Rabu, 31 Mei 2017

Pidato Bung Karno - Pancasila Membuktikan Dapat Mempersatukan Bangsa Indonesia

Pancasila Membuktikan Dapat Mempersatukan Bangsa Indonesia 

(Pidato Presiden Sukarno pada Peringatan Lahirnya Pancasila di Istana Negara, 5 Juni 1958)

Saudara-­saudara sekalian,
Barangkali dalam kalangan kita sekarang ini, tidak ada seseorang yang lebih terharu hatinya daripada saya. Terharu karena ingat kepada perjuangan dan penderitaan rakyat berpuluh-­puluh tahun, yang akhirnya melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, berdasarkan Pancasila. Terharu oleh karena pada ini malam di Istana Negara berkumpul beribu­ribu saudara­saudara, handai taulan untuk memperingati lahirnya Pancasila, sedang di halaman di muka Istana negara, berkumpul berpuluh­puluh ribu rakyat yang mendengarkan pidato­pidato dari sini, sedangkan pula seluruh rakyat Indonesia yang memiliki radio atau berdiri di muka radio umum men­dengarkan pidato­pidato itu pula.

Terharu oleh karena pada ini malam dengan tidak terduga-­duga dan tersangka-sangka, diucap­kan oleh pembicara-­pembicara, perkataan-perkataan pujian terhadap kepada diri saya, yang atas perkataanperkataan, pujian itu saya mengucap banyak­banyak terima kasih, sambil meng­ulangi ucapan saya di Yogyakarta tatkala saya mendapat gelar doctor honoris causa di Universitas Gajahmada, sebagai tadi disitir oleh saudara Prof. Mr. H. Muh. Yamin, bahwa saya bukan pembentuk atau pencipta Pancasila, melainkan sekadar salah seorang penggali daripada Pancasila itu.

Terharu pula, oleh karena pada ini malam, dengan tidak terduga­duga dan tersangka­ sangka dibacakan pernyataan oleh pemuda­pemuda dari barisan Baladika Wirapati, Bala Andika Wirapati. Malahan dibacakan pernyataan setia kepada Pancasila itu, sebagai tanda mata kepada saya, oleh karena besok Insya Allah swt., saya akan merayakan, atau memperingati hari ulang tahun saya. Demikian pula barisan penyanyi­-penyanyi dari Liga Pancasila membawa-­bawa perkataan, bahwa nyanyian itu dinyanyikan sebagai tanda hadiah kepada saya yang Insya Allah besok pagi akan memperingati hari ulang tahun saya. Tidakkah pada tempatnya saya terharu dan merasa amat berterima kasih?

Pada permulaan kata saya berkata: terharunya hati saya itu, terutama sekali ialah oleh karena saya ingat kepada perjuangan rakyat Indonesia yang telah berpuluh­puluh tahun, tetapi yang akhirnya dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai yang kita miliki sekarang ini. Yah, perjuangan dan penderitaan bangsa Indonsia yang berpuluh­-puluh tahun, dianugerahi oleh Allah swt. dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

Benar sekali dikatakan oleh saudara Menteri Penerangan Sudibyo bahwa Pancasila tak dapat dipisahkan daripada Proklamasi dan daripada negara Republik Indonesia. Tetapi jikalau saya ingat kepada perjuangan dan penderitaan rakyat Indonesia yang berpuluh­ puluh tahun itu, saya ingin menambah pula perkataan saudara Sudibyo, bahwa Pancasila bukan saja tidak dapat dipisahkan daripada proklamasi dan tidak bisa dipisahkan daripada negara, tetapi juga tidak bisa dipisah­kan dari perjuangan rakyat Indonesia yang telah berpuluh-­puluh tahun. Keterangannya bagaimana, saudarasaudara? Rakyat Indonesia berjuang dengan melalui beberapa pengalaman dan pengajaran­pengajaran. Banyak perjuang­an bangsa Indonesia yang gagal. Tetapi akhirnya perjuangan bangsa Indonesia itu berhasil.

Apa sebab gagal? Apa sebab berhasil? Marilah kita tinjau hal itu sejenak waktu. Gagal oleh karena tak mampu mempersatukan rakyat Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke. Berhasil tatkala mampu mempersatukan rakyat dari Sabang sampai ke Merauke. Ingat perjuangan Diponegoro, betapa hebatnya, betapa penuhnya dengan heroisme dan kepahlawanan. Toh tak dapat mencapai apa yang hendak dicapainya, yaitu Negara Merdeka. Ingat perjuangan Sultan Agung Hanyakrakusuma dari Negara Mataram yang kedua. Tak kurang heroisme, tak kurang kepahlawanan, tetapi toh gagal oleh karena perjuangan itu hanya dijalankan oleh sebagian daripada rakyat Indonesia, sebagaimana perjuangan Diponegoro pun hanya dijalankan oleh sebagian rakyat Indonesia. Ingatlah kepada perjuangan Sultan Hassanudin. Kata Speelman: de jonge haan, ayam yang muda, gagal oleh karena perjuangan Sultan Hassanudin hanya dijalankan oleh sebagian daripada rakyat Indonesia.

Ingat kepada perjuangan Teuku Umar, atau Cikdi Tiro di Aceh; gagal, oleh karena hanya dijalankan oleh sebagian daripada rakyat Indonesia. Ingat pada perjuangan Surapati, gagal oleh karena perjuangan Surapati itu hanya dijalankan oleh sebagian daripada rakyat Indonesia. Tetapi tatkala bangsa Indonesia dapat mempersatukan segenap rakyat Indonesia dari Sabang smpai ke Merauke, gugurlah imperialisme dan berkibar­lah Sang Merah Putih di angkasa dengan cara yang amat megah.

Memang, saudara­saudara, perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan, untuk menggugurkan imperialisme harus didasarkan atas persatuan. Berbeda dengan perjuangan bangsa lain. Beberapa pekan yang lalu di Istana Negara ini, saya memberi kursus kepada pemuda­pemuda Liga Pancasila dan di dalam kursus yang pertama itu, saya uraikan salah satu perbeda­an antara rakyat Indonesia dan misalnya perjuangan rakyat India. Rakyat India dapat mengalahkan imperialisme Inggeris, yang pada hakekatnya satu imperialisme dagang, satu handels imperialisme, dengan memobilisir kekuatan daripada satu natonale bourgeoisie yang sedang timbul.

Nationale bourgeoisie India ini, saudara-saudara, merekalah yang pada hakekatnya menggerakkan gerakan swadesi. memboikot barang-­barang bikinan Inggeris. membuat barang­-barang bikinan India sendiri, sehingga imperialisme Inggeris yang membawa barang dagang­an Inggeris ke India itu, akhirnya tidak mendapat pasaran di India. Oleh karena menderita saingan yang hebat daripada rakyat India sendiri yang dengan gerakan swadesi dapat me­menuhi kebutuhan­kebutuhannya akan barang­barang pakaian dan komsumsi. Dus, India mempergunakan antara lain saudara­saudara, tenaga daripada satu nationale bougeoisie yang sedang timbul.



Kita, saudara-­saudara, tidak mempunyai nationale bougeoisie, apalagi tidak mempunyai nationale bougeoisie revolusioner. Borjuasi nasional yang progressif, oleh karena memang tidak ada borjuasi nasional ini dalam arti yang besar. Kita mempunyai restan daripada borjuasi nasional. Maka oleh karena itulah perjuangan bangsa Indonesia, mau tidak mau, harus mempergunakan tenaga daripada rakyat j elata. Rakyat j elata bukan saja dari tanah Jawa, bukan saja dari Sumatera, bukan saja dari Sulawesi, bukan saja dari Kalimantan, bukan saja dari Nusa Tenggara, bukan saja dari Maluku, tetapi rakyat jelata dari Sabang sampai ke Merauke, bersatu padu, dan akhirnya gugurlah imperialisme.

Persatuan inilah, saudara-­saudara, kita punya senjata. Persatuan ini akhirnya sebagai tadi saya katakan, oleh karena perjuangan persatuan ini adalah perjuangan yang gigih, akhirnya dikaruniai oleh Allah swt. dengan Negara Proklamasi.

Saudara­-saudara, dus, manakala perjuangan kita harus tidak boleh tidak, harus didasarkan kepada persatuan bangsa, maka demikian pula Negara kita, saudara­-saudara, hanyalah bisa berdiri tegak, Insya Allah kekal dan abadi, bilamana berdasar­kan atas dukungan daripada seluruh rakyat dari Sabang sampai ke Merauke. Sebagai tadi diterangkan oleh saudara Sarjana Agung Mahaputera Profesor Mr. H. Muh Yamin, saudara-­saudara sekalian, sehingga opgave kita sekarang ini saudara­saudara, memben­ tuk atau mengekalkan persatuan itu agar supaya persatuan ini dapat dij adikan sebagai dasar pondamen yang kuat kekal dan abadi daripada negara.

Pondamen yang kuat dan kekal dan abadi, sebab hanya atas pondamen ini Negara bisa kekal dan abadi. Sulit sekali saudara saudara, pemersatuan rakyat Indonesia itu jikalau tidak didasarkan atas Pancasila. Tadi telah dikatakan oleh saudara Muh. Yamin, alangkah banyak macam agama di sini, alangkah banyak aliran pikiran di sini, alangkah banyak macam golongan di sini, alngkah banyak macam suku di sini, bagaimana mempersatukan aliran, suku­suku, agama­agama dan lain­lain sebagainya itu, jikalau tidak diberikan satu dasar yang mereka bersama­sama bisa berpijak di atasnya. Dan itulah saudara­saudara. Pancasila.

Ada satu ucapan dari seorang pemimpin besar asing, dia berkata: national unity can only be preserved upon a basic which is larger than the nation itself. Persatuan nasional hanya dapat dipelihara kekal dan abadi jikalau persatuan nasional itu didasarkan di atas satu dasar yang lebih luas daripada bangsa. Lebih luas daripada apa yang dinamakan Indonesia, dus, national unity itu, saudara-­saudara, menurut anggapan kita hanya bisa dikekalabadikan di atas satu dasar, yang menurut saudara Prof. Muh. Yamin, satu dasar falsafah Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa, Perikemanusiaan, Kebangsaan Indonesia yang bulat, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial, sebagai satu geloof, sebagai satu arah pikiran, sebagai satu arah kepercayaan, bukan kepercayaan agama, tetapi satu arah kepercayaan daripada satu bangsa.

Saya melihat saudara Siauw Giok Tjhan di sana. Barangkali saudara Siauw Giok Tjhan bisa membenarkan Saya jikalau saya mensitir Kon Fu Tsu. Pada satu hari datanglah seorang kepada Kon Fu Tsu: Ya, guru besar, apa­kah syarat­syarat agar sesuatu bangsa bisa menjadi kuat? Jawab Kon Fu Tsu: Syaratnya ialah tiga. Satu, tentara yang kuat. Dua, makanan dan pakaian rakyat yang cukup. Tiga, kepercayaan di dalam kalbunva rakyat itu. Tiga ini disebutkan oleh Kon Fu Tsu sebagai syarat mutlak untuk menjadikan bangsa menjadi kuat: tentara yang kuat, makanan dan pakaian rakyat yang cukup. kepercayaan, geloof. Sang siswa menanya kepada guru besar Kon Fu Tsu: Jikalau daripada tiga syarat ini satu harus dibuang, harus tuanku tanggalkan, mana yang harus tuanku tanggalkan lebih dulu? Jawab Kon Fu Tsu: Yang boleh ditanggalkan lebih dahulu ialah tentara yang kuat. Tinggal makanan dan pakaian rakyat yang cukup, dan kepercayaan.

Sang siswa tanya lagi: Ya, tuanku, jikalau daripada dua syarat ini satu harus tuanku tanggalkan, mana yang tuanku akan tanggalkan? Jawab Kon Fu Tsu: makanan dan pakaian rakyat bisa ditanggalkan, artinya makanan san pakaian rakyat yang cukup bisa ditanggalkan. Makanan kurang sedikit, pakaian kurang sedikit, tidak jadi apa. Tetapi syarat yang ketiga, geloof, kepercayaan, belief tidak dapat ditanggalkan. A nation without faith can not stand. Bangsa yang tidak mempunyai geloof, bangsa yang tidak mempunyai kepercayaan, tidak mempunyai belief, bangsa itu tidak bisa berdiri.

Maka bangsa Indonesiapun harus mempunyai belief, mempunyai geloof, mempunyai kepercayaan. Dan geloof bangsa Indonesia harus larger than the nation itself, lebih luas daripada bangsa Indonesia sendiri, berupa Pancasila, saudara­saudara. Pancasila pengutamaan daripada rasa kebangsaan, keinginan daripada bangsa Indonesia untuk menjadi Negara yang kuat, bangsa yang kuat, mengadakan satu masyarakat yang adil dan makmur.

Saya membenarkan perkataan saudara Kiai Haji Masykur, kawan saya yang tercinta, bahwa kita mengharap kepada Konstituante lekas dapat menentukan Undang Undang Dasar yang tetap bagi Negara Republik Indonesia dan memang di dalam pidato pembukaan daripada Konstituante, saya minta kepada Konstituante agar supaya lekaslah selesai dengan pekerjaannya. Tetapi sava persoonlijk ada mempunvai do’a kepada Allah swt., mogamoga Konstituante menerima pula Pancasila sebagai dasar kekal dan abadi daripada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebab saudara­saudara, sebagai tadi saya katakan, saya tidak melihat jalan yang lain untuk mempersatukan bangsa Indonesia ini di atas dasar lain daripada dasar Pancasila.

Ya, saudara­-saudara, kita adalah satu bangsa yang menghadapi beberapa challenge sebagai yang sering saya katakan kepada mahasiswa­mahasiswa, tetapi dalam pada menghadapi beberapa challenge itu tadi, tantangan­tantangan, baik tantangan internasional maupun tantangan nasional, maupun tantangan pribadi; internasional kataku ialah: internasional cooperation atau total destruction, global social justice atau exploition de 1’homme par 1’homme; nasional, tetap setia kepada proklamasi Negara Kesatuan Indonesia 17 Agustus 1945, atau tidak, dan diselenggarakan di tanah air kita satu masyarakat adil dan makmur, atau tidak. Challenge pribadi, kepada pemuda dan pemudi, hendak menjadi pemuda dan pemudi yang bergunakah bagi diri sendiri, bagi masyarakat dan bagi Negara Republik Indonesia, atau hendak menjadi crossboy atau crossgirl?

Kita bangsa Indonesia seluruhnya dalam menghadapi tantangan yang dahsyat ini, keinginan saya, saudara­saudara, supaya dalam beberapa hal jangan kita pertikaikan lagi. Antara lain janganlah dipertaikaikan lagi warna bendera kita, merah­putih, yang megah. Jangan dipertikaikan lagi, jangan di­perdebatkan lagi, jangan pula diperdebatkan di Konstituante, sebab sebagai dikatakan oleh Prof. Mr. Muh. Yamin, ini adalah warisan daripada orangorang karuhun, leluhur kita sejak beribu­ribu tahun. Jangan diper­ debatkan lagi. Jangan ada golongan yang ingin mengganti merah putih dengan merah!

Tetapi jangan ada pula golongan yang ingin merobah merah putih menjadi hijau! Tetap merah putih! Marilah kita terima hal itu semuanya, sonder pertikaian ­pertikaian lagi. Demikian pula misalnva. saya minta. jangan dipertikaian lagi. hal lagu Indonesia Raya.

Sudah­lah, marilah kita terima lagu Indonesia Raya itu sebagai cetusan daripada jiwa kita yang cinta kepada tanah air dan bangsa. Jangan dipertikaikan, demikianlah kata saya kepada dewan Nasional tadi pagi, hal cita­cita kita mengenai masyarakat adil dan makmur. Sebab masyarakat adil dan makmur ini adalah cita­cita bangsa Indonesia sejak berpuluh­puluh tahun, bahkan dibeli oleh bangsa Indonesia cita­cita ini dengan penderi­ taan yang berpuluh­puluh tahun pula. Jangan ada orang Indonesia seorangpun yang menghendaki masyarakat yang tidak adil dan tidak makmur. Jangan ada seorang Indonesia pula, satupun jangan, yang menghendaki satu masyarakat yang berdasarkan atas sistem penindasan, penghisapan, exploitation de 1’homme par 1’homme. Jangan kita perdebatkan hal itu lagi.

Demikian pula doaku kepada Allah swt. sebenarnya, saudara-saudara, janganlah Pancasila ini diperdebatkan lagi. Sebab Pancasila ini telah memberi bukti kepada kita, dapat mempersatukan bangsa Indonesia sehingga bangsa Indonesia ini bisa merebut kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Bahkan sebagai sering saya katakan, justeru oleh karena sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai mengemukakan Pancasila. Justeru oleh karena Pancasila ini masuk di dalam Jakarta Charter, justeru oleh karena Pancasila ini menghidupi segenap Proklamasi 17 Agustus 1945. Justeru oleh karena Pancasila ini satu dua hari sesudah Proklamasi, dimasukkan di dalam Undang Undang Dasar Sementara daripada Republik Indonesia. Justeru oleh karena itulah maka Proklamasi ini disambut oleh segenap rakyat Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke. Jikalau tidak berdasarkan atas Pancasila, Proklamasi kita itu, atau tidak berjiwakan Pancasila, saya kira sambutan yang dahsyat daripada segenap golongan lapisan yang kita alami pada tahun ’46, ’47, ’48,’49, tidak akan terjadi.

Oleh karena itu, saudara-­saudara, ini permintaan persoonlijk batin saya. permohonan persoonlijk batin sava. sebenarnya Pancasila ini sudahlah, jangan diperdebatkan lagi. Het heeft zijn nut bewezcn, telah terbuktilah guna tepatnya Pancasila!

Bung Yamin mengemukakan beberapa bantahan. Sayapun ingin mengemukakan beberapa bantahan, antara lain bantahan: Pancasila adalah satu agama, katanya, agama baru. Bukan! Bukan! Pancasila bukan agama baru! Pancasila adalah Weltan­schauung, falsafah Negara Republik Indonesia, bukan satu agama baru. Bukan! Ada yang berkata: Pancasila itu sebetulnya adalah perasan daripada agama Budhisme. Bagaimana bisa mengatakan bahwa Pancasila itu adalah perasaan daripada agama Budhisme? Orang yang berkata begitu sebetulnya tidak tahu apa yang dinamakan Budhisme itu. Misalnya saja, saudara­saudara, Ketuhanan Yang Maha esa; Budhisme tidak kenal Ketuhanan.

Coba tanya kepada prof. Muh. Yamin, tanya kepada prof. Hazairin; tanya kepada sarjana­ sarjana yang duduk di sini. Budhisme tidak mengenal apa yang dinamakan Tuhan. Budhisme adalah satu levens beschouwing, satu pandangan hidup, cara hidup agar supaya nanti bisa mencapai kesempurna­an nirwana. Budhisme tidak mengenal Allah. Budhisme tidak mengenal God, Budhisme tidak mengenal Jehovah. Budhisme tidak mengenal apa yang seperti kita artikan sebagai Tuhan. Jikalau engkau ingin hidup dikemudian hari, sempurna, j ikalau engkau ingin masuk nirwana, lakukanlah ini, lakukanlah ini. Delapan marga daripada Budha, jalan delapan macam, saudara­saudara. Jadi Budhisme adalah satu pandangan hidup, satu cara hidup, satu levensbeschouwing, bukan sebenarnya satu godsdienst.

Kok lantas ada orang berkata: Pancasila yang dengan tegas mengatakanpada sila yang pertama Ketuhanan Yang Maha esa, bahwa Pancasila itu adalah perasaan daripada Budhisme. Tidak kena ini, saudara­saudara. Sama sekali tidak! Saya minta janganlah menaruhkan Pancasila ini secara antagonistis terhadap kepada misalnya agama Islam. dan janganlah pula meletakkan Pancasila ini secara congruentie yang sama dengan misalnya Agama Budha, janganlah ditaruhkan secara antagonistis kepada Agama Islam. jangan ditaruh secara congruent terhadap kepada Agama Budha. Jangan! Sebab Pancasila adalah falsafah bagi Negara Republik Indonesia, sebab Pancasila adalah satu dasar daripada Negara Republik Indonesia ini. Kita ingin kekal dan abadikan dan sebagai tadi sudah saya katakan, syarat mutlak bagi mengkekalabadikan Negara republik Indonesia, adalah persatuan daripada bangsa Indonesia.

Saudara-­saudara, sekarang telah jam sepuluh lebih seperempat. Sebenarnya telah melewati waktu siaran radio. Maka oleh karena itu marilah saya singkatkan pidato saya ini. Kita saudarasaudara, benar­benar sekarang ini mengalami saat­-saat yang genting. Saat yang crucial. Pada saat­-saat yang demikian itu, baiklah bangsa Indonesia ini merenungkan sejenak bagaimana dulu memperjuangkan kemerdekaan, bagaimana dulu memper­tahankan kemerdekaan.

Dulu kita memperjuangkan kemerdeka­an dengan penggabungan daripada tenaga rakyat jelata dari Sabang sampai ke Merauke. Tidak oleh satu kekuatan saja, tetapi kita gabungkan seluruh kekuatan kita, baik kaum buruh maupun kaum tani, maupun nelayan, maupun kaum pegawai, maupun kaum pemuda, maupun kaum pemudi, maupun alim ulama, maupun segala golongan­golongan yang ada di Indonesia ini, kita gabungkan di dalam satu barisan yang mahasakti berdasarkan atas Pancasila itu dan kita pertahankan Negara Proklamasi yang digempur kembali atau hendak digempur kembali oleh imperialisme dengan sukses, dengan Pancasila pula. Dengan gabungan mutlak daripada segenap tenaga revolusioner, marilah kita renungkan hal itu, saudara­saudara. Mempertahankan dengan persatuan, memperjuangkan dengan persatuan, mempertahankan dengan Pancasila, memperjuang­kan dengan Pancasila.

Marilah. saudara-­saudara. sebagai diharapkan oleh saudara Mr. Muh. Yamin, drie maal is scheeps­recht. Tiga kali kita mempunyai Negara Kesatuan meliputi seluruh nusantara Indonesia, Sriwijaya, Majapahit, sekarang Republik Indonesia. Didoakan oleh saudara Mr. Muh. Yamin agar supaya, ya, dulu boleh Sriwijaya tenggelam, ya, dulu Majapahit boleh tenggelam, tetapi hendaklah Republik Indonesia tetap kekal dan abadi menurut keyakinan saya di atas yang kita kenal semuanya dan kita cintai, Pancasila.

Terima kasih.

⏩Download Pidato Bung Karno - Pancasila Membuktikan Dapat Mempersatukan Bangsa Indonesia ⏪

Advertisement


EmoticonEmoticon