai orang Islam saya menyampaikan salam Islam kepada saudara­-saudara sekalian
“assalamu’alaikum wr. wb!”

Sebagai warga negara Republik Indonesia saya menyampaikan kepada saudara­saudara sekalian, baik yang beragama Islam, baik yang beragama Hindu – Bali, baik yang beragama lain, kepada saudara­saudara sekalian saya menyampaikan salam nasional “merdeka!”

Tahukah saudara­saudara arti perkataan “salam” sebagai bagian daripada perkataan assalamu’alaikum wr. wb? Salam arti­nya damai, sejahtera. Jikalau kita menyebutkan assalamu” alaikum wr. wb, berarti damai dan sejahteralah sampai kepadamu. Dan moga­ moga rakhmat dan berkat Allah jatuh kepadamu. Salam berarti damai, sejahtera. Maka oleh karena itu saya minta kepada kita sekalian untuk merenungkan benar­benar akan arti perkataan “assalamu’ alaikum”.

Salam – damai – sejahtera! Marilah kita bangsa Indonesia terutama sekalian yang ber­agama Islam hidup damai dan sejahtera satu sama lain. Jangan kita bertengkar terlalu­ lalu sampai membahayakan persatuan bangsa. Bahkan jangan kita sebagai gerombolan­ gerombolan yang menyebutkan assalamu’­alaikum, akan tetapi membakar rumah­ rumah rakyat.

Salam – damai! Damai – sejahtera! Rukun – bersatu! Terutama sekali di dalam revolusi nasional kita yang belum selesai ini.

Dan sebagai warga negara merdeka saya tadi memekikkan pekik “merdeka” bersama­ sama dengan kamu. Kamu yang beragama Islam, kamu yang beragama Kristen, – kamu yang beragama Syiwa Budha, Hindu – Bali atau agama lain. Pekik merdeka adalah pekik yang membuat rakyat Indonesia itu, walaupun jumlahnya 80 juta, menjadi bersatu tekad, memenuhi sumpahnya “Sekali merdeka, tetap merdeka!”

Pekik merdeka, saudara­saudara adalah “pekik pengikat”. Dan bukan saja pekik pengikat, melainkan adalah cetusan daripada bangsa yang berkuasa sendiri, dengan tiada ikatan imperialisme, – dengan tiada ikatan penjajahan sedikitpun. Maka oleh karena itu saudara­saudara, terutama sekali fase revolusi nasional kita sekarang ini, fase revolusi nasional yang belum selesai, jangan 1 upa kepada pekik merdeka! Tiap­tiap kali kita berj umpa satu sama lain, pekikkanlah pekik “merdeka!”

Tatkala aku mengadakan perjalanan ke Tanah Suci beberapa pekan yang lalu, aku telah diminta oleh khalayak Indonesia di kota Singapura untuk mengadakan amanat terhadap kepada mereka. Ketahuilah, bahwa di Singapura itu berpuluh­puluh ribu orang Indonesia berdiam. Mereka bergembira, bahwa Presiden Republik­nya lewat di Singapura. Mereka mcnyambut kedatangan Presiden Republik Indonesia itu dengan gegap­gernpita, dan minta kepada Presiden Republik Indonesia Umtuk memberikan amanat kepadanya. Di dalam amanat itu beberapa kali dipekikkan pekik kepadamu salam “assalamu’alaikum!” Sebagai warga negara Republik Indonesia aku menyampaikan kepadamu “merdeka!”

Saudara­saudara aku pulang dari Bali, – beristirahat beberapa hari di sana. Diminta oleh Kongres Rakyat Jawa Timur untuk pada ini malam memberikan sedikit ceramah, wejangan, amanat, terutama sekali yang mengenai hal “apa sebab Negara Republik Indonesia berdasarkan kepada Pancasila?” Dan memberikan penerangan tentang hal Panca Dharma.

Tadi, tatkala aku baru masuk gedung Gubernuran ini, hati kurang puas? Apa sebab? Terlalu jauh jarak rakyat dengan Bung Karno. Maka oleh karena itulah saudara­ saudaraku dan anakanakku sekalian, maka Bapak minta kepada pimpinan agar supaya saudara­saudara diberi izin lebih dekat. Sebab saudara­saudara tahu isi hati Bapak ini, isi hati Presiden, isi hati Bung Karno, – kalau jauh daripada rakyat rasanya seperti siksaan. Tetapi kalau dekat dengan rakyat, rasanya laksana Kokrosono turun dari pertapaannya.

Permintaan Kongres Rakyat untuk memberikan amanat kepada saudara­saudara, Insya Allah saya kabulkan. Dan dengarkan benar, aku berpidato di sini bukan sekadar sebagai Soekarno. Bukan sekadar sebagai Bung Karno. Bukan sekadar sebagai Pak Karno. – Aku berpidato di sini sebagai Presiden Republik Indonesia! Sebagai Presiden Republik Indonesia aku diminta untuk memberi penjelasan tentang Pancasila. Apa sebabnya negara Republik Indonesia didasarkan atas Pancasila?

Dan diminta memberi penjelasan akan Panca Dharma, sebagai yang telah kuanjurkan dengan resmi pula di dalam pidato Presiden Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus yang lalu. Dan pcrmintaan itu, Insya Allah kukabulkan pula sebagai Presiden Republik lndonesiau justru oleh karena pada saat sekarang ini saya sebagai Presiden Republik Indonesia, maka dengan gembira dan senang hati saya memenuhi permintaan wltuk memberi penjelasan “merdeka”.

Apa lacur? Sesudah Bapak meneruskan perjalanan ke Bangkok, ke Rangoon, ke New Delhi, Karachi, ke Bagdad, ke Mesir, ke Negara Saudi Arabia. – sesudah Bapak meninggalkan kota Singapura, geger pers imperialisme Singapura, saudarasaudara. Mereka berkata: “Presiden Sukarno kurang ajar”. Presiden Sukarno menjalankan ill­ behaviour katanya. I11­behaviour itu artinya tidak tahu kesopanan. Apa sebab pers imperialisme mengatakan Bapak menjalankan ill­behaviour, kurang ajar? Kata mereka, toh tahu Singapura ini bukan negeri merdeka? Toh tahu, bahwa di sini masih di dalam kekuasaan asing, kok memekikkan pekik “merdeka”?

Tatkala Bapak kembali dari Tanah Suci, singgah lagi di Singapura, – Bapak dikeroyok oleh korenponden­koresponden dan wartawan­wartawan. Mereka menanyakan kepada Bapak: “Tahukah Presiden, bahwa tatkala Presiden meninggalkan kota Singapura di dalam perjalanan ke Mesir dan Tanah Suci, Presiden dituduh “kurang ajar, kurang sopan, ill­behaviour, oleh karena Presiden memekikkan pekik merdeka dan mengajarkan kepada bangsa Indonesia di sini memekikkan pekik merdeka? “Apa jawab Paduka Yang Mulia atas tuduhan itu?”



Bapak menjawab: “Jikalau orang Indonesia berjumpa dengan orang Indonesia, warga negara Republik Indonesia, berjumpa dengan warga negara Republik Indonesia, – pendek kata jikalau orang Indonesia bertemu dengan orang Indonesia, selalu me­ mekikkan pekik “merdeka”! Jangankan di sorga, di dalarn nerakapun!”

Nah saudara­saudara dan anak­anakku sekalian. jangan lupa akan pekik merdeka itu. Gcgap­gempitakan tiap­tiap kali pekik merdeka itu. Apalagi sebagai Bapak katakan tadi dalam fase revolusi nasional kita yang belum selesai. Dus kuulangi lagi, sebagai manusia yang beragama Islam aku menyampaikan kepadamu salam “assalamu’alaikum!” Sebagai warga negara Republik Indonesia aku menyampaikan kepadamu “merdeka!”

Saudara­saudara aku pulang dari Bali, – beristirahat beberapa hari di sana. Diminta oleh Kongres Rakyat Jawa Timur untuk pada ini malam memberikan sedikit ceramah, wejangan, amanat, terutama sekali yang mengenai hal “apa sebab Negara Republik Indonesia berdasarkan kepada Pancasila?” Dan memberikan penerangan tentang hal Panca Dharma.

Tadi, tatkala aku baru masuk gedung Gubernuran ini, hati kurang puas? Apa sebab? Terlalu jauh jarak rakyat dengan Bung Karno. Maka oleh karena itulah saudara­ saudaraku dan anakanakku sekalian, maka Bapak minta kepada pimpinan agar supaya saudara­saudara diberi izin lebih dekat. Sebab saudara­saudara tahu isi hati Bapak ini, isi hati Presiden, isi hati Bung Karno, – kalau jauh daripada rakyat rasanya seperti siksaan. Tetapi kalau dekat dengan rakyat, rasanya laksana Kokrosono turun dari pertapaannya.

Permintaan Kongres Rakyat untuk memberikan amanat kepada saudara­saudara, Insya Allah saya kabulkan. Dan dengarkan benar, aku berpidato di sini bukan sekadar sebagai Soekarno. Bukan sekadar sebagai Bung Karno. Bukan sekadar sebagai Pak Karno. – Aku berpidato di sini sebagai Presiden Republik Indonesia! Sebagai Presiden Republik Indonesia aku diminta untuk memberi penjelasan tentang Pancasila. Apa sebabnya negara Republik Indonesia didasarkan atas Pancasila?

Dan diminta memberi penjelasan akan Panca Dharma, sebagai yang telah kuanjurkan dengan resmi pula di dalam pidato Presiden Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus vang lalu. Dan permintaan itu. Insya Allah kukabulkan pula sebagai Presiden Republik Indonesia, justru oleh karena pada saat sekarang ini saya sebagai Presiden Republik Indonesia, maka dengan gembira dan senang hati saya memenuhi permintaan untuk memberi penjelasan tentang Pancasila.

Apa sebab? Tak lain dan tak bukan ialah oleh karena aku ini Presiden Republik Indonesia disumpah atas Undang­Undang Dasar kita. Saya tadi berkata, bahwa saya memenuhi perminta­an Kongres Rakyat Jawa Timur dengan penuh kesenangan hati, ialah oleh karena saya ini sebagai Presiden Republik disumpah atas dasar Undang­Undang Dasar kita. Disumpah harus setia kepada Undang­Undang Dasar kita. Di dalam Undang­Undang Dasar kita, dicantumkan satu Mukaddimah, kata pendahuluan. Dan di dalam kata pendahuluan itu dengan tegas disebutkan Pancasila. “Ketuhanan Yang Maha Esa, Kebangsaan Indonesia yang bulat, Perikemanusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial”. Malahan bukan satu kali ini Pancasila itu disebutkan di dalam Undang­Undang Dasar kita. Sejak kita di dalam tahun 1945 telah berkemas­kemas untuk menjadi satu bangsa yang merdeka, sejak itu kita telah mengalami empat kali naskah.

Sebelum mengadakan Proklamasi 17 Agustus, sudah ada satu naskah. Kemudian pada 17
Agustus satu naskah lagi. Kemudian tatkala RIS dibentuk satu naskah lagi. Kemudian sesudah itu tatkala kita kembali kepada zaman Republik Indonesia Kesatuan satu naskah lagi. Empat kali naskah saudara­saudara. Dan di dalam keempat naskah itu dengan tegas disebutkan Pancasila.

Pertama tatkala kita di dalam zaman Jepang, kita telah berkemas­kemas di dalam tahun 1945 itu untuk menjadi bangsa yang merdeka. Pada waktu itu telah disusunlah satu naskah yang dinarnakan “Charter Jakarta”. Di dalam Jakarta Charter itu telah disebutkan dengan tegas lima azas yang hendak kita pakai sebagai pegangan untuk negara vang akan datang. “Ketuhanan Yang Maha Esa, Kebangsaan, Perikemanusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial”.
Demikian pula tatkala kita telah memproklamirkan kemerdekaan kita pada 17 Agustus 1945, dengan tegas pula keesokan harinya saudara­saudara kukatakan Undang­Undang Dasar yang kita pakai ini, yaitu Undang­Undang Dasar yang kita rencanakan pada waktu caman.lepang di bawah ancaman bayonet Jepang, kita rencanakan satu Undang­Undang Dasar daripada Negara Republik Indonesia yang kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Dan di dalam Undang­Undang Dasar itu dengan tegas dikatakan Pancasila: “Ketuhanan Yang Maha Esa, Kebangsaan, Perikemanusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial”.

Tatkala berhubung dengan jalannya politik, Negara republik Indonesia Serikat dibentuk (RIS), pada waktu itu dibuatlah Undang­Undang Dasar RIS. Dan di dalam Mukaddimah Undang­Undang Dasar RIS ini disebutkan lagi dengan tegas Pancasila.

Kita tidak senang akan federal­federalan. Segenap rakyat memprotes akan adanya susunan federal ini. Delapan bulan susunan federal ini. Delapan bulan susunan RIS berdiri – hancur lebur RIS, berdirilah Negara Republik Indonesia Indonesia Kesatuan. Dan Undang­tlndang Dasar yang dipakai RIS ini diubah lagi menjadi Undang­Undang Dasar Sementara daripada Negara Republik Indonesia Kesatuan. Tetapi tidak diubah isi Mukaddimah yang mengandung Pancasila.

Jadi dengan tegas saudara­saudara, – jelas! Empat kali di dalam sepuluh tahun ini kita melewati empat naskah. Tiap­tiap naskah menyebutkan Pancasila. Dan tatkala aku dengan karunia Allah s.w.t. dinobatkan menjadi Presiden, aku disumpah. Dan isi sumpah itu antara lain ialah setia kepada Undang­Undang Dasar. Maka oleh karena itulah saudara­saudara, rasa sebagai kewajiban jikalau diminta oleh sesuatu grolongan akan keterangan tentang Pancasila. – mcmcnuhi pcrmintaan itu. Dan pada ini malam dengan mengucap suka­syukur ke hadirat Allah s.w.t. aku berdiri di hadapan saudara­saudara. Berhadap­hadapan muka dengan kaurn buruh, dengan pegawai. rakyat jelata, dengan pihak Angkatan Laut Republik Indonesia dan pihak Tentara, dengan pihak Mobrig, pihak Polisi, Pihak Perintis, dengan Pemuda, dengan Pemudi, – berdiri di hadapan saudara­ saudara dan anakanak sekalian, yang telah datang membanjiri lapangan yang besar ini Iaksana air hujan, – aku mengucap banyak terima kasih kepadamu. Dan Insya Allah saudara­saudara aku akan terangkan kepadamu tentang apa sebab Negara Republik didasarkan atas dasar Pancasila.

Saudara­saudara,

Ada yang berkata Pancasila ini hanya sementara!
Yah jikalau diambil di dalam arti itu, memang Pancasila adalah sementara. Tetapi bukan saja Pancasila adalah sementara, bahkan misalnya ketentuan di dalam Undang­Undang Dasar kita, bahwa Sang Merah Putih, bendera kita, – itupun sementara! Segala Undang­ Undang Dasar kita sekarang ini adalah sementara.

Tidakkah tadi telah kukatakan, bahwa Undang­Undang Dasar yang kita pakai sekarang ini, malahan disebutkan Undang­Undang Dasar Sementara daripada Negara Republik Indonesia? Apa sebab sementara? Yah oleh karena akhirnya nanti yang akan menentukan segala sesuatu ialah konstituante. Maka itu Saudarasaudara kita akan mengadakan pernilihan umurn 2 kali. Pertama pada tanggal 29 September nanti, Insya Allah s.w.t. untuk memilih DPR.

Kemudian pada tanggal 15 Desember untuk memilih Konstituantcadalah Badan Pembentuk Undang­Undang Dasar. t JndanuUndang Dasar yang tetap. Konstituante adalah pembentuk konstitusi. Konstitusi berarti Undang­Undang Dasar. Undang­Undang Dasar tetap bagi Negara Republik Indonesia, vang sampai sekarang ini segala­galanya masih sementara. Tetapi saudara­saudara, jikalau ditanya kepadaku “apa yang berisi kalbu Bapak ini akan permohonan kepada Allah s.w.t.?”

Terus terang aku berkata, jikalau saudara­saudara membelah dada Bung Karno ini, permohonanku kepada Allah s.w.t. ialah saudara­saudara bisa membaca di dalam dada Bung Karno memohon kepada Allah s.w.t. supaya Negara Republik Indonesia tetap berdasarkan Pancasila.

Yah benar, bahwa segala sesuatunya adalah sementara. Tetapi aku berkata, bahwa Sang Merah Putih adalah sementara, adalah bendera Republik Indonesia­pun sementara. Dan jikalau nanti konstituante bersidang, Insya Allah s.w.t. saudara­saudaraku, siang dan malam Bapak akan memohon kepada Allah s.w.t. agar supaya konstituante tetap menetapkan Bendera Sang Merah Putih sebagai bendera Negara republik Indonesia.
Aku minta kepadamu sekalian, janganlah memperdebatkan Sang Merah Putih ini. Jangan ada satu pihak yang mengusulkan warna lain sebagai bendera Republik Indonesia.

Tahukah saudara­saudara, bahwa warna Merah Putih ini bukan buatan Republik Indonesia? Bukan buatan kita dari zaman pergerakan nasional. Apa lagi bukan buatan Bung Karno, bukan buatan Bung Hatta! Enam ribu tahun sudah kita mengenal akan warna Merah Putih ini. Bukan seribu tahun. bukan dua ribu tahun. bukaii tiga ribu tahun, bukan empat ribu tahun, bukan lima ribu tahun! – Enam ribu tahun kita telah mengenal warna Merah Putih!

Tatkala di sini belum ada agama Kristen, belum ada agama Islanl, belum ada agama Hindu, bangsa Indonesia telah mengagungkan warna Merah Putih. Pada waktu itu kita belum mengenai Tuhan dalam cara mcngcnal sebagai sckarang ini. Pada waktu itu vang kita sembah adalah Matahari dan Bulan. Pada waktu itu kita hanya mengira, bahwa yang memberi hidup itu Matahari.

Siang Matahari – malam Bulan. Matahari merah – Bulan putih. Pada waktu itu kita telah mengagungkan warna Merah Putih. Kemudian bertambah kecerdasan kita. Kita lebih dalam menyelami akan hidup di dalam alam ini.

Kita memperhatikan segala sesuatu di dalam alam ini dan kita melihat – O, alam ini ada yang hidup bergerak, ada yang tidak bergerak. Ada manusia dan binatang, makhluk­ makhluk yang bergerak. Ada tumbuh­tumbuhan yang tidak bisa bergerak. “Manusia dan binatang itu darahnya merah. Tumbuh­tumbuhan darahnya putih”. Getih – Getah.

Coba dengarkan hampir sama dua perkataan ini: Getih – Getah.
Cuma i diganti dengan a Dulu kita mengagungkan Matahari dan Bulan yang di dalarn alam Hindu dinamakan Surya Candra. Kemudian kita mengagungkan Getih­Getah. Merah­Putih. Saudara­saudara, itu adalah fase kedua.

Fase ketiga, manusia mengerti akan kejadian manusia.

Mengerti, bahwa kejadian manusia ini adalah daripada perhubungan laki dan perempuan, perempuan dan laki. Orang mengerti perempuan adalah merah, laki adalah putih.

Dan itulah sebabnya maka kita turun­temurun mengagung­kan Merah Putih. Apa yang dinamakan “gula­kelapa”, meng­agungkan bubur bang putih. Itulah sebabnya maka kita kemudian tatkala kita, mempunyai Negara­Negara setelah mempunyai kerajaan­kera­ jaan, memakai warna Merah Putih itu sebagai bendera Negara. Tatkala kita mempunyai kerajaan Singosari, Merah Putih telah berkibar terus dirampas oleh imperialisme asing. Tetapi di dalam dada kita tetap hidup kecintaan kepada Merah Putih.

Dan tatkala kita mengadakan pergerakan nasional sejak tahun 1908, dengan lahirnya Budi Utomo dan diikuti oleh Serikat Islam, oleh NIP (National lndische Party), oleh ISDP, oleh PKI. oleh Sarikat Rakyat, oleh PPPK, oleh PBI, oleh Parindra, dan lain­lain, maka rakyat Indonesia tetap mencintai Merah Putih sebagai warna benderanya.

Dan tatkala kita pada tanggal 17 Agustus 1945 memproklamirkan kemerdekaan itu dengan resmi kita menyatakan Sang Merah Putih adalah bendera kemerdekaan kita.

Itu semua jika dikatakan sementara, yaaah sementara! Sebab konstituante belum bersidang. Konstituante mau merubah warna ini??? Lho, kalau menurut haknya, boleh saja. Sebab konstituante itu adalah kekuasaan kita yang tertinggi. Penyusun, pembentuk Konstitusi. Jadi kalau konstituante misalnya hendak menentukan warna Bendera Republik Indonesia bukan Merah – Putih – yaah mau dikatakan apa?

Tetapi Bapak berkata, Bapak memohon kepada Allah s.w.t. agar supaya warna merah­putih tetap menjadi warna Bendera Negara Republik Indonesia.

Kembali kepada Pancasila. Jika dikatakan sementara, yaaaaaa sementara!

Lagi­lagi Bapak ini berkata Allah s.w.t., Allah s.w.t. – Dan Bapakpun bersyukur ke hadirat Allah s.w.t., bahwa cita­cita Bapak yang sudah bertahun­tahun untuk naik Haji dikabulkan oleh Allah s.w.t. Lagi­lagi Allah s.w.t.

Saudara­saudara, jikalau aku meninggal dunia nanti – ini hanya Tuhan yang mengetahui, dan tidak bisa dielakkan semua orang – jikalau ditanya oleh Malaikat: “Hai Soekarno, tatkala engkau hidup di dunia, engkau telah mengerjakan beberapa pekerjaan. Pekerjaan apa yang paling engkau cintai? Pekerjaan apa yang paling engkau kagumi? Pekerjaan apa yang engkau paling ucapkan syukur kepada Allah s.w.t.?”

Moga­moga saudara­saudara aku bisa menjawab. ­ya bisa menjawab demikian atau tidaknya itupun tergantung dari pada Allah s.w.t.: “Tatkala aku hidup di dunia ini, aku telah ikut membentuk Negara republik Indonesia. Aku telah ikut membentuk satu wadah bagi masyarakat Indonesia”.

Sebagai sering kukatakan saudara­saudara, negara adalah wadah. Jikalau diberi karunia oleh Allah s.w.t. mengerjakan pekerjaan satu ini saja, Allahu’akbar – aku akan berterima kasih setinggi langit. Yaitu untuk pekerjaan ini saja, ikut membentuk wadah. Wadahnya, wadahnya saja yang bernama Negara ini. Di dalam wadah ini adalah masyarakat. Wadah yang dinamakan negara ini adalah wadah untuk masyarakat.

Membentuk wadah adalah lebih mudah daripada mem­bentuk masyarakat.
Membentuk wadah adalah bisa dijalankan di dalam satu hari sebenarnya, – wadah yang bernama Negara itu.

Tidakkah saudara­saudara dari sejarah dunia kadang­kadang mendengar, bahwa oleh suatu konferensi kecil sekonyong­konyong diputuskan dibentuk Negara ini, dibentuk Negara itu. Misalnya dahulu sesudah peperangan dunia yang pertama, tidakkah Negara Cekoslovakia sekadar dengan coretan pena dari suatu konferensi kecil. Membentuk negara gampang! Dulu di sini juga pernah dibentuk Negara Indonesia Timur, Negara Pasundan, hanya dengan decreet Van Mook saudara­saudara! Tetapi coba membentuk masyarakat, susah!

Membentuk masyarakat, kita harus bekerja siang dan malam, bertahun­tahun, berpuluh­puluh tahun, kadang­kadang berwinduwindu, berabad­abad. Masyarakat apapun tidak gampang dibentuknya. Itu meminta pekerjaan kita terus­menerus. Baik masyarakat Islam, maupun masyarakat Kristen, maupun masyarakat Sosialis. Bukan bisa dibentuk dengan satu dekret saudara­saudara, dengan satu tulisan. dengan satu unjau napas manusia. Memhentuk masyarakat makan waktu! Yah aku bermohon kepada Tuhan, dibolehkanlah hendaknya ikut membentuk masyarakat pula.

Masyarakat di dalam wadah itu. Tetapi aku telah syukur seribu syukur kepada Tuhan, jikalau aku nanti bisa menjawab kepada Malaikat itu, bahwa hidupku di dunia ini ialah antara lain­lain telah ikut membentuk wadah ini saja. Membentuk wadah yang bernama Negara dan wadah ini buat satu masyarakat yang besar. Walaupun rapat ini lebih daripada satu juta manusia saudara­saudara, wadah itu bukan kok cuma buat satu juta manusia ini saja. Tidak! Wadah yang bernama Negara, Negara yang bernama Republik Indonesia itu adalah wadah untuk masyarakat Indonesia yang 80 juta, dari Sabang sampai ke Merauke! Dan masyarakat Indonesia ini adalah beraneka agama, beraneka adat­istiadat, beraneka suku. Bertahun tahun aku ikut memikirkan ini. Nanti jikalau Allah s.w.t. memberikan kemerdekaan kepada kita, – dulu berpikiran yang demikianlah Bapak, ­jikalau Negara Republik Indonesia telah bisa berdiri, negara ini agar supaya selamat, agar bisa menjadi wadah bagi segenap rakyat Indonesia yang 80 juta, Negara harus didasarkan apa?

Tatkala aku masih berumur 25 tahun, aku telah memikirkan hal ini. Tatkala aku aktif di dalam pergerakan, aku lebih­lebih lagi memikirkan hal ini. Tatkala di dalam zaman Jepang, tetapi oleh karena tekad kita sendiri, usaha kita sendiri, pembantingan tulang sendiri, korbanan kita sendiri, – tatkala fajar telah menyingsing, lebih­lebih lagi kupikirkan hal ini. Wadah ini hendaknya jangan retak. Wadah ini hendaknya utuh sekuat­kuatnya. Wadah untuk segenap rakyat Indonesia, dari Sabang sampai ke Merauke yang beraneka agama, beraneka suku beraneka adat­istiadat.

Sekarang aku menjadi Presiden Republik Indonesia adalah karunia Tuhan. Aku tidak menyesal, bahwa aku dulu bertahun­tahun memikirkan hal ini. Dan aku tidak menyesal. bahwa aku telah memformulir Pancasila. Apa sebab? Barangkali lebih daripada siapapun di Indonesia ini, aku mengetahui akan keanekaaan bangsa Indonesia ini. Sebagai Presiden Republik Indonesia aku berkesempatan sering­sering untuk melawat ke daerah­daerah. Sering­sering aku naik kapal udara. Malahan jikalau di dalam kapal udara aku sering­sering, katakanlah main gila dengan pilot. Pilot terbang tinggi, aku tanya kepadanya:
“Saudara pilot, berapa tinggi?” “12.000 kaki Paduka Yang Mulia”. “Kurang tinggi, naikkan lagi”.
” 13.000 kaki”.
“Hahaa kurang tinggi Bung!”. “14.000 kaki”. “Kurang tinggi!”.
” 15.000 kaki”. “Kurang tinggi!”. “16.000 kaki!”. “Kurang tinggi!”. “17.000 kaki!” “Kurang tinggi!”.
“Sudah tidak bisa lagi. Paduka Yang Mulia. Kapal udara kita sudah mencapai plafon”.
Plafon itu ialah tempat yang setinggi­tingginya bagi kapal udara itu. Aku terbang dari Barat ke Timur, dari Timur ke Barat. Dari Utara ke Selatan, dari Selatan ke Utara. Aku melihat tanah air kita. Allahu’akbar, cantiknya bukan main! Dan bukan saja cantik, sehingga benarlah apa yang diucapkan oleh Multatuli di dalam kitab “Max Havelaar”, bahwa Indonesia ini adalah demikian cantiknya, sehingga ia sebutkan “Insulinde de zich daar slingert om den evenaar als een gordel van smaragd”. Indonesia yang laksana ikat pinggang terbuat daripada zamrud berlilit­lilit sekeliling khatulistiwa! Indahnva demikian. Ya memang saudara­saudara. jikalau engkau terbang 17.000 kaki di angkasa dan melihat ke bawah. kelihatan betul­betul Indonesia ini adalah sebagai ikat pinggang yang terbuat daripada zamrud, melilit mengelilingi khatulistiwa. Berpuluh­puluh, beratus­ratus, beribu ribu pulau saudara melihat. Dan tiap­tiap pulau itu berwarnawarna.

Ada yang hijau kehijauan, ada yang kuning kekuningan. Indah permai tanah air kita ini saudara­saudara. Lebih daripada 3000 pulau. Bahkan kalau dihitung dengan yang kecil­ kecil, – 10.000 pulau­pulau.

Terbanglah kapal udaraku datang di daerah Aceh. Rakyat Aceh menyambut kedatangan Presiden, rakyat beragama Islam. Terbang lagi kapal udaraku, turun di Siborong­borong daerah Batak. Rakyat Batak menyambut dengan gegap­gempita kedatangan Presiden Republik Indonesia, – agamanya Kristen.

Terbang lagi saudara­saudara dekat Sibolga, – agama Kristen. Terbang lagi ke Selatan ke Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan, – agama Islam. Demikianlah pula di Jawa. Kebanyakan beragama Islam, di sana Kristen, sini Kristen. Terbang lagi kapal udaraku ke Banjarmasin, – kebanyakan Islam. Tetapi di Banjarmasin itu aku berjumpa utusan­utusan dari suku Dayak saudara saudara. Malahan di Samarinda aku berjumpa dengan utusan utusan, bahkan rakyat Dayak yang 9 hari 9 malam turun dari gunung­gunung untuk menjumpai Presiden Republik Indonesia. Mereka tidak beragama Islam, tetapi beragama agamanya sendiri.

Aku ber­ibu orang Bali. Ida Ayu Nyoman Rai nama Ibuku. Malahaii aku jikalau beristirahat di Tampaksiring, desa kecil di Bali, rakyat Bali menyebutkan aku, kecuali Bung Karno, Pak Karno – menyebutkan Ida Bagus Made Karno. Aku melihat masyarakat Bali yang dua juta manusia itu beragama Hindu – Bali. Di Singaraja ada masyarakat Islam sedikit. Di Denpasar ada masyarakat Islam sedikit. Terbang lagi kapal udaraku ke Sumbawa – Islam. Terbang kapal udaraku ke Sumbawa – Kristen Protcstan. Tcrhang kapal udaraku ke Florcs ­pulau di mana aku dulu diinternir. – rakyat Flores kenal akaii Bung Karno, Bung Karno kenal akaii rakyat Flores – sebagian besar rakyat Flores itu beragama Rooms Katholik (Kristen). Terbang lagi kapal udaraku ke Timor – sebagian besar rakyatnya Protestan Kristen. Terbang lagi kapal udaraku ke Ambon – Kristen.

Sekitar Ambon itu adalah masyarakat kristen. Terbang lagi ke Utara ke Ternate – Islam di Ternate. Dari Ternate trbang ke Manado, Minahasa sekelingnya, – Kristen, ke Selatan Makasar – Islam. Di Tengah Sulawesi, Toraja – sebagian besar Kristen, sebagian belum beragama.

Benar apa tidak perkataanku, saudara­saudara, bahwa bangsa Indonesia adalah beraneka agama? Demikian pula aku berkata, bahwa bangsa Indonesia ini beraneka adat­istiadat, beraneka suku pula. Beraneka suku, beraneka agarna, beraneka adat­istiadat. Ini yang menjadi pikiran Bapak berpuluh­puluh tahun.

Sebelum kita memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, aku ingin bernama­sama dengan pejuang­pejuang lain membentuk satu wadah. Wadah yang bernama Negara. Wadah untuk masyarakat, bagi masyarakat yang beraneka agama, beraneka suku, beraneka adat­istiadat!

Aku ingin membentuk satu wadah yang tidak retak, yang utuh, yang mau menerima semua masyarakat Indonesia yang beraneka­aneka itu dan yang masyarakat Indonesia mau duduk pula di dalamnya, yang diterima oleh saudara­saudara yang beragama Islam, yang beragama Kristen Katolik, yang beragama Kristen Protestan, yang beragama Hindu­Bali, dan oleh saudarasaudara yang beragama lain, – yang bisa diterima oleh saudarasaudara yang adat­istiadatnya begitu, dan yang bisa diterima sekalian saudara.

Aku tidak mencipta Pancasila saudara­saudara. Sebab sesuatu dasar negara ciptaan tidak akan tahan lama. Ini adalah satu ajaran yang dari mula­nulanya kupegang teguh. Jikalau engkau hendak mengadakan dasar untuk sesuatu negara, dasar untuk sesuatu wadah – jangan bikin sendiri, jangan anggit sendiri, jangan karang sendiri. Selamilah sedalam­ dalamnya lautan daripada sejarah! Gali sedalam­dalamnya bumi daripada sejarah!

Aku melihat masyarakat Indonesia, sejarah rakyat Indonesia. Dan aku menggali lima mutiara yang terbenam di dalamnya, yang tadinya lima mutiara itu cernerlang tetapi oleh karena penjajahan asing yang 350 tahun lamanya, terbenam kembali di dalam bumi bangsa Indonesia ini.
Aku oleh sekolah Tinggi Universitas Gajah Mada di­anugerahi titel Doktor Honoris (titel Doktor kehormatan) dalam ilmu ketatanegaraan. Tatkala promotor Prof. Mr. Notonegoro mengucapkan pidatonya pada upacara pemberian titel Doktor Honoris Causa, pada waktu itu beliau berkata: “Saudara Soekarno, kami menghadiahkan kepada saudara titel kehormatan Doktor Honoris Causa dalam ilmu ketatanegaraan, oleh karena saudara pencipta Pancasila”.

Di dalam jawaban itu aku berkata: “Dengan terharu aku menerima titel Doktor Honoris Causa yang dihadiahkan kepadaku oleh Universitas Gajah Mada, tetapi aku tolak dengan tegas ucapan Profesor Notonegoro, bahwa aku adalah pencipta Pancasila”.

Aku bukan pencipta Pancasila. Pancasila diciptakan oleh bangsa Indonesia sendiri. Aku hanya menggali Pancasila daripada burninya bangsa Indonesia. Pancasila terbenam di dalarn bumi bangsa Indonesia 350 tahun lamanya, ­aku gali kembali dan aku sembahkan Pancasila ini di atas persada bangsa Indonesia kembali.

Tidak benar saudara­saudara, bahwa kita sebelum ada Bung Karno, sebelum ada Republik Indonesia – sebenarnya telah mengenal akan – Pancasila? Tidakkah benar kita dari dahulu mula, telah mengenal Tuhan. – hidup di dalam alarn Ketuhanan Yang Maha Esa? Kita dahulu pernah mengUu­aikan hal ini panjang lebar. Bukan anggitan baru. bukan ­karangan baru. Tetapi sudah sejak dari dahulu mula bangsa Indonesia adalah satu bangsa yang cinta kepada Ketuhanan. Yah kemudian Ketuhanannya itu disempurnakan oleh agarna­agarna. Disempurnakan oleh Agama Islam, – disempurnakan oleh agama Kristen. Tetapi dari dahulu mula kita memang adalah satu bangsa yang berketuhanan. Demikian pula, tidakkah benar bahwa kita ini dari dahulu mula telah cinta kepada Tanah Air dan Bangsa? IJidup di dalam alam kebangsaan? Dan bukan saja kebangsaan kecil, tetapi kebangsaan Indonesia. Hai engkau pemuda­pemuda, pernah engkau mendengar nama kerajaan Mataram? Kerajaan Mataram yang membuat candi­candi Prambanan, candi Borobudur? Kerajaan Mataram ke­2 di waktu itu di bawah pimpinan Sultan Agung Hanjokrokusurno? Tahukah saudara­saudara akan arti perkataan Mataram? Jikalau tidak tahu, maka aku akan berkata kepadamu “Mataram berarti Ibu”. Masih ada perkmaan perkataan Mataram itu misalnya perkataan Mutter di dalam bahasa Jerman – Ibu. Mother dalam bahasa Inggeris – Ibu. Moeder dalam bahasa Belanda – Ibu. Mater dalam bahasa Latin – Ibu. Mataram berarti Ibu.

Demikian kita cinta kepada Bangsa dan Tanah air dari zaman dulu mula, sehingga negeri kita, negara kita, kita putuskan Mataram.

Rasa kebangsaan, bukan rasa baru bagi kita. Mungkinkah kita mempunyai kerajaan seperti kerajaan Majapahit dan Sriwijaya dahulu, jikalau kita tidak mempunyai rasa kebangsa­an yang berkobar­kobar di dalam dada kita?
Yaah kata pemimpin besar yang bernama Gajah Mada, Sang Maha Patih Ihino Gajah Mada. Benar kita mempunyai pemimpin besar itu. Benar pemimpin besar itu telah bersumpah satu kali “tidak akan makan kclapa. jikalau bclum segenap kepulauan Indonesia tergabung di dalam satu negara yang besar”. Benar kita mempunyai pemimpin yang besar itu. Tetapi apakah pemimpin inikah yang sebenarnya pencipta daripada kesatuan kerajaan Majapahit? Tidak!

Pernimpin besar sekadar adalah sambungan lidah daripada rasanya rakyat jelata. Tidak ada satu orang pemimpin besar, walaupun besarnya bagaimanapun juga, – bisa lnembentuk satu negara yang sebesar Majapahit ialah satu negara yang besar, yang wilayahnya dari Sabang sampai ke Merauke, – Bahkan sampai ke daerah Philipina sekarang.

Katakanlah Bung Karno pemimpin besar atau pemimpin kecil – pernimpin gurem atau pemimpin yang bagaimanapun, – Tetapi jikalau ada orang yang berkata: “Bung Karno yang mengadakan negara Republik Indonesia”. Tidak benar! ! ! Janganpun satu Soekarno sepuluh Soekarno, seratus Soekarno, seribu Soekarno – tidak akan bisa membentuk negara Republik Indonesia, jikalau segenap rakyat jelata Republik Indonesia tidak ber­ juang mati­matian!”

Kemerdekaan adalah hasil daripada perjuangan segenap rakyat. Maka itu pula menjadi pikiran Bapak, Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat­istiadat, – tetapi milik kita semua dari Sabang sampai ke Merauke! Perjuangan untuk merebut kemerdekaan ini dijalan­kan oleh semua bangsa Indonesia.

Aku melihat di dalam daerah­daerah yang kukunjungi, di manapwn aku datang, aku melihat Taman­taman Pahlawan. Bukan saja di bagian­bagian yang beragama Islam, tetapi juga di bagianbagian yang beragama Kristen. Aku melihat Taman­taman Pahlawan di mana­mana. Di sini di Surabaya, pada tanggal 10 November tahun 1945 ­siapa yang berjuang di sini?
Scgcnap pcmuda­pcmudi. kiai. kawli buruh. kaum tani, segenap rakyat Surabaya berjuang dengan tiada perbedaan agama, adat­istiadat. oulongan atau suku.

Rasa kebangsaan kita sudah dari sejak zaman dahulu.. demikian pula rasa perikemanusiaan. Kita bangsa Indonesia adalah satu­satunya bangsa di dalam sejarah dunia ini satu­satunya bangsa yang tidak pernah menjajah bangsa lain adalah bangsa Indonesia. Aku tentang orang­orang ahli sejarah yang bisa membuktikan bahwa bangsa Indonesia pernah menjajah kepada bangsa lain.

Apa sebab? Oleh karena bangsa Indonesia berdiri di atas dasar perikemanusiaan sejak dari zaman dahulu. Dari zaman Hindu, kita sudah mengenal perikemanusiaan. Disempurnakan lagi rasa perikemanusiaan itu dengan agama­agama yang kemudian.
Di dalam zaman Hindu kita telah mengenal ucapan: “Tattvamasi”. Apa artinya Tattvamasi? Tat tvam asi berarti “Aku adalah dia, dia adalah aku”. Dia pakai, aku ikut pakai. Dia senang, aku ikut senang. Aku senang, dia ikut senang. Aku sakit, dia ikut sakit. Tattvamasi – perikemanusiaan.

Kemudian datanglah di sini agama Islam, mengajarkan kepada perikemanusiaan pula. Malah lebih sempurna. Diajarkan kepada kita akan ajaran­ajaran fardhu kifayah, kewajiban­kewajiban yang dipikulkan kepada seluruh masyarakat. Misalnya jikalau ada orang mati di kampungmu, dan kalau orang mati itu tidak terkubur, – siapa yang dianggap berdosa, siapa yang dikatakan berdosa, siapa yang akan mendapat siksaan daripada dosa itu? Bukan sekadar kerabat famili daripada sang mati itu. Tidak! Segenap masyarakat di situ ikut tanggung jawab.

Demikian pula bagi agama Kristen. Tidakkah di dalam agama Kristen itu kita diajarkan cinta kepada Tuhan, lebih daripada segala sesuatu dan cinta kepada sesama manusia, sama dengan cinta kepada diri kita sendiri? “Hebs U naasten lief gelijk U zelve. God boven alles”. Jadi rasa kemanusiaan, bukan barang baru bagi kita.

Demikianlah pula rasa kedaulatan rakyat. Apa sebab pergerakan Nasional Indonesia laksana api mencetus dan meledak­kan segenap rasa kebangsaan Indonesia? Oleh karena pergerak­an nasional Indonesia itu berdiri di atas dasar kedaulatan rakyat. Engkau ikut berjuang! Dari dahulu mula kita gandrung kepada kedaulatan rakyat. Apa sebab engkau ikut berjuang? Oleh karena engkau merasa memperjuangkan dasar kedaulatan rakyat.

Bangsa Indonesia dari dahulu mula telah mengenal kedaulatan rakyat, hidup di dalam alam kedaulatan rakyat. Demokrasi bukan barang baru bagi kita. Demikian pula cita­cita keadilan sosial. – bukan cita­cita baru bagi kita. Jangan kira, bahwa cita­cita keadilan sosial itu buatan Bung Karno, Bung Hatta, atau komunis, atau kaum serikat rakyat, kaum sosialis. Tidak!

Dari dahulu mula bangsa Indonesia ini cinta kepada keadilan sosial. Kalau zaman dahulu, kalau ada pemberontakan, – saudara­saudara berhadapan dengan pemerintah Belanda, – semboyannya selalu “Ratu Adil” Ratu adil para marta. Sama rata, sama rasa. Adil, adil, itulah yang menjadi gandrungnya jiwa bangsa Indonesia. Bukan saja di dalam alam pergerakan sekarang atau di dalam pergerakan alam nasional tetapi dari dulu mula. Maka oleh karena itulah aku berkata, baik Ketuhanan Yang Maha Esa maupun Kebangsaan, maupun Perikemanusia­an, maupun Kedaulatan Rakyat, maupun Keadilan Sosial, bukan aku yang menciptakan. Aku sekadar menggali sila­sila itu. Dan sila­sila ini aku persembahkan kembali kepada bangsa Indonesia untuk dipakai sebagai dasar daripada wadah yang berisi masyarakat yang beraneka agama, beraneka suku, beraneka adat­istiadat. Inilah saudarasaudara, maka di dalam sidang Dokuritu Zyunbi Tyousakai di dalarn zaman Jepang, pertengah­an tahun 1945 telah diadakan satu sidang daripada pemimpin­pemimpin Indonesia, dan di dalam sidang Dokuritu Zyunbi Tyoosakai itu dibicarakan hal­hal ini.

Pertama apakah negara yang akan datang itu harus berdasar satu falsafah ataukah tidak? Semua berkata “harus berdasarkan satu falsafah”. Harus memakai dasar. Sebab kita melihat di dalam sejarah Dunia ini banyak sekali negara­negara yang tidak berdasar,lantas berbuat jahat, oleh karena tidak mempunyai ancer­ancer hidup bagi rakyatnya.

Kita melihat negara­negara yang besar. Tetapi oleh karena tidak mempunyai ancer­ ancer hidup, tidak mempunyai dasar hidup dengan sedih kita melihat bahwa negara­ negara itu berbuat sesuatu yang sebenarnya melanggar kepada kedaulatan dan perikemanusiaan.

Di dalam sidang Dokuritzu Zunbi Tyousakai itu memutus­kan akan memberi dasar kepada negara. Akhirnya saya mem­persembahkan Pancasila. Dan syukur Alhamdulillah sidang menerimanya. Dan tatkala kita memproklamirkan kemerdekaankemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, dasar ini yang dipakai. Dan aku berkata oleh karena dasar ini – segenap rakyat Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke menyambut­nya proklamasi itu dengan gegap­gempita. Disambut oleh kaum alim ulama, disambut oleh kaum buruh, disambut oleh kaum tani, disambut oleh saudara­saudara yang berdiam di Aceh, disambut oleh saudara­saudara yang berdiam di Minangkabau, disambut oleh saudara­saudara yang berdiam di Flores, disambut oleh saudara­saudara yang berdiam di Kalimantan, disambut oleh saudara­saudara yang berdiam di Bali, disambut oleh segenap rakyat Indonesia.

Aku baru pulang dari Bali – tahukah penyambutan rakyat Bali yang beragama Hindu Bali itu terhadap kepada proklamasi kemerdekaan Indonesia? Rakyat Bali, hidup di dalam alam perjuangan yang hebat. Ada satu tempat kecil di Bali, misalnya namanva Tabanan. Yah kalau dibandingkan dengan di sini

Tabanan itu barangkali hanya sebesar Waru, atau sebesar Tulangan, sebesar Prambon. Di Tabanan itu saja di dalam tahun 1951 diresmikan satu Taman Pahlawan, vang di dalam Taman Pahlawan itu 680 jenazah.

Demikian pula di ternpat yang lain­lain. Memang rakyat Bali menyambut proklamasi ini dengan gegap­gempita. Agamanya adalah Hindu – Bali. Tetapi mereka menyambut proklamasi ini ialah oleh karena proklamasi ini didasarkan kepada Pancasila. Pendek kata tatkala usul saya kepada Dokuritzu Zunbi Tyousakai itu diterima oleh sidang dan kemudian dipakai sebagai dasar negara Republik Indonesia, tak putus­putus aku mengucapkan syukur kepada Tuhan. Inilah dasar yang menjamin keutuhan bangsa kita yang beraneka agama, yang beraneka adat­istiadat, yang beraneka suku.

Maka oleh karena itu, jikalau dikatakan Pancasila adalah sementara? Ya Konstituante nanti yang akan menentukan. Tetapi aku memohon kepada Tuhan agar supaya Negara Republik Indonesia tetap berdasarkan Pancasila!

Aku hidup gandrung dalam suasana persatuan. Aku masuk di dalam gelanggang perjuangan, tatkala aku berumur 18 tahun. Dulu sebelum 18 tahun tidak boleh masuk partai politik. Umur 18 tahun aku kintil (ikut) Rama Tjokroaminoto. Ikut berjuang. Sejak daripada itu tetap aku gandrung kepada persatuan, sekali lagi persatuan. Perkataan gandrung ini keluar dari mulutku dari tahun 1918 sampai sekarang. 37 tahun lamanya aku gandrung persatuan. Memang aku gandrung persatuan. Oleh karena aku mengetahui, bahwa hanya persatuanlah bisa mencapai kemerdekaan. Hanya persatuan bisa menetapkan kemerdekaan. Hanya persatuan inilah yang bisa membawa kita kepada cita­cita kita sekalian!

Di dalam kongres Rakyat Indonesia kuanjurkan persatuan ini. Di dalam Kongres Partai Nasional Indonesia di Randwlg, 10 bulan yang lalu – kuanjurkan pcrsatuan ini. Oleh karcna aku mclihat gejala­gejala perpecahan makin lama makin meningkat, makin lama makin menampak. Bersatulah kembali saudara­saudara, bersatulah rakyat Indonesia – bersatu kembali di dalam persatuan nasional revolusioner yang sebulat­bulatnya. Sebab kita duduk di dalam alam revolusi nasional. Kalau kita mengadakan persatuan yang bukan persatuan nasional revolusioner tidak bisa kita menyelesaikan revolusi nasional kita itu. Aku hidup di dalam alam persatuan ini, aku gandrung kepada persatuan ini, – maka oleh karena itulah, jikalau aku sekarang sebagai Presiden Republik Indonesia berbicara di hadapan saudara­saudara, resmi sebagai Presiden Republik Indonesia yang membentangkan kepada saudara­saudara dasar negara, yang akan sumpah di atasnya sebagai Presiden.

Di samping itu aku bergembira hati diberi kesempatan oleh Allah s.w.t. sebagai warga negara biasa membicarakan hal dasardasar negara ini.

Di dalam pidato 17 Agustus 1955 aku menganjurkan pula Panca Dharma. Apa inti dari Panca Dharma? Tak lain dan tak bukan ialah inti itu keluar daripada j iwa Pancasila. Tidakkah Panca Dharma lima? Pertama – persatuan. Kedua – yang merusak persatuan yaitu yang mengacau­ngacau keamanan ini harus kita lenyapkan. Nomor tiga – pembangunan, pembangun­an, pembangunan! Keempat – Irian Barat. Kelima – pemilihan umum. Pernilihan umum pada intinya ialah persatuan. Segenap bangsa Indonesia yang 80 juta ini, yang sudah dewasa 43 juta, ­diminta mengeluarkan suaranya dengan cara bebas ­dalam alam suasana persaudaraan. Mari kita sekarang dengan tenang dalam suasana persaudaraan bangsa mengemukakan suara kita. Jiwa daripada pemilihan umum adalah persatuan!

Pembangunan juga tidak bisa selesai zonder persatuan. Dapatkah engkau membangun ekonomi Indonesia dengan tidak pcrsatuan? Tahukah engkau bahwa Indonesia ini ekonomi yang sebenarnya satu Unit. satu kesatuan yang besar. – yang jikalau satu daerah dikeluarkan – kocar­kacir ekonomi kita itu. Dan kita menyusun satu ekonomi yang bukan ekonorni kolonial, ekonomi imperialis? Tidak! Di dalam Undang­Undang Dasar kita sebutkan dengan tegas bukan ekonomi untuk membikin gendutnya perutnya satu dua orang. Tetapi ekonomi yang membikin sejahteranya segenap rakyat. Inilah dasar, inti jiwa daripada Undang­Undang Dasar kita, meskipun Undang­Undang Dasar yang dinamakan sementara.

Satu ekonomi nasional yang menjamin semua bangsa Indonesia, hidup sejahtera, layak, makmur. Bukan ekonomi yang membikin gendut orang satu tetapi ekonomi sama rata sama rasa.

Satu ekonomi yang mengandung jaminan kehidupan yang baik buat semua, di dalam suasana kesatuan dan persatuan.

Pengacau keamanan bahwa itu memecah kepada persatuan merugikan kepada rakyat –perlukan masih kuuraikan? Tidak!

Irian Barat. Sebab apa saudara­saudara menuntut Irian Barat? Mungkin saudara beragama Islam? Di sana rakyatnya bukan Islam lho! Kenapa saudara menuntut Irian Barat supaya masuk di dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia? Saudara beragama Islam mereka tidak beragama Islam! Saudara akan menjawab: “Aku menuntut Irian Barat kembali ke dalam wilayah Republik Indonesia oleh karena Irian Barat adalah sebagian daripada tanah air Indonesia, oleh karena suku Irian Barat adalah sebagian daripada bangsa Indonesia seluruhnya.

Lho kenapa saudara menuntut Irian Barat kembali kepada kekuasaan Republik?

Saudara akan menjawab: “Aku menuntut Irian Barat kembali ke dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia oleh karena bangsa kita adalah satu dari Sabang sampai ke Merauke”.

Jadi dasarnva ialah persatuan bangsa. Maka oleh karena itu. ­aku sckali lagi mcnganjurkan kcpada segenap rakyat Indonesia, terutama sekali di hadapan pemilihan umum ini. – ingat kepada persatuan. Ingat kepada persatuan! Bangsa Indonesia adalah selalu kukatakan bukan bangsa yang kecil jumlahnya 80 juta. Lebih besar daripada bangsa yang lain­lainnya.
Aku telah, alhamdulillah, melawat ke Mesir, ke Arabia, ke India, ke Karachi, ke Pakistan, ke Sailan, ke Rangoon dan sebagainya, kecual1 ke Eropa dan Amerika, – aku melihat bangsa kita potensinya hebat­hebat. Tidak ada satu tanah air daripada sesuatu bangsa yang lebih hebat daripada tanah air Indonesia.

Tidak ada satu bangsa yang lebih – seragam, sebenarnya jikalau mau, – daripada bangsa Indonesia. Tidak ada satu tanah air yang lebih indah daripada bangsa Indonesia. Jumlahnyapun tidak sedikit 80 juta. Lebih daripada bangsa yang lain!

Yaah kita kalah dengan Amerika Serikat jumlah bangsa kita ini. Kalah dengan USSR (Sovyet Unie) jumlahnya bangsa kita ini. Kalah dengan Tiongkok jumlah bangsa kita. Kalah dengan India jumlah bangsa kita. Tetapi di samping yang empat ini saudara­ saudara, tidak ada lagi yang mengalahkan kita. Ada yang memadai kita jumlah rakyatnya yaitu Jepang tetapi yang lain­lain, sernuanya kurang daripada kita.

Mesir yang Bapak tempo hari kunjungi dan yang Bapak melihat semangatnya meluap­ luap, berapa jumlah mereka? Mereka yang Bapak melihat mereka membangun. Membuat damdam yang besar, membuat jalan­jalan yang besar. – Jumlah mereka berapa? Yang mereka membangun pula Tentara, Tentara yang hebat. Yang mereka membangun angkatan Udara yang aku melihat pesawat­pesawat udara yang terbang di angkasa saudarasaudara, – berapa jumlah rakyat Saudi Arabia? 6 juta – kita 80 juta!

Aku datang di Bangkok, disambut oleh P.M.  Phibul Songoram. Tahukah engkau rakyat Thailand jumlahnya? 20 juta. kita – 80 juta. Kita bangsa yang 80 juta bukan bangsa yang kecil. kalau kita bersatu kataku berkali­kali, – jikalau kita 80 juta bersatu padu di dalam kesatuan nasional revolusioner. tidak ada satu cita­cita yang tidak terlaksana oleh kita.

Sekian sajalah, amanat Bapak.

⏩Download Pidato Bung Karno - Apa Sebab Revolusi Kita Berdasar Pancasila Versi PDF ⏪
(Google Drive)