Friday, July 26, 2019

Kegiatan 3 Mengidentifikasi Struktur Teks Cerita Sejarah Mangir - Pramoedya Ananta Toer

Soal dan jawaban dari Kegiatan 3, Mengidentifikasi Struktur Teks Cerita Sejarah Mangir. Soal tersebut terdapat pada buku pelajaran Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA/SMK?MA/MAK Kurikulum 2013 halaman 41-53.

Agar lebih jelas, silakan perhatikan soal dn jawabannya di bawah ini.



Soal:

Berdasarkan kutipan novel mangir lakukan kegiatan pengidentifikasian certa ke dalam tabel di bawah ini.

Jawab:

1. Kutipan: 

Di bawah bulan malam ini, tiada setitik pun awan di langit. Dan bulan telah terbit bersamaan dengan tenggelamnya matari. Dengan cepat ia naik dan kaki langit, mengunjungi segala dan semua yang tersentuh cahayanya. Juga hutan, juga laut, juga hewan dan manusia. Langit jernih, bersih, dan terang. Di atas bumi Jawa lain lagi keadaannya gelisah, resah, seakan-akan manusia tak membutuhkan ketenteraman lagi.

1. Abad Keenam Belas Masehi

Bahkan juga laut Jawa di bawah bulan purnama sidhi itu gelisah. Ombak-ombak besar bergulung-gulung memanjang terputus, menggunung, melandai, mengejajari pesisir pulau Jawa. Setiap puncak ombak dan riak, bahkan juga busanya yang bertebaran seperti serakan mutiara-semua-dikuningi oleh cahaya bulan. Angin meniup tenang. Ombak-ombak makin menggila.

Sebuah kapal peronda pantai meluncur dengan kecepatan tinggi dalam cuaca angin damai itu. Badannya yang panjang langsing, dengan haluan dan buritan meruncing, timbul-tenggelam di antara ombak-ombak purnama yang menggila. Layar kemudi di haluan menggelembung membikin tunas menerjang serong gunung-gunung air itu-serong ke barat laut. Barisan dayung pada dinding kapal berkayuh berirama seperti kaki-kaki pada ular naga. Layarnya yang terbuat pilinan kapas dan benang sutra, mengilat seperti emas, kuning dan menyilaukan.
- Struktur: Orientasi
- Keterangan: Berisi penjelasan tentang latar waktu dan dan situasi cerita yang akan diceritakan yakni di Laut Jawa kira-kira pada abad keenam belas masehi.

2. Kutipan: Sang Patih berhenti di tengah-tengah pendodop, dekat dengan damarsewu, menegur, " Dingin-dingin begini anakanda datang. Pasti ada sesuatu keluarbiasaan.Mendekat sni, anakanda." Dan Patragading berjalan mendekat dengan lututnya sambil mengangkat sembah, merebahkan diri pada kaki Sang Patih. "Ampuni patik, membangunkan Paduka pada malam buta beini kabar duka, Paduka. Balatentara Demak di bawah Adipati Kudus memasuki Jepara tanpa diduga-duga.
Struktur: Pengungkapan Peristiwa
Keterangan: Pada bagian ini penulis menyajikan terjadinya peristiwa yaitu balatentara Demak di bawah adipati kudus memasuki Jepara tanpa diduga-duga.


3.Kutipan: " Bagaimana Bupati Jepara?" Tewas enggan menyerah Paduka, Patragading mengangkat sembah. " Sisa balatentara Tuban mundur ke timur kota. Jepara penuh dengan balatentara Demak. Lebih dari tiga ribu orang."
Begitulah kata warta, "Pada meneruskan dengan hati-hati matanya tertuju pada Boris," Semua bangunan batu di atas wilayah kota, gapura, arca, pagoda, kuil,candi akan dibongkar. Setiap batu berukir telah dijatuhi hukuman buang ke laut tinggal hanya pengumumannya."
Struktur: Puncak Konflik
Keterangan: Pada bagian ini terjadi peristiwa besar yaitu terbunuhnya Bupati Jepara dan rusaknya bangunan-bangunan di Jepara.

4. Kutipan: Seluruh Tuban kembali dalam ketenangan dan kedamaian-kota dan pedalaman. Sang Patih Tuban mendiang telah digantikan oleh Kala Cuwil, pemimpin pasukan gajah. Nama barunya WIrabumi. Panggilannya yang lengkap: Gusti Patih Tuban Kala CUwil Sang Wirabumi. Dan sebagai patih ia tetap memimpin pasukan ajah.

Pasar kota dan bandar ramai kembali seperti sediakala, Lalu lintas laut, kecuali atas angin pulih kembali.
Struktur: Resolusi
Keterangan: Pada bagian ini terjadi penyelesaian konflik. Tuban dibangun kembali oleh Demak dengan menjadikan WIrabumi sebagai bupati.


5.Kutipan: Sang Adipati telah menjatuhkan titah: kapal-kapal Tuban mendapat perkenan untuk berlabuh dan berdagan di Malaka ataupun Pasai
Struktur: Koda
Keterangan: Akhir cerita ditutup dengan diizinkannya kapal Tuban berlabuh dan berdagang di Malaka.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon