Selasa, 03 Oktober 2017

Surat-Surat Islam dari Endeh


DARI IR. SUKARNO KEPADA T. A. HASSAN,

GURU “PERSATUAN ISLAM”, BANDUNG



No. 1.  Endeh, 1 Desember 1934.



Assalamu’alaikum,

Jikalau saudara-saudara memperkenankan, saya minta saudara mengasih hadiah kepada saya buku-buku yang tersebut di bawah ini:



1 Pengajaran Shalat, 1 Utusan Wahabi, 1 Al-Muchtar,

1 Debat Talqien, 1 Al-Burhan compleet, I Al-Jawahir.



Kemudian daripada itu, jika saudara-saudara ada sedia, saya minta sebuah risalah yang membicarakan soal “sayid”. Ini buat saya bandingkan dengan alasan-alasan saya sendiri tentang hal ini. Walaupun Islam zaman sekarang menghadapi soal-soal yang beribu-ribu kali lebih benar dan lebih sulit daripada soal “sayid” itu, maka tokh menurut keyakinan saya, salah satu kecelaan Islam zaman sekarang ini, ialah pengeramatan manusia yang menghampiri kemusyrikan itu. Alasan-alasan kaum “sayid”, misalnya mereka punya brosyur “Bukti kebenaran”, saya sudah baca, tetapi tak bisa meyakinkan saya. Tersesatlah orang yang mengira, bahwa Islam mengenal suatu “aristokrasi Islam”. Tiada satu agama yang menghendaki kesama-rataan lebih daripada Islam. Pengeramatan manusia itu, adalah salah satu sebab yang mematahkan jiwanya sesuatu agama dan umat, oleh karena pengeramatan manusia itu, melanggar tauhid. Kalau tauhid rapuh, datanglah kebencanaan!



Sebelum dan sesudahnya terima itu buku-buku, yang saya tunggu-tunggu benar, saya mengucap beribu-ribu terima kasih.



Wassalam,
SUKARNO





No. 2.  Endeh, 25 Januari 1935.



Assalamu’alaikum,



Kiriman buku-buku gratis beserta kartupos, telah saya terima

dengan girang hati dan terima kasih yang tiada hingga.

Saya menjadi termenung sebentar, karena merasa tak selayaknya dilimpahi kebaikan hati saudara yang sedemikian itu.

Ya Allah Yang Mahamurah!



Pada ini hari semua buku dari anggitan saudara yang ada pada saya, sudah habis saya baca. Saya ingin sekali membaca lain-lain buah pena saudara. Dan ingin pula membaca “Buchari” dan “Muslim” yang sudah tersalin dalam bahasa Indonesia atau Inggetis? Saya perlu kepada Buchari atau Muslim itu, karena di situlah dihimpunkan Hadits-hadits yang dinamakan sahih. Padahal saya membaca keterangan dari salah seorang pengenal Islam bangsa Inggeris,

bahwa di Buchari-pun masih terselip hadits-hadits yang lemah. Diapun menerangkan, bahwa kemunduran Islam, kekunoan Islam, kemesuman Islam, ketakhayulan orang Islam, banyaklah karena hadits-hadits lemah itu, – yang sering lebih “laku” dari ayat-ayat Qur’an. Saya kira anggapan ini adalah benar. Berapa besarkah kebencanaan yang telah datang pada umat Islam dari misalnya “hadits” yang mengatakan, bahwa “dunia” bagi orang Serani, akhirat bagi orang “Muslim” atau “hadits”, bahwa satu jam bertafakur adalah lebih baik daripada beribadat satu tahun, atau “hadits”, bahwa orang-orang Mukmin harus lembek dan menurut seperti onta yang telah ditusuk hidungnya!



Dan adakah Persatuan Islam sedia sambungannya Al Burhan I-II? Pengetahuan saya tentang “wet” masih kurang banyak. Pengetahuan “wet” ini, saya ingin sekali perluaskan; sebab di dalam praktek sehari-hari, umat Islam sama sekali dikuasai oleh “wet” itu, sehingga “wet” men­desak kepada “Dien”.



Haraplah sampaikan saya punya compliment kepada tuan Natsir atas ia punya tulisan-tulisan yang memakai bahasa Belanda. Antara lain is punya inleiding di dalam “Komt tot het gebed” adalah menarik hati.



Wassalam dan silaturrahmi,



SUKARNO



No. 3.  Endeh, 26 Maret 1935.



Assalamu’alaikum w.w.,



Tuan punya kiriman postpakket telah tiba di tangan saya seminggu yang lalu. Karena terpaksa menunggu kapal, baru ini harilah saya bisa menyampaikan kepada tuan terima kasih kami laki-isteri serta anak. Biji jambu mede menjadi “gayeman” seisi rumah; di Endeh ada juga jambu mede, tapi varieteit “liar”, rasanya tak nyaman. Maklum, belum ada orang menanam varieteit yang baik. Oleh karena itu, maka jambu mede itu menjadikan pesta. Saya punya mulut sendiri tak berhenti-­henti mengunyah!



Buku-buku yang tuan kirimkan itu segera saya baca. Terutama “Soal-Jawab” adalah suatu kumpulan jawahir-jawahir. Banyak yang tahadinya kurang terang, kini lebih terang. Alhamdulillah!



Sayang belum ada Buchari dan Muslim yang bisa baca. Betulkah belum ada Buchari Inggeris? Saya pentingkan sekali mempelajari Hadits, oleh karena menurut keyakinan saya yang sedalam-dalamnya, – sebagai yang sudah saya tuliskan sedikit di dalam salah satu Surat saya yang ter­dahulu dunia Islam menjadi mundur oleh karena banyak orang “jalankan” hadits yang dlaif dan palsu. Karena hadits-hadits yang demikian itulah, maka agama Islam menjadi diliputi oleh kabut-kabut kekolotan, ketakhayulan, bid’ah-bid’ah, anti-rasionalisme, dll. Padahal tak ada agama yang lebih

r a s i o n a l dan simplistis daripada Islam. Saya ada sangkaan keras bahwa rantai-taqlid yang merantaikan Rokh dan Semangat Islam dan yang merantaikan pintu-pintunya Bab-el-ijtihad, antara lain-lain, ialah hasilnya hadits-hadits yang dlaif dan palsu itu. Kekolotan dan kekonservatifan-pun dari situ datangnya. Karena itu, adalah saya punja keyakinan yang dalam, bahwa kita tak boleh menga­sihkan harga yang mutlak kepada hadits. Walaupun menurut penyelidikan ia bernama SHAHIEH. Human reports (berita yang datang dari manusia) tak bisa absolut; absolut hanyalah kalam Ilahi. Benar atau tidakkah pendapatan saya ini? Di dalam daftar buku, saya baca tuan ada sedia “Jawahirul-Buchari”. Kalau tuan tiada keberatan, saya minta buku itu, niscaya disitu banyak pengetahuan pula yang saya bisa ambil.



Dan kalau tuan tak keberatan pula, saya minta “Keterangan Hadits Mi’raj”. Sebab, saya mau bandingkan dengan saya punya pendapat sendiri, dan dengan pendapat Essad Bey, yang di dalam salah satu bukunya ada mengasih gambaran tentang kejadian ini. Menurut keyakinan saya, tak cukuplah orang menafsirkan mi’raj itu dengan “percaya” sahayja, yakni dengan mengecualikan keterangan “akal”. Padahal keterangan yang rasionalistis di sini ada. Siapa kenal sedikit ilmu psychologi dan para-psychologi, ia bisa mengasih keterangan yang rasionalistis itu. Kenapa sesuatu hal harus di-“gaib-gaibkan”, kalau akal sedia menerangkannya?



Saya ada keinginan pesan dari Eropah, kalau Allah mengabulkannya dan saya punya mbakyu suka membantu uang-harganya, bukunya Ameer Alie “The Spirit of Islam”.

Baikkah buku ini atau tidal? Dan di mana uitgever-nya?



Than, kebaikan budi tuan kepada saya, – hanya sayalah yang merasai betul harganya saya kembalikan kepada Tuhan.

Alhamdulillah, – segala pudjian kepadaNya. Dalam pada itu, kepada tuan 1.000 kali terima kasih.



Wassalam,



SUKARNO



No. 4.  Endeh, 17 Juli 1935.



Assalamu’alaikum,



Telah lama saya tidak kirim surat kepada saudara. Sudahkah saudara terima saya punya surat yang akhir, kurang lebih dua bulan yang lalu?



Khabar Endeh: Sehat wal’afiat, Alhamdulillah. Saya masih terus study Islam, tetapi sayang kekurangan perpustakaan, semua buku-buku yang ada pada saya sudah habis “termakan”. Maklum, pekerjaan saya sehari-hari, sesudah cabut-cabut rumput di

kebun, dan di sampingnya “mengobrol” dengan anak-bini buat menggembirakan mereka, ialah mem­baca sahaja. Berganti-ganti membaca buku-buku ilmu pengetahuan sosial dengan buku-buku yang mengenai Islam. Yang belakangan ini, dari tangannya orang Islam sendiri di Indonesia atau di luar Indonesia, dan dari tangannya kaum ilmu-pengetahuan yang bukan Islam.



Di Endeh sendiri tak ada seorangpun yang bisa saya tanyai, karena semuanya memang kurang pengetahuan (seperti biasa) dan kolot-bin-kolot. Semuanya hanya mentaqlid sahaja zonder tahu sendiri apa-apa yang pokok; ada satu-dua berpengetahuan sedikit, – di Endeh ada seorang “sayid” yang sedikit terpelajar, – tetapi tak dapat memuaskan saya, karena pengetahuannya tak keluar sedikitpun dari “kitab fiqh”: mati ­hidup dengan kitab-fiqh itu, dus – kolot, dependent, unfree 2), taqlid. Qur’an dan Api-Islam seakan-akan mati, karena kitab-fiqh itulah yang mereka jadikan pedoman-hidup, bukan kalam Ilahi sendiri. Ya, kalau, difikirkan dalam-dalam, maka kitab-fiqh itulah yang seakan-akan ikut menjadi algojo “Rokh” dan “Semangat” Islam. Bisakah, sebagai misal, suatu masyarakat menjadi “hidup”, menjadi b e r n y a w a, kalau masjarakat itu hanya dialaskan sahaja kepada “Wetboek van Strafrecht” dan “Burgerlijk Wetboek”, kepada artikel ini dan artikel itu? Masjarakat yang demikian itu akan segeralah menjadi masyarakat “mati”, masyarakat “bangkai”, masyarakat yang – bukan masyarakat. Sebab tan­danya masyarakat, ialah justru ia punya hidup, ia punya nyawa.

Begitu pula, maka dunia Islam sekarang ini setengah mati, tiada Rokh, tiada nyawa, tiada Api, karena umat Islam sama sekali tenggelam di­ dalam “kitab-fiqh” itu, tidak terbang seperti burung garuda di atas udara­-udaranya Agama yang Hidup.



Nah, – begitulah keadaan saya di Endeh; mau menambah pengetahuan, tetapi kurang petunjuk. Pulang balik kepada buku-buku yang ada sahaja. Padahal buku-buku yang tertulis oleh autoriteit-autoriteit ke-Islam-anpun, masih ada yang mengandung beberapa fatsal yang belum memuaskan hati saya, kadang-kadang malahan tertolak oleh hati dan ingatan saya. Kalau di negeri ramai, tentu lebih gampang melebarkan saya punya sayap …



1)         Dependent = “mengikut sahaja”.

2)         Unfree = “tidak merdeka fikirannya”.



Alhamdulillah, antara kawan-kawan saya di Endeh, sudah banyak

yang mulai luntur kekolotan dan kedumudannya. Kini mereka sudah mulai sehaluan dengan kita dan tak mau mengambing sahaja lagi kepada ke­kolotannya, ketakhayulannya, kejumudannya, kehadramautannya, kemesum­annya, kemusyrikannya (karena percaya kepada azimat-azimat, tangkal­-tangkal dan “keramat-keramat”) kaum kuno, dan mulailah terbuka hatinya buat “Agama yang hidup”.



Mereka ingin baca buku-buku Persatuan Islam, tapi karena malaise, mereka minta pada saya mendatangkan buku-buku itu dengan separoh harga. Saya sekarang minta keridlaan tuan mengirim buku-buku yang saya sebutkan di bawah ini dengan separoh harga l) … haraplah tuan ingat­kan, bahwa yang mau baca buku-buku itu, ialah orang-orang korban malaise, dan bahwa mereka itu pengikut-pengikut baru dari haluan muda. Alangkah baiknya, kalau mereka itu bisa sembuh sama sekali dari kekolot­an dan kekonservatifan mereka itu; Endeh barangkali bukan masyarakat’ mesum sebagai sekarang!



Bagi saya sendiri, saya minta kepada saudara hadiah satu dua buku apa sahaja yang bisa menambah pengetahuan saya, – terserah kepada saudara buku apa.



Terima kasih lebih dahulu, dari saya dan dari kawan-kawan di Endeh. Sampaikanlah salam saya kepada saudara-saudara yang lain.



Wassalam,

SUKARNO



No. 5.  Endeh, 15 September 1935.



Assalamu’alaikum,



Paket pos telah kami ambil dari kantor pos, kami di Endeh semua membilang banyak terima kasih atas potongan 50% yang tuan idzinkan itu. Kawan-kawan semua bergirang, dan mereka ada maksud lain kali akan memesan buku-buku lagi, insya Allah.



Saya sendiripun tak kurang-kurang berterima kasih, mendapat

hadiah lagi beberapa brochures. Isinya brochure Congress Palestina itu, tak mam­pu menangkap “centre need of Islam”2).

Di Palestina orang tak lepas dari



conventionalism”, – tak cukup kemampuan buat mengadakan perobahan yang radikal di dalam aliran yang nyata membawa Islam kepada kemundur­an.



1)     Buat tidak menjemukan pembaca, nama-nama buku itu kami tidak sertakan di sini.

2)    Artinya: Kepentingan Islam yang terpenting.



Juga pimpinan kongres itu ada “ruwet”, orang seperti tidak tahu apa yang dirapatkan, bagaimana caranya tehnik kongres. Program kongres yang terang dan nyata rupanya tak ada. Orang tidak zakelijk2), dan saja kira di kongres itu, orang terlalu “meniup pantat satu sama lain”, – terlalu “Caressing each other”, terlalu “mekaar lekker maken”. Memang begitu­lah gambarnya dunia Islam sekarang ini: kurang Rokh yang nyata, kurang Tenaga yang Wujud, terlalu “bedak membedaki satu sama lain”, terlalu membanggakan sesuatu negeri Islam yang ada sedikit berkemajuan,- orang Islam biasanya sudah bangga kepada “Mesir” dan “Turki”! – terlalu mengutamakan pulasan-pulasan yang sebenarnya tiada tenaga!!!



Brochures yang lain-lain sedang saya baca, Insya Allah nanti akan saya ceriterakan kepada tuan saya punya pendapat tentang brochure-brochure itu. Terutama brochurenya tuan A. D. Hasnie saya perhatikan betul. Buat sekarang ini, sesudah saya baca brochure Hasnie itu secara sambil-lalu, maka bisalah sudah saya katakan,

bahwa cara pemerintahan Islam” yang diterangkan di situ itu, tidaklah memuaskan saya, karena kurang “up to date”. Begitukah hukum-kenegaraan Islam? Tuan A. D. Hasnie menerangkan, bahwa demokrasi parlementer itu, cita-cita Islam. Tetapi sudahkah demokrasi parlementer itu menyelamatkan dunia? Memang sudah satu anggapan-tua, bahwa demokrasi parlementer itu pun­caknya ideal cara-pemerintahan. Juga Moh. AR, di dalam ia punya tafsir Qur’an yang terkenal, mengatakan bahwa itulah idealnya Islam. Padahal ada  cara-pemerintahan yang 1 e b i h sempurna lagi, yang juga bisa dikatakan cocok dengan azas-azasnya Islam!



Brochure almarhum H. Fachroeddin akan berfaedah pula bagi saya, karena saya sendiripun banyak bertukaran fikiran dengan kaum pastoor di Endeh. Than tahu, bahwa pulau Flores itu ada “pulau missi” yang mereka sangat banggakan. Dan memang “pantas” mereka membanggakan mereka punya pekerjaan di Flores itu. Saya sendiri melihat, bagaimana mereka “bekerja mati-matian” buat mengembangkan mereka punya agama di Flores. Saya ada “respect” buat mereka punya kesukaan beker­ja itu. Kita banyak mencela missi, – tapi apakah yang kita kerjakan bagi menyebarkan agama Islam dan memperkokoh agama Islam? Bahwa missi mengembangkan roomskatholicisme, itu adalah mereka punya “hak”, yang kita tak boleh cela dan gerutui. Tapi “kita”, kenapa “kita” malas, kenapa “kita” teledor, kenapa “kita” tak mau kerja, kenapa “kita” tak mau giat? Kenapa misalnya di Flores tiada seorangpun muballigh Islam dari sesuatu perhimpunan Islam yang ternama (misalnya Muhammadiyah) buat mempropagandakan Islam di situ kepada orang kafir?

Missi di dalam beberapa tahun sahaja bisa mengkristenkan 250.000 orang kafir di Flores,- tapi berapa orang kafir yang bisa “dihela” oleh Islam di Flores itu? Kalau difikirkan, memang semua itu “salah kita sendiri”, bukan salah orang lain. Pantas Islam selamanya diperhinakan orang!



1)      Artinya: Tidak memegang kepada pokok-pembicaraan sahaja.

2)      Artinya: Rantainya adat-kebiasaan.



Kejadian di Bandung yang tuan beritakan, sebagian saya sudah tahu, sebagian belum. Misalnya, saya belum tahu, bahwa tuan punya anak telah dipanggil kembali ke tempat asalnya. Saya bisa menduga tuan punya duka­ cita, dan sayapun semakin insyaf, bahwa manusia punya hidup adalah sama sekali di dalam genggaman Ilahi.

Yah, kita harus tetap tawakkal, dan haraplah tuan suka sampaikan saya punya ajakan tawakkal itu kepada saudara-saudara yang lain-lain, yang juga tertimpa kesedihan.



Sampaikanlah salamku kepada semua.



Wassalam,



SUKARNO



Publisher “The Spirit of Islam” kini saya sudah tahu: Doran & Co., New York. Saya sudah dapat persanggupan ongkosnya dari saya punya mbakyu, dan sudah pesan buku itu. Saya ingin tahu pendapat Ameer AU, apakah yang menjadikan kekuatan Islam, dan apakah sebabnya “semangat kambing” sekarang ini. Cocokkah dengan pendapat saya, atau tidak?



No. 6.  Endeh, 25 Oktober 1935.



Assalamu’alaikum,



Sedikit khabar yang perlu saudara ketahui: hari Jum’at, malam Sabtu 11/12 Oktober j.b.l., saya punya ibu-mertua, yang mengikut saya ke tanah interniran, telah pulang ke rahmatullah. Suatu percobaan yang berat bagi saya dan saya punya isteri, yang, – alhamdulillah, kami pikul dengan tenang dan tawakkal dan ikhlas kepada Ilahi. Berkat bantuan Tuhan. Inggit tidak meneteskan air mata setetespun juga, begitu juga saya punya anak Ratna Juami. Yah, moga-moga Allah senantiasa me­ngeraskan apa yang masih lembek pada kami orang bertiga. Yang timah menjadi besi, yang besi menjadi baja, amien! Kesakitan ibu-mertua dan wafatnya, adalah menyebabkan saya belum bisa tulis surat yang pan­jang, maafkanlah! Sakitnja ibu-mertua hanja empat hari.



Wassalam,

SUKARNO

No. 7.  Endeh, 14 Desember 1936.



Assalamu’alaikum,



Kiriman “Al-Lisaan”, telah saya terima mengucap diperbanyak terima kasih kepada saudara. Terutama nomor ekstra perslah debat taqlid, adalah sangat menarik perhatian saya. Saya ada maksud Insya Allah kapan-kapan, akan menulis sesuatu artikel-pemandangan atas nomor ekstra taqlid itu, artikel yang mana nanti boleh saudara muatkan pula ke dalam “Al-Lisaan”. Sebab, cocok dengan anggapan tuan, soal taqlid inilah teramat maha-penting bagi kita kaum Islam umumnya.

Taqlid adalah salah satu sebab yang terbesar dari kemunduran Islam sekarang ini. Semenjak ada aturan taqlid, di situlah, kemunduran Islam cepat sekali. Tak hairan! Di mana genius” dirantai, di mana akal fikiran dite­rungku, di situlah datang kematian.



Saudara telah cukuplah keluarkan alasan-alasan dalil Qur’an dan Hadits. Saudara punya alasan-alasan itu, sangat sekali meyakinkan.



Tapi masih ada pula alasan-alasan lain yang menjadi vonnis atas aturan taqlid itu: alasan-alasannya “tarikh”, alasan-alasannya “sejarah”, alasan-alasannya “history”. Bila kita melihat jalannya sejarah Islam, maka tampaklah di situ akibatnya taqlid itu sebagai satu garis ke bawah, – garis decline -, sampai sekarang. Umumnya kita punya kyai-kyai dan kita punya ulama-ulama tak ada sedikitpun “feeling” kepada sejarah, ya, boleh saya katakan kebanyakan tak mengetahui, sedikitpun dari sejarah itu. Mereka punya minat hanya menuju kepada “agama chususi” saha­ja, dan dari agama khususi ini, terutama sekali bagian fiqh Sejarah, – apa lagi bagian “yang lebih dalam”, yakni yang mempelajari “kekuatan­-kekuatan-masyarakat” yang “menyebabkan” kemajuannya atau kemun­durannya sesuatu bangsa, – sejarah itu sama sekali tidak menarik mereka punya perhatian. Padahal, disini, di sinilah padang penyelidikan yang maha-maha-penting. Apa “sebab” mundur? Apa “sebab” bangsa ini di zaman ini begitu? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang maha-penting yang harus berputar terus-menerus di dalam kita punya ingatan, kalau kita mempelajari naik-turunnya sejarah itu.



Tetapi bagaimana kita punya kyai-kyai dan ulama-ulama? Tajwid tetapi pengetahuannya tentang sejarah umumnya “nihil”. Paling mujur mereka hanya mengetahui “Tarich Islam” sahaja, – dan inipun terambil dari buku-buku tarikh Islam yang kuno, yang tak dapat “tahan” ujiannya modern science, yakni tak dapat “tahan” ujiannya ilmu-pengetahuan modern!



Padahal justru ini sejarah yang mereka abaikan itu, justru ini persaksian sejarah yang mereka remehkan itu, adalah membuktikan dengan nyata dan dahsyat, bahwa dunia Islam adalah sangat mundur se­menjak muncul aturan taqlid. Bahwa dunia Islam adalah laksana bangkai yang hidup, semenjak ada anggapan, bahwa pintu-ijtihad sekarang termasuk tanah yang sangar. Bahwa dunia Islam adalah mati­geniusnya, semenjak ada anggapan, bahwa mustahil ada mujtahid yang bisa melebihi “imam yang empat”, jadi harus mentaqlid  sahaja kepada tiap-tiap kyai atau ulama dari sesuatu madzhab imam yang empat itu! Alangkah baiknya, kalau kita punya pemuka-pemuka agama melihat garis­ ke bawahnya sejarah semenjak ada taqlid-taqlidan itu, dan tidak hanya mati-hidup, bangun-tidur dengan kitab fiqh dan kitab parukunan sahaja!



Salam kepada saudara-saudara yang lain!

Wassalam,

SUKARNO



1) Genius = akal-fikiran.



Kaum kolot di Endeh, – di bawah anjuran beberapa orang Hadramaut –, belum tenteram juga membicarakan halnya saya tidak bikin “selamatan-tahlil” buat saya punya ibu-mertua yang bare wafat itu, mereka berkata, bahwa saya tidak ada kasihan dan cinta pada ibu-mertua itu. Biarlahl Mereka tak tahu-menahu, bahwa saya dan saya punya Wen, sedikitnya lima kali satu hari, memohonkan ampun bagi ibu-mertua itu kepada Allah. Moga-moga ibu-mertua diampuni dosanya dan diterima iman Islamnya. Moga-moga Allah melimpahkan rahmatNya dan berkatNya, yang ia, meski sudah begitu tua, tokh mengikut saya ke dalam kesunyiannya dunia­interniran!



Amien!





No. 8.  Endeh, 22 Pebruari 1936.



Assalamu’alaikum,



Belum juga saya bisa tulis artikel tentang nomor ekstra taqlid sebagaimana saya janjikan, karena repot “mereportir” sekolahnya

saya punya anak, dan karena – … di Endeh ada datang seorang guru-pesan­tren dari Jakarta golongan kolot, dan – kebetulan juga – seorang lagi golongan muda dari Banyuwangi, sehingga, walaupun mereka itu dua­-duanya datang di Endeh buat dagang, tokh saban malam mertamu di rumah saya. Sampai jauh-jauh-malam mereka soal-bersoal satu sama lain dan kadang-kadang udara Endeh menjadi naik temperature hingga hampir 100°1 Saya tertawa sahaja, – senang dapat melihat orang dari “dunia ramai”! – hanya menjaga sahaja jangan gampai udara itu terbakar sama sekali. Dan selamanya saya diminta menjadi hakim. Tak usah saya katakan pada tuan, bahwa kehakiman saya itu, sering membikin tercengangnya itu guru-pesantren, padahal seadil-adilnya menurut hukum!



Karena rupanya berhadapan dengan orang interniran politik, maka kawan muda itu bertanya: bagaimanakah siasahnya, supaya zaman keme­gahan Islam yang dulu-dulu itu bisa kembali? Saya punya jawab ada singkat: “Islam harus berani mengejar zaman.” Bukan seratus tahun, tetapi seribu tahun Islam ketinggalan zaman. Kalau Islam tidak cukup kemampuan buat “mengejar” seribu tahun itu, niscaya ia akan tetap hina dan mesum. Bukan kembali kepada Islam-gloryl) yang dulu, bukan kembali kepada “zaman chalifah”, tetapi lari ke muka, lari mengejar zaman, – itulah satu-satunya jalan buat menjadi gilang-gemilang kem­bali. Kenapa tokh kita selamanya dapat ajaran, bahwa kita harus meng­kopi “zaman chalifah” yang dulu-dulu? Sekarang tokh tahun 1936, dan bukan tahun 700 atau 800 atau 900? Masyarakat toch bukan satu gerobak yang boleh kita “kembalikan” semau-mau kita? Masyarakat minta maju, maju ke depan, maju ke muka, maju ke tingkat yang “kemudian”, dan tak mau disuruh “kembali”!



Kenapa kita musti kembali ke zaman “kebesaran Islam” yang dulu­-dulu? Hukum Syari’at? Lupakah kita, bahwa hukum Syari’at itu bukan hanya haram, makruh, sunah, dan fardlu sahaja? Lupakah kita, bahwa masih ada juga barang “mubah” atau “jaiz “? Alangkah baiknya, kalau umat Islam lebih ingat pula kepada apa yang mubah atau jaiz ini! Alangkah baiknya, kalau ia ingat, bahwa ia di dalam urusan dunia, di dalam urusan statesmanship, “boleh bergias, boleh berbid’ah, boleh mem­buang cara-cara dulu, boleh mengambil cara-cara baru, boleh ber-radio, boleh berkapal-udara, boleh berlistrik, boleh bermodern, boleh berhyper­hyper-modern,” asal tidak nyata dihukum haram atau makruh oleh Allah dan Rassul! Adalah satu perjoangan yang paling berfaedah bagi umat Islam, yakni perjoangan menentang

k e k o l o t a n. Kalau Islam sudah bisa berjoang mengalahkan kekolotan itu, barulah ia bisa lari-secepat­ kilat mengejar zaman yang seribu tahun jaraknya ke muka itu. Perjoangan menghantam orthodoxie ke belakang, mengejar zaman ke muka, – perjoangan inilah yang Kemal Ataturk maksudkan, tatkala ia berkata, bahwa “Islam tidak menyuruh orang duduk termenung sehari-hari di dalam mesjid memutarkan tashbih, tetapi Islam ialah  p e r j o a n g a n “. Islam is progress: Islam itu kemajuan!



1)       Artinya: Kemegahan Islam



Tindakan-tindakan ulilamri-ulilamri di zaman Islam-glory itu tidak­lah, dan tidak bolehlah, menjadi hukum bagi umat Islam yang tak boleh diubah atau ditambah lagi, tetapi hanyalah boleh kita pandang sebagai tingkat-tingkat perjalanannya sejarah, – merely as historic degrees.1)



Bilakah kita punya penganjur-penganjur Islam mengerti falsafatnya historic degrees ini, – membangunkan kecintaan membunuh segala “se­mangat-kurma” dan “semangat-sorban” yang mau mengikat Islam kepada zaman kuno ratusan tahun yang lalu, kecintaan berjoang mengejar zaman, kecintaan berkias dan berbid’ah di lapangan dunia sampai kepun­cak-puncaknya kemoderenan, kecintaan berjoang melawan segala se­suatu yang mau menekan umat Islam ke dalam kenistaan dan kehinaan?



Khabar Endeh: sehat-wal’afiat. Bagaimana di sini?



Wassalam,



SUKARNO





No. 9.         Endeh, 22 April 1936.



Assalamu’alaikum,



Than, postpakket yang pertama, sudah saya terima: postpakket yang kedua sudah datang pula di kantor pos, tetapi belum saya ambil, karena masih ada satu-dua kawan yang belum setor uang kepada saya, padahal saya sendiri di dalam keadaan “kering”, – sebagai biasa sehingga belum bisa menalanginya. Tapi dalam tempo tiga-empat hari lagi, niscayalah kawan-kawan semua sudah setor penuh.

Di dalam paket yang pertama itu, ada “ekstra” lagi dari tuan, yaitu biji jambu mede. Banyak terimakasih. Kami seisi rumah, itu hari pesta lagi makan biji jambu mede, seperti dulu. Juga saya membilang banyak terima kasih atas tuan punya hadiah buku serta pinjaman buku.



Khabar tentang berdirinya pesantren, sangat sekali menggembirakan hati saya. Kalau saya boleh memajukan sedikit usul: hendaklah ditam­bah banyaknya “pengetahuan Barat” yang hendak dikasihkan kepada murid-murid pesantren itu. Umumnya adalah sangat saya sesalkan, bahwa kita punya Islam-scholars 2) masih sangat sekali kurang pengetahuan modern-science3).



1)         Artinya: Melulu sebagai tingkat-tingkat perjalanan sejarah.

2)         Scholar = Orang yang berilmu.

3)         Pengetahuan modern.



Walau yang sudah bertitel “mujtahid” dan “ulama” sekalipun, banyak sekali yang masih mengecewakan pengetahuannya modern-science. Lihatlah misalnya kita punya majalah-majalah Islam: banyak sekali yang kurang kwaliteit. Dan jangan tanya lagi bagaimana halnya kita punya kyai-kyai muda I Saya tahu, tuan punya pesantren bukan universiteit, tapi alangkah baiknya kalau tokh western science di situ ditambah banyaknya. Demi Allah “Islam science” bukan hanya penge­tahuan Qur’an dan Hadits sahaja; “Islam science” adalah pengetahuan Qur’an dan Hadits plus pengetahuan umum! Orang tak dapat memahami betul Qur’an dan Hadits, kalau tak berpengetahuan umum. Walau tafsir­-tafsir Qur’an yang masyhurpun dari zaman dahulu,-  yang orang sudah kasih titel tafsir yang “keramat”, – seperti misalnya tafsir Al-Baghawi, tafsir Al-Baidlawi, tafsir Al-Mazhari dls.- masih bercacad sekali; cacad-cacad yang saya maksudkan ialah misalnya: bagaimanakah orang bisa mengerti betul-betul firman Tuhan, bahwa segala barang sesuatu itu dibikin olehNya “berjodo-jodoan”, kalau tak mengetahui biologi, tak mengetahui elektron, tak mengetahui positif dan negatif, tak mengetahui aksi dan reaksi? Bagaimanakah orang bisa mengerti firmanNya, bahwa “kamu melihat dan menyangka gunung-gunung itu barang keras, padahal semua itu berjalan selaku awan”, dan bahwa “sesungguhnya langit-langit itu asal-mulanya serupa zat yang bersatu, lalu kami pecah-pecah dan kami jadikan segala barang yang hidup daripada air”, – kalau tak mengetahui sedikit astronomy? Dan bagaimanakah mengerti Ayat-ayat yang meriwayatkan Iskandar Zulkarnain, kalau tak mengetahui sedikit history dan archaeology? Lihatlah itu blunder-blunder-Islaml) sebagai “Sultan Iskandar” atau “raja Fir’aun yang satu” atau “perang Badar yang mem­bawa kematiannya ribuan manusia hingga orang berenang di lautan darah”! Semuanya itu karena kurang penyelidikan history, kurang scientific feeling2).



1)         Blunder = kesalahan, kebodohan.

Artinya: Kurang cinta kepada penyelidikan 11= pengetahuan



Alangkah baiknya kalau tuan punya muballigh-muballigh nanti bermutu tinggi, seperti tuan M. Natsir, misalnya! Saya punya kyjakinan yang sedalam-dalamnya ialah, bahwa Islam di sini, – ya di seluruh dunia – , tak akan menjadi bersinar kembali kalau kita orang Islam masih mempunyai “sikap hidup” secara kuno sahaja, yang menolak tiap-tiap “ke-Barat-an” dan “kemoderenan”. Qur’an dan Hadits adalah kita punya wet yang ter­tinggi, tetapi Qur’an dan Hadits itu, barulah bisa menjadi pembawa kemajuan, suatu api yang menyala, kalau kita baca Qur’an dan Hadits itu dengan berdasar pengetahuan umum.

Ya, justru Qur’an dan Hadits­lah yang mewajibkan kita menjadi cakrawarti di lapangannya segala science dan progress, di lapangannya segala pengetahuan dan kemajuan. Kekolotan dan kekunoan dan kebodohan dan kemesuman itulah yang menjadi sebabnya ulama-ulama Hejaz dulu memaksa. Ibnu Saud me­rombak kembali tiang radio Madinah, kekunoan dan kebodohan dan kemesuman itulah pula yang menjadi sebabnya banyak orang tak mengerti dan tak bisa mengerti sahnya beberapa aturan-aturan-baru yang diadakan oleh Kemal Ataturk atau Riza Khan Pahlawi atau Jozef Stalin! Cara kuno dan cara mesum itulah, – juga di atas lapangan ilmu tafsir yang menjadi sebabnya seluruh dunia Barat memandang Islam itu sebagai satu agama yang anti-kemajuan dan yang sesat. Tanyalah kepada itu ribuan orang Eropah yang masuk Islam di dalam abad keduapuluh ini: dengan cara apa dan dari siapa mereka mendapat tahu baik dan bagusnya Islam, dan mereka akan menjawab: bukan dari guru-guru yang hanya menyuruh muridnya “beriman” dan “percaya” sahaja, bukan dari muballigh­-muballigh yang tarik muka angker dan hanya tahu putarkan tashbih saha­ja, tetapi dari muballigh yang memakai cara penerangan yang masuk akal, – karena ‘berpengetahuan umum. Mereka masuk Islam, karena muballigh-muballigh yang menghela mereka itu, ialah muballigh-mubal­ligh modern dan scientific, dan bukan muballigh “a. la Hadramaut” atau “a l a Kyai bersorban”. Percayalah bahwa, bila Islam dipropagandakan dengan cara yang masuk akal dan up-to-date, seluruh dunia akan sedar kepada kebenaran Islam itu. Saya sendiri, sebagai seorang terpelajar, barulah mendapat lebih banyak penghargaan kepada Islam, sesudah saya mendapat membaca buku-buku Islam yang modern dan scientific. Apa sebab umumnya kaum terpelajar Indonesia tak senang Islam? Sebagian besar, ialah oleh karena Islam tak mau membarengi zaman, dan karena salahnya orang-orang yang mempropagandakan Islam: mereka kolot, me­reka orthodox, mereka anti-pengetahuan dan memang tidak berpenge­tahuan, takhayul, jumud, menyuruh orang bertaklid sahaja, menyuruh orang “percaya” sahaja, – mesum mbahnya mesum!



Kita ini kaum anti-taqlidisme? Bagi saya anti-taglidisme itu berarti:

Bukan sahaja “kembali” kepada Qur’an dan Hadits, tetapi “kembali kepada Qur’an dan Hadits dengan mengendarai kendaraannya pengetahuan umum”.



Tuan Hassan, maafkanlah saya punya obrolan ini. Benar satu obrolan, tapi satu obrolan yang keluar dari sedalam-dalamnya saya punya kalbu. Moga-moga tuan suka perhatikannya berhubung dengan tuan punya pesan­tren. Hiduplah tuan punya pesantren itu!



Wassalam,
     

SUKARNO





No. 10. Endeh, 12 Juni 1936.



Assalamu’alaikum,



Saudara! Saudara punya kartupos sudah saya terima dengan girang. Syukur kepada Allah Ta’ala saya punya usul tuan terima!



Buat mengganjel saya punya rumah tangga yang kini kesempitan, – saya punya onderstand dikurangi, padahal tahadinyapun sudah sesak sekali buat membelanjai – segala saya punya keperluan maka saya sekarang lagi asyik mengerjakan terjemahan sebuah buku Inggeris yang men­tarikhkan Ibnu Saud. Bukan main haibatnya ini biography! Saya jarang menjumpai biography yang begitu menarik hati.

Tebalnya buku Inggeris itu, – formaat tuan punya “Al-Lisaan” –,

adalah 300 muka, terjemahan Indonesia akan jadi 400 muka. Saya minta saudara tolong carikan orang yang mau beli copy itu, atau barangkali saudara sendiri ada uang buat membelinya?

Tolonglah melonggarkan saya punya rumah tangga yang disempitkan korting itu.



Bagi saya pribadi buku ini bukan sahaja satu ichtiar economy,

tetapi adalah pula satu pengakuan, satu confession. Ia adalah menggambarkan kebesaran Ibnu Saud dan Wahliabism begitu rupa, mengkobar-kobarkan element aural, perbuatan begitu rupa, hingga banyak kaum “tafakur” dan kaum pengeramat Husain c.s. akan kehilangan akal nanti sama sekali. Dengan menyalin ini buku,

adalah satu confession bagi saya bahwa, saya, walaupun tidak mufakati semua system Saudisme yang masih banyak feodal itu, tokh menghormati dan kagum kepada pribadinya itu laki-laki yang “towering above all Moslems of his time; an immense man, tremendous, vital, dominant. A giant thrown up out of the chaos and agony of the desert, – to rule, following the example of his

Great teacher, Mohammad”1). Selagi menggoyangkan saya punya pena menterjemahkan biography ini, ikutlah saya punya jiwa bergetar karena kagum kepada pribadinya orang yang digambarkan. What a man! Mudah-mudahan saya mendapat taufik menyelesaikan terjemahan ini dengan cara yang bagus dan tak kecewa. Dan mudah-mudahan nanti ini buku dibaca oleh banyak orang Indonesia, agar bisa mendapat inspiration daripadanya. Sebab, sesungguhnya ini buku, adalah penuh dengan inspiration. Inspira­tion bagi kita punya bangsa yang begitu muram dan kelam-hati, inspiration bagi kaum Muslimin yang belum mengerti betul-betul artinya perkataan “Sunah Nabi”, – yang mengira, bahwa sunah Nabi s.a.w. itu hanya makan korma di bulan Puasa dan celak-mata dan sorban sahaja!



Saudara, please tolonglah. Terima kasih lahir-bathin, dunia-akhirat.



Wassalam,

SUKARNO



1)   Artinya: ialah bahwa Ibnu Saud itu seorang laki-laki yang melebihi semua orang Muslim zaman sekarang, seorang raksasa yang mengikuti tauladannya Nabi Muhammad s.a.w.





No. 11.  Endeh, 18 Augustus 1936.



Assalamu’alaikum,



Surat tuan sudah saya terima. Terima kasih atas tuan punya kecapaian mencarikan penerbit buku saya ke sana-sini. Moga-moga lekas dapat, sayang kalau manuscript yang begitu tebal, tinggal manuscript sahaja.



Tentang tuan punya usul menulis buku yang lebih tipis, – brosyur -, saya akur. Memang brosyur itu amat perlu. Tapi sebenarnya saya ingin menyudahi satu buku lagi yang juga kurang-lebih 400 muka tebalnya, yang rancangannya sekarang sudah selesai pula di dalam saya punya otak. Rakyat Indonesia, – terutama kaum intelligentzia – , sudah mulai banyak yang senang membaca buku-buku bahasa sendiri yang “matang”, yang “thorough”. Ini alamat baik; sebab perpustakaan Indonesia buat 95% hanya buku-buku tipis sahaja, hanya brosyur-brosyur sahaja, tak sedikit gembira saya, waktu saya menerima buku bahasa Indonesia “Islam di tanah China”. Buku ini adalah satu contoh buku yang “thorough”. Alangkah baiknya, kalau lebih banyak buku-buku semacam itu di perpustakaan kita!

Barangkali nanti kita punya intelligentzia tidak senantiasa terpaksa men­cari makanan rokh dari buku-buku asing sahaja. Ini tidak berarti, bahwa saya tak mufakat orang baca buku asing. Tidak! Semua buku ada faedahnya, makin banyak baca buku, makin baik. Walau buku bahasa Hottentot-pun baik kita baca! Tapi janganlah perpustakaan kita sendiri berisi nihil, sebagai keadaan sekarang ini. Tuan kata, buku-tipis lebih murah harganya; tapi bagi kaum intelligentzia dan kaum yang sedikit mampu tidaklah menjadi halangan harga buku tebal itu. Toch kaum intelligentzia juga mengeluarkan banyak uang bagi buku asing? Tokh kita punya kaum mampu juga banyak mengeluarkan uang buat pakaian, buat bioskop, atau buat kesenangan lain-lain? Sebenarnya harga sesuatu buku tidak menjadi ukuran laku-tidaknya buku itu nanti; yang menjadi ukuran, ialah kandungan buku itu; isi buku itu, digemari orang atau tidak. Bagi marhaen, ya memang, zaman sekarang ini zaman berat.

Tapi tiada keberatan kalau buku-buku tebal itu dijadikan “penerbitan untuk rakyat”, atau dipecah menjadi empat-lima jilid, sehingga meringankan harga bagi marhaen. (Sebenarnya kurang baik memecah buku menjadi jilid-jilid yang kecil). Tapi tokh, dalam pada saya menganjurkan penerbitan lebih banyak buku yang tebal dan thorough itu, saya akui pula kefaedahannya brosyur. Sebagai alat propaganda, bro­syur adalah sangat perlu. Insya Allah saya akan tulis brosyur tentang faham jaiz didalam hal keduniaan.

Di dalam salah satu surat saya yang terdahulu, saya sudah sedikit singgung perihal ini. Kita punya peri-kehi­dupan Islam, kita punya ingatan-ingatan Islam, kita punya ideologi Islam, sangatlah terkurung oleh keinginan mengcopy 100% segala keadaan keadaan dan cara-cara dari zaman Rasul s.a.w., dan khalifah yang besar.



Kita tidak ingat, bahwa masyarakat itu adalah barang yang tidak diam, tidak tetap, tidak “mati” – tetapi “hidup” mengalir berobah senantiasa, maju, berevolusi, dinamis. Kita tidak ingat, bahwa Nabi s.a.w. sendiri telah menjaizkan urusan dunia menyerahkan kepada kita sendiri perihal urusan dunia, membenarkan segala urusan dunia yang baik dan tidak haram atau makruh. Kita royal sekali dengan perkataan “kafir”, kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap “kafir”. Pengetahuan Barat – kafir; radio dan kedokteran – kafir; pantalon dan dasi dan topi – kafir; sendok dan garpu dan kursi – kafir; tulisan Latin – kafir; ya bergaulan dengan bangsa yang bukan Islam pun – kafir! Padahal apa-apa yang kita namakan Islam? Bukan Rokh Islam yang berkobar‑kobar, bukan api Islam yang menyala-nyala, bukan Amal Islam yang mengagumkan, tetapi … dupa dan korma dan jubah dan celak-mata! Siapa yang mukanya angker, siapa yang tangannya bau kemenyan, siapa yang matanya dicelak dan jubahnya panjang dan menggenggam tasbih yang selalu berputar, – dia, dialah yang kita namakan Islam. Astagafirullah Inikah Islam? Inikah agama Allah? Ini? Yang mengafirkan pengetahuan dan kecerdasan, mengafirkan radio dan listrik, mengafirkan kemoderenan dan ke-up-to-date-an? Yang mau tinggal mesum sahaja, tinggal kuno sahaja, yang terbelakang sahaja, tinggal “naik onta” dan “makan zonder sendok” sahaja “seperti di zaman Nabi dan Chalifahnya. Yang menjadi marah dan murka kalau mendengar khabar tentang diadakannya aturan-aturan baru di Turki atau di Iran atau di Mesir atau di lain-lain negeri Islam di tanah Barat?



Islam is progress, Islam itu kemajuan, begitulah telah saya tuliskan di dalam salah satu surat saya yang terdahulu. Kemajuan karena fardlu, kemajuan karena sunah, tetapi juga kemajuan karena diluaskan dan di lapangkan oleh aturan, jaiz atau mubah yang lebarnya melampaui­ batas-batasnya zaman. Islam is progress. Progress berarti barang baru, barang baru yang lebih sempurna,

yang lebih tinggi tingkatnya daripada barang yang terdahulu.

Progress berarti pembikinan baru, creation baru, – bukan mengulangi barang yang dulu, bukan mengcopy barang yang lama. Di dalam politik Islam-pun orang tidak boleh mengcopy barang yang lama, tidak boleh mau mengulangi zamannya “chalifah-chalifah” yang besar. Kenapa tokh orang-orang politik Islam di sini selamanya menganjurkan political system “seperti di zamannya chalifah-chalifah yang besar” itu? Tidakkah di dalam langkahnya zaman yang lebih dari seribu tahun itu peri-kemanusiaan mendapatkan system-system baru yang lebih sempurna, lebih bijaksana, lebih tinggi tingkatnya daripada dulu? Tidakkah zaman sendiri menjelmakan system-system baru yang cocok dengan keperluannya, – cocok

dengan keperluan zaman itu sendiri?

Apinya zaman “Chalifah-chalifah yang besar” itu? Akh, lupakah kita, bahwa api ini bukan mereka yang menemukan, bukan mereka yang “meng­anggitkan”, bukan mereka yang “mengarangkan”? Bahwa mereka “menyutat” sahaja api itu dart barang yang juga kita di zaman sekarang mempunyainya, yakni dari Kalam Allah dan Sunah Rasul?



Tetapi apa yang kita “cutat” dari Kalam Allah dan Sunah Rasul itu? Bukan apinya, bukan nyalanya, bukan flonenya, tetapi abunya, debu­nya, asbesnya. Abunya yang berupa celak-mata dan sorban, abunya yang mencintai kemenyan dan tunggangan onta, abunya yang bersifat Islam­ mulut dan Islam-ibadat – zonder taqwa, abunya yang cuma tahu baca Fatihah dan tahlil sahaja, – teapi bukan apinya, yang menyala-nyala dari ujung zaman yang satu ke ujung zaman yang lain. Tarikh Islam, kita baca, tetapi kitab-kitab tarikh itu tidak mampu menunjukkan dynamical laws of progress1) yang menjadi nyawanya dan tenaganya zaman-zaman yang digambarkan, tidak bisa mengasih falsafatnya sejarah, dan hanyalah habis-habisan-kata memuluk-mulukkan dan mengeramat-ngeramatkan pahlawan-pahlawannya sahaja. Kitab-kitab tarikh ada begitu, – beta­pakah umat Islam umumnya, betapakah si Dulah dan si Amat, betapakah si Minah dan si Maryam? Betapakah si Dulah dan Amat dan Minah dan Maryam itu, kalau mereka malahan lagi hari-hari dan tahun-tahun dice­koki faham-faham kuno dan kolot, takhayul dan mesum, anti-kemajuan dan anti-kemoderenan,- hadramautisme yang jumud-maha-jumud?



Sesungguhnya, Tuan Hassan, sudah lama waktunya kita wajib membantras faham-faham yang mengafirkan segala kemajuan dan kecer­dasan itu, membelenggu segala nafsu kemajuan dengan belenggunya: “ini haram, itu makruh”, – padahal jaiz atau mubah semata-mata! Insya Allah, dalam dua-tiga bulan brosyur itu selesai!



Wassalam,

SUKARNO





No. 12.  Endeh, 17 Oktober 1936.



Assalamu’alaikum,



Dua surat yang akhir, sudah saya terima. Baru ini hari ada kapal ke Jawa buat membalas kedua surat itu. Itulah sebabnya balasan ini ada terlambat.



Tuan tanya, apakah tuan boleh mencetak saya punya surat-surat kepada tuan itu? Sudah tentu boleh, tuan! Saya tidak ada keberatan apa­-apa atas pencetakan itu. Dan malahan barangkali ada baiknya orang mengetahui  surat-surat itu. Sebab, di dalam surat-surat itu adalah saya teteskan sebagian dari saya punya bathin, saya punya nyawa, saya punya jiwa. Di dalam surat-surat itu adalah tergurat sebagian garis-perobahan­nya saya punya jiwa,- dari jiwa yang Islamnya hanya raba-raba sahaja menjadi jiwa yang Islamnya yakin, dari jiwa yang mengetahui adanya Tuhan, tetapi belum mengenal Tuhan, menjadi jiwa yang sehari-hari berhadapan dengan DIA, dari jiwa yang banyak falsafat ke-Tuhan-an tetapi belum mengamalkan ke-Tuhan-annya itu menjadi jiwa sehari­-hari menyembah kepadanya. Saya wajib berterima kasih kepada Allah Subhanahu Wata’ala, yang mengadakan perbaikan saya punya jiwa yang demikian itu, dan kepada semua orang, – antaranya tidak sedikit kepada tuan yang membantu kepada perbaikan itu. Sebagai tanda terima kasih kepada Allah dan kepada manusia itulah saya meluluskan permintaan tuan akan mengumurnkan saya punya surat-surat itu.



1)         Artinya: Hukum-hukum yang menjadi sebabnya kemajuan



Beberapa waktu yang lalu adalah orang menulis satu entrefilet di dalam surat-khabar “Pemandangan”, bahwa saya sekarang gemar Islam. Banyak orang yang heran membaca khabar itu, begitulah katanya salah seorang teman dari Jawa yang menulis sepucuk surat-selamat kepada saya berhubung dengan entrefilet itu. En tokh, bagi siapa yang mengenal saya betul-betul dan tidak hanya oppervlakkig sahaja, bagi siapa yang menge­tahui seluk-beluknya saya punya jiwa sejak dari umur delapanbelas tahun, bagi siapa yang pernah menyelami samuderanya saya punya nyawa sampai kebagian-bagian yang paling dalam, bagi dia bukanlah barang yang “mengherankan” lagi bahwa saya “sekarang gemar Islam”. Bukankah satu “alamat” bahwasanya saya dulu anggauta Sarekat Islam, dan kemudian juga anggauta Partai Sarekat Islam dan kemudian pula meninggalkan Partai Sarikat Islam itu hanya karena tak mufakat 100% dengan partai itu, dan bukan karena benci kepada Islam? Bukankah satu “alamat”, bahwa saya di ­dalam kurungan penjara Sukamiskin yang pertama kali ada membikin banyak studi dari Islam itu, hingga semua pers putih menjadi curiga dan sengit-sengit, dan “Java Bode” membikin gambar-sindiran lucu yang sampai sekarang saya simpan di saya punya album? Bukankah satu “ala­mat”, akhirnya, bahwa kebanyakan saya punya ucapan-ucapan dulu itu menunjukkan satu “dasar mystiks”, satu “dasar ke-Tuhan-an” yang betul belum “terbentuk” nyata ke dalam sesuatu “agama”, tetapi tokh sudah nyata menunjuk kejurusan itu? Dan bilamana saya dulu kadang-kadang mengeluarkan ucapan-ucapan yang membangunkan kesan anti-Islam, bilamana saya dulu kadang-kadang bertengkar dengan sesuatu fihak Islam di atas sesuatu masalah masyarakat Islam, maka itu bukan karena menen­tang Islam sebagai Islam, bukan karena anti-Islam qua agama, bukan karena anti-Islam “an sich”, tetapi hanyalah karena tidak senang melihat ‘Geadaan-keadaan di kalangan umat Islam yang membangunkan amarah Ian kejengkelan saya.



Dan sekarangpun, tuan Hassan, sekarangpun, yang saya, – berkat pertolongan Allah dan pertolongan tuan dan pertolongan orang-orang lain, sudah lebih bulat dan lebih yakin ke-Islam-an saya itu, sekarangpun hati saya malahan menjadi lebih luka dan gegetun kalau saya melihat keadaan-keadaan di kalangan umat Islam yang seakan-akan menentang Allah dan menentang Rasul itu. Lebih luka dan lebih gege­tun kalau saya melihat kejumudan dan kekunoan guru-guru dan kyai-kyai Islam, lebih luka dan lebih gegetun kalau melihat mereka mengokoh­-ngokohkan taqlidisme dan hadramautisme, lebih luka dan lebih gegetun Kalau melihat dilancang-lancangkannja dan dimain-mainkannya poligami, lebih luka dan lebih gegetun kalau melihat degradations) Islam menjadi `agama-celak” dan “agama-sorban”, – lebih luka dan lebih gegetun kalau melihat kenistaan-umum dan kehinaan-umum yang seakan-akan menjadi `patent” dunia Islam itu. Akh, tuan Hassan, sekarangpun barangkali kaum kolot sudah sedia dengan putusan-kehakimannya yang mengatakan ;aja “anti-Islam”, “mau mengadakan agama baru”, “murtad dari ahlussun­nah wal Jama’ah”, “charidji” dan “qadiani”, dan macam-macam sebutan bagi yang kocak-kocak dan segar-segar. Biar! Zaman nanti akan mem­buktikan, bahwa kaum muda tulus dan ikhlas mengabdi kepada kebenaran, lulus dan ikhlas mengabdi kepada Tuhan. Zaman nanti akan membawa persaksian, bahwa kita punya ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan bukan niat “mengadakan agama baru”, bukan buat “merobah hukum-hukumnya Allah dan Rasul”, tapi justru buat mengembalikan agama yang asli dan mengindahkan hukum-hukumnya Allah dan Rasul.

Biar! Belum pernah di sejarah dunia ada tertulis, bahwa sesuatu reform movement’) tidak nendapat perlawanan dari kaum yang jumud, belum pernah sejarah iunia itu menyaksikan bahwa sesuatu pergerakan yang mau membongkar adat-adat salah dan ideologi-ideologi-salah yang telah berwindu-windu dan berabad-abad bersulur dan berakar pada sesuatu rakyat, tidak mem­bangunkan reaksi haibat dari fihak jumud yang membela adat-adat ideologi-ideologi itu. Silahkan kaum muda bekerja terus. Tapi dalam pada kaum muda bekerja terus itu haruslah mereka menjaga, jangan sampai mereka mengadakan perpecahan dan permusuhan satu sama lain di kalangan umat Islam, jangan sampai mereka melanggar perintah Allah akan “berpegang kepada agama Allah dan jangan bercerai-berai” Dan jangan sampai mereka “menggenuki umat sendiri, lupa kepada umat yang besar”.



1)         Artinya: Diperosotkan derajatnya.

2)         Artinya: Pergerakan perobahan.



Ini, inilah memang kesukarannya kerja yang harus diselesaikan oleh kaum muda itu: membantras adat-adat-salah dan ideologi-ideologi-salah tapi tidak bermusuhan dengan kaum yang karena “belum tahu”, membela kepada adat-adat-salah dan ideologi-ideologi-salah itu; menawarkan adat-­adat-benar dan ideologi-ideologi-benar zonder memusuhi orang-orang yang karena “belum tahu”, belum mau membeli adat-adat-benar dan ideologi­-ideologi-benar itu; mengoperasi tubuh-Islam dari bisul-bisulnya menjadi potongan-potongan yang membinasakan keselamatan tubuh itu sama sekali.



Renaissance-paedagogie,– mendidik supaya bangun kembali itu, itulah yang harus dikerjakan oleh kaum muda, itulah yang harus mereka “system-kan”, dan bukan separatisme dan “perang saudara”, walaupun kaum-jumud mengajak kepada separatisme dan “perang saudara”. Bahagialah kaum muda yang dikasih kesempatan oleh Tuhan buat me­ngerjakan renaissance-paedagogie itu, bahagialah kaum muda yang ditakdirkan oleh TUHAN menjadi pahlawan-pahlawannya renaissance­ paedagogie itu.



Sampaikanlah saya punya salam kepada mereka semua, sampaikanlah saya punya pembantuan-doa kepada mereka semua. Kepada tuan sendiri, salam dan pembantuan-doa itu saya bubuhi ucapan terima kasih atas tuan punya pertolongan-pertolongan pribadi kepada saya, lahir dan bathin.



Wassalam,

SUKARNO
Pesan Sponsor